Bekerja dan Bermain Menjadi Satu PDF Print
Translated by Valentina Suhendra   
Article hits: 8588
Wednesday, 27 April 2011 14:06

 

Work and Play Become One

Yang menjadi masalah bukanlah apakah kita bekerja di satu tempat untuk satu tahun kedepan, 10 tahun atau 100 tahun. Masalahnya adalah pada saat kita bekerja di sana, kita harus memperlakukan semua orang dan pekerjaan kita seperti apabila kita akan berada di sana selama 100 tahun. Mengapa? Karena pada saat kita bekerja, kita bekerja dengan ORANG LAIN. Manusia memiliki perasaan, persepsi; mereka bisa merasa senang dan mereka bisa merasa disakiti. Oleh karena itu pada saat kita bekerja di suatu tempat, kita tidak boleh berpikir bahwa,”orang-orang ini tidak berguna, saya hanya berada disini untuk waktu yang singkat, jadi tidak masalah apa yang mereka pikirkan.”

Sebaliknya, kita harus berpikir, “Pada saat saya disini, SAYA AKAN MEMBUAT SEMUA ORANG BAHAGIA. Saya akan ramah kepada semua orang. Saya akan membuat semua orang menyukai saya dan saya akan menyukai mereka.” Dan kemanapun kita pergi, kita menciptakan rasa hormat, cinta kasih, peduli, dan perasaan menyenangkan dari orang lain kepada diri kita. Hal ini sangatlah penting karena [hal ini] akan mempengaruhi aspek lain dalam hidup kita.

Whether we are working in a place for the next one year, 10 years or 100 years isn’t the issue. The issue is while we are working there, we should treat everyone and our work as if we are going to be there for a hundred years. Why? Because wherever we work, we are working with other PEOPLE. People have feelings, impressions; they can be happy and they can be hurt. Hence when we are working there, we should never think, “These people don’t matter, I am just here for a short time so it doesn’t matter what they think.”

Instead, we should think, “While I am here I AM GOING TO MAKE EVERYONE HAPPY. I am going to be kind to everyone. I am going to make everyone like me and I am going to like them.” Then wherever we go, we create respect, love, care and good feelings from others towards ourselves. That is so important as it will affect other areas of our life.

Kita bisa saja merencanakan ini dan itu untuk 30 tahun ke depan, tetapi kita bisa meninggal malam ini. Sikap seperti “Semua orang tidaklah penting atau hanya batu loncatan untuk mencapai apa yang saya inginkan” adalah sikap yang buruk untuk dimiliki. Karena apakah kita hidup 30 tahun lagi atau 30 jam lagi, APA yang kita ciptakan di lingkungan kita adalah yang terpenting. Apakah kita menciptakan rasa tidak percaya, kemalasan, rasa tidak bertanggung jawab dan tidak terhormat? Atau apakah kita menciptakan lingkungan yang penuh rasa percaya, tanggung jawab, keramahan dan integritas? Apakah kita berumur panjang atau tidak diluar kekuasaan kita. Hidup adalah lebih dari maju dengan cara merugikan orang lain. Maju dalam hidup itu tidak apa-apa, akan tetapi menciptakan lingkungan yang bahagia, penuh rasa percaya, peduli dalam perjalanan adalah yang PALING PENTING.

Bila kita menggunakan orang dan tempat sebagai batu loncatan, kita akan kehilangan rasa hormat dari orang lain dan kita kehilangan rasa hormat kepada diri sendiri. Kita bisa saja mendapatkan uang dan benda materi, tetapi bila kita sudah kehilangan rasa hormat pada diri sendiri, kita akan menjadi pahit dan tidak bahagia, bahkan penuh kemarahan. Dan ini bukanlah hasil yang baik dari semua kerja keras yang kita lakukan. Kerja keras harus menghasilkan kebahagiaan dalam pikiran dan bukan hanya dari sisi materi belaka.

Kebahagiaan untuk orang lain dan diri sendiri adalah hasil akhir yang harus kita cari dari pekerjaan dan karir. Kebahagiaan yang tidak mencelakakan orang lain sama sekali.

  1. Melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh dan tidak membuat orang lain harus membetulkan atau mendorong kita untuk tidak melebihi tengat waktu yang telah ditentukan adalah cara yang baik untuk memberi kembali kepada orang lain di kantor. Rasa cinta yang tulus untuk mereka.
  2. Menolong orang lain dalam tim kalian untuk menyelesaikan pekerjaan mereka, atau menggantikan mereka dalam keadaan darurat tanpa maksud terselubung adalah cara hidup spiritual yang baik untuk dijalani.
  3. Jangan menusuk dari belakang mengenai orang lain dalam tim kita. Bila kita mempunyai masalah, bicarakanlah dengan baik-baik dengan sikap untuk menyelesaikan masalah, bukan untuk menang sendiri. Kemenangan bukanlah segalanya. Terkadang kalian bisa menang, tapi kehilangan segalanya dalam proses [mencapai kemenangan] ini. Berbicara untuk menyelesaikan masalah adalah motivasi yang terbaik. Jangan pernah memecah-belah. Ciptakan rasa damai dan harmoni.
  4. Bersikaplah jujur. Datang pada saat kalian harus datang dan pergi pada saat pekerjaan sudah selesai. Jangan pernah meninggalkan pekerjaan agar orang lain dapat mengerjakannya untuk kalian. Kalian mengirimkan pesan pada orang lain bahwa kalian tidak memiliki integritas. Integritas adalah dasar dari rasa percaya. Bila kalian menciptakan rasa percaya pada pikiran orang lain, kalian menciptakan sikap dan lingkungan yang penuh harmoni. Semua orang menikmati harmoni.
  5. Mentraktir makan siang, membeli kartu ucapan selamat ulang tahun, makanan kecil, minuman atau boneka untuk anggota tim kalian dari waktu ke waktu. Berikan mereka sup pada saat sakit. Saling peduli satu sama lain. Janganlah menganggap kantor adalah tempat mendapatkan barang-barang gratis atau mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Akan tetapi, anggaplah sebagai tempat untuk berbagi, memberi dan mengembalikan kebaikan. Kapan? Kapan saja diperlukan.

We may plan this or that for the next 30 years but we can die tonight. The attitude that “Everyone in between is insignificant or just a stepping-stone to get where I want to be” would be a bad attitude to have. Because whether we live 30 years more or 30 hours more, it is WHAT we create in our environment which is of the ultimate importance. Do we create distrust, laziness, irresponsibility and dishonour? Or is the environment we create one of trust, responsibility, kindness and integrity? Whether we live long or not is out of our hands, but what we do during that time is in our hands. Life is much more than getting ahead at the expense of others. Getting ahead in life is fine, but creating a happy, trusting, caring environment along the way IS MOST IMPORTANT.

If we use people and a place as a stepping stone, we lose everyone’s respect and we lose respect for ourselves. We may get the money and material items, but when we lose respect for ourselves, then we become bitter and unhappy, even angersome eventually. That would not be a good result for all the hard work we put in. Hard work must result in happiness of the mind and not just material gains.

Happiness for others and ourselves is the ultimate result of work and career that we should seek. A happiness that brings zero harm to others.

  1. Doing work in such a way that others don’t need to correct us, or push us to meet the deadline is such a wonderful way to give back to others in the office. Free love to them.
  2. Helping another member of our team to finish their work, or cover for them in emergencies without agenda is a nice spiritual way to live.
  3. Never backbite about other people in our team. If we have issues, talk it out in a pleasant manner with the attitude to solve the problem but not to win. Winning is not everything. Sometimes you can win, but you lose everything in the process. Talking to iron things out is the best motivation. Never create schism or insinuate. Make peace and harmony.
  4. Be honest. Come when you are supposed to and leave when things are done. Never leave your work for others to cover for you. You send a message to people that you haven’t got any integrity. Integrity is the basis of trust. When you create trust in people’s minds, you create a harmonious attitude and environment. Everyone enjoys harmony.
  5. Buy lunch, a birthday card, a snack, a drink or a stuffed toy for others in your team from time to time. Get them soup when they are sick. Be caring with each other. Don’t think of the office as just a place to get as many freebies and as much money as you can. Instead, think of it as a place to share, give and return kindness too. When? Whenever necessary.
Work and Play Become One
  1. Terkadang kita mempunyai persoalan pribadi yang kita bawa ke kantor, kita tidak bisa menghindarinya karena hal ini sangatlah mengganggu kita. Jadi bila kita bereaksi negative kepada seseorang karena hal ini, mintalah maaf dengan sungguh-sungguh pada saat kalian sudah lebih tenang. Membawa masalah pribadi dalam pekerjaan tidaklah dapat dihindari, tetapi meminta maaf dari dalam hati adalah sangat baik. Minta maaf tidak membuat kalian kehilangan muka dalam jangka panjang. Tetapi membuat kalian mendapatkan muka.
  2. Tentu saja, jam kalian selesai kerja mungkin saja jam 6 pm, tetapi bila masih ada pekerjaan, selesaikanlah dan dukunglah tim kalian. Bila kalian kabur, setelah beberapa saat orang lain akan merasa kalian tidaklah bersama mereka, dan akhirnya mereka tidak akan mendukung kalian. Bekerja sama dalam tim, bukanlah tentang pekerjaan, tetapi tentang apa yang orang lain rasakan pada saat kalian menyelesaikan pekerjaan kalian dan tidak meninggalkannya untuk mereka. Inilah yang disebut peduli dan cinta kasih.

Pekerjaan dan bermain tidaklah berbeda pada saat pekerjaan kalian membuat perbedaan yang besar dalam hidup orang lain. Konsep bahwa bekerja dan bermain adalah berbeda hanya relevan pada saat tertentu dan bukan pada semua keadaan. Ada saatnya kita pergi “bermain” setelah bekerja DAN hal ini menjadi pekerjaan. Contoh: terjebak kemacetan, teman kalian membatalkan janji, dan kalian berada di mal yang ramai dan berisik, dalam hubungan yang menjatuhkan kalian, bersama orang yang hanya mempedulikan diri sendiri, pergi ke pesta yang tidak meriah, atau bertemu dengan orang yang tidak tulus. Ini adalah beberapa scenario bahwa waktu “bermain” bisa lebih buruk dari waktu “bekerja.”

Maksud dari bekerja adalah untuk mendukung hidup kita. Bagaimana mungkin kalian membatasi waktu pada saat kalian bahagia dan orang lain berbahagia karena kalian? Pikirkanlah dalam-dalam. Kita dibayar untuk membawa kebahagiaan bagi orang lain? Bagaimana mungkin hal ini bisa disebut bekerja? Membawa kebahagiaan bagi orang lain akan membawa kebahagiaan bagi diri kita sendiri. Tentu saja setelah mengatakan hal ini, kita akan ingin bertemu teman, pergi ke karaoke, berjalan-jalan di taman, melakukan puja, ret-ret, berjalan-jalan, pergi berbelanja setelah pulang kerja dan HAL INI TIDAK APA-APA.

Poin-nya adalah bila kalian memiliki hubungan yang baik dalam bekerja di suatu organisasi atau pekerjaan yang memberi manfaat bagi orang lain, jangan anggap hal ini sebagai pekerjaan. Karena ini sangat sangat sangat lebih dari sekedar karir. Dan lebih baik dari semua karir yang akan kau punya. Karir memberi kita uang dan tujuan yang kita harapkan dapat memberi kita kebahagiaan. Tetapi uang dan tujuan palsu tidak akan memberi kebahagiaan. Periksalah. Pekerjaan yang memberi tujuan dan kepuasan adalah sesuatu yang memperkaya kehidupan orang lain dalam JANGKA PENDEK dan JANGKA PANJANG. Mempunyai pekerjaan seperti itu bukanlah pekerjaan. Kita tidak boleh melihatnya seperti itu. Kita harus berpikir bahwa pekerjaan kita adalah sesuatu yang menyenangkan atau enak dinikmati.

  1. Apakah kita cukup beruntung untuk bekerja dengan orang yang memberi kepada kita, yang berbagi, suka beramal, mendukung, penuh cinta kasih, ramah, dan selalu berada di sana untuk berbicara dengan kita? Lalu mengapa berada diantara orang seperti ini dianggap seperti bekerja? Ini lebih mirip bersenang-senang bagi saya. Terkadang, teman kerja lebih baik daripada orang-orang yang kita temui di rumah, pacar kita, bahkan sahabat lama sekalipun. Mengapa kita memberi label teman di kantor sebagai hanya teman kerja? Mereka bisa saja menjadi teman yang sangat setia, dan pengasih. Bahkan lebih baik daripada orang yang kita namakan sahabat atau pacar. Banyak contoh-contoh seperti ini.

Kita harus merubah sudut pandang kita. Terkadang kita membawa masalah dari teman, dan hubungan khusus kita dari rumah ke tempat kerja. Kita membuat teman kerja kita mendengarkan, menghibur kita, dan berada disamping kita, tetapi kita tidak membalas kebaikan mereka. Ketika sudah jam 6 p.m., waktunya berhenti dan kita pergi!! Orang di luar tempat kerja yang membawa masalah dan orang di kantor menyelesaikannya untuk kita. Sepertinya terkadang teman kerja adalah SAHABAT SEJATI KITA. Periksalah.

Terkadang kita lebih merasa bahagia dengan teman kerja daripada diluar. Benarkah? Bisa saja benar. Lalu kita harus bertanya kepada diri kita sendiri, mengapa kita tidak berbuat lebih bagi teman kerja kita? Mengapa kita berbuat lebih kepada orang diluar kantor? Karena kita menamakannya sebagai sesuatu yang menyenangkan dan yang lain adalah untuk pekerjaan? Ini adalah persepsi yang salah bila kita telaah dengan lebih dekat. Apa yang kita lakukan bagi teman kerja kita? Berapa yang kita bagi atau berikan ataukah kita hanya mengambil? Orang di kantor memberi kita kehidupan untuk digunakan untuk diri kita sendiri dan sahabat-sahabat kita. Dan bila teman kerja kalian adalah orang-orang yang menyenangkan, diatas kehidupan mereka juga memberi kalian persahabatan, cinta kasih, pengertian, telinga untuk mendengar, nasihat, dukungan, dan kepedulian. Apakah kita memiliki etika dan rasa kemanusiaan untuk mengembalikan hal ini? Tentu saja kita punya.

  1. Hanya karena kita tidak satu sekolah dengan mereka pada saat kita masih muda atau mempunyai hubungan dekat dengan orang-orang di kantor bukan berarti mereka tidak boleh dihargai dengan waktu, energi, malam kita, dan akhir minggu kita. Ingatlah, ketika kita melihatnya sebagai “pengorbanan” atas malam atau akhir minggu kita dengan orang-orang di kantor adalah pada saat kita menamai hal ini sebagai bekerja. Tetapi bagaimana mungkin ketika kita pergi dengan teman atau pasangan, hal ini bukanlah pengorbanan atas waktu bebas kita? Karena pandangan kita salah.

Apakah orang yang mendukung dan mempedulikan kita ada di kantor atau di luar, BUKANLAH SEBUAH KRITERIA. Kriterianya adalah orang-orang ini MEMBANTU SAYA dan kebetulan saja mereka teman kerja. Karena itulah saya menghabiskan waktu dengan mereka di kantor atau diluar “jam kantor,” ini bukanlah pekerjaan, tetapi dengan sahabat dan menyenangkan. HAL INI SANGAT PENTING UNTUK DIINGAT.

  1. We all have personal problems that we bring to work sometimes and we can’t help it because it disturbs us. So if we have reacted negatively to someone because of it, apologize from the heart when you have calmed down. Bringing our problems to work is inevitable, but apologizing from the heart is wonderful. Apologies do not make you lose face in the long run. In fact, it helps you to gain face.
  2. Sure, your quitting time may be, for example, 6p.m., but if there’s work, finish it and support your team. If you run out, after a while people will feel you are not with them and then eventually they will not be with you. Teamwork is not about the work, it is about how you make others feel when you finish the work and not leave it to them. It’s called caring and compassion.

Work and play are not different when your work makes a huge difference in other people’s lives. The concept of work and play being different is applicable sometimes but not in all circumstances. There are times when we go to ‘play’ after work AND it becomes work. For example, being stuck in traffic, when your friends cancel appointments, when you’re in overcrowded loud shopping malls, in relationships that drag you down, being with people who are totally into themselves, getting to a party that is totally not happening or meeting people who are not for real. These are some scenarios where ‘play’ time becomes worse than ‘work’ time.

The purpose of work is to support ourselves so we can do activities that make us happy. But if our work is of such a nature that it brings others happiness, then we are privileged to work in such a job and it is not really a job. Hence we should not treat it as work or a job in the traditional sense of the word. Helping others brings happiness to ourselves, so that is not work. Hence timing is not the issue anymore. It’s about giving it your all, and getting a lot back as a result.

How can you make a cut off time when you are happy and others are happy because of you? Think deeply about that. We are being paid to bring others happiness. How can that be work? Bringing happiness to others will bring happiness to ourselves. Of course, having said that, we would like to meet with friends, go to the karaoke, have a walk in the park, do pujas, retreats, take a drive, go shopping after ‘work’ sometimes and THAT IS FINE.

The point here is that if you have the good affinity to work in an organisation or a job that benefits others, don’t treat it as work. Don’t treat it as a job. It is much, much, much more than a career. It is better than any career you can ever have. Careers give us money and a sense of purpose and we hope that it will bring happiness. But money and false self purpose doesn’t ever bring happiness. Check it out. A job that brings purpose and satisfaction is something that enriches the lives of others SHORT TERM AND LONG TERM. Having a job like that is not a job. We should never view it as so. We should think our job is actually happy time or enjoyable time.

  1. Are we lucky enough to work with people that give to us, who share, are generous, supportive, loving, kind, and always there to talk to us? Then why is being with these people considered being at work? It looks like enjoyment to me. Sometimes people at ‘work’ turn out to be better than people we have at home, our partners, even long time friends. Why do we label people at work just work mates? They can turn out to be super-duper, loyal, loving friends. Even better than people we have labeled our partner or friends. There are many instances of that.

We have to change our perspective. Sometimes we bring all our problems from our friends, relationships and home to work. We make our work mates listen to us, console us, be there for us, but we give nothing back. When it’s 6p.m., it’s quitting time and we are gone!! People outside of work bring us problems and people at work solve it for us. It sounds like the people at work ARE OUR REAL FRIENDS sometimes. Check it out.

Sometimes we feel happier with the people at work than outside of work. True? It can be true. Then we have to ask ourselves, why don’t we do more for our work mates? Why do we do more for people outside of work? Because one is labeled for fun and the other is for work? That is wrong perception if we examine it closely. What do we do for others at work? How much do we share or give or do we just take? People at work give us the livelihood to spend on ourselves and friends. And if your workmates are a wonderful group of people, on top of livelihood they will also give you friendship, love, understanding, an ear at times, advice, support and care. Don’t we have an ethical and humanistic attitude to return that? Of course we do.

  1. Just because we didn’t go to school with them when younger or have intimate relations with people at work does not mean they are not worth our time, energy, evenings and weekends. Remember, when we see it as a ’sacrifice’ of our evenings or weekends with these people at the office is when we label it work. But how come when we go with friends or partners, it is not a sacrifice of our free time? Because our view is wrong.

Whether the people that support us and care for us are at work or outside work is NOT THE CRITERIA. The criteria is that these people HELP ME and it just so happens they are from work. So when I hang out with these people in the office or outside beyond my ‘working hours’, it is not work, but it is with friends and enjoyable. THAT IS IMPORTANT TO REMEMBER.

Work and Play Become One

Bila kita ingin maju, kita harus membuat prioritas. Bila kita suka melukis, tetapi kita tidak menyisihkan waktu untuk itu, bagaimana mungkin kita akan dikenal atau menguasai hal ini? Apabila kita terikat pada hubungan yang tidak membawa kita kemana-mana, film, makan, gosip, dansa atau sangat melindungi keterikatan kita dan tidak mau melepaskan apapun untuk mencapai tujuan yang lebih besar, maka tujuan yang lebih besar tidak dapat dicapai. Berada pada suatu pekerjaan dan tidak mengerjakannya dengan sungguh-sungguh akan membawa kekecewaan. Kita harus bekerja dengan sungguh-sungguh apapun pekerjaan kita. Kita harus berpikir bahwa apa yang kita lakukan haruslah yang terbaik.

  1. Sangatlah penting untuk tidak selalu mengharapkan dukungan di kantor. Kantor kalian mungkin saja mempunyai proyek atau apapun yang sedang berlangsung, dan kita harus memastikan bahwa kita hadir. Hal ini memberi suasana persaudaraan, dukungan, dan kesetiaan. Apakah di rumah atau di kantor, kita harus sungguh-sungguh. Jangan memperlakukan orang lain sesuai dengan label yang kita berikan. Kita harus memperlakukan mereka atas siapa diri mereka tanpa menghakimi, tetapi dengan hati-hati. Menghakimi dan hati-hati sepertinya sama tapi dibedakan oleh motivasinya.

Bila pekerjaan dan waktu luang dipisahkan sedemikian rupa seperti bekas tembok Berlin, maka kalian tidak akan memperlakukan orang kantor seperti seharusnya, terutama bila mereka adalah orang baik. Ini tidaklah selalu kejadian, tetapi bisa saja. Bila kalian memperlakukan orang kantor seperti pekerjaan, maka kalian akan mengirimkan pesan secara tidak sadar bahwa mereka tidak patut mendapatkan perhatian kalian…mungkin. Hanya suatu pikiran. Pada umumnya, lihatlah dengan hati-hati siapa yang bersama kalian...

Pekerjaan dan teman kerja tidak harus selalu dilihat dalam batas waktu. Pada saat peluit berbunyi, bye bye! Ingatlah, lihat dimana temanmu berada. Siapa yang selalu ada untukmu dan siapa yang memberi kalian kata-kata bijaksana. Ingatlah kebaikan mereka di rumah atau di kantor.

Tsem Tulku

If we want to get ahead, we have to make our priorities more important. If we have a passion for painting, but we don’t set time aside for it, then how will we be recognized for it or accomplish it? If we are into relationships that get us nowhere, movies, food, gossip, dancing or very protective of our attachments and not willing to let go of anything to accomplish a bigger goal, then a bigger goal cannot be achieved. Being in some sort of job or work and not going all the way will lead to disappointment. We have to go all the way in whatever job we are in. We have to think that whatever we do, must be the best we have done.

  1. It is important to not always expect support in the office. The office may have some project or whatever going on, and we must make sure we attend. It gives the whole office a feeling of solidarity, support and loyalty. Whether at home or at the job, we should go all the way. Don’t treat others according to our own labels. We should treat them for who they are without being judgmental but with discernment. Judging and discerning seem similar but are differentiated by motivation.

If work and free time is made into such a distinction like the ex-Berlin wall, then you will not treat the people at work as they deserve especially if they are good people. This is not always the case, but it can be. If you treat the people at work as work, then subtly you send a message that they are not worth your attention… maybe. Just a thought. In general look carefully and see who is with you...

Work and workmates should not always be viewed as having a cutting off time. When the whistle blows – bye bye! Remember, see where your friends really are. Who is there for you and who gives you words of wisdom. Remember their kindness whether it is at work or home.

Tsem Tulku


Peraturan dan Persetujuan Terjemahan

Terjemahan ini adalah hasil pekerjaan dari penerjemah pihak ketiga di luar organisasi Kechara. Apabila terjadi salah paham terhadap pengertian dari materi versi bahasa Indonesia, versi bahasa Inggris akan dianggap sebagai versi yang lebih akurat. Walaupun setiap upaya telah dilakukan untuk memeriksa akurasi dari hasil terjemahan ini, kemungkinan terjadi kesalahan tetap ada. Semua pihak yang menggunakan informasi yang didapat dari artikel ini, melakukan hal tersebut dengan resiko pribadi.

© Hak cipta dari artikel ini dipegang oleh Tsem Tulku Rinpoche. Artikel ini bisa di - download, dicetak, dan gandakan hanya untuk kepentingan pribadi atau kegiatan belajar - mengajar. Kegiatan men-download, menggandakan, tidak boleh dilakukan untuk kepentingan komersial atau untuk mewakili kepentingan perusahaan komersial tanpa ijin eksplisit dari Tsem Tulku Rinpoche. Untuk kepentingan seperti ini, harap menghubungi Liason Susan Lim dari Kechara Media and Publication ( This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it ).

Translation Disclaimer

This translation is the work of a third party translator external to the Kechara Organisation. Should confusion arise in the interpretation of the Indonesian versions of the materials of this page, the English version will be considered as accurate. While every effort is made to ensure the accuracy of the translation, portions may be incorrect. Any person or entity who relies on information obtained from the article does so at his or her own risk.

© The copyright to this article is held by Tsem Tulku Rinpoche. It may be downloaded, printed and reproduced only for personal or classroom use. Absolutely no downloading or copying may be done for, or on behalf of, any for-profit commercial firm or other commercial purpose without the explicit permission of Tsem Tulku Rinpoche. For this purpose, contact Susan Lim, Kechara Media and Publication Liaison, at This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it .

 

Add comment

Visitors

We have 14 guests online

Social Media

Have anything to say?


Copyright © 2013