Menghindari Perbuatan Buruk, Reinkarnasi dan Karma PDF Print
Translated by Valentina Suhendra   
Article hits: 54838

 

Desember 31, 1997

(Ajaran diberikan pada tahun 1997 di Losang Drakpa, Kuala Lumpur)

Poin yang penting yang kita liput kemarin, jadi karena sangat pentingnya saya akan mengulangnya selama beberapa menit hari ini untuk menyegarkan [ingatan] dan supaya wajah baru dapat mengerti, dan karena besok adalah tahun baru dan banyak orang yang mempunyai acara dan tidak bisa datang. Karena hal ini, hari ini sangatlah baik karena kita memulai tahun baru dengan Dharma dan besok kita memulai Dharma lagi. Jadi tidak pernah dalam tahun-tahun sebelumnya atau di kehidupan sebelumnya kita mempunyai saat yang baik dimana kita bisa memulai [tahun baru] dengan ajaran Dharma yang suci.

December 31, 1997

(A teaching given in 1997 at Losang Drakpa, Kuala Lumpur)

…pivotal point or very important point that we covered yesterday so because it is pivotal or very important so I thought I will go over it with you today for a few minutes as a refresher and so that the new faces can understand, and since tomorrow is New Year and many people have engagements and could not have made it. In this case, today is very auspicious because we start off the New Year Eve with Dharma and also tomorrow we start off the Dharma again. So never before in our previous years or in our previous lives we have such an auspicious occasion where we can start off such an auspicious time with the holy teachings of the Dharma.

Jadi seseorang harus bersyukur bahwa pada pada saat seperti ini orang itu tidak membuang waktu atau melakukan kegiatan yang tidak memberikan kebahagiaan di hidup ini atau di kehidupan sebelumnya. Pada saat ini, seseorang telah berkorban, melepaskan, dan berusaha untuk datang kepada Dharma. Karena itulah acara ini sangat baik pada saat tahun yang lama berakhir dan baik karena kita melepaskan kebiasaan lama dan tindakan negatif dan memulai tahun baru dengan Dharma sebagai dasar yang baru dan motivasi baru dan transformasi baru, gaya hidup baru. Jadi, hal ini sangatlah baik.

Hari ini saya melakukan doa yang ekstensif dan meminta semua guru dari semua aliran yang kembali sejak pada jaman Buddha untuk memberikan kehadiran suci di sini jadi kita bisa mengerti Dharma dan mendengar Dharma berkonsentrasi, merenungkan dan oleh karena itu memperoleh hasil suci yaitu pencerahan.

Sekali lagi, seseorang tidak boleh mendengar Dharma dengan tiga macam kesalahan. Seseorang tidak boleh mendengar Dharma dengan motivasi rendah. Tiga kesalahan ini adalah: bagian yang terbalik ke bawah. Bagian yang menghadap ke atas tetapi kotor, dan bagian yang bocor. Seseorang yang mendengar Dharma dengan berbalik ke bawah adalah orang yang datang dengan pikiran tertutup. Jadi ketika bagian itu terbalik walaupun hujan turun dengan deras, tidak ada air yang tertampung. Bagian kedua adalah yang menghadap ke atas dan menampung air tetapi tercemar. Walaupun kita memberikan air terbersih dan terbaik, untuk dimakan atau apapun, airnya akan terkontaminasi walaupun barangnya bagus. Contohnya adalah mendatangi Dharma dengan motivasi yang salah. Mendengarkan Dharma untuk melewati waktu, mendengarkan Dharma karena kalian bosan. Mendengarkan Dharma untuk menjadi kaya, menjadi muda, menjadi cantik, atau untuk mempunyai kehidupan yang baik. Maka mendengarkan Dharma dengan cacat, yaitu bagian yang terkontaminasi dengan motivasi yang salah. Yang ketiga adalah mempunyai kebocoran dan kerusakan. Dharma kalian dengarkan dan setujui, kalian berpikir bahwa ini sangat baik, kalian pikir ini sangat indah, tetapi kalian tidak melaksanakannya. [Ajaran] masuk ke satu telinga dan keluar dari telinga yang lain.

Jadi seseorang tidak boleh mendengarkan Dharma dengan tiga bagian cacat.

Seseorang tidak boleh mendengarkan Dharma dengan motivasi rendah – agar mendapat kehidupan yang baik, agar mendapatkan kesehatan, agar mendapatkan uang, agar dewa menolong kita untuk mendapatkan umur panjang, kesehatan, kesempurnaan, uang, dan kekayaan. Kita mungkin bisa mendapatkan ajaran yang menolong kita mendapatkan kehidupan yang baik di masa datang. Kita tidak boleh mendengarkan dan melaksanakan Dharma dengan motivasi rendah seperti ini karena kita mempunyai Permata yang sangat berharga. Ketika kita memiliki Permata yang sempurna seperti ini, ketika kita memiliki metode yang sempurna, kita harus berusaha untuk mencapai yang tertinggi dan tidak hanya puas dengan lingkup menengah atau rendah.

Karena semua makhluk termasuk diri kita sendiri menginginkan kebahagiaan. Setiap orang tidaklah berbeda, setiap orang menginginkan kebahagiaan. Setiap orang mencari kebahagiaan. Bahkan semut dan serangga terkecil mencari kebahagiaan. Tidak ada orang yang menginginkan penderitaan sesaatpun, sesaat kebahagiaan. Berdasar pada hal ini, orang lain dan diri saya, tidaklah berbeda. Mereka menginginkan kebahagiaan, dan saya menginginkan kebahagiaan. Bila mereka menginginkan kebahagiaan, mereka lebih banyak dan saya hanya satu. Jadi, saya sebagai orang yang menggunakan logika mengabaikan orang lain dan hanya memikirkan diri sendiri? Bagaimana mungkin saya hanya melaksanakan Dharma untuk diri saya sendiri dan tidak untuk orang lain? Hal ini sangat tidak logis. Saya akan melaksanakan Dharma untuk semua makhluk yang menderita dan tidak pernah bertemu Dharma dan tidak pernah mengenal Dharma, tidak pernah mendengar Dharma, dan tidak mempunyai ide mengenai Dharma dan karena itu tidak mengetahui metode yang benar untuk mendapatkan kebahagiaan dan metode yang benar untuk menghentikan ketidak-bahagiaan.

Jadi saya akan mendengar Dharma dan karena itu mendapatkan pengetahuan dan pengalaman dari Dharma, saya akan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari agar bisa mendapatkan kondisi yang tercerahkan Buddha penguasa seperti Shakyamuni. Karena itu, saya tidak akan beristirahat pada kondisi tercerahkan dan kembali ke dunia ini lagi dan lagi dan lagi sampai semua penderitaan berhenti, sampai makhluk terakhir dibebaskan. Dengan motivasi ini, karena itu saya akan mendengarkan ajaran Dharma yang suci.

Motivasi ini adalah seperti walaupun sedang mengendarai mobil atau melalui kemacetan, pengorbanan yang biasa kalian lakukan, duduk di sini dengan postur yang tidak nyaman untuk tubuhmu, berpikir dan berfokus menjadi tindakan yang berpahala, menjadi kegiatan Dharma. Bila motivasinya rendah, dan motivasi ini hanya untuk mendapatkan kelahiran kembali yang baik, untuk mendapatkan kesehatan, untuk mendapatkan kekayaan lebih banyak, kedudukan, kecantikan dan kekuasaan, untuk mendapatkan sahabat, dan pengaruh, hanya untuk terlibat dalam aktivitas social, untuk datang ke wihara dan bertemu dengan teman, bila motivasinya seperti ini, maka ini bukanlah kegiatan Dharma. Ini akan menjadi kegiatan duniawi. Kegiatan yang kalian lakukan menjadi kegiatan duniawi. Mereka tidak membawa pahala atau karma untuk menjadikanmu tercerahkan. Bukan kegiatan yang kalian lakukan yang menentukan apakah hal ini adalah Dharma atau bukan. Tetapi motivasi dibalik tindakan ini. Ini adalah motivasi.

Sang Buddha, dalam salah satu kehidupannya di dongeng Jataka, berada di atas kapal dalam perjalanan dengan 500 pedagang. Sang Buddha adalah kapten yang bertanggung-jawab di kapal ini dan bertanggung jawab atas awak kapal. Walaupun beliau belum menjadi Buddha, beliau sudah mempunyai kesadaran tinggi seorang Bodhisattva. Dengan memiliki kesadaran tinggi Bodhisattva, beliau memiliki kekuatan untuk melihat masa depan dan dapat membaca pikiran orang lain. Ketika beliau sedang melakukan perjalanan dengan kapal, beliau menyadari bahwa salah satu penumpang kapal mempunyai niat untuk membunuh penumpang lain dan merampok barang-barang mereka. Buddha dengan cinta kasih yang besar, agar 498 penumpang lainnya tidak dibunuh, dan agar orang yang punya niat membunuh tidak mendapatkan karma negatif dan pergi ke alam bawah selama beberapa kalpa, Buddha dengan cinta kasih tidak punya pilihan selain membunuh orang itu. Tindakan membunuh Buddha adalah tindakan yang berpahala, menjadi tindakan Dharma, menjadi tindakan Dharma untuk mencapai pencerahan karena tindakah ini murni, obyeknya benar dan maksudnya tidak salah.

Karena itu, tindakan yang sepertinya negatif, bila dilakukan dengan dasar Bodhichitta atau cinta kasih akan membuahkan hasil yang baik. Tetapi tindakan yang seperti Dharma, bila kalian pergi ke wihara, bermeditasi, berdoa, membaca mantra, bila memberikan persembahan, membeli patung, berbuat amal, menolong orang miskin, bila kalian melakukan tindakan ini tetapi motivasi atau maksudnya hanya untuk kelihatan baik di depan teman-teman kalian untuk mendapatkan kedudukan dan kekuasaan, untuk naik dalam kehidupan, untuk mendapat pujian, untuk memperoleh kelahiran kembali yang baik atau untuk mendapatkan kekayaan, maka tindakan ini menjadi tercemar atau menjadi tindakan duniawi. Karena itu tidak sama dengan Dharma.

Jadi ketika seseorang pergi ke wihara, mendapat refuge, membaca mantra dan doa, hal ini bukan berarti orang ini adalah pengikut Dharma. Seseorang mengetahui apakah dia pengikut Dharma atau bukan bila tindakannya tidak dicemari oleh delapan hal duniawi. Tindakan Dharma apapun untuk bisa dikualifikasi sebagai tindakan Dharma harus bebas dari delapan hal duniawi – hal yang berhubungan dengan kenikmatan, mendapatkan materi, mendapat pujian dan reputasi bagus, menghindari penyakit, menghindari hilangnya kekayaan, agar tidak disalahkan dan reputasi buruk. Bila kalian melaksanakan Dharma dengan motivasi untuk mendapatkan kenikmatan, materi, pujian dan reputasi baik, untuk menghindari kehilangan materi, disalahkan dan reputasi buruk, maka kalian tidak melaksanakan Dharma. Walaupun kalian duduk di dalam gua dan membaca berjuta-juta mantra dan berjuta-juta meditasi, bila kegiatan Dharma kalian dilaksanakan dengan delapan hal duniawi, kalian bukanlah pengikut Dharma. Kalian bisa saja melakukan Dharma selama tujuh, delapan, sembilan, atau sepuluh tahun, kalian bisa melaksanakannya selama dua puluh, tiga puluh, atau empat puluh tahun dan kalian memeriksa diri kalian dengan hati-hati dan mendalam, tidak ada sebutirpun perbaikan yang kalian temukan. Bahkan pikiran kalian lebih rendah, lebih terikat, lebih marah, lebih negatif. Bahkan kalian mulai menggunakan Dharma untuk sebagai alasan untuk menutupi inequity, kesalahan, kebanggaan dan rasa egois kalian.

Bila kalian melaksanakan Dharma tanpa delapan hal duniawi, setiap tahun kalian akan melihat perbaikan dalam pikiran kalian. Kalian juga akan melihat perbaikan dalam situasi duniawi kalian. Bila situasi duniawi kalian berkurang/ memburuk dan tahun-tahun di Dharma meningkat, maka ini adalah pertanda buruk. Ini adalah pertanda bahwa kalian belum melaksanakan Dharma dengan sungguh-sungguh dan dengan baik. Bila kalian melihat pikiran kalian setiap tahun semakin resah, semakin marah, semakin penuh kebencian, semakin iri, dan penuh balas dendam, bila hal ini menjadi delusi, kalian sudah melaksanakan Dharma dengan salah. Bukan Dharma yang salah, bukan kegiatannya yang salah, tetapi cara kalian melaksanakannya. Bila kalian memiliki mobil yang bagus dan kalian tidak dapat menyetirnya, kalian akan mengalami kecelakaan dan kalian tidak bisa menyalahkan pembuatnya, kalian tidak dapat menyalahkan mobilnya. Hanya diri kalian sendiri.

Seperti itulah, Dharma adalah sempurna, Dharma adalah murni, Dharma tidak tercela, tidak tercemar. Tetapi seseorang harus mengetahui bagaimana cara melaksanakan Dharma. Dan sebelum melaksanakan Dharma, seseorang harus mengenal dan mendalami – mengetahui, mengerti mengenai apa yang harus dihindari dan apa yang tidak boleh dan harus dilaksanakan dalam Dharma. Tanpa delapan hal duniawi, karena bila hal ini dilakukan, kalian tidak akan memperoleh hasil. Pasti kalian tidak akan memperoleh hasil.

Secara umum, tradisi agama pada dasarnya hanya mempunyai satu tujuan. Semua tradisi agama, bertujuan untuk menciptakan keharmonisan, cinta, dan kasih sayang, dan perbaikan masyarakat atau kebahagiaan perorangan. Semua tradisi agama, alasannya adalah membawa keharmonisan, situasi bahagia atau masyarakat yang bahagia. Karena itu, dasar untuk mengetahui bahwa motivasi, semua guru agama di masa lalu dari semua agama telah mengajarkan jalan sesuai jamannya, geografi, kebudayaan, dan situasi perorangan. Karena itu, guru agama tersebut mungkin saja merubah kata-kata atau mengubah keadaan tetapi artinya pada dasarnya sama. Dasarnya sama – tidak menyakiti, tidak membawa ketidak-bahagiaan tetapi untuk meningkatkan kebahagiaan, memberi manfaat bagi makhluk lain, hal ini adalah dasar dari semua ajaran agama.

Bila pengikut agama dari berbagai aliran melakukannya dengan salah atau memakai cara yang buruk dalam melaksanakannya, tidak berarti Dharma yang buruk. Bukan berarti suatu aliran agama yang buruk, tetapi orangnya, seperti pengemudi yang tidak ahli, tidak tahu cara melaksanakan kepercayaan tersebut.

Pada dasarnya, semua pemuka agama di dunia, ajarannya mengatakan untuk membawa keharmonisan bagi kita semua. Atas dasar ini dan motivasi saja kita bisa mendapatkan rasa hormat, kita bisa mendapatkan penghargaan, dan pengetahuan awal tentang agama lain dan ajarannya. Semua kepercayaan atau ajaran adalah baik, sempurna karena hal ini mengajarkan jalan yang murni. Bila kalian datang ke K.L. dari kota lain seperti Ipoh, Penang dan Melaka, dll., kita bisa mengambil jalan yang berbeda. Kita bisa mengambil jalan yang lebih sulit, jalan yang lebih halus atau jalan yang lebih cepat. Kita bisa berjalan, kita bisa mengendarai sepeda, kita bisa menaiki kendaraan, kita bisa memakai pesawat terbang. Seberapa cepat atau lambat dan melalui jalan apa, bukanlah masalah selama kita berjalan pada jalan tersebut.

Karena itu menyadari bahwa motivasi dari pemuka agama, menyadari motivasi yang indah dan maksud altruistik dari setiap guru agama yang berada di dunia ini mewakili berbagai agama, kita bisa memberikan rasa hormat yang dalam bagi semua tradisi agama, dan bukan hanya kepercayaan agama Buddha, sekte Buddha, aliran Buddha. Semua aliran agama. Atas dasar dan pikiran yang sungguh-sungguh inilah kita bisa menghormati semua aliran agama.

Dan apakah ini adalah aliran agama yang benar atau tidak, bisa diperiksa, apakah ajarannya membuatmu menguasai delusi atau tidak, dan ketika saya memeriksa agama-agama di dunia mengajarkan metode yang berbeda untuk menguasai delusi dalam pikiran kita. Kita beragama Buddha dalam keyakinan Buddha, ketertarikan kita, karma kita, kesukaan kita adalah dalam keyakinan Buddha. Dalam restoran, kita mempunyai berbagai macam makanan. Tidak perlu berdebat mengenai makanan yang akan kalian makan selama perutmu dipenuhi. Kalian menjadi kenyang. Rasa lapar kalian diatasi. Jadi seperti itu, ada banyak aliran agama yang berbeda, ajaran agama lain, dan perbedaan metode agama. Dengan perbedaan agama ada berbagai sekte dan metode, semuanya baik, semuanya bermaksud sama. Hal yang penting bagi kita adalah memilih salah satu.

Dengan metode keagamaan ini, seseorang bisa mendapatkan kebahagiaan mental. Dengan metode duniawi, seseorang bisa mendapatkan kenyamanan fisik, seseorang tidak bisa mendapatkan kebahagiaan mental. Bila metode duniawi dan barang duniawi kita bisa mendapatkan kebahagiaan maka semakin banyak barang yang kita miliki, semakin banyak kekuasaan atau kedudukan yang kita miliki, kita seharusnya semakin bahagia. Nyatanya, bila kita memeriksa dengan baik, orang yang berada di tempat tinggi atau berkedudukan tinggi, orang kaya dan berkuasa cukup tidak bahagia. Mereka tidak mempunyai waktu bebas. Mereka mempunyai banyak masalah kesehatan, mereka mempunyai banyak kekhawatiran. Mereka mempunyai banyak ketegangan. Bahkan pada saat meninggal, pada saat kematian, mereka tidak bisa meninggal dengan damai, karena memikirkan apa yang akan terjadi dengan kekayaan mereka yang diperoleh dengan kerja keras yang akan segera ditinggalkan, siapa yang akan meneruskan. Apa yang akan terjadi kepada kekayaan mereka.

Orang yang duniawi dan bodoh, tidak mengetahui apa yang membawa kebahagiaan, terikat dengan hal-hal duniawi – berlian, mobil, rumah, pasangan, teman, kedudukan, dan kekuasaan. Orang duniawi yang tidak mengetahui metode kebahagiaan terikat. Karena itu, bila mereka memiliki mobil, atau cincin berlian, atau rumah bagus maka setiap hari mereka memilikinya, mereka harus menciptakan lebih banyak kebahagiaan. Kenyataannya, pada saat kita memiliki barang baru, beberapa hari pertama, kita seperti anak-anak dengan kebahagiaan sementara, tetapi dengan barlalunya hari, barang itu menjadi masalah dan sumber penderitaan. Contohnya, mobil, kalian harus merawatnya, kalian harus mebayar biayanya, kalian harus memastikan mobil itu terlihat bagus, dan catnya tidak rusak, bersih, dan mencucinya. Dan pada saat mobil itu bertambah tua, kita menjualnya. Hal-hal diatas adalah sumber masalah yang halus. Hal-hal di atas adalah sumber masalah. Akan tetapi, pikiran bodoh kita menginginkan obyek itu dan berpikir bahwa hal tersebut adalah sumber kebahagiaan, tetapi tidak mengetahui bahwa kalian menderita, dan tidak mengetahui bahwa mereka tidak bahagia.

Dan hal ini dapat diterapkan kepada semua Dharma. Semua Dharma dalam hal ini adalah semua fenomena, semua obyek yang kepadanya kita terikat, apakah itu adalah pasangan, sahabat, atau orang yang kita nikahi. Istri kita sangat muda, istri kita sangat cantik. Kita tertarik, tetapi seiring dengan berjalannya waktu, dia menjadi lebih gemuk, beberapa kehidupan mulai datang dan kita mulai melihat hal lain. Hal ini menunjukan bahwa kita terikat dan kita menyukai hal-hal yang kita pikir bisa membawa kebahagiaan, memberikan kita kenyamanan. Bila benar hal ini memberi kita kenyamanan, maka mulai dari hari kita kita memilikinya, setiap hari, kebahagiaan akan meningkat dan menjadi lebih baik dan lebih baik dan lebih baik.

Ini tidak berarti kalian harus pergi dan membuang perhiasan, cincin, akun bank, istri kalian. Tidak berarti seperti itu. Maksudnya adalah jangan terikat kepada hal-hal ini. Untuk memilikinya, tetapi pada saat yang sama menyadari bahwa hal-hal ini tidak membawa kebahagiaan yang sebenarnya. Mereka melengkapi dan membuat tubuhmu sehat dan pikiran kalian sehat sehingga kalian bisa mencari dan melaksanakan Dharma dan mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya. Kalian harus mempunyai tempat yang nyaman untuk tinggal, kalian harus mendapat makanan yang layak, kalian harus merawat diri. Bila kalian mempunyai pekerjaan dan kedudukan tinggi dan kalian harus efektif untuk orang lain kagum untuk mendapat peluang bisnis, hal ini tidak apa-apa. Tetapi bila kalian menyadari bahwa hal ini bukanlah akhir jalan, dan hal ini bila berdiri sendiri tidaklah cukup untuk memberikan alasan bahwa kalian cukup melakukan ini saja dan tidak melaksanakan Dharma. Oh, saya harus merawat diri. Saya harus sehat. Saya harus mempunyai kedudukan. Saya harus menjadi ini dan ini dan itu dan itu. Hal ini tidaklah beralasan. Setiap hal bersifat sementara. Setiap hal bersifat sementara. Setiap hal akan berakhir. Lalu akan menimbulkan dirinya dalam bentuk lain, lalu akan larut lagi.

Kemarin, kita memberi ajaran mengenai kesinambungan. Kemarin, saya berbicara tentang, saya akan mengatakannya lagi. Ajaran mengenai kesinambungan dari yang mulia Dharmakirti.

Setiap hal bergerak dalam kesinambungan, setiap hal berkesinambungan. Hal ini memiliki awal. Hal ini akan berakhir. Awalnya adalah tidak berawal tetapi akhir mempunyai akhir. Penderitaan akan berhenti. Seperti semua fenomena, seperti yang saya bicarakan, mempunyai awal. Secarik kertas. Pasti pernah ditekan, pasti pernah melalui mesin cetak, sebelumnya benda ini merupakan bubur kertas, sebelumnya benda ini adalah pohon, sebelumnya benda ini adalah pohon muda, sebelumnya benda ini adalah bibit. Sebelumnya benda ini lahir dari pohon sebelumnya dan dari pohon sebelumnya dan seterusnya dan seterusnya. Karena itu garis keturunan tidak dapat dihitung.

Seperti tubuh manusia juga tidak terhitung. Tubuh kita tidak terhitung. Benda ini tidak memiliki akhir dan tidak memiliki awal. Kita, tubuh kita agar dapat seperti sekarang ini, pasti mempunyai keberadaan terdahulu berdasarkan logika. Tubuh kita ada pada pukul 8:00, pasti juga ada pada pukul 7:00, pasti juga ada pada pukul 6:00, pukul lima, pukul empat, pukul tiga, kemarin, kemarin dulu, bulan lalu, tahun lalu, sepuluh tahun lalu, dan sebagainya. Bila kita dibuat (conceived) pada pukul 10:00, seperti yang saya jelaskan kemarin, tubuh kita pada pukul 9:59 berada dalam tubuh orang tua kita. Sel putih dari ayah dan sel merah dari ibu. Kedua sel itu pasti berasal dari orang tua kita. Kedua sel itu pasti bertemu pada pukul 10:00. Pada pukul 10:00, kita dibuat. Pada pukul 9:59 tubuh kita juga pasti mempunyai masa lalu. Pada saat itu kita berada di dalam orang tua kita. Seperti itulah kita memeriksa kebelakang, dan kebelakang, dan kebelakang, lagi dan lagi dan lagi dan lagi, orang tua kita pasti berasal dari orang tua mereka dan dari orang tua mereka dan seterusnya, tidak terhitung. Sungguh sangat banyak dan tidak terhitung, hampir tidak terhitung melebihi akal pikiran. Banyak sekali. Karena itu pada pukul 9:59, kalian memasuki rahim ibu and terbentuk (conceived) pada pukul 10:00. Seperti itu juga, dari sinilah tubuh fisik kalian berasal.

Sekarang agar pikiran kalian ada pada saat ini, pasti hal ini sudah ada pada saat sebelumnya. Pasti sudah ada pada 8:19, 8:18, 8:17………. Pasti sudah ada pada pukul 8, tujuh, enam. Pasti sudah ada kemarin. Kalian lihat, pikiran, ‘kicit’ berarti spontan, bergerak secara spontan. Pikiran bergerak seperti ini, seperti ini (Rinpoche mendemonstrasikan). Ia bergerak terus untuk membentuk suatu kontinum. Pikiran tidak hanya ada dan pergi. Agar ia mempunyai keberadaan pada saat ini, pasti ia mempunyai saat terdahulu – terdahulu, terdahulu, terdahulu untuk membentuk kontinum. Karena itu, pukul 8:00, 8:01, 8:02, 8:03, 8:04, 8:05,…06, …07, …08, …09 dan seterusnya berkesinambungan. Agar pikiran ada besok, pasti ia sudah ada hari ini, ia tidak bisa hanya muncul besok. Seperti itu, agar pikiran kalian ada pada pukul 8:20 sekarang, pasti ia sudah ada pukul 8:19. Ia berkesinambungan – pukul 8, pukul 7, pukul 6, kemarin, kemarin dulu, bulan lau, tahun lalu, sampai dengan saat kita berusia sepuluh tahun, Sembilan, delapan, tujuh, enam, sampai dengan saat kita berumur satu tahun.

Lalu kita kembali pada saat kita berada di rahim ibu – sekitar sembilan bulan. Pikiran kalian ada dalam bentuk halus – tidak terlalu aktif seperti sekarang tetapi tetap ada. Sekarang ketika kalian dibuat pada pukul 10:00, pada pukul 9:59, pikiran kalian pasti sudah ada. Pikirkanlah dengan hati-hati. Ia pasti sudah ada pada pukul 9:59, dan karena itu ada pada pukul 9:58, 9:57 … 9:00, 8:00, 7:00, 6:00, 5:00. Bila kalian dilahirkan pada tanggal 24 pukul 10:00, dimana kalian pada tanggal 23 pukul 10:00, pada tanggal 22 pukul 10:00?

Sekarang bila kalian mengatakan tubuh kalian datang dari orang tua kalian, maka hal ini adalah kebenaran logis dan dapat dibuktikan secara sains, secara logis, saya bisa berdebat dengan kalian. Maka bila pikiran kalian ada pada pukul 9:59 datang dari orang tua kalian, ia keluar dari orang tua kalian dan memasuki rahim ibu, karena itu untuk menciptakan pikiran kalian, maka pikiran kalian haruslah sama seperti orang tua kalian – cara berpikir dan kesukaan dan ketidak-sukaan di hidup ini. Karena itu bila orang tua kalian adalah jenius, ahli dalam memainkan musik, kalian juga harus seperti itu, kalian harus sama. Bila orang tua kalian tidak pandai, kalian juga pasti tidak pandai. Bila orang tua kalian sangat pandai, kalian pastilah jenius. Bila orang tua kalian ahli komputer, kalian juga pasti seperti itu. Bila orang tua kalian adalah petani lugu, kalian juga akan meneruskannya dan menjadi petani lugu. Benar, beberapa kondisi, beberapa hal yang kita sukai dikondisikan oleh orang tua kita, untuk beberapa waktu karena kita bersama mereka untuk beberapa waktu dan kita sudah dikondisikan untuk menyukai ini dan itu, dan ini dan itu. Tetapi jauh di dalam caramu berpikir sangatlah berbeda dari orang tua kalian, hampir semua. 99.9% dari cara berpikir kalian berbeda dari orang tua kalian, dan yang 0.1% yang kita temukan adalah kebetulan. Jadi bila ini adalah kasusnya, kita harus menolak secara logis dan berkata bila pikiran kita ada pada pukul 10:00, secara logis ia harus ada pada pukul 9:59. Sekarang, kalian dapat bertanya pada diri kalian, dimanakah pikiran kalian pada pukul 9:59? Dimanakah pikiran kalian pada pukul 9:58, 9:57? Ia pasti sudah ada untuk ada pada pukul 10:00. Semua fenomena pasti ada secara berkesinambungan. Ia pasti mempunyai saat terdahulu agar mempunyai saat selanjutnya. Ia tidak bisa muncul dengan spontan pada pukul 10:00. Semua fenomena, semua obyek apakah ia hidup atau tidak. Jadi dimana pikiran kalian pada pukul 9:59, 9:58, 9:00, 8:00? Ia pasti sudah ada diluar rahim itu dalam bentuk lain, mungkin di dimensi lain. Itu adalah kehidupanya yang sebelumnya. Jadi agar pikiran kalian mempunyai pikiran kalian sekarang, agar ia ada pada pukul 10:00, maka ia harus ada pada pukul 9:59, sangat mungkin pada kehidupan sebelumnya, melanjutkan.

Begitu juga bila kalian meninggal pada pukul 11:00, berapapun tanggalnya di masa depan, pada pukul 11:00, tubuh kalian mulai membusuk – ia akan menurun, sekarang ini sudah menurun, tetapi ia akan menurun dengan lebih cepat. Setelah beberapa bulan, kalian bisa bilang bahwa ia sudah hilang kecuali tulang yang akan menurun lagi dan lagi. Ia akan kembali ke bumi dan menjadi bentuk lain. Ia akan menjadi makhluk lain, dengan atau tanpa pikiran. Ia akan menjadi makanan bagi makhluk lain, jadi tubuh kalian menurun dan meneruskan ke bentuk lain.

Lalu pada pukul 11:00, kemanakah pikiran kalian ketika kalian meninggal dan meninggalkan tubuh kalian? Dimanakah pikiran kalian pada pukul 11:01, 11:02? Tubuh kalian terus berada dalam bentuk lain dan pikiran kalian akan terus berada dalam bentuk lain. Ia akan berkesinambungan. Dan itu adalah kelahiran kalian yang selanjutnya.

Apa yang menentukan kelahiran kalian yang selanjutnya? Dimana? Dalam enam alam: alam neraka, alam pretas atau alam hantu, alam hewan, alam manusia, semi dewa atau alam deva, atau yang tertinggi alam dewa – dewa bukan berarti Buddha atau Pusa, bukan dewa seperti ini tetapi dewa dalam arti kesenangan duniawi. Kelahiran kalian di salah satu dari keenam alam kembali sesuai dengan disposisi dan imprints yang kalian kumpulkan dikehidupan sebelumnya dan yang paling penting di kehidupan ini dan lebih penting lagi keadaan pikiran kalian pada pukul 11:00 saat meninggal akan membuka imprint karma yang sudah kalian kumpulkan di kehidupan ini dan kehidupan sebelumnya. Contohnya, kalian dulu adalah petani yang memelihara tanaman, bunga, dan whatnots. Kalian bisa saja tukang kebun yang menanam bibit bunga, merawat tanah, mencabut ilalang dan menggemburkan tanah untuk membuatnya halus dan bisa ditanami. Kalian menanam bibit. Kalian menyiraminya setiap hari dan melindunginya. Kalian menghalangi anjing dan kucing untuk datang. Lalu ketika bibit mulai tumbuh, pada saat itu bila kalian melindunginya dengan baik dan menjaganya, maka ia akan tumbuh dengan kuat dan besar. Bila pada saat itu, salah satu anak kalian datang dan merusaknya, atau burung bisa datang dan berpikir untuk membunuhnya. Atau kucing atau anjing bisa datang dan mengencingi dan membunuhnya. Pada saat itu, apakah ia akan tumbuh atau tidak tergantung dari perlindunganmu. Seperti itu juga pada saat kematian, walaupun kalian melaksanakan Dharma, kalian sudah bekerja keras dalam hidup kalian, tetapi bila keserakahan, kebencian, dan kemarahan tidak dikendalikan pada saat kematian, kekawatiran: apa yang akan terjadi pada keluarga saya? Apa yang akan terjadi pada barang-barang saya? Apa yang akan terjadi pada kedudukan saya, nama saya, ketenaran saya? Apa yang akan terjadi? Bila kalian menjadi terikat dan karena keterikatan kalian, karma kalian yang terdahulu yang negatif, akan tumbuh dengan segera. Sementara bila pada saat kematian kalian damai, menyenangkan dan berada dalam keadaan pikiran yang baik terfokus pada tiga Permata: Buddha, Dharma, Sangha atau guru kalian (sifu) atau ajaran Dharma, dan kalian berfokus dan tidak terikat, dengan segera bibit Dharma akan tumbuh dan kalian akan mendapatkan kelahiran yang baik.

Tetapi ini tidak berarti kalian tidak mempunyai bibit buruk atau bila kalian mengalami kelahiran yang buruk tidak berarti kalian tidak mempunyai bibit baik. Ini hanya berarti pada saat itu saat kebenaran, bibit positif yang telah kalian kumpulkan akan tumbuh. Sekarang kita dipenuhi dengan bibit karma. Kapan atau bagaimana mereka akan tumbuh ditentukan oleh aktivitas mental yang menjadi focus kalian. Bila kalian berfokus pada aktivitas negatif, bibit negatif akan muncul dan tumbuh. Seperti mempunyai taman bunga, bunga yang kalian perhatikan akan tumbuh lebih baik. Jadi bila kalian menanam dan memperhatikan bibit yang baik, bibit yang baik akan tumbuh. Sementara bila kalian berfokus pada bibit positif, bibit negatif yang kalian kumpulkan di kehidupan sebelumnya dan di kehidupan ini akan hilang perlahan-lahan dengan ritual penghapusan dosa. Sementara bila kalian berfokus pada hal-hal negatif: berbohong, memecah belah, menyakiti, berkata kasar, mencuri, menyeleweng, atau hal-hal seperti ini.

Dan bila kalian mendapatkan kesuksesan atau kalian mendapatkan kebahagiaan sementara (bila kita menamakannya kebahagiaan), dan bila kita mendapatkannya, bukan berarti kalian berhasil. Ini hanya berarti gudang bibit baik kalian sedang digunakan dan dihabiskan, dan hanya bibit buruk yang tertinggal sehingga pada saat kalian meninggal, kalian akan segera mengalami kelahiran kembali yang buruk. Dengan segera, kalian akan mendapatkan kelahiran buruk. Ini seperti akun bank. Kita tidak mencari uang lebih banyak dan mengisinya kembali. Bila kita menghamburkannya lagi dan lagi, dan lagi, ia akan habis. Sementara biala kita menggunakannya dengan bijaksana dan mengisinya kembali lebih dari yang kita gunakan, kita akan mempunyai simpanan yang baik. Tetapi bila dalam kehidupan ini kita secara sembrono menghabiskan karma baik kita dengan merawat kesehatan fisik, kesejahteraan kita, kesenangan sensorik dan fisik, dan kita menggunakan karma baik yang kita kumpulkan di kehidupan sebelumnya dan di kehidupan ini untuk kegiatan sembrono, kesenangan sensorik, maka kita menghabiskan karma positif kita dan kita hanya akan memiliki karma negatif. Karena inilah beberapa orang sangatlah kaya, sangat sukses dan sangat tinggi dalam kehidupan dan tiba-tiba mereka jatuh. Mereka kehilangan posisi, nama, mereka kehilangan semuanya. Dan mereka menderita, dan mereka menangis dan berteriak, mereka berlari dan mencari bantuan. Mereka putus asa. Karena mereka sudah menggunakan karma baik mereka untuk hal yang salah dan tidak mengisi kembali dengan karma positif.

Sementara pengikut Dharma memiliki barang sederhana, dalam aktivitasnya, dalam kesenangan sensorik dan hanya menggunakan sedikit dari karma baiknya dan pada saat yang sama melaksanakan Dharma dan mengumpulkan lebih banyak karma positif menambah apa yang mereka sudah punya, mengisi kembali dan menambah. Karena itu, pengikut Dharma hanya akan naik. Dan bila pengikut Dharma mempunyai masalah dan penderitaan, dan bila pengikut Dharma mempunyai masalah dan sakit hati, maka hal ini adalah pertanda baik. Mengapa ini adalah pertanda baik? Karena karma mereka untuk menderita dalam lingkungan yang lebih tidak bersahabat sedang dihabiskan. Contohnya, bila kalian sangat haus, bila kalian harus sebagai manusia di alam manusia di negara OK ini, di lingkungan yang OK, meskipun kalian haus kalian hanya menderita kehausan yang singkat, kalian bisa pergi dan mencari minum, meminta sesuatu, mencari sesuatu, membeli sesuatu. Sementara bila kalian haus dan berada di situasi neraka atau situasi hewan, kalian tidak dapat mendapatkan apa-apa untuk diri kalian. Karmanya sama tetapi karena lingkungannya, penderitaannya akan lebih atau kurang. Apakah ini jelas? Apakah ada yang mempunyai pertanyaan mengenai hal ini? Saya ingin hal ini menjadi sangat jelas.

Bila kalian mempunyai karma untuk menderita haus di alam manusia, kehausan ini adalah sementara dan singkat dan tidak begitu sulit untuk ditahan. Sementara bila kalian mempunyai karma yang sama di alam lain seperti sebagai hewan, hantu atau neraka, maka kalian tidak bisa mengatasi rasa haus kalian. Karmanya sama. Seperti itulah pengikut Dharma yang baik bila kalian mendapatkan penderitaan: bencana keuangan, ketidak-harmonisan, kebencian, sakit hati, ketidak-nyamanan dan penyakit, kalian harus bersyukur dengan bermartabat. Bila kalian adalah benar-benar pengikut Dharma dan menerima bagian kalian. Kalian harus menyadari, bahwa kalian sedang membersihkan karma negatif kalian sekarang, dan dengan anugerah dari Tiga Permata, guru dan aktivitas penghapus dosa kalian kalian mengalami karma negatif kalian sekarang dan karena itu kalian tidak akan menderita dimasa depan. Contohnya, bila kalian membaca banyak “Om Mani Padme Hum’, kalian seharusnya mengalami kecelakaan mobil dan kalian membantu banyak orang dan kalian melakukan kegiatan amal dan kalian mengendalikan amarah, keinginan dan nafsu, kalian mengendalikan mereka sebisa kalian dan mengurangi mereka dan melaksanakan [Dharma], kalian tetap mempunyai karma untuk mendapatkan kecelakaan dan mungkin kedua lengan dan kaki kalian seharusnya patah dan rusuk kalian terluka dalam kecelakaan ini, tetapi karena ritual pembersihan karma yang kalian lakukan, kalian tetap mendapatkan kecelakaan, tetapi hanya satu dan bukan dua lengan kalian yang patah dan kaki kalian yang patah bukan rusuk. Dan bila kalian meningkatkan kekuatan ritual kalian, kalian mungkin bisa mencegah kejadian tulang patah – hanya kecelakaan ringan. Sementara bila kalian membersihkan karma kalian lebih baik lagi, mungkin kalian hanya lecet sedikit dan bila kalian lebih membersihkannya, kalian dapat membersihkan karma ini secara lengkap sehingga kalian tidak usah mengalami kecelakaan sama sekali. Hal ini bisa mempengaruhi karma kalian, dan hal ini bisa mempengaruhi apa yang akan terjadi pada kalian, tetapi kalian harus melakukannya. Mereka akan mengajarkan kalian, menunjukan pada kalian dan menjelaskan tetapi kalian harus tetap melakukannya.

Bila kalian mengetahui bahwa kalian akan mengalami kecelakaan besok dan Kuan Yin mendatangi kalian dalam mimpi dan berkata: jangan pergi besok. Tetapi kalian tidak mendengarkan nasihatnya, kalian terlalu ingin untuk bertemu pacar kalian. Kalian terlalu ingin untuk pergi ke disko. Kalian terlalu terikat dengan pacar kalian dan kalian tidak bisa melepaskannya. Kalian tidak mempedulikan nasihatnya dan kalian mengalami kecelakaan. Ini bukanlah salah Kuan Yin. Beliau telah berbuat yang terbaik untuk melindungi kalian. Kalian yang harus menderita karena karma kalian. Sementara bila sejak awal kalian sudah mengurangi delusi, keterikatan, kemarahan, kebencian – bila kalian sudah menguranginya, maka bila Kuan Yin memberikan jawaban dalam mimpi kalian memperingati dan kalian mendengarkannya karena kalian sudah mengurangi keterikatan kalian. Daripada pergi menemui pacar kalian di bar tertentu, kalian menelpon mereka dan mengatakan “saya tidak bisa melakukannya hari ini, maafkanlah saya.” Dan bila kalian tidak pergi, kalian bisa menghindarinya.

Ini adalah contoh kasar. Kalian diajarkan metode, dan kalian diberikan metode. Terserah kalian untuk melaksanakannya.

Bila sesuatu salah, janganlah merengek dan menangis kepada guru kalian, jangan menutup altar kalian, berteriak kepada Kuan Yin, berteriak kepada Buddha dan berkata, “Mengapa kamu tidak menolong saya?” Hal ini tidaklah logis. Ketika kalian melakukannya, mungkin saja ini sangat dramatis. Pengikut Dharma yang lain yang tidak tahu banyak mungkin berkata, “O yeah, itu benar.” Tetapi orang yang mengetahui yang sebenarnya, orang yang mengerti mengenai cara bekerja karma akan mengasihani, dan mempunyai cinta kasih yang besar dan berkata, “oh dia tidak mengerti, biarkanlah.” Buddha bisa bekerja hanya bila kalian setuju dan mencoba melakukannya. Lama, Rinpoche dan sifu dan biksu hanya bisa melakukan sesuatu bila kalian setuju untuk melakukannya sepenuh hati, bukan setengah hati, bukan seperempat hati, bukan satu atau dua persen tetapi seratus persen. OK, sekarang bila kita harus menawar, mari kita membuatnya menjadi lima puluh persen sekarang, tetapi paling tidak berusahalah. Ajaran ini dirancang untuk mengeluarkanmu dari penderitaan, bukan untuk memenjarakanmu.

Seperti yang saya jelaskan kemarin, pagar dirancang untuk melindungi seorang anak dari jatuh. Ia tidak dirancang untuk memenjarakan si anak. Peraturan dalam sebuah negara, peraturan dalam sebuah kota, peraturan dalam sebuah rumah, peraturan dalam sekolah atau institusi ada di sana untuk melindungi individu secara keseluruhan, bukan untuk memenjarakan individu. Bila peraturan didasarkan pada kebenaran dan kejujuran, maka tentu saja, ia dirancang untuk melindungi individu.

Seperti itu juga Buddha mengajarkan hal-hal untuk melindungi kalian. Dharma adalah perlindungan. Tempat yang bisa kalian datangi untuk perlindungan dan kepercayaan kalian adalah Dharma. Ketika kalian melaksanakan Dharma dan kalian membaca, merenung, berpikir, dan kalian melaksanakan Dharma dalam hidup kalian, kalian akan melihat bahwa hal-hal ini berbeda.

Bila kalian tidak berubah dalam tingkah laku dan bila kalian tidak melaksanakan Dharma, bagaimana mungkin kalian mengharapkan kebahagiaan yang sebenarnya dan kedamaian untuk mendatangi kalian? Bila kalian berpikir untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dengan gaji lebih besar, mengembangkan usaha, memperbanyak armada mobil kalian, memperbanyak istri kalian, tidak. Bila ini adalah halnya, maka lebih banyak istri, lebih banyak mobil, lebih banyak permata yang kalian miliki, kalian akan berada dalam kebahagiaan yang terus-menerus! Dan saya tidak pikir seorangpun dari kita yang seperti itu.

Karena itu, berpikirlah mengenai cara bekerja karma. Sekarang mungkin kalian berpikir, saya sudah menciptakan karma ini, saya akan menderita apa yang sudah saya ciptakan. Saya tidak mempunyai pilihan. Tidak, bukan seperti ini. Ada beberapa jenis karma yang tidak bisa kalian hentikan lagi, yang telah tumbuh. Ada beberapa karma yang tidak perlu kalian derita, yang belum tumbuh. Contoh, bila kalian sangat sakit dan melalui penyakit ini kalian seharusnya meninggal, penyakit yang sangat parah dan kalian seharusnya meninggal, tetapi kalian melakukan praktek yang baik dan melakukan ritual pembersihan dosa dan kalian melakukannya dengan baik. Kalian melakukan ritual untuk membersihkan dan mengumpulkan karma baik, kalian masih tetap akan sakit tetapi pada saat yang sama mungkin kalian tidak meninggal…pada saat yang sama mungkin kalian tidak meninggal. Kalian akan hidup dan meneruskan. Berapa banyak Dharma yang kalian laksanakan dan bagaimana cara kalian melakukannya akan tergambar dalam kehidupan sehari-hari kalian, segera. Dalam cara hidup kalian. Contoh, bila dalam bentuk fisik dan tempat kalian tinggal, karma telah tumbuh dan karena itu kalian berada dalam bentuk itu, suka dan tidak suka. Maka ia sudah tumbuh. Tidak banyak yang bisa kalian lakukan mengenai hal ini. Apa yang belum tumbuh secara penuh? Kita bisa melihat bila pikiran masih bisa diubah. Kesehatan – kita bisa sembuh, ada obat, ada metode. Pikirkanlah dengan jelas.

Hal-hal yang tidak bisa diubah lagi karena karma sudah berbuah, kalian menerimanya dengan bermartabat, dengan butir garam, dan menerimanya dengan anggun dan tidak berteriak, membentak, melawan, menendang dan mengamuk di lantai dan mengeluh mengenai beban kalian ke orang lain lagi dan lagi. Apa manfaat yang bisa diambil? Sementara hal yang masih bisa diubah, kalian melakukan sesuatu tentangnya. Melakukan sesuatu dalam dua level: pada level spiritual dan pada level duniawi. Pada level spiritual adalah bermeditasi mengenai kekikiran dan akibat dari sifat kikir dan karena itu memotong potensi di masa yang akan datang untuk menderita kemiskinan. Pada level duniawi, kalian tidak menipu dalam bisnis – berbohong mengenai produk kalian, berbohong mengenai keahlian kalian, berbohong mengenai hal-hal yang belum kalian lakukan. Kalian harus mengejar semua hal duniawi yang kalian lakukan dengan kejujuran dengan berusaha, dan dengan antusiasme. Dan melalui dua metode ini, kalian bisa mengubah situasi kalian. Bila kalian mempunyai masalah dalam kesulitan kalian dan mereka adalah hasil dari karma negatif, karena tindakan negatif, bagaimana mungkin kalian bisa memperbaiki situasi kalian dengan lebih banyak tindakan negatif, dengan berpikir bila saya melakukan hal ini dan saya akan mendapatkan uang tunai, saya akan melakukan hal baik. Tidak mungkin! Tidak logis! Tindakan baik mengakibatkan hasil yang baik. Tindakan negatif mengakibatkan hasil negatif. Bila kalian mempunyai hasil negatif sekarang dan kalian mengabadikannya dengan lebih banyak tindakan negatif, berharap untuk mendapatkan hasil positif, hal ini adalah tidak logis. Kalian tidak bisa menanam bibit jeruk dan mengharapkan pohon apel yang tumbuh. Dan bila pohon apel yang tumbuh apa yang akan terjadi? Maafkan kalimat ini, kalian sedang berpura-pura bodoh! Bila kalian melakukan bisnis, sebagai contoh, atau kalian menerapkan sesuatu dalam hidup kalian, bila kalian melakukannya dengan maksud negatif, metode negatif, kalian tidak akan mendapatkan hasil yang positif. Dalam jangka pendek mungkin kalian mendapatkan uang. Dalam jangka pendek mungkin kalian mendapatkan hubungan atau sahabat atau kenyamanan tetapi pada akhirnya kalian akan menderita, sekarang dan di kehidupan yang akan datang. Jadi bagaimana mungkin tindakan negatif membawa hasil yang positif? Hal ini tidak logis. Hal ini tidak berdasar. Kalian dapat bertanya pada agama apapun. Siapapun di dulia ini yang mempunyai jenis logika apapun, guru spiritual manapun, agama manapun. Bila kalian bertanya, hal ini adalah benar. Bagaimana mungkin tindakan negatif membawa hasil yang positif? Bagaimana mungkin tindakan negatif kecil dan tindakan positif kecil dicampur bersama membawa hasil positif? Tidak bisa! Tolong pikirkan hal ini dengan pikiran kalian yang pandai dan terdidik. Ini bukanlah hal yang harus kalian terima atas dasar keyakinan. Hal ini bukanlah sesuatu yang dimasukan ke telinga kalian seperti, bila kalian tidak melakukannya, kalian akan masuk neraka. Hal ini adalah logis, hal ini adalah jelas, hal ini adalah hitam dan putih. Pikirkanlah.

Ketika kalian berpikir mengenai hal ini “Toh tu nah” yang berarti bila kalian dapat mempersepsikannya dan menyadari kebenarannya, maka laksanakan dalam hidup kalian, implementasikan dalam hidup kalian dengan segera. Bukan besok, bukan setelah mendapatkan bisnis. Segera! Dan tindakan negatif yang telah kalian lakukan di kehidupan yang lalu dan dikehidupan ini, yang telah kalian lakukan dengan negatif, hasilnya tidak harus kalian derita. Kalian tidak harus menderita karena hasilnya. Tindakan yang dikumpulkan dengan membunuh, mencuri, menyeleweng, berbohong, memecah belah, berbicara dengan menyakitkan, gossip, keserakahan, iri hati, mempunyai pandangan yang salah. Tindakan yang berbasis pada akar negatif yang telah kalian lakukan dalam hidup kalian (kehidupan ini dan kehidupan selanjutnya) apakah kalian mengingatnya atau tidak. Kalian tidak harus merasakan akibatnya. Kalian tidak harus.

Atas dasar apa? Karma tidaklah kekal dan karena itu dapat dirubah. Karma tidaklah kekal. Semua fenomena adalah tidak kekal dan karena itu karma adalah fenomena – salah satu jenis fenomena. Secara logis, kalian bisa merubah karma itu. Kalian bisa merubah haluannya.

Bila kalian mempunyai gunung salju dan banyak salju yang jatuh dan matahari lebih panas dari biasanya, dan banyak salju yang mencair. Delapan puluh, sembilan puluh kilometer dibawah ada sebuah desa yang biasanya menikmati sungai yang mempunyai lebih banyak air yang mengalir pada musim itu. Tetapi tahun ini ada bahaya bahwa desa ini akan disapu oleh banjir. Bila orang-orang itu mengambil tindakan pencegahan, mereka dapat menghindari kerusakan. Bila gunung ada di sini, dan desa ada di sini, diantaranya mereka dapat membangun tanggul untuk mengerahkan air dari desa dari pada langsung menuju desa. Kita bisa mengarahkan air sungai untuk melewati dan mengelilingi desa sehingga desa tidak hancur. Pencegahan.

Seperti itulah, gunung salju adalah gudang tindakan negatif kalian, yang dikumpulkan berdasarkan sepuluh keburukan, keburukan yang saya sebutkan kemarin dan hari ini secara detil. Dan dikumpulkan dengan tubuh perkataan dan pikiran yang bisa dialihkan, atau dikurangi. Ketika kumpulan keburukan kalian berkurang, sama seperti gunung salju yang siap untuk turun, matahari adalah factor lingkungan. Lingkungan tidak merujuk pada suatu tempat di sekitar sini tetapi kepada orang dan bagaimana mereka berpikir. Ketidak salju mulai mencair dan turun untuk menghancurkan desa (desa adalah dirimu sendiri), bila kalian mengambil tindakan pencegahan, kalian akan mengurangi kekuatannya. Pasti kalian dapat mengurangi kekuatannya. Dengan cara ini, kalian tidak mendorong air itu untuk naik, kalian tidak mengeringkan airnya, kalian tidak menghancurkan atau menguapkan airnya. Seperti itu juga kalian tidak dapat membuat karma menghilang, kalian tidak dapat menghancurkan karma kalian, kalian tidak dapat menghindari karma kalian seperti sungai, tetapi kalian dapat mengurangi kekuatan karma dan akibatnya. Bagaimana caranya? Dengan ritual pembersihan dosa.

Ritual pembersihan dosa seperti apa? Banyak. Tetapi semua ritual pembersihan dosa didasarkan pada empat kekuatan, “Tok shi” – empat kekuatan lawan, semua ritual pembersihan dosa didasarkan pada empat kekuatan lawan.. Ritual pembersihan dosa bisa berupa, bersujud, persembahan mandala, mantra Vajrasattva. Bisa berupa perjalanan ke tempat suci, persembahan kepada Tiga Permata, melakukan kegiatan amal, dan lain lain, dan lain lain, agar ia mempunyai efek tergantung pada jumlah yang kalian lakukan, bagaimana cara kalian melakukannya, dimana kalian melakukannya. Agar ia mempunyai efek, ritual pembersihan dosa harus berdasarkan pada empat kekuatan lawan. Yang pertama adalah penyesalan, penyesalan yang berharap kalian tidak melakukannya, malu karenanya dan tidak memamerkannya seperti burung merak dan bangga pada kejahatan kalian dan bangga karena kalian mempunyai mulut besar dan bangga kalian bisa melawan, kalian bisa mempengaruhi orang lain, bangga karena kalian bisa membeli orang, bangga karena kalian bisa memaksa orang lain karena kalian mempunyai kekuasaan, kedudukan atau kekayaan, untuk memamerkannya seperti ini sama seperti burung merak yang tidak tahu malu. Tetapi untuk mempunyai rasa malu, menyesal dari dalam hati dan penyesalan yang berdasar pada mengetahui bahwa tindakan ini membawa bencana dan ketidak-bahagiaan pada diri sendiri di masa depan lagi. Karena itu, takut akan konsekwensi untuk diri sendiri dan orang lain. Mengetahui atas dasar logika bahwa hal ini akan datang pada kalian dan kalian tidak mau mengalaminya dan seperti desa bodoh dibawah yang menikmati pesta, tidak khawatir akan banjir yang akan datang. Melompat-lompat berkaraoke, apapun dan ketika banjir datang semua orang terbunuh kecuali beberapa orang yang selamat dan semua orang duduk dan berkabung. “Kita seharusnya berbuat sesuatu. Kita harus berbuat sesuatu. Sudah terlambat. Kalian harus melakukan tindakan pencegahan. Nomor satu adalah penyesalan.

Nomor dua adalah bertekad untuk tidak melakukannya lagi. Tekad sungguh-sungguh untuk tidak melakukannya lagi. Bila tindakan tersebut berakar kuat dan kalian tidak bisa mencabutnya dengan segera, setidaknya cabutlah perlahan-lahan, bila tidak dengan segera. Jadi bila kalian berbohong, bila kalian berteriak seperti saya – saya berteriak beberapa kali sehari kepada biksu saya – cobalah untuk berteriak sembilan kali. Dulu sekitar lima belas kali, dan sekarang sekitar sembilan atau sembilan setengah. Terkadang kembali menjadi sembilan. Sekarang saya mau menjadikannya delapan. Janji tahun baru saya adalah menjadikannya delapan – teriakan saya kepada orang yang melayani saya dan biksu, delapan. Dan tahun depan, tujuh. Itu dapat dicapai. Ini adalah tujuan yang baik dan dapat dicapai. Ini bukan karena saya melakukannya tetapi karena saya tidak mau diteriaki di kehidupan saya yang akan datang. Dalam kehidupan ini saya terlalu terikan, dan karena saya terkondisi, dan karena saya tidak tercerahkan dan karena saya makhluk biasa, saya menyadari saya melakukannya, jadi karena itu, janji tahun baru saya, malam ini pada pukul 12:01 am adalah untuk berteriak kepada biksu saya delapan kali sehari dan bukan sembilan. Tetapi sebenarnya saya akan bekerja sedikit lebih keras – saya akan menjadikannya lima atau empat. Dalam kasus ini delusi yang paling kuat yang kita miliki, apakah itu nafsu, apakah itu berteriak atau membentak, apakah itu keinginan untuk berbohong mengenai suatu produk yang kita tahu hanya kelas tiga. Atau bila kita mempunyai keterikatan kepada orang tertentu yang kita kenal. Sangatlah penting kita harus mengurangi hal-hal di atas selangkah demi selangkah. Bagaimana? Dengan menyadari bahwa efek paling merusak – nomor satu. Dengan segera mengetahui bahwa hal-hal ini memiliki efek merusak dan akhirnya kita akan menderita karena karma negatif yang dikumpulkan dari tindakan negatif tersebut. Karena itu nomor satu, untuk memiliki penyesalan. Nomor dua berharap dengan sungguh-sungguh untuk tidak melakukannya lagi. Tidak merokok di depan teman-temanmu di bar karaoke. Tahun ini saya akan membeli Mercedes satu buah kurang dari biasanya. Tahun ini mobil saya akan berkurang satu. Tahun ini saya teriakan saya kepada istri saya akan berkurang satu kali, kepada suami saya berkurang satu kali untuk membuat teman saya kagum. Lalu ketika kita kembali, kita melakukannya dua kali lipat, kita melakukan lebih. Ini bukanlah hasil yang sebenarnya. Dan tidak peduli betapa menyenangkan atau menghibur pada saat itu, ketika hasil dari tindakan tersebut datang dan berbuah, kalian akan berada dalam masalah besar, masalah besar – dan kalian akan mengamuk, dan berteriak dan merengek dan berguling di lantai dan menangis sambil menjambak rambut. Dan berlari ke sifu kalian, lari ke wihara Tao dan lari ke biksu. Dari situlah saya mendapatkan bisnis saya! Jadi jangan beri saya bisnis. Tidak ada bisnis lagi. Itulah saat kalian lari ke wihara Kuan Yin dengan dupa bergetar, menangis pada lututmu, mengharapkan pertolongan dan bantuan. Sudah terlambat! Sudah terlambat! Ketika kalian mendapatkan kecelakaan kalian lari ke wihara Kuan Yin dan berkata, tolong jangan biarkan saya mendapatkan kecelakaan – tidak begitu pandai.

Tetapi bila kalian menghindarinya dari awal – pertama adalah penyesalan, kedua adalah tekad sungguh-sungguh untuk tidak melakukannya lagi dan memperlakukan dirimu dengan cinta kasih. Bagaimana mungkin saya tidak menjadi Buddha pada tanggal tiga Januari dan kalian melompat dari tebing. Kalian berlari kembali ke sifu kalian. Kalian memberikan buku kalian kembali, kalian mengembalikan patung kalian. “Ini bukan untuk saya – ini tidak bekerja.” Tidak kalian harus mengerti bahwa kalian sudah berada di samsara selama ribuan tahun.

Dalam kehidupan ini, bila kalian makan banyak kue seperti saya, kalian menyukai kue keju dan black forest, pada saat kalian masuk ke dalam bakery, hati kalian berdebar-debar karena kalian bersemangat. Setiap kali kalian berkata “Diet, diet. Saya akan berdiet.” Tetapi ketika seseorang membawakan kue keju dari rasa cinta kasih, kalian membuat alasan dengan berkata, “Oh kalian sangat baik, bila saya tidak memakannya, saya akan menyakiti perasaanmu. Bila saya tidak memakannya, ia akan terbuang.” Hal ini menunjukan kurangnya tekad dalam diri saya! Jadi bila saya makan kue keju secara terus menerus seperti saya. Saya melihat diri saya sekarang, - 50 kilo lebih berat dibanding tahun 1992, lebih banyak masalah kesehatan. Dan bila saya terus seperti ini, saya akan merusak kesehatan saya, merusaknya. Lupakan mengenai penampilan fisik yang tidak terlalu penting tetapi secara kesehatan saya merusak tubuh manusia saya yang berharga, perlakukanlah dirimu dengan cinta kasih bila kalian menyadari bahwa dalam hidup ini saja kalian mempunyai kebiasaan buruk. Sesulit apa untuk menariknya? Seberapa sulit untuk mencabutnya? Seberapa sulit? Bila kebiasaan kecil seperti kebiasaan kue keju saya sangat sulit untuk dicabut, yang saya rasa sangat sulit untuk dicabut, dan saya belum mencabutnya dan teman-teman saya tidak membantu saya. Sangat sulit. Saya punya keterikatan pada lasagna, kue dan spaghetti. Setiap kali seseorang berkata, saya membawanya untukmu, pikiran saya berkata “tidak” tetapi mulut saya berkata “ya.” Saya tidak tahu mengapa. Bila ini adalah otomatis. Dalam kasus ini, kebiasaan ini sangatlah kuat. Ini hanyalah contoh.

Jadi bila kebiasaan kecil seperti ini tidak bisa kita hilangkan, bagaimana kita bisa menghilangkan kebodohan, kebencian, nafsu, kecemburuan, kemarahan, pikiran jahat, keserakahan dalam dua, tiga hari, dalam dua tiga tahun? Adalah asumsi yang tidak logis bahwa kalian akan dapat menghilangkannya dengan cepat ketika kalian mempunyai kebiasaan ini selama banyak kehidupan sebelumnya – tidak terhitung! Bagaimana caranya kita bisa menghilangkannya dalam dua, tiga hari? Lalu kita mengembalikan semuanya: Dharma kita, mala kita dan kita pergi ke sifu kita dan mengucapkan selamat tinggal dan pergi ke karaoke. Tidak, ini tidak bisa terjadi dengan begitu mudahnya seperti itu. Berikan cinta kasih dan maafkanlah dirimu. Tetapi jangan terlalu memaafkan, lalu kalian memberikan toleransi lebih. Tahun depan Rinpoche, tahun depan. Tahun ini tidak bisa untuk saya. Saya sudah jatuh dari tebing.

Dengan tidak melakukan hal ekstrim, kedua ekstrim, pergi ke jalan tengah. Tetapi bila kalian berteriak sepuluh kali sehari seperti saya, kalian membuatnya menjadi sembilan. Dan percayalah, dengan latihan, dengan usaha dan antusiasme dan dengan perenungan bahwa hal ini tidak ada manfaatnya, kalian akan dapat mencabutnya. Kalian pasti dapat menguranginya. Saya pasti bisa mengurangi teriakan saya. Saya mempunyai banyak saksi. Saya telah menguranginya. Seperti itu juga saya sudah mengurangi kecemburuan saya. Saya mempunyai kebencian dan keinginan untuk balas dendam. Ketika saya di Amerika, bila seseorang melakukan sesuatu terhadap saya, saya tidak akan berbicara dengan mereka selama berbulan-bulan. Bukan karena saya membenci mereka tetapi karena saya tidak mempedulikan mereka, biarkan mereka pergi. Sekarang bila seseorang melakukan sesuatu kepada saya, saya hanya tidak mempedulikan mereka selama beberapa hari, bukan karena kebencian tetapi untuk membuat orang itu menenangkan diri dan membuat saya menenangkan diri dan dengan doa dan harapan bahwa di masa depan hal ini tidak akan terjadi lagi, dengan sungguh-sungguh, saya memberi tahu kalian. Tidak begitu mudah bagi saya sekarang untuk jatuh ke dalam jebakan itu, bukan karena saya adalah seorang Rinpoche. Saya tahu saya adalah orang biasa dengan banyak kesalahan – dan banyak kelebihan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kelebihan dan mengurangi kesalahan. Dan terima kasih saya mempunyai Dharma yang menunjukan bagaimana caranya. Dalam kasus ini, Dharma Buddha. Sekali lagi disini, adalah untuk mengurangi kesalahan. Jadi dengan mengasihi dan memaafkan dan dengan waktu dan kesabaran bahkan untuk dirimu sendiri, kalian dapat mengurangi aktifitas-aktifitas ini.

Dan kalian dapat berjanji untuk tidak melakukannya lagi di masa depan. Dan perlahan-lahan kalian membuat delapan, tujuh, enam. Bahkan bila kalian membutuhkan lima puluh tahun untuk menghilangkan kemarahan kalian, hal ini adalah sangat baik. Karena kalian tidak akan pernah mempunyai kemarahan lagi, karena itu kalian tidak akan mengumpulkan karma yang datang dari kemarahan kalian dan kalian tidak akan menderita akibatnya yang artinya lahir di tanah tandus, tanah yang kosong dan tidak memberi kebutuhan nutrisi. Yang kasar dan sangat kotor. Kalian akan terhindar dari kelahiran kembali dalam situasi itu. Dan mencabut kemarahan bisa dibawa dengan kalian karena kemarahan berasal dari pikiran dan ketika kamu meninggal kalian akan membawa pikiran bersamamu. Karena itu, bila kalian membawa pikiran bersamamu ke kehidupan selanjutnya dan kalian mulai dengan satu langkah lebih maju: tidak ada kemarahan, kalian mengalihkan usaha kepada kecemburuan. Lalu pada kehidupan selanjutnya dan selanjutnya dan selanjutnya. Akhirnya kepada pencerahan. Tetapi bila kalian menggunakan kehidupan kalian sebagai manusia yang berharga dengan 10 kelebihan dan delapan kebebasannnya yang telah saya ajarkan kemarin dengan detil, untuk mengumpulkan kekayaan, umur panjang, sahabat, kecantikan, kekuasaan dan kedudukan, dll., bila kalian menggunakannya untuk alasan ini dan karena mereka tidak diasosiasikan dengan pikiran kalian tidak bisa membawanya ke kehidupan selanjutnya. Mereka akan ditinggalkan dan karena ini mereka tidak memberi manfaat dalam arti sebenarnya. Karena itu mereka kosong. Jadi bila kalian membuang waktu kalian seratus persen untuk kebahagiaan yang bersifat transitori, sementara dan is ilusif, maka pada saat kalian pergi, kalian akan sangat tidak bahagia.

Karena itu untuk memfokuskan pikiran kalian pada hal yang akan membawa kebahagiaan yaitu menghancurkan delusi: tiga delusi utama adalah kebodohan, kebencian, dan nafsu. Kalian bisa menyingkat ketiga hal ini sebagai kebodohan, hal yang mengikat kita pada penderitaan, keberadaan yang tidak terkendali.

Orang seperti H.H. Dalai Lama, H.H. Sakya Trinzin, Tenzing Khenytse Rinpoche, contohnya, mereka tidak berada dalam putaran roda kehidupan tanpa kendali. Mereka di sini dengan kendali, dengan kekuatan, dengan maksud, secara ahli menolong orang lain keluar. Itu adalah situasi yang berbeda, seperti Buddha lahir di planet ini dengan kendali, dengan maksud untuk menunjukan pencerahan terakhir. Beliau bisa saja mencapai pencerahan di Taman Surga (Tushita) tetapi dengan sengaja mencapai pencerahan di dunia kita sebagai contoh, sebagai pertunjukan untuk kita tiru.

Seperti itu juga bila kalian menghancurkan semua delusi dan kepanjangannya kalian bisa mendapatkan kebahagiaan dengan dasar logika. Ketika delusi muncul kalian tidak akan bereaksi terhadapnya. Ketika kalian tidak bereaksi, kalian tidak mengumpulkan karma negatif, karena itu kalian tidak akan menderita karena akibatnya. Hal ini sangatlah logis.

Karena itulah Buddha berkata kalian tidak perlu tergantung pada Tuhan eksternal, dewa eksternal. Kalian tidak memerlukan dewa dan arwah untuk mencapai pencerahan. Hanya untuk kalian dan diri kalian sendiri. Keselamatan ada di tangan kalian sendiri. Berdasarkan logika ini, bermeditasilah dan renungkan dan pikirkan mengenai hal ini. Kalian tahu ketika kalian mulai merenung dan bermeditasi dan ketika kelakuan kalian berubah dan begitu juga dengan tindakan kalian. Jangan berpikir tentang meditasi atas dewa telanjang dengan pasangan, lima puluh ribu lengan, banyak kepala, penuh kemarahan di tengah api dan asap, mengendarai kuda, lembu, ayam… saya tidak tahu mereka mengendarai apa. Jangan berpikir mengenai dewa yang gemuk atau kurus, dengan warna berbeda bila kalian bahkan tidak berusaha semenitpun untuk mengubah delusi kalian. Dewa-dewa itu menutup mulut mereka mentertawai kalian dan pada saat yang sama berusaha untuk terlihat pengasih ketika kalian melihat mereka karena ini bukanlah jalan menuju pencerahan.

Bila kalian membaca beberapa mantra, memberikan persembahan, bersujud beberapa kali membuat rupa Buddha, menyimpan gambar guru kalian, terjepit dengan jidat kita dan bisa mencapai pencerahan, maka kita akan tercerahkan sejak dulu. Saya sudah melakukan hal ini bertahun-tahun dan saya masih belum tercerahkan – jauh dari sana. Inilah guru saya. Saya sudah pergi ke acara refuge saya sudah pergi ke inisiasi itu, saya mendapatkan patung ini, mala itu, saya sudah pergi ke India, guru saya adalah His Holiness, Eminence, Tanpa Cacat, Yang Disembah dan seterusnya. Tetapi lihat kita, kumpulan karma negatif yang memalukan! Tidak tersentuh.

Karena itu, buatlah resolusi tahun baru kalian dengan segera, resolusi tahun baru, resolusi kehidupan untuk mengurangi delusi kalian langkah demi langkah dengan segera berdasarkan alasan yang masuk akal. Itu adalah yang kedua dari empat kekuatan lawan. Dan sebagian dari kalian berpikir apakah kita masih mempunyai waktu untuk yang ketiga dan keempat? Ya kita punya. Pertama: penyesalan, kedua: bersumpah tidak berbuat hal yang sama. Bahkan bila kalian tidak mau melakukannya lagi, buatlah janji kecil. Kalian datang di depan Buddha, Kuan Yin, sifu, Buddha meditasi kalian, diri sendiri, bila berharap kebahagiaan dan kalian menganut pikiran bebas dan berkata: hari ini dari 9 am sampai 9 pm, saya tidak akan berteriak kepada siapapun. Dan besok kalian berteriak sedikit dan hari selanjutnya kalian mengambil sumpah. Lalu lagi dan lagi dan lagi. Perlahan-lahan menguranginya. Saya melakukan ini. Saya melakukan ini satu jam setiap hari, bukan satu hari. Saya mengerti diri saya. Saya akan mengatakan dari 9:00 sampai jam 10:00, saya tidak akan berteriak – pada saat itulah saya biasanya tidur, saya biasa bangun pukul 11:00. Tidak perlu Rinpoche besar di singgasana besar di wihara kalian. Kalian melakukannya sendiri. Kalian mempunyai komuni dengan Buddha. Kalian mengatakannya di depan altar. Tidak masalah bila itu adalah Kuan Yin atau Shakyamuni atai bila rupa Buddhanya terbuan dari porselen atau tanah liat atau apapun. Untuk mempunyai komuni dengan Tiga Permata dan dengan sadar mengatakan: mulai hari ini, mulai mala mini saya tidak akan melakukannya. Cukup.

Inilah rahasianya. Tidak ada mantra, tidak ada lonceng, tidak ada inisiasi. Maaf, bila kalian bisa duduk di sana dan memikirkan kue keju dan spageti dan pacar dan pergi ke karaoke, dan perayaan dan minum sementara kalian bermeditasi ada wanita lewat dan kalian melihat ke arahnya. Mantra tidak akan menolong kalian. Tidak akan menolong kalian. Tidak akan berbuat apapun. Lalu kalian merekam mantra dalam tape di meja dan memainkannya lagi dan lagi dan kalian hanya tidur siang. Bila kalian bisa tercerahkan dengan cara ini, datangi saya dan saya akan mencobanya. Ini bukanlah caranya. Ini cara untuk berkomitmen apakah itu mingguan, bulanan, dan meningkatkannya ke tahunan dan akhirnya tingkatkan ke seumur hidup. Kalian harus praktis, memaafkan, dan mengasihi dan simpel dengan dirimu dan mengetahui batas kemampuanmu. Bila batasan kalian sangat jauh, bagus sekali. Jangan berteriak keesokan hari “Saya sudah membuat komitmen ini dan gagal dan terlihat bodoh di depan teman-teman kalian. Peganglah komitmen dengan sungguh-sungguh.

Nomor tiga adalah melakukan ritual pembersihan dosa, ritual penawar – penawar apapun seperti meditasi Vajrasattva, meditasi pengakuan dosa kepada 35 Buddha, mengambil refuge, bersujud, mempersembahkan mandala – pilih saja. Mengunjungi tempat-tempat sakral, melayani guru kalian – semuanya membantu kalian untuk membersihkan karma negatif yang sudah terkumpul.

Nomor empat, yang terakhir dari empat kekuatan lawan adalah melakukan hal yang berlawanan dengan apa yang telah kalian lakukan. Daripada berteriak, berbicaralah dengan lembut, daripada memendam kemarahan, bersabarlah. Dari pada terikat, cobalah untuk tidak terikat. Ketika kalian melihat orang yang mengganggu kalian dan membuat kalian gila, paksakan senyuman lalu pergi dan jangan mengatakan apapun. Bila kalian suka bergosip mengenai orang lain, kurangilah. Hentikanlah. Bila kalian biasa membesar-besarkan kontribusi kalian tetapi kalian tahu kalian tidak memberi banyak, hentikanlah. Kalian mendapatkan sedikit uang sekarang, dan di masa mendatang kalian akan menderita kemiskinan, lihatlah di dunia ini ada berapa banyak orang yang menderita kemiskinan dan berapa banyak orang yang benar-benar kaya. Perbedaannya cukup besar. Untuk melakukan tindakan yang berlawanan: untuk mengembangkan cinta kasih, untuk membaca buku Dharma dengan motivasi yang baik, untuk mengambil refuge, untuk melakukan meditasi, untuk mendengarkan Dharma, untuk berkontribusi pada Dharma secara emosional, secara fisik, secara financial, apapun yang kalian bisa dengan tulus.

Bila kalian melakukan empat kekuatan lawan ini dan kalian menerapkannya dalam Dharma atau ritual pembersihan dosa apapun, pasti, dengan yakin dan stabil kalian akan terbersihkan. Dan kalian akan mendapat tanda dan mimpi akan pembersihan ini. Contohnya dalam mimpi kalian kalian membersihkan guru kalian, membersihkan patung Buddha, muntah, mendaki gunung, melihat matahari terbit, melihat bulan terbit, atau keluar dari padang pasir, atau keluar dari kolam yang dalam. Kalian akan mendapat tanda-tanda ini dengan jelas. Saya jamin.

Saya tidak mengatakan bahwa saya sangat bersih, saya sangat sempurna, tetapi suatu hari dalam gelap saya melakukan ritual pembersihan dosa. Saya bermimpi H.H. Zong Rinpoche yang mulia datang. Zong Rinpoche adalah salah satu guru utama saya. H.H. Zong Rinpoche datang ke kamar saya dan saya mempunyai seember air dan memakainya untuk mencuci kakinya, dan saya mencucinya dengan hati-hati. Saya mencuci dan mengeringkannya dan menyentuhkan kepala saya ke kakinya. Lalu saya bangun dengan perasaan sangat senang. Lalu saya bertanya kepada salah satu guru yang lain yang kebetulan sedang bersama saya, H.H. Drikung Rinpoche dari sekte Kagjupa, dan saya mengatakan padanya bahwa saya mempunyai tanda-tanda ini dan bertanya apa artinya dan beliau berkata, “O ritual perbersihan dosamu menunjukan efeknya.” Ini saya beritahukan kepada kalian bukan untuk mengatakan bahwa saya berhasil. Saya masih harus melakukan banyak hal untuk berhasil. Saya masih harus membersihkan banyak dosa. Tetapi karena ritual pembersihan dosa inilah saya bisa mengatakan bahwa banyak penyakit yang seharusnya datang kepada saya bisa dihindari dan penyakit yang datang kepada saya jauh lebih ringan dan derajatnya pun berkurang. Dan juga ketika saya minum obat, ia memberikan efek.

Ritual pembersihan dosa benar bekerja dan ia harus didasarkan pada empat kekuatan lawan. Bila empat kekuatan lawan diterapkan dan kalian melakukan ritual pembersihan dosa kalian akan dapat membersihkan karma kalian, karma baik. Dan bila ini didedikasika untuk Bodhichitta, untuk pencerahan, ia akan menjadi pahala.

Ada perbedaan antara karma baik dan pahala. Pahala adalah sesuatu yang membuatmu mencapai pencerahan. Karma baik adalah apa yang membuatmu mendapatkan kelahiran yang baik dalam kehidupan ini. Mereka berbeda. Pahala mencakup keduanya tetapi karma tidaklah sama dengan keduanya. Pahala akan memberikanmu kehidupan yang baik, situasi yang baik, kebutuhan yang terpenuhi, sahabat, keluarga dan kedudukan, kekuasaan, dll., dll., dan aksesoris, bila boleh dikatakan seperti ini, yang akan membantu kalian dalam jalan menuju pencerahan. Sementara karma baik, bukan pahala, yang dikumpulkan atas dasar motivasi yang salah atau palsu akan memberi kalian kekayaan, kebahagiaan seperti keluarga, kasta tinggi, dll., dll., tetapi tidak membantu kalian mendapatkan pencerahan tetapi akan membawa kalian jatuh dalam samsara. Sebagai contoh, Bunda Theresa mempunyai kekayaan, dan kekuasaan dan reputasi yang membawa beliau ke pencerahan. Dan pencerahan juga ada di tangan kita. Kalian lihat perbedaan antara pahala dan karma baik? Ada perbedaan besar. Jangan tertukar.

Karena itu, kita harus membuat motivasi yang sangat baik sebelum ajaran Dharma, tindakan Dharma, bersujud, meditasi, ritual, perjalanan ke tempat suci, bertemu dengan guru. Bahkan pada kegiatan amal sebelum kita melakukannya kita harus mengembangkan motivasi yang sangat baik. Karena itu tindakan itu akan menghasilkan kumpulan pahala, bukan karma baik.

Hasil dari karma baik adalah seseorang yang sangat kaya dan hanya memberi untuk memamerkan pada teman, untuk menunjukan seberapa kayanya mereka, bagaimana kedudukan mereka. Apa yang mereka lakukan baik, tetapi hasilnya adalah lahir kembali di alam manusia dengan kekayaan, atau sebagai dewa dengan kekayaan tetapi kekayaan itu akan membawa mereka jatuh. Mereka bisa lahir kembali di keluarga yang sangat kaya tetapi mereka mengalami pukulan, penderitaan, siksaan. Mereka juga bisa lahir di keluarga yang sangat kaya sebagai anjing poodle, mendapatkan makanan enak, dimandikan, dirapikan bulunya. Kalian bisa lahir dalam kekayaan yang tidak berguna bagi kalian. Kalian bisa lahir dalam keluarga kaya dan menikmati kekayaan selama beberapa tahun lalu meninggal. Atau kalian bisa lahir di keluarga kaya dimana kalian tidak mendapatkan warisan. Kekayaan dan kegiatan amal tidak memberikan hasil yang seharusnya.

Tindakan amal dengan motivasi yang baik akan memberikan hasil yang baik – pencerahan, tanpa mempedulikan kegiatannya. Seperti ibu yang memarahi anaknya karena sayang dibanding memarahi ibu saya karena kemarahan. Keduanya memarahi tetapi motivasinya berbeda. Karenanya hasilnya juga berbeda. Hal ini sangat logis. Bukan tindakannya.

Karena itu, seseorang harus menerapkan empat kekuatan lawan: penyesalan, resolusi untuk tidak melakukannya lagi, penawar – berbagai penawar seperti Vajrasattva, bersujud, mandala, ritual pembersihan dosa, dan yang keempat adalah melakukan hal yang berlawanan dengan yang biasa kalian lakukan seperti berbuat amal, memiliki cinta kasih, bermeditasi, belajar untuk menggantikan aktivitas negatif dengan aktivitas positif dengan waktumu. Hal ini sangatlah mendasar, sangat fundamental, disetiap keyakinan agama. Karena itu saya memberitahu pada awal ajaran ini bahwa ajaran dari setiap keyakinan agama adalah sama secara fundamental. Sekarang yang tertinggal bagi kita adalah melakukannya.

Hari ini kalian semua tahu, hari ini kalian mempunyai pikiran yang baik dan kalian bisa melakukannya. Dan kalian bisa menyerapnya, kalian bisa mengerti dan kalian bisa melakukannya. Terserah kalian untuk melakukannya. Terserah kalian untuk mengaplikasikannya. Keselamatan kalian ada di tangan kalian sendiri.

Saat ini kemarin, kita berbicara mengenai sepuluh tindakan negatif. Sekarang kita akan membicarakan beberapa karma baik dan hasilnya. Ada dua jenis karma: karma pembawa dan karma penyelesaian. Karma pembawa yang baik akan membawa ke kelahiran kembali dalam situasi yang bahagia dalam alam itu. Karma pembawa yang baik akan membawa kepada kelahiran kembali pada salah satu alam atas: manusia, semi dewa, dewa. Atau bila kalian ingin menggunakan bahasa Sanskrit: manusia, asuras, dan devas. Asura adalah semi dewa atau setengah status dewa, antara manusia dan dewa. Contoh: kondisi manusia yang selalu menderita penyakit adalah karena orang itu mempunyai karma pembawa yang baik dan karma penyelesaian yang buruk. Dia memiliki karma pembawa yang baik yang membawanya kepada kelahiran kembali sebagai manusia tetapi sebagai manusia ia tidak bisa memenuhi potensinya karena karma penyelesaian yang membuatnya selalu sakit. Bila karma pembawa dan karma penyelesaian yang buruk digabung akan mengakibatkan kelahiran kembali dalam daerah neraka – karma pembawa yang buruk dan karma penyelesaian yang buruk.

Situasi anjing peliharaan yang diberi makan dan diperlakukan dengan baik adalah hasil dari karma pembawa yang buruk dan karma penyelesaian yang baik. Situasi manusia yang penuh kemiskinan adalah hasil dari karma pembawa yang baik dan karma penyelesaian yang buruk.

Manusia yang lima inderanya baik yang terpenuhi kebutuhannya dan melaksanakan Dharma adalah hasil dari karma pembawa yang baik dan karma penyelesaian yang baik. Hal ini sangat sangat jarang. Sebagai contoh tanpa diskriminasi, berapa orang yang menghadiri ajaran Dharma? Hasil dari karma pembawa yang baik tetapi karma penyelesaiannya tidak disana. Mengapa? Karena Dharma mengajarkan metode yang benar untuk memutuskan penderitaan. Untuk mendengarnya, kalian harus mempunyai karma pembawa, karma penyelesaian dan pahala, terutama pahala.

Seperti itu juga menahan diri untuk tidak melakukan sepuluh tindakan buruk sangat penting untuk mengembangkan keahlian dan kebijaksanaan. Bila seseorang bisa menahan diri dari tiga keburukan mental, yang berhubungan dengan tubuh dan perkataan juga bisa dihindari dengan mudah. Bila kalian bisa menghindari tiga kondisi mental negatif, keburukan dengan tubuh dan perkataan bisa dikendalikan dengan mudah. Pikiranlah sebabnya. Bila aktivitas mental bisa dikendalikan, baik untuk hidup dalam tempat yang padat karena ia akan membawamu kepada cinta dan kasih sayang, karena kalian akan memiliki kesempatan untuk mempraktekan cinta dan kasih sayang kepada orang yang tidak memiliki cinta dan kasih sayang. Lebih jauh lagi, lingkungan seperti itu menawarkan situasi dimana kemarahan bisa dibangkitkan, karena itu memberi seseorang kesempatan untuk mengaplikasikan empat kekuatan lawan dan mengembangkan kesabaran. Tetapi tanpa kendali mental, lebih baik hidup menyendiri. Pemula itu seperti kelinci dan delusinya seperti gajah. Jadi penawar delusi ini sangatlah lemah. Bila seseorang hidup sebagai penghuni kota, akan baik untuk memeriksa motivasi orang itu sebelum pergi keluar dan mengawasi keinginan yang timbul keteka seseorang berjalan melalui kota.

Buah dari tindakan buruk dilengkapi dengan maksud dan penyelesaian tindakan itu harus dialami kecuali empat kekuatan lawan diterapkan. Tetapi bila tindakan itu dilakukan tanpa maksud orang itu tidak harus mengalami buah karma dari tindakan tersebut.

Ada tiga tipe karma “tong tze you you ghi leh”atau karma yang buahnya dialami pada kehidupan ini. Karma kedua adalah karma yang buahnya dialami pada kehidupan selanjutnya. Ketiga adalah karma yang buahnya dialami pada beberapa kehidupan selanjutnya. Untuk mendapatkan keberadaan yang tinggi untuk menolong orang lain, delapan kualitas berikut sangatlah bermanfaat. Semua karma baik, semua tindakan baik, semua tindakan positif, didasarkan pada menghindari sepuluh tindakan buruk yang kita bicarakan kemarin secara detil, membunuh, mencuri, menyeleweng, berbohong, perkataan memecah-belah, perkataan yang menyakiti, gossip, keserakahan, iri, dan memegang pandangan yang salah. Semua penderitaan dapat dihancurkan dengan didasarkan pada sepuluh penghindaran. Betapa mudah dan indah, mudah untuk mengerti karena Buddha sudah memberikan metodenya. Karena dengan menghindari sepuluh tindakan itu, pikiran kita lebih tenang, ke-negatif-an tidak dikumpulkan lagi dan apa yang telah dikumpulkan dibersihkan.

Nomor satu, menahan diri dari pembunuhan dan menolong orang lain keluar dari masalah, seperti menjadi dokter atau suster adalah penyebab dari umur panjang. Karena bila kalian mempunyai umur panjang, seseorang bisa mencapai tujuannya dan tujuan orang lain. Seseorang memerlukan umur panjang untuk mendapatkan manfaat dari tubuh manusia yang sempurna, jadi sangatlah penting untuk merawat tubuh kita. Nomor dua: kesabaran dan tindakan seperti melukis, memperbaiki wihara, patung dan lain-lain akan membuat seseorang untuk mempunyai karma untuk memiliki penampilan fisik yang menyenangkan. Orang lain akan segera tertarik kepada mereka yang berpenampilan menyenangkan. Maka orang itu berada dalam posisi lebih baik untuk menolong. Nomor tiga: rendah hati mengatasi kebanggaan diri dan menghormati orang yang lebih tua dan orang lain secara umum akan berakibat pada kelahiran pada ras disuatu tempat yang dipandang tinggi oleh masyarakat. Orang lain mendengarkan orang seperti itu sementara mereka mungkin tidak mempedulikan orang dari kasta yang rendah walaupun orang itu bijaksana secara umum. Nomor empat: melakukan persembahan dan tindakan amal akan berakibat pada kekayaan. Ini bisa digunakan untuk menolong orang lain, orang yang membutuhkan makanan dan pakaian sebelum mereka dapat melaksanakan Dharma. Nomor lima: menahan diri dari empat tindakan buruk dari kata-kata – berbohong, memecah belah, berbicara kasar, dan bergosip. Menahan diri dari empat tindakan ini akan memberikanmu karma di masa depan dan sekarang untuk selalu jujur. Karena itu, ini meningkatkan perkataan seseorang akan menyenangkan dan orang lain akan mendengarkan. Orang lain akan menghormati kalian. Orang lain akan suka mendengarkan suara kalian. Secara umum, kalian akan mendapatkan kehidupan yang menyenangkan, dan suara yang jelas dan kuat yang sangat menyenangkan dan merdu untuk didengar ketika seseorang menahan diri dalam melakukan tindakan buruk yang berkaitan dengan kata-kata. Suara yang indah, suara yang menyenangkan, suara yang mendatangi orang lain, yang menyentuh orang lain, yang bisa merubah oran glain. Ini adalah tipe bicara yang bisa kalian dapatkan seperti H.H. Dalai Lama yang suaranya, tidak peduli kata-katanya atau bahkan nada suaranya membuat air mata keluar karena indahnya. Atau penyanyi yang ketika mendengar suaranya membawa kesenangan. Ini adalah hasil dari menahan diri dari empat tindakan buruk yang berkaitan dengan perkataan. Nomor enam: mengkombinasikan rasa rendah hati dengan penggunaan kekuasaan untuk memberi manfaat kepada makhluk lain. Doa kepada Tiga Permata untuk mendapatkan mendapatkan tubuh yang diberkahi dengan delapan kualitas di kehidupan selanjutnya akan memberikan kekuasaan dan ketenaran di kehidupan selanjutnya. Mengkombinasikan rasa rendah hati, hasilnya adalah untuk mendapatkan kekuasaan dan ketenaran di kehidupan selanjutnya. Dan sekarang orang-orang dengan atribut ini mempunyai pengaruh lebih besar terhadap orang lain dan dapat secara efektif membuat perubahan untuk memberi manfaat kepada mereka. Contohnya, seorang raja bisa membuat biara dan stupa untuk dibangun. Nomor tujuh: dengan membantu fakir miskin dan lemah dan melakukan bagi mereka apa yang tidak dapat mereka lakukan, tidak memukul makhluk hidup lain, bahkan hewan peliharaan sendiri, akan memberi tubuh dan pikiran yang berfungsi dengan baik. Membantu yang miskin dan lemah, yang sakit, yang cacat, dan tidak memukul oran lain, tidak menyiksa tubuh makhluk lain akan menghasilkan tubuh dan pikiran yang sehat di masa depan dan bahkan di kehidupan ini. Bila orang seperti itu bisa mengikuti instruksi dari gurunya dan dengan berusaha dan mencapai tujuannya yang orang lain tidak mau berusaha untuk mencapainya, mendapatkan pencerahan dalam hidup ini. Nomor delapan: Bersyukur atas Tiga Permata, merujuk kepada orang lain dan membaca mantra Manjushri dll, hal ini akan menghasilkan tekad yang kuat. Tekad yang kuat tidak bisa digoyahkan, menghapus tujuan atau dimanipulasi dengan mudah. Untuk mempunyai tekad, mempunyai ini, seseorang akan tenang ketika mengikuti ajaran dan kalian bahkan akan mempunyai kemampuan untuk hidup sendiri di gua, bila diperlukan untuk melaksanakan ajaran. Bila kalian memiliki tekad yang kuat dalam mendapatkan pacar, bila kalian memiliki tekad yang kuat untuk mendapatkan bisnis yang baik, ini bukanlah tanda-tanda positif, ini adalah tanda-tanda negatif. Ini adalah tanda bahwa delusi kalian akan meningkat. Ketika kalian takut bermeditasi, kalian takut akan kesendirian di gua dan kalian takut akan tempat-tempat ini, ini adalah tanda bahwa di kehidupan sebelumnya kalian tidak turut bahagia atas kebaikan orang lain, dan kebaikan Tiga Permata. Kalian tidak mempedulikan makhluk lain. Dan kalian bahkan tidak menghormati aktivitas yang akan memberikan manfaat bagi hidup kalian dan kehidupan selanjutnya, bagi makhluk lain dan akhirnya pencerahan kalian. Mempunyai tekad untuk mendapatkan ketenangan dan bahagia dengan melaksanakan ajaran dan acara Dharma akan datang dengan sendirinya dan kalian tidak akan dipengaruhi oleh orang-orang duniawi, nasihat duniawi, dan omongan duniawi. Kalian akan kuat dalam tekad untuk melaksanakan ajaran. Bahkan ketika guru kalian mengatakan: “pergi ke gua. Laksanakan ret ret selama satu tahun,’ kalian akan mengatakan, “saya akan melakukannya.” Ketika sang guru mengatakan datanglah ke sesi ajaran Dharma, pergi ret ret, lakukan meditasi ini, baca doa ini satu juta kali, kalian akan memikirkan berbagai alasan untuk tidak melakukannya. Hal ini menunjukan tidak adanya tekad dalam arti yang sebenarnya. Tetapi bila guru kalian mengatakan: “Pergi dan dapatkan pekerjaan yang baik. Bersihkan dirimu. Dapatkan pacar yang baik.” Sebelum beliau menyelesaikan setengah kalimatnya kalian sudah di luar pintu. Ini adalah tekad yang salah. Ini adalah tekad untuk menambah delusi dan aktivitas yang berhubungan dengan delusi.

Kedelapan hal ini tidak harus untuk mencapai pencerahan. Tetapi mereka membuat kemajuan lebih cepat dan tindakan seseorang lebih efektif. Memiliki mereka seperti berjalan dari poin A ke B dalam kereta dan lainnya. Kedelapan hasil ini bukanlah tujuan akhir dari melaksanakan ajaran Dharma dengan menghindari delapan tindakan buruk, empat dari perkataan, tiga dari tubuh, seseoran bisa mendapatkan karma untuk mendapatkan delapan hal ini: umur panjang, penampilan yang menarik, lahir di masyarakat kelas atas, ras/ kasta tinggi, kekayaan, kejujuran, kekuasaan, ketenaran, tubuh yang sehat dengan tekad yang kuat. Hal ini akan menolongmu dan melengkapimu dan membawamu dan orang lain naik dalam Dharma. Dengan lahir dalam kasta yang tinggi, kalian akan dihormati. Dengan memiliki penampilan yang enak dilihat, tetapi tidak membangkitkan nafsu melainkan mempunyai karisma. Ketika orang lain melihat atau mendengar kalian, mereka tertarik pada karisma Dharma kalian. Bukan mempunyai penampilan menyenangkan yang membangkitkan nafsu. Ini adalah karisma yang salah, tetapi untuk mempunyai karisma Dharma yang menarik orang lain dengan penampilan, dengan penampilan yang berbeda. Dengan hanya melihat kalian, seseorang berkata “Hey, dia terlihat berbeda. Ada yang membuatnya berbeda?” Dan ini adalah salah satu metode untuk membawa mereka kepada Dharma. Dengan memiliki kekayaan, dengan menggunakannya untuk memberi manfaat bagi makhluk lain, dengan kemampuan bicara yang baik, kemampuan bicara yang menyenangkan, dengan mempunyai pengaruh dalam ketenaran sehingga kalian bisa mempengaruhi orang lain ke jalan yang baik, dengan mempunyai tubuh dan pikiran yang sehat sehingga apapun harapan positif yang dimiliki, bisa dilakukan. Dengan mempunyai tekad yang kuat sehingga kalian tidak keluar dari jalan, apapun yang diperbuat orang terhadap kalian, berapapun banyaknya pukulan yang kalian dapat, berapapun banyaknya kemarahan, berapapun banyaknya ejekan, atau tipuan atau masyarakat mengatakan hal yang salah, tetapi kalian tetap mempunyai tekad yang kuat sejak muda untuk melakukannya, dan kalian tahu bahwa ini benar dan kalian melakukannya. Dan tidak lari meskipun menemui kesulitan. Ini adalah hasil dari turut bahagia atas pahala orang lain dan terutama Tiga Permata, peduli pada orang lain dan melakukan meditasi Manjushri. Faktor apapun di atas.

Ini bukanlah hal yang kita inginkan dari melaksanakan ajaran Dharma. Mereka adalah produk dari melaksanakan ajaran Dharma. Mereka akan datang sendiri tanpa kita minta. Karena itu, kalian harus menciptakan dan mendedikasikan pahala kalian untuk mendapatkan umur panjang, kesehatan, kekayaan, ketenaran, kecantikan, kedudukan. Bukan begitu. Kalian mendedikasikannya untuk pencerahan dan kedelapan kualitas tersebut akan datang dengan sendirinya seperti danau di tengah hujan monsoon musim panas, ia akan naik dengan sendirinya tanpa diharapkan. Karena itu, akan sangat bermanfaat untuk memiliki motivasi yang sempurna, untuk mendedikasikannya kepada pencerahan yang tertinggi.

Dan dengan dasar menghindari sepuluh aktivitas buruk digabung dengan empat kekuatan lawan, itu adalah aplikasi Dharma, itu adalah aplikasi Dharma yang sebenarnya. Tanpa itu, inisiasi, mantra, meditasi, semuanya tidak berguna. Jadi bila aplikasi Dharma kalian terdiri dari menggulung mantra (memutar rosari) mempunyai altar yang indah, memberikan hadiah kepada Sangha, bila hanya terdiri dari itu, kalian akan mendapatkan beberapa manfaat dari kekuatan Tiga Permata. Tetapi manfaat yang didapat tidak akan kekal seperti pencerahan. Akan ada beberapa manfaat seperti kekayaan – kekayaan, pikiran bahagia karena kegiatan yang kalian lakukan berhubungan kekuatan yang memberikan hal ini.

Jadi karma baik, untuk mendapatkan seluruh manfaat dari delapan kualitas, seseorang harus mencoba untuk memberikan manfaat pada makhluk lain. Ini adalah motivasinya.

Apakah ada yang mempunyai pertanyaan? Hari ini kita sudah berbicara tentang karma secara intens. Kemarin kita membicarakan mengenai kehidupan sebelumnya, bagaimana mereka ada secara logika. Hari ini pada awalnya, saya mengulangnya lagi dengan kalian. Ini sudah menguatkan kalian, mungkin keyakinan yang kuat atau tidak kuat akan reinkarnasi. Setidaknya kebudayaan kita, kebudayaan timur kita, kita memiliki keyakinan kuat atas reinkarnasi. Kita sudah menjadi bagiannya, kita sudah diekspos. Bila nenek kita mengajarkan kita atas dasar itu, kita akan mempercayainya. Tetapi kemarin saya sudah memberikan dasar yang tidak terdebatkan untuk merenungkan tentang reinkarnasi.

Hari ini kita berbicara tentang cara bekerja karma. Ingat perlindungan dari melaksanakan ajaran Dharma dengan motivasi untuk membebaskan orang lain dengan menghindari sepuluh tindakan buruk digabung dengan empat kekuatan lawan. Ini adalah melaksanakan ajaran Dharma, ini adalah intinya. Ini adalah esensinya.

Bila ini dilakukan maka meditasi, mantra, inisiasi, membuat patung, membuat artifak keagamaan, membantu Sangha, membiayai Rinpoche, membiayai biksu, membiayai biara, membiayai wihara akan membawa manfaat yang sebenarnya: bukan karma tapi pahala. Pikirkan hal ini dengan hati-hati. Atas dasar ini bila kalian melakukan kegiatan Dharma, kalian akan mendapatkan hasilnya dengan cepat. Saya tidak suka mengatakannya, tetapi bukan kuantitas tetapi kualitasnya. Lebih baik membaca satu mantra Shakyamuni atau satu Om Mani Padme Hum dengan penyesalan, dengan bersumpah untuk tidak melakukan tindakan negatif dan melakukan tindakan penawar, seperti memberi kasih sayang dan meditasi dan menghindari sepuluh tindakan negatif, lalu membaca Om Mani Padme Hum dengan dasar ini lebih baik daripada membaca satu juta tanpa hal ini. Dan ini adalah hal yang sebenarnya. Pencerahan bukanlah dari mulutmu. Ia berasal dari pikiranmu. Jadi bila pikiranmu tidak berkembang, bagaimana mungkin mulutmu bisa efektif? [mulutmu] bisa melengkapi bila digabungkan dengan pikiran yang benar.

Mulai hari ini, saya memohon dan meminta kalian dengan tangan bersatu dan di atas lutut saya agar kalian menyimpan ajaran ini dalam hati dan mulai hari ini membuat perubahan dalam hidup kalian. Untuk mengubah sikapmu walau hanya 0.01% mulai hari ini, dari ajaran dan tidak meninggalkan ajaran ini dalam lemari dan membual mengenai betapa indahnya ajaran ini, bagaimana kalian menerimanya dan bagaimana luar biasanya, dll., dll., memberi pujian yang berbunga-bunga tetapi dengan mengimplementasikan, menggunakannya, melakukannya. Karena itu, maksud dari kedatangan kalian ke sini hari ini dan maksud saya dan maksud kalian untuk datang ke sini dan semua orang yang terlibat untuk mendatangkan saya dengan cara yang kecil atau besar, sama-sama mendapat manfaatnya. Ini adalah bagaimana afiniti dengan orang, lama, guru, dan Buddha dan Sangha menjadi lebih kuat, ke-negatif-an kalian juga lebih sedikit karena definisi dari teman/ pembimbing spiritual adalah seseorang yang ketika kalian berada disekitarnya, aktivitas positif kalian akan meningkat dan aktivitas negatif kalian akan menurun. Ini adalah definisi dari teman spiritual, guru kalian, sangha, saudara dalam dharma, dll., dll. Ketika kalian berada di sekitar orang-orang ini, kalian akan melihat dengan berjalannya waktu bahwa tindakan negatif kalian akan berkurang dan tindakan positif kalian akan meningkat. Ini adalah definisi dari teman spiritual. Kalian ingin mempunyai afiniti dengan orang-orang ini.

Besok adalah tahun baru. Dalam waktu dua jam dan sepuluh menit, tahun baru akan tiba. Saya yakin sebagian besar dari kalian masih akan belum tidur. Buatlah komuni dengan Tiga Permata. Bila kalian berasal dari agama lain, tidak apa, kalian bisa membuat komuni dengan Mohamed, dengan Tuhan, dengan Yesus. Buatlah komuni dengan Tuhan dari Israel. Tidak apa, tetapi buatlah komuni dengan mereka dengan mengatakan mulai sekarang, saya akan menghindari tindakan negatif yang berhubungan dengan perkataan, tiga tindakan negatif yang berhubungan dengan pikiran, dan tiga tindakan negatif yang berhubungan dengan tubuh – membunuh, mencuri, menyeleweng. Tiga dari tubuh. Empat dari perkataan – berbohong, berbicara kasar, berbicara untuk memecah belah, gosip. Ini adalah resolusi tahun baru kalian. Jangan membeli cincin berlian baru atau pergi ke Inggris, atau mendapatkan pasangan, sukses atau kegagalan. Tidak. Resolusi kalian harus berupa janji untuk menghindari sepuluh tindakan negatif sebaik kalian bisa dan bukan untuk satu atau dua hari saja lalu kalian kembali kepada diri kalian yang dulu. Tetapi dengan terus melakukannya lagi dan lagi dan lagi sampai kalian mencabutnya dan karena itulah membawa kebahagiaan bagi diri kalian dan orang lain. Bila kalian memulai hal ini, semua hal akan berubah bagi kalian. Orang disekitar kalian akan menyukai kalian. Mereka akan menyukai kalian lebih baik lagi bila mereka sudah menyukai kalian. Pikiran kalian akan tenang dan kalian akan lebih bahagia.

Dan bila kalian memutuskan untuk melakukan Tantra, kalian akan bisa mencapai pencerahan dalam enam belas kehidupan paling banyak, dan paling sedikit satu kehidupan. Ia akan dapat, karena itu menampakan diri dalam bentuk, warna, ukuran, waktu, tempat, obyek untuk memberi manfaat bagi kalian. Kita tidak tahu apakah tetangga kalian adalah emanasi Buddha atau bukan. Jangan melihat mereka dari penampilan luarnya. Kita tidak punya mata kebijaksanaan atau bisa melihat masa depan untuk dapat melihat siapa yang merupakan emanasi, siapa yang telah mencapai keberhasilan dan siapa yang belum. Jangan berasumsi bahwa seseorang belum mencapai apa-apa, hanya dari penampilan. Bahaya.

Buatlah resolusi tahun baru kalian dengan jelas dan tekad yang kuat. Mulailah melaksanakan ajaran Dharma pada tahun baru, dua jam sehari. Mulailah. Menyesal, berjanji untuk tidak melakukan tindakan negatif, melakukan ritual pembersihan dosa, lakukan tindakan yang menghasilkan pahala pada tahun baru dan mulai sejak saat itu, hindari sepuluh tindakan buruk. Tidak ada yang menyuruh kalian untuk duduk di gua dan bermeditasi mengenai dewa dengan 50,000 lengan. Kalian bahkan tidak bisa menghitung lengannya, lupakan bagaimana memvisualisasinya. Tidak ada yang meminta kalian untuk pergi ke biara di India, mencukur kepala kalian. Tidak ada yang menyuruh kalian untuk memindahkan dan menggantuk baju kalian di hutan dan mengusapkan debu di seluruh tubuh kalian dan berlari telanjang dalam hujan. Tetapi Buddha meminta kalian untuk menghindari sepuluh tindakan buruk dan mengaplikasikan empat kekuatan lawan untuk memberi manfaat bagi dirimu sendiri. Bila ini sulit, bersenang-senanglah di samsara, saya pergi. Dan bila kalian sangat sakit, sangat menakutkan untuk pergi ke rumah sakit dan ditusuk, dipotong, mendapatkan jarum, diperiksa, diekspos pada radiasi, dan mengalami kerontokan rambut. Menakutkan untuk hidup dan tidak tahu apa yang mereka lakukan pada kalian, apa yang akan terjadi. Sangat menakutkan. Tetapi seberapa lebih menakutkan bila seiring dengan bertambahnya penyakit kalian, kalian tidak pergi ke rumah sakit. Ya. Hal ini menakutkan dan sulit bila kalian tidak menghindari sepuluh tindakan buruk dan hasilnya datang. Betapa menakutkannya. Pikirkanlah. Tidak ada yang menyuruh kalian untuk melakukan hal yang diluar kemampuan kalian atau kapasitas intelektual kalian. Pikirkanlah. Buatlah resolusi yang benar. Sudah waktunya. Sudah masak. Kalian tidak terlalu tua dan kalian tidak terlalu muda.

Mahasiddha yang mulia, Tentipa, hidup sekitar seribu tahun setelah Buddha. Beliau adalah penenun karpet. Beliau mengembangkan bisnisnya dengan luas karena beliau adalah pekerja keras, kreatif, dan beliau membuat karpet yang paling baik. Dia mempunyai pelanggan yang baik, orang-orang terkaya di kota itu. Bahkan sang raja juga merupakan pelanggannya. Karpetnya menjadi bahan pembicaraan di berbagai kota dan distrik di negaranya, di India. Ketika beliau sudah tua, beliau kehilangan kemampuannya dan keterampilan tangannya, semuanya, dan beliau tidak bisa melakukannya lagi. Beliau meneruskan pengetahuannya kepada keempat anak lelakinya yang sama terampilnya dan pandainya dengan ayah mereka. Mereka menghormati ayah dan ibu mereka dengan anggun, bermartabat dan rasa cinta yang dalam. Mereka mengerjakan bisnis mereka dengan sukses dan [bisnisnya] berkembang dengan lebih besar daripada apa yang pernah dilakukan ayah mereka dalam hidup. Di depan toko, mereka memamerkan karpet mereka dan di belakang mereka bekerja dan di paling belakang ada taman bunga jasmine dan tempat tinggal mereka. Mereka mempunyai rumah yang besar. Dan ketika ayah mereka menjadi tua dan tidak bisa bekerja, dengan hormat mereka mereka menempatkan ayah mereka di depan dekat tempat pamer, ruang pamer. Banyak pembeli yang datang dan ayah mereka akan duduk di sana dengan diam sementara anak-anaknya berbicara dan mengiklankan dan menunjukan sampel. Setelah beberapa saat, anak-anaknya mulai menikah, masing-masing membawa istrinya pulang. Adalah kebiasaan di India untuk membawa istri pulang, istri-istri mereka juga pekerja keras, terampil dan menghormati mertua mereka. Semua harmonis.

Sementara usia bertambah, ayah mereka kehilangan kemampuan inderanya, beliau mulai mengiler dan tidak bisa mengendalikan keinginan buang air kecil. Beliau juga tidak bisa mendengar dengan baik. Beliau bahkan tertidur ketika pembeli datang, dengan tidak mengetahui bahwa beliau adalah sang ayah, beliau tidak enak dilihat dan buruk untuk bisnis. Jadi istri mereka meminta suami mereka untuk memindahkan ayah mereka ke belakang dan membangun rumah kecil yang bagus di belakang untuk bersantai. Suami mereka mendengarkan dan mereka melakukannya. Mereka membangun rumah kecil yang bagus di taman jasmine untuk ayah mereka. Ayah mereka sangat marah, sangat sedih, sangat jijik, sangat sakit hati. Pada usia keemasan, saya adalah yang terbaik, sempurna. Di usia tua, saya memberikan semuanya untuk anak-anak saya dan mereka meninggalkan dan membuang saya ke belakang. Saya adalah hal yang memalukan dan menjijikan bagi mereka. Beliau sangat sakit hati dan resah dan karena itu, sangat sangat frustasi dan marah. Beliau berusia tujuh-puluhan.

Suatu hari, seorang ahli pengobatan datang. Beliau adalah seorang yang sadar. Dalam Sanskrit, kita memanggil mereka “mahasiddha, ” “Yang telah mencapai,” Seorang Mahasiddha datang. Dan seperti yang umum di negara Buddha, beliau datang dan mengemis di pintu. Beliau berdiri di pintu dan sang menantu dengan segera menyukainya. Adalah suatu kehormatan untuk mempersembahkan makanan kepada bikshu ahli pengobatan ini, guru ini. Mereka mengundangnya masuk dan mencuci kakinya, menyentuhkan kepala mereka ke kakinya dan mempersembahkan makanan enak dan melayaninya. Lalu beliau memberikan ajaran Dharma. Dan mereka meminta beliau, “menginaplah malam ini untuk memberkahi tempat kita, menginaplah.” Sang ahli obat berkata,” Tidak, saya tidak terbiasa tinggal di tempat yang nyaman. Saya biasanya tinggal di hutan dekat sungai, di pohon, dalam gua.” “Hanya satu malam saja karena rasa kasihmu dengan kami.” Keempat istri memohon. Beliau setuju karena rasa cinta kasih. Tetapi saya tidak akan tidur di tempat tidur yang tinggi dan nyaman. Saya akan tidur di taman. Keempat saudara perempuan itu sangat senang dan mereka menyiapkan tempat di taman. Lalu mereka mengarahkan mahasiddha di taman dan meninggalkan dia untuk melakukan doanya.

Ketika sang Mahasiddha bermeditasi, beliau mendengar semacam keluhan dan gerutu. Beliau pergi untuk menginvestigasi dan beliau melihat rumah kecil. Beliau melihat seorang pria tua. Dan beliau bertanya, “apa yang kamu gerutukan?” Dan ia memberitahunya. Sang Guru menanyakan, “Apakah kamu menginginkan metode untuk keluar dari penderitaan secara permanen?” dan pria tua itu berkata, “ya, saya mau.” Jadi sang Guru semalam itu tanpa tertidur dan sang pria tua juga tidak tidur (suatu hal yang mustahil untuk saya) mengajarkannya apa yang saya ajarkan pada kalian hari ini. Menghindari sepuluh tindakan buruk, empat kekuatan lawan, dan memberikan inisiasi kepada pria tua itu lingkaran tantra Hevajra yang umum di aliran Sakya, Hevajra Tantra.

Sejak hari beliau mengambil sumpah, sang ayah berhenti mengeluh, berhenti bicara dengan segera. Beliau menyadari kerugiannya. Beliau melakukan meditasi Hevajra. Beliau bermeditasi selama dua belas tahun dengan diam. Setiap hari, para istri akan membawakan makanan dan memandikannya. Dan mereka hanya melihatnya sebagai ayah biasa, orang biasa, tetapi mereka heran mengapa beliau sangat diam.

Suatu hari, ada pesanan untuk sebuah karpet yang indah dan mereka menerima uang yang sangat sangat banyak untuk karpet itu. Mereka pergi ke rumah pelanggan mereka dan menyerahkan karpetnya dan membuat perayaan kecil. Pada saat perayaan, para istri melupakan ayah mereka, ketika mereka ingat, mereka membawa makanan dengan segera dan lari ke sang ayah untuk melihat apa yang sedang terjadi. Mereka yakin, pria tua itu akan menggerutu lagi. Mereka lupa memberinya makan malam. Ketika mereka berlari kesana, mereka melihat sinar yang datang dari pondok tempat ayah mereka tinggal. Mereka melihat ke dalam, mulut mereka ternganga dan nampannya terjatuh, karena disekitar ayah mereka ada enam belas dewi yang cantik (bukan dewi biasa) dengan berbagai jenis hidangan dan kari (mungkin kue keju dalam kasus saya, huh, enam belas jenis kue keju), mengelilingi ayah mereka dengan kue keju dan dengan jari halus mereka memasukannya ke dalam mulut sang Mahasiddha. Dan beliau, tubuhnya seperti anak muda berumur enam belas tahun, tubuhnya seperti kaca yang berkilau, terang dan indah dan bersinar, mengapung di udara menerima kesenangan yang indah. Tidakah kalian berharap ada di sana?

Para saudari itu berlari kembali. Mereka kira mereka berhalusinasi seperti ketika seseorang menaruh sesuatu dalam minuman mereka di pesta. Mereka berlari kembali dan berkata, “Hey! Hey!” memanggil suami mereka. “apakah kita yang sudah gila atau si pria tua yang sudah gila.” Semua orang berlari dan menyaksikan si pria tua mengapung di udara. Ke-enam belas dewi menghilang. Enam belas dewi adalah enam belas dewi dari mandala Hevajra. Si pria tua menampakan diri sebagai Hevajra dan mengajarkan mereka Empat Kebenaran Mulia. Dan sejak saat itu, si ayah hidup selama beberapa tahun lagi dan mengajarkan Dharma. Pada saat kematiannya, beliau dapat mengambil beberapa ratus muridnya tanpa meninggalkan tubuhnya. Sang ayah tua terbang ke langit dengan vajra-nya dan lonceng tersilang, dan pengikutnya atau muridnya memasuki alam Buddha. Beliau terbang ke atas langit. Itulah Mahasiddha yang mulia Tentipa. Beliau memulai ritual meditasinya di usia tujuh-puluhan.

Semua orang bisa melakukannya, kapanpun – ini adalah tekad. Siapapun, kapanpun, ribuan Mahasiddha tetapi hanya delapan puluh empat yang tercatat – ini dinamakan Tuan yang Menghibur. Saya mempunyai bukunya. [Buku ini] dari Snow Lion Publications. Sangat bagus. Sangat sangat inspirasional. Kalian harus membacanya. Intinya adalah ini, seseorang bisa melakukannya kapan saja, bila orang itu mempunyai tekad. Dan waktu yang paling baik adalah dengan melakukannya saat tahun baru, mulailah di tahun 1997 … dengan Dharma. Bukan Dharma dari sisi penampilan tetapi Dharma dari dalam. Jangan buat hidung besar, memakai topi pesta dan berlari ke karaoke. Buatlah komuni dengan Tiga Permata. Buatlah komuni dengan Yesus. Buatlah komuni dengan Muhammed dengan Krishna, dll., dll. Buatlah komuni dengan mereka. Dan berdoa dan mulai menghindari sepuluh tindakan buruk dan empat kekuatan lawan. Ada pertanyaan?

Q: Bagaimana seseorang…………… (tidak terdengar)

A: Dengan motivasi yang baik. Bukan motivasi yang baik. Hal ini tidak dilatar-belakangi motivasi yang berkaitan dengan delapan Dharma dunia.

Q: Terkadang kita tidak menyadarinya.

A: Bagaimana mungkin kalian tidak menyadarinya? Ketika kalian berteriak kepada seseorang atas dasar cinta kasih atau kepada seseorang karena kebencian, kalian tidak tahu? Ketika kalian mencuri atau ketika kalian memberi, kalian tidak tahu bedanya? Ketika kalian merasa frustasi kepada seseorang atau kalian berbicara kasar kepada mereka, ketika memaafkan mereka dan tidak peduli, kalian tidak bisa melihat bedanya? Tindakan apapun yang menyakiti orang lain dengan cara apapun adalah tindakan negatif.

Q: Tetapi terkadang kita tidak menyadarinya.

A: Tepat sekali! Setelah beberapa waktu kalian menyadarinya dan menangkap diri kalian lagi dan lagi dan lagi, dan kalian bisa menghentikan diri kalian, [tetapi] pada awalnya tepat sekali. Latihlah dirimu, menyadari, tepat sekali, sangat bagus, tetap sekali. Saya akan mengajarkanmu meditasi tetapi tidak hari ini tentu saja, yang akan meningkatkan kesadaran kalian atas apa yang kalian lakukan. Ini adalah meditasi yang sangat baik bagi siapa saja: mereka yang berkeyakinan bebas, beragama Buddha, bukan beragama Buddha – siapapun dapan mencapai kesadaran. Sangat bagus. Kalian mengerti. Ada pertanyaan lain?

Q: Rinpoche, dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai manusia, kita sendiri mungkin mengajarkan Dharma dan kesabaran, tetapi kita sendiri di dunia ini. Bersosialisasi dengan orang lain, yang tidak mempraktekan Dharma. Mereka membuang berat mereka kepada kita, dan kita adalah korbannya. Apa yang harus kita lakukan? Kita tidak bisa menunggu karma baik kita.

A: apakah kamu adalah korban? Apakah ini disebabkan karma negatif yang sudah kamu kumpulkan? Saya kira tidak.

Q: Tetapi ini adalah lingkungan luar

A: Tetapi apakah ini diciptakan oleh karma baik atau karma burukmu?

Q: Ini bukan pertanyaan saya

A: Dengarkan saya, pada pertanyaan saya. Ketika kamu menjawab. Ketika kamu menjawabnya kamu akan mendapatkan jawaban atas pertanyaanmu. Apakah lingkungan luar yang negatif diciptakan oleh karma negatif atau karma positifmu?

Q: Karma negatif

A: Bagus! Siapa yang menciptakan karma negatif untuk kamu alami dalam lingkungan yang negatif?

Q: Mungkin saya sendiri

A: Bingo! Jadi dengan mengalaminya kamu, pada saat yang sama, juga membersihkannya. Bila mereka membuang sesuatu kepada kamu dan kamu membuangnya ke arah mereka, kamu akan mendapat buangan lagi. Bila mereka membuang barang kepada kamu dan kamu bersabar dan kamu menyadari bahwa ini adalah hasil dari karma negatifmu, karena itu, kamu adalah korban dan kamu tidak bereaksi lagi. Karma itu akan terbersihkan, nomor satu. Dan tidak ada karma untuk mengalami lagi yang dikumpulkan. Kalian mengerti? Untuk menyadari bahwa hal ini adalah terusan dari karma negatif kita dan untuk tidak mengalaminya lagi. Dan untuk bersabar. Kamu mengerti? Bukankah hal ini sulit? Tetapi bila kamu melawan kembali, akan menjadi lebih sulit lagi di masa mendatang. Ada banyak dari mereka dan hanya ada satu kamu. Pada akhirnya perasaan jadi korban ini akan berhenti. Apakah kamu mengerti? Ini adalah Dharma. Hal ini harus menjadi resolusi tahun barumu. Pertanyaan yang sangat bagus. Di semua wihara yang saya datangi, satu orang akan menjawab seperti itu. Saya senang kamu bertanya untuk memberi manfaat pada orang lain. Mungkin kamu adalah emanasi Buddha untuk mengatakan hal itu. Sangat bagus. Sangat bagus. Kamu mengerti? Pikirkanlah mengenai hal ini. Saya akan memberimu beberapa materi bacaan yang akan membantumu. Ada pertanyaan lain?

Saya mau berterima kasih kepada kalian yang mengorbankan waktu untuk datang dan berbagi Dharma dengan saya. Saya mau berterima kasih. Ini adalah usaha yang besar, banyak waktu dan hal terakhir yang kamu inginkan pada tahun baru adalah menghabiskannya dengan bikshu berjubah kuning dan berkepala gundul. Akan tetapi karma dan afiniti telah mengorbankan kalian untuk hadir di sini. Saya mau berterima kasih karena telah mendengarkan Dharma dan saya mau berterima kasih dan saya rasa kalian akan berusaha untuk melakukannya. Saya yakin. Dan saya mau berterima kasih kepada orang wihara yang telah membuat ini memungkinkan. Dan saya mau berterima kasih kepada donatur dan patron dan semua orang yang mendukung saya selama bertahun-tahun, yang telah membuat semua ini mungkin, semua orang cukup baik. Dan bukan hanya karena satu atau dua orang kita mempunyai Dharma hari ini. Tetapi dikarenakan kebaikan banyak orang. Karena itu kita harus mendedikasikan agar semua makhluk hidup di planet ini dan di tiga alam akan menjadi tercerahkan, terbebas dari penderitaan. Kita harus mendedikasikannya untuk itu.

Dan juga, apakah kalian mempunyai waktu untuk menghadiri ajaran Dharma esok malam? Saya punya. Orang yang mempunyai waktu angkat tangan. Saya mau mendapatkan mayoritas. Itu mayoritas. Jadi haruskah kita buat besok malam? Orang yang mempunyai komitmen lain, cobalah untuk datang, bukan karena saya ingin menjadi superstar Rinpoche, tetapi saya merasa ini akan memberi manfaat bagi kalian. Orang yang tidak punya waktu, cobalah. Dan saya juga menerima undangan dari wihara lain, Wihara Losong Dragpa, yang berada di bawah bimbingan His Emminence Zopa Rinpoche. Dan saya mungkin mengajar di sana ketika saya mendapat perpanjangan visa. Jadi bila kalian melupakan sesuatu dan ingin mendengarnya, kalian disambut di sana. Tetapi bukan berarti kalian bisa tidak hadir besok dan datang di lain waktu karena mungkin kalian tidak akan bisa datang. Cobalah untuk datang. Bila kalian mempunyai janji makan malam dengan teman dan keluarga, maafkanlah saya untuk meminta kalian untuk membatalkan atau menunda dan mencoba untuk datang. Dharma tidaklah mudah untuk diperoleh ketika sangat langka dan sedikit. Undangan makan malam, makanan, bersenang-senang dan semua itu bisa kalian dapatkan kapan saja. Cobalah datang untuk mendapatkan Dharma. Saya akan coba untuk mengajarkannya dengan cara yang mudah dimengerti, cara yang praktis untuk membantu kalian. Dan berapa yang dibutuhkan untuk merawat wihara ini? Semua tagihan – jumlah bulat. 800 ringgit. Jadi hari ini, Nona Tashi seorang gadis muda, tidak terlalu kaya akan menyumbang 800 dolar kepada wihara kalian untuk dapat terus berjalan. Ini adalah perasaan bersyukurnya atas kerja keras dan dedikasi bertahun-tahun dari member yang sudah dituangkan pada wihara ini. Kita harus berkontribusi sebisa kita. Dan bila orang wihara ini melakukan yang terbaik dan bila terkadang mereka tidak menyenangkan bagi kalian, tidak apa-apa. Pikirkan hal-hal baik yang mereka lakukan dan jangan pedulikan yang lain. Bisa saja kebencian kita, nafsu kita dan kecemburuan kita sangat kuat dan direfleksikan pada orang lain. Jadi hari ini, wanita ini mempersembahkan 800 ringgit dengan khata yang menurut tradisi Tibet menggambarkan kemurnian pikiran, kemurnian maksud, kepada wihara suci yang sudah bisa memberi Dharma kepada semua orang di sini dan semua Dharma di masa yang akan datang. Secara langsung dan tidak langsung saya mendorong dukungan kalian dengan cara apapun, bila kalian menginginkan Dharma. Ini adalah tindakan yang baik bagi seseorang. Kamu menerimanya atas nama wihara. Datanglah Nona Tashi. Dengan tindakan ini semoga kamu menyadari Bodhichitta dan sunyata dan menjadi tercerahkan. Semoga donatur yang baik, orang tua, orang yang dikasihi dan semua sahabatnya dan semua donaturnya dan semua orang yang terhubung dengan dia menjadi yang tercerahkan.

Jadi besok kita mulai pada pukul 7:00 dan sekali lagi saya berterima kasih karena memberi kesempatan untuk mengingatkan diri saya apa yang saya harus lakukan. Jadi tolong buatlah resolusi tahun baru kalian. Tinggal satu setengah jam lagi. Jadi pikirkan baik-baik.

… Dharma yang mulia. Semua ibu yang menderita di samsara. Semua ibu yang terus menderita di samsara, baik penderitaan dalam bentuk kasar atau halus, tanpa henti dan berulang-ulang, tahun demi tahun, setelah bertahun-tahun sejak awal tak berujung. Merasakan penderitaan mereka, merasakan ketidak-bahagiaan mereka. Merasakan ketidak bahagiaan mereka yang tidak lengkap, mengetahui seberapa besar penderitaan mereka, saya akan menciptakan pikiran bodhi, saya akan menciptakan pikiran yang mulia mengenai pencerahan untuk membebaskan semua makhluk dari penderitaan. Karena alasan ini hari ini, saya akan duduk dan mendengarkan Dharma yang mulia.

**********************************************************************

Jadi seseorang harus mendengarkan Dharma tanpa tiga kesalahan. Contohnya tanpa tiga bagian, yaitu bagian yang menghadap ke bawah, bagian yang tercemar dan bagian yang bocor, jadi bagian yang menghadap ke bawah, apapun cairan yang kalian tuangkan, tidak akan tertampung. Bagian yang menghadap keatas tetapi tercemar membuat apapun hal-hal baik yang kalian masukan tidak akan bisa dimakan atau tidak bisa dikonsumsi karena tercemar, meskipun obyek yang kalian masukan adalah baik. Dan yang ketiga adalah bagian yang bocor. Seperti itu juga apapun yang kalian masukan tidak akan bisa ditampung. Ia akan masuk celah dan lubang. Seperti itu juga datang pada Dharma dengan pikiran tertutup adalah seperti bagian yang menghadap ke bawah. Lalu datang ke ajaran Dharma dengan motivasi yang salah atau tidak murni seperti menganggapnya sebagai acara sosial, bertemu teman, mendengarkan Dharma untuk mendapatkan metode agar berusia panjang, kesehatan dan kekayaan. Jadi ini adalah motivasi yang salah. Jadi ini adalah bagian yang tercemar. Makanan terenak yang ditaruh di dalamnya menjadi tidak bisa dimakan. Dan bagian ketiga adalah bagian yang bocor, seperti bila kalian mendengarkan Dharma yang suci, ia masuk ke telinga yang satu dan keluar dari telinga yang lain. Kalian berpikir bahwa ia indah dan terbaik, tetapi ia keluar dari telinga yang lain, yang artinya kalian tidak mengaplikasikannya. Jadi sekali kalian mendengarkan ajaran, membaca buku Dharma atau melaksanakan Dharma tanpa kesalahan dari tiga bagian. Kita tidak boleh datang ke ajaran Dharma dengan motivasi bahwa saya akan mendapatkan metode membaca mantra dan mendapatkan kemampuan meditasi agar saya bisa terkenal, agar saya bisa kaya, agar saya bisa sempurna atau dipuji. Ini adalah motivasi yang salah.

Seseorang harus mendengar Dharma dengan motivasi bahwa seseorang mempunyai delusi yang sangat kuat dan semua delusi adalah kebodohan, kebencian dan nafsu dan semua kepanjangan dari delusi-delusi ini, agar dapat mencabut delusi ini, yang merupakan musuh saya yang sebenarnya yang memberi saya ketidak-bahagiaan dan penderitaan. Agar dapat mencabut penderitaan ini, saya harus mempunyai metode untuk mencabutnya. Karena itu saya akan mendengarkan Dharma yang suci agar dapat mengerti metode ini, tahapan dan jalan untuk mencabut kualitas negatif agar saya dapat tercerahkan untuk membebaskan makhluk lain dari penderitaan dan ketidak-bahagiaan. Dengan alasan ini, saya akan mendengarkan Dharma. Bila motivasi ini dipegang maka energi apapun yang saya kumpulkan dalam dua jam saya di sini, bahkan energi untuk untuk mendapatkan mobil, menyiapkan dirimu dan perjalanan kembali akan menjadi pahala. Pahala adalah sesuatu yang membawa kita pada pencerahan. Sementara bila motivasinya rendah, hal ini akan menjadi karma baik yang akan mengakibatkan kelahiran yang baik dan tidak lebih. Sementara bila motivasi ini menjadi pahala, maka ia akan membawa kita kepada kelahiran kembali yang sempurna dan lingkungan yang baik dan semua benda yang mengelilinginya. Jadi seseorang harus mengembangkan motivasi ini dengan sangat kuat. Seperti yang saya katakana kemarin dan kemarin dulu, seseorang harus mempunyai tekad yang kuat dari hati bahwa saya akan mendengarkan Dharma agar dapat mencabut hal-hal negatif di pikiran kita yang akan mengakibatkan saya untuk bertindak negatif, perkataan yang negatif, karena itu menciptakan energi negatif dan karma yang akan memberi penderitaan untuk diri saya dan orang lain. Saya akan menjadi yang tercerahkan, karena itu, saya akan mendengarkan Dharma. Seseorang harus mempunyai motivasi ini dengan sangat sangat kuat agar mendengarkan Dharma menjadi aktivitas yang bermanfaat atau aktivitas Dharma.

Apakah ada dari kalian yang mempunyai pertanyaan atas ajaran yang kemarin sebelum kita meneruskan? Tidak ada pertanyaan? Sudah jelas. Apakah perlu untuk mengulang analisa logis mengenai reinkarnasi? Apakah kalian akan bosan? Banyak wajah baru saya lihat. Apakah perlu? Kemarin dulu kita membicarakannya selama setengah jam. Kemarin kita membicarakannya selama lima belas menit. Hari ini kita mengulangnya selama tujuh atau delapan menit agar kalian yang sudah hadir setiap hari tidak akan bosan dan orang baru tidak akan ditinggalkan.

Seluruh dasar agama Buddha adalah teori mengenai reinkarnasi. Agama Buddha seluruhnya berdasarkan teori reinkarnasi. Dan bagaimana itu terjadi bukanlah sesuatu yang dibuat-buat atau sesuatu yang dipakai untuk menakuti anak kecil, yang dipakai untuk menakuti kita untuk melakukan ritual ini dan itu. Bukan seperti ini. Tetapi ini adalah sains yang pasti dan tepat dan sangat logis, yang bisa diperiksa dalam pikiranmu seperti yang dikatakan Lord Buddha. Dan setelah itu dijelaskan lebih jauh oleh guru hebat seperti Dharmakirti. Ini adalah sutra yang kami pelajari di biara.

Dharmakirti mengajarkan bahwa semua fenomena berbasis kesinambungan. Semua obyek adalah berbasis kesinambungan. Sebagai contoh, saya memberi contoh mengenai selembar kertas kemarin. Agar kertas itu bisa ada sekarang, ia harus ada pada saat sebelumnya dan saat sebelumnya lagi. Ia harus ada kemarin dan kemarin dulu dan kita bisa kembali dan kembali dan kembali dan memeriksanya dengan hati-hati, ia ada di percetakan. Sebelumnya ia adalah bubur kertas atau daur ulang. Sebelumnya lagi ia adalah sebuah pohon. Sebelumnya ia adalah bibit. Dari bibit, ia sebelumnya datang dari pohon lain dan karena itu ia bisa mundur dengan prosedur yang sama, pohon sebelumnya, pohon sebelumnya lagi, pohon sebelumnya dan mundur, dan mundur, dan mundur tak terhitung. Karena itu, seperti semua fenomena yang ada di dunia ini dan beroperasi dengan dasar yang sama. Seperti juga tubuh kita beroperasi dengan dasar yang sama, dasar kesinambungan. Sekarang agar tubuh kita ada, pada pukul 8:00, ia harus ada pada pukul 7:30, 6:30, 6:00 dan seterusnya. Ia harus ada kemarin, dan kemarin dulu. Ia harus ada minggu lalu, minggu sebelumnya. Ia harus ada bulan lalu dan bulan sebelumnya, tahun lalu, dan tahun sebelumnya, dan mundur, mundur, mundur. Tubuh kita tidak bisa hanya muncul begitu saja. Kertas, buku, gelas, meja, altar, tempat tidak bisa hanya muncul begitu saja dan muncul dari langit. Ia harus mempunyai sumber, ia harus mempunyai saat sebelumnya. Ia harus mempunyai saat sebelumnya yang berkesinambungan.

Seperti itu juga, tubuh harus mempunyai saat sebelumnya, mundur dan mundur dan mundur. Jadi bila kita melihat tubuh dan ia mempunyai saat sebelumnya dan saat sebelumnya dan bila kita mengumpulkan momentum, ia menjadi menit, menjadi jam, dan menjadi hari. Ia menjadi bulan, ia menjadi tahun dan seterusnya. Jadi seperti itu sampai kepada titik kelahiran kita bahkan ketika di dalam rahim ibu. Di dalam rahim ibu. Setelah sembilan bulan di dalam rahim, dan bahkan mundur ke saat sebelumnya. Bila kalian mundur pada saat pembentukan janin dan saat sebelumnya pada saat konsepsi ketika sel putih ayah dan sel merah ibu, seperti yang diajarkan Buddha dalam Tantra, bertemu dengan saat kita dibentuk. Jadi bila kita menjadi janin pada pukul 9:00, pada pukul 8:59 sel putih dan sel merah pasti ada didalam orang tua kita dan karena itu, ada saat sebelum kita dibentuk, kita pasti tidak muncul begitu saja, tetapi datang dari suatu tempat. Seperti itu kesinambungan, kita mundur, sel-sel tersebut bila kita telusuri datang dari orang tua kita, ke orang tua kita sebelumnya, dan mundur, mundur, mundur sampai pada waktu mereka masih kanak-kanak, kembali pada saat mereka masih ada di rahim orang tua mereka dan sebelumnya orang tua dari orang tua mereka, dan seterusnya. Tidak terhitung. Ia kembali sampai dengan ribuan millennium. Seperti itu, kita tidak mempunyai kapasitas mental atau intelektual untuk menghitung berapa banyak. Kita tidak mempunyai kemampuan untuk melihat berapa banyak. Tetapi ia mundur dan mundur dan mundur. Tak terhitung. Seperti menghitung bintang di langit tetapi ia di luar pengertian manusia untuk dapat menghitung jumlah bintang di langit. Jadi kita mempunyai label untuk berkata, tak terhitung seperti yang dikatakan sang Buddha. Karena itu, pada saat konsepsi, kita bisa melihat dengan jelas atas dasar kesinambungan, kita membawanya mundur dari orang tua kita, sel-sel dan datang dan terbentuk dalam rahim ibu. Dan di dalam rahim ibu, kita dibentuk sekitar pukul sembilan. Pada pukul sembilan sampai sekitar sembilan bulan, tubuh kita berkembang dari janin sampai lahir dan terus menerus sampai saat ini, keberadaan kita sekarang dan besok, detik demi detik ia harus ada, membentuk menit, membentuk jam, membentuk hari, minggu, bulan dan tahun. Dan terus menerus seperti itu berkesinambungan.

Bahkan ketika tubuh kita mati, secara fisik ia tetap ada dalam bentuk lain. Tubuh tidak langsung hilang, apakah kalian dikremasi, apakah kalian dibakar atau dikubur. Tubuh akan tetap ada dalam bentuk lain. Bahkan ketika kalian dikremasi dan abu kalian dibuang ke tanah, abu kalian merawat kehidupan yang baru. Bahkan, tubuh kalian akan tetap ada dalam bentuk kehidupan yang baru dan lagi dan lagi tanpa henti, tanpa akhir, tidak peduli seberapa kecil.

Seperti itu juga pikiran kita adalah sebuah fenomena dalam agama Buddha, seperti tubuh kita dan seperti semua obyek yang dapat kita lihat dengan mata fisik kita, yang berbentuk. Ia disebut fenomena. Jadi semua fenomena dioperasikan atas dasar kesinambungan. Pikiran kita adalah satu jenis fenomena. Ia juga beroperasi dalam kesinambungan. Seperti itu agar pikiran kalian ada pada pukul 8, ia harus ada pada pukul 7:59, pada pukul 7:00 dan seterusnya dan seterusnya, mundur dan mundur, mundur sampai masa kanak-kanak kalian, sampai pada waktu kalian masih sangat muda dan bahkan ketika kalian tidak bisa mengingat dengan jelas apa yang kalian lakukan ketika kalian berusia empat tahun, ketika kalian berusia tiga tahun, apa yang kalian lakukan ketika berusia satu tahun. Bahkan ketika kalian tidak ingat ketika kalian berada dalam rahim ibu kalian, bahkan bila kalian tidak ingat apa yang terjadi di sana, tidak berarti hal ini tidak terjadi. Tidak menghapus kenyataan bahwa hal ini tidak terjadi hanya karena kalian tidak ingat. Tidak logis. Jadi karena itu, ketika kalian berpikir secara logis bahwa kalian mempunyai kehidupan sebelumnya. Seperti itu kalian mempunyai saat sebelumnya, bila kalian bawa pikiran kalian dalam kesinambungan sampai pada saat kalian lahir. Dan membawa kembali sampai pada saat berada di rahim ibu dan mundur sembilan bulan sampai saat konsepsi pada pukul sembilan. Pada saat konsepsi sel merah dan sel putih dari saat sebelumnya dari sel-sel itu untuk bergabung untuk membentuk kalian dari saat sebelumnya dari orang tua kalian. Pikirkanlah dengan hati-hati. Hal ini sangat logis.

Bagaimana dengan pukul sepuluh, dari mana pikiran datang? Bagaimana pikiran muncul? Pada pukul sembilan kalian dibentuk, kalian ada pada pukul sembilan. Apa kesinambungannya bila kalian kempali pada pukul 8:59? Dimana pikiran kalian pada pukul 8:59? Apakah muncul dari langit? Apakah ia muncul bersama tubuh? Apakah ia dibentuk bersama tubuh? Tidak logis. Pikiran adalah fenomena dan pasti mempunyai kesinambungan agar bisa ada pada pukul 9:00. Jadi pikiran pasti ada pada pukul 8:59, 8:58, 8:57, 8:00, 7:00, 6:00, 5:00, dll., dll. Jadi bila kalian lahir pada tanggal 24, kalian pasti ada pada tanggal 23, 22, 21, 20, 19, 18, 17, 16, dan seterusnya agar ia bisa ada. Agar ia bisa maju, kalian harus bisa menelusurinya ke belakang dengan dasar logika. Bila kalian tidak bisa menelusurinya ke belakang, bagaimana mungkin ia bisa ke depan? Ia pasti datang dari suatu tempat. Karena itu, pada pukul 9:00 kalian dikonsepsi, tubuh kalian bisa ditelusuri datang dari orang tua kalian. Dimanakah pikiran kalian? Dimana pikiran kalian pada pukul 8:59? Seperti yang mulia Dharmakirti ajarkan, pada pukul 8:59 kalian ada dalam bentuk lain, dengan cara lain, dari pesawat lain. Ia bisa berada dalam pesawat yang berbeda, ia bisa ada dalam dunia ini dalam bentuk lain. Pada pukul 8:58, kalian ada dalam bentuk lain, pada pukul 8:57 kalian ada dalam bentuk sebelumnya. Karena itu pada pukul 8:59, kalian bisa menggunakan contoh yang simpel. Pada pukul 8:59, pikiran kalian mati. Pikiran itu agar bisa ada lagi dengan kekuatan karmanya, mengambil bentuk lain untuk lahir kembali dalam rahim ibu kalian pada pukul 9:00 am. Jadi pikiran kalian masuk pada pukul 8:59, ia masuk dan meneruskan pada pukul 9:00, dan dari pukul 9:00, sel orang tua kalian bergabung untuk bertumbuh pada saat itu. Dan pikiran kalian yang pada pukul 8:59 ada dalam bentuk kehidupan lain dan lahir kembali pada pukul 9:00 untuk meneruskan sampai saat ini.

Begitu juga ketika kita mundur ke belakang, kita bisa maju ke depan. Sampai tahap ini, sampai dengan 27, 28, atau 29 tahun, saya tidak yakin tanggal lahir saya. Dalam kasus ini, sebutlah saya berumur dua puluh satu, kedengarannya lebih enak, beberapa dari kalian tertawa. OK, katakanlah saya 22 tahun. Saya pasti akan maju ke 23, 24, 25, 26, 27, 28…30, 40, 50. Sebut saja 60 tahun. Ia harus meneruskan dari titik itu dari usia 22 ke 50.

Sebut saja saya akan meninggal pada usia 50. Ketika saya meninggal pada usia 50, saya akan meninggalkan tubuh saya, tubuh saya akan meneruskan dalam bentuk lain. Bagaimana dengan pikiran? Bagaimana ia akan meneruskan? Ia pasti ada. Ia tidak bisa menghilang begitu saja. Energi tidak bisa hanya menghilang begitu mudahnya. Jadi bila kita meninggal, sebut saja pada pukul 12:00, pada pukul 12:00, fungsi pikiran dan tubuh kalian berhenti. Kalian berhenti ada dalam bentuk saat ini. Mereka akan ada dalam bentuk lain. Mereka akan menjadi nutrisi di tanah. Agar lebih mudah, pada pukul 12:01, dimanakah pikiran kalian? Pada pukul 12:02, dimana pikiran kalian? Pada pukul 12:03, 12:04, dll., dll. Dimana pikiran kalian keesokan harinya, keesokan harinya, keesokan harinya? Dengan dasar logis, pikiran kalian bekerja dengan kesinambungan. Ia bekerja dengan kesinambungan. Ia bergerak dengan kesinambungan. Agar dapat ada pada saat ini, ia harus ada pada saat sebelumnya. Ia bekerja dengan kesinambungan.

Seperti itu, kalian bisa berkata bahwa pikiran kalian datang dari orang tua kalian. [Argumen] ini tidak begitu logis. Karena secara fisik kalian mempunyai kemiripan dengan orang tua kalian. Bila bukan orang tua kalian, paling tidak kakek nenek kalian. Tetapi bila kita periksa secara mental, kita cukup berbeda dengan orang tua kita – cara kita berpikir dan cara kita bertindak. Anak-anak kita juga berbeda dari kita. Bahkan kesukaan orang tua pada kehidupan ini adalah ketidak-sukaan anak-anaknya. Kesukaan orang tua adalah hal yang tidak disukai anak-anaknya. Kalian bisa mempunyai orang tua yang jenius, tetapi anak-anaknya tidak begitu pandai. Kalian bisa mempunyai orang tua yang tidak begitu pandai tapi anak-anaknya sangat pandai. Jadi bila pikiran berasal dari orang tua, maka pikiran seseorang akan mirip dengan pikiran orang tuanya dalam setiap hal. Sekarang dalam hal kemiripan, kita mungkin saja punya kemiripan dengan orang tua kita dalam cara berpikir atau bergerak atau melakukan sesuatu. Ini hanyalah kondisi. Ketika kita telah bersama seseorang untuk waktu yang sangat sangat lama dan kita menghormati orang itu dan kalian hanya tahu cara melakukan sesuatu dengan cara ini, maka kalian akan melakukan sesuatu dengan cara yang sama. Tetapi ini tidak membuktikan bahwa pikiran kalian datang dari orang tua kalian karena mayoritas dari kita cukup berbeda dengan orang tua kita – karir kita, keahlian kita, apa yang kita sukai dan apa yang tidak kita sukai cukup berbeda dengan orang tua kita. Jadi dalam pemeriksaan secara logika, pikiran tidak bisa hanya ada pada saat kelahiran, ia pasti ada pada saat sebelumnya. Pikiran tidak mungkin datang dari orang tua karena bila ya, ia harus mirip dengan orang tua kita, seperti tubuh fisik kita. Bahkan secara genetic terkadang diwariskan. Ia pasti datang dari orang tua kita. Tetapi bila kita sangat berbeda dari orang tua kita, sangat berbeda. Disitulah muncul konflik, tetapi ini adalah cerita yang lain.

Maka atas dasar ini, Buddha dengan kemampuannya untuk melihat masa depan dan masa lalu bisa mengajarkan doktrin reinkarnasi dengan cara yang biasa dan duniawi. Ada beberapa orang yang bisa melihat dengan jelas atau mengingat apa yang terjadi pada mereka ketika mereka berusia lima tahun, apa yang terjadi pada mereka ketika mereka berusia empat tahun, apa yang terjadi pada mereka ketika mereka berusia satu tahun. Bahkan ada orang yang mengingat dengan jelas saat mereka masih di rahim. Apa yang mereka pikirkan dan rasakan. Bahkan ada orang yang mengingat apa yang mereka lakukan pada kehidupan sebelumnya, dengan sangat sangat jelas. Mereka bisa mengingat dengan kekuatan meditasi. Bahkan hari ini, dengan meditasi yang benar kalian bisa membuka kunci ingatan kalian dan pikiran kalian untuk berfokus, membuat pikiran kalian lurus, berkekuatan, jelas seperti panah, sangat taham dan kalian bisa mengingat ketika kalian masing sangat sangat muda dan kalian bisa mengingat hal-hal yang biasanya tidak kalian ingat. Dan sebelum kembali ke kehidupan kalian sebelumnya keberadaan sebelumnya dan apa yang kalian lakukan. Hanya Buddha yang sudah tercerahkan bisa melihat kehidupan sebelumnya dengan jelas tanpa cacat seluruhnya, mundur, mundur, mundur. Orang mempunyai kemampuan meditasi tertentu bisa melihat kehidupan mereka sebelumnya sampai pada satu titik dan berhenti dan beberapa bila melihat kehidupan kalian yang sebelumnya sampai satu titik dan berhenti. Ini tergantung pada kemampuan meditasi kalian.

Atas dasar ini yang sudah saya padatkan, agama Buddha berdasarkan pada doktrin reinkarnasi, reinkarnasi berarti pikiran mengalami kelahiran kembali, dalam situasi yang baru lagi dan lagi.

Saya menjelaskan kemarin bahwa ada tiga jenis karma: karma positif, karma netral, dan karma negatif. Karma adalah kata Sanskrit untuk tindakan, apa yang kita lakukan. Karma hanyalah sebuah kata yang sudah dipakai berkali-kali. Terkadang dipakai sebagai lelucon. Karma berarti tindakan. Jadi tindakan yang baik, tindakan yang buruk, tindakan netral. Tindakan yang baik ditentukan oleh, apakah itu dari tubuh, perkataan, dan pikiran, manfaat bagi makhluk lain dan diri sendiri. Tindakan buruk adalah tindakan yang kalian lakukan yang mingakibatkan kerugian dan ketidak-bahagiaan bagi makhluk lain dan diri sendiri. Tindakan netral adalah tindakan yang tidak membawa kerugian maupun manfaat bagi makhluk lain. Contoh, makan. Jadi karma baik atau tindakan baik menciptakan hasil yang positif. Tindakan negatif menciptakan hasil yang negatif. Sangat simpel. Karena itu, kelahiran macam apa yang kalian dapatkan, dan lingkungan seperti apa dan situasi seperti apa yang kalian alami dan perasaan positif atau negatif, dan pengalaman positif dan negatif yang kalian jalani tergantung karma. Semua tindakan membawa hasil. Dan pasti membawa hasil. Semua tindakan tidak bisa tanpa hasil.

Ia beroperasi dengan kesinambungan. Apakah hasilnya datang kepada kalian dengan cepat atau apakah datang dengan lambat, tapi pasti hasilnya akan datang. Atas dasar ini, kita bisa mendasarkan teori reinkarnasi. Bersamaan dengan reinkarnasi, harus ada tindakan. Tanpa tindakan, orang tidak bisa hanya berkeliling dan mendapatkan kelahiran baru. Bila ada doktrin tentang karma maka ia akan bisa menjelaskan mengapa beberapa orang sangat tidak menarik, mengapa beberapa orang lahir pada tempat yang baik, tempat yang bahagia dan mengapa beberapa orang lahir di tempat yang tidak bahagia. Mengapa beberapa orang mempunyai banyak penyakit dan mengapa beberapa orang memiliki tubuh yang sangat tidak sehat. Mengapa beberapa orang lahir di lingkungan yang menyenangkan, dimana mereka bisa mendapatkan makanan dan air dan mendapatkan pekerjaan dengan mudah dan beberapa orang lahir pada lingkungan yang tidak menyenangkan.

Dalam agama Buddha, tidak ada teori tentang Tuhan. Ini adalah sesuatu yang tidak kita khawatirkan pada saat ini. Ini bukan penyangkalan, ini bukan penerimaan. Apa yang kita fokuskan adalah tindakan pada saat ini karena bila kalian melakukan hal yang baik, bila kalian melakukan hal yang positif, maka kalian akan mendapatkan hasil yang positif. Bila kalian melakukan hal yang merugikan kalian akan mempunyai hasil yang merugikan. Apakah ini adalah Tuhan yang menghukummu atau menghargai kalian atau apakah karma itu ada, memberi kalian buah yang masak dari tindakan kalian, pada titik ini, bukanlah hal yang akan kita fokuskan. Tetapi bila kalian beroperasi atas dasar agama Buddha atau Hindu (yang berdasarkan pada) karma, maka kalian berhati-hati pada tindakan kalian. Bagaimana kalian berbicara pada orang lain, bagaimana kalian berinteraksi dan bereaksi terhadap orang lain adalah atas dasar tindakan negatif atau tindakan positif yang buahnya akan kembali pada kalian. Bila kalian beroperasi dengan teori Tuhan, bila kalian melakukan tindakan yang baik, ia akan direkam dan kalian akan dihargai di surga atau bila kalian melakukan tindakan buruk dan merugikan seluruh kehidupanmu dan bila kalian meninggal, kalian akan masuk neraka. Bila teori ini membantu kalian untuk melakukan hal-hal yang positif, tidak apa-apa. Bila teori karma membantu kalian untuk melakukan hal-hal yang positif, tidak apa-apa – tidak ada perbedaan. Bila ada konflik. Kita tidak boleh membuat konflik baru dari situ. Kita tidak boleh melihatnya sebagai konflik karena tidak ada konflik. Apa yang kita inginkan adalah masyarakat yang harmonis, baik, dan positif. Dan bila masyarakat harmonis dan ramah terhadap lingkungan dan makhluk lain seperti hewan dan arwah, setiap orang hidup harmonis dan saling menghormati. Ini adalah tujuan dari semua agama. Jadi bila tujuan dari agama adalah itu dan bila seseorang suka melakukannya atas dasar ketuhanan, tidak apa-apa. Bila orang tersebut melakukannya atas dasar karma, tidak apa-apa. Karena bila orang ini memberi untuk kegiatan amal dan saya memberi untuk kegiatan amal, dan orang ini bilang, “Oh saya akan dihargai di surga karena saya berbuat amal.” Ketika kedua orang ini bertemu, dari luar mereka berdua melakukan amal dan menolong orang. Mereka membantu. Mereka tidak berbeda. Tidak perlu berdebat apakah Tuhan itu ada, apakah karma itu tidak ada, atau apakah Tuhan itu tidak ada dan karma itu ada. Sehingga tidak perlu melakukan amal – hanya lalu lalang, lalu lalang. Tidak logis. Tidak perlu berdebat. Tidak perlu saling mengklarifikasi. Apa yang kalian yakini, apa yang membantu kalian adalah sempurna.

Sang tercerahkan, Buddha, tidak selalu menampakan diri dalam bentuk Buddha atau di India, atau sebagai Yesus atau Mohammed. Mereka menampakan diri dalam semua bentuk, sebagai Buddha, sebagai Yesus, sebagai Muhammad, sebagai Krishna, dll., dll., dalam semua sistem dunia untuk memberikan manfaat bagi manusia, untuk mengajarkan doktrin kepada manusia tergantung waktu, tempat, kebudayaan dan lingkungan. Makhluk-makhluk ini akan menampakan diri dan mengajari kalian untuk menjadi individu yang ramah, mempunyai cinta kasih, dan harmonis. Metode yang mereka ajarkan disesuaikan dengan waktu, kebudayaan, dan situasi. Gereja, sinagog, mesjid adalah gereja yang tepat, sinagog yang tepat, mesjid yang tepat. Kita membuang hidup kita untuk berdebat dan tidak melaksanakan ajaran spiritual. Kita sudah membuang kesempatan untuk menggunakan maksud dari tempat-tempat ini, maksud dari doktrin untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Bukannya menggunakan doktrin suci ini untuk menjadi manusia yang lebih baik, kita menggunakannya untuk maksud yang berlawanan, yaitu untuk menciptakan konflik, ketidak-harmonisan, dan ketidak-bahagiaan. Seperti contoh yang saya berikan kemarin. Bila kalian tidak tahu bagaimana cara menyetir mobil, kalian menabrakannya, tetapi tidak berarti mobilnya buruk atau pembuatnya buruk, atau penjualnya. Ini berarti kalian tidak tahu cara mengemudikannya, teori apapun yang ingin kalian operasikan dalam hidup kalian, teori apapun. Bahkan sebagai orang yang tidak beragama, seseorang yang tidak mau memeluk suatu agama, tetapi dia menghormati orang lain, lingkungan, dan makhluk lain, atas dasar hormat, moralitas, dan memperlakukan makhluk lain dengan baik dan mengembangkan pikirannya, tidak apa-apa. Karena pada akhirnya, ketika waktunya datang, bila surga memang ada, mereka akan pergi kesana. Bila karma itu ada, kalian akan mendapat kelahiran kembali yang baik. Bila tidak ada dua-duanya, menurut orang yang tidak beragama, kalian tidak membuang-buang hidup kalian. Kalian sudah hidup sebagai manusia yang sebenarnya dan tidak sebagai hewan yang berkelahi dan mengamankan rumahnya dan teritorinya dan berburu sepanjang hari untuk mendapatkan makanan dan membuat anak. Kita bukan hewan, kita memiliki kepandaian yang lebih tinggi, kita mempunyai kemampuan yang lebih tinggi. Kemampuan ini dapat digunakan untuk mengembangkan pikiran dan kita bisa pergi sangat jauh.

Bila kalian hanya mengembangkan kekayaan, kedudukan, kekuasaan, permainan, hiburan, bersenang-senang, bila hanya digunakan untuk hal ini, maka kemampuan ini terbuang percuma. Karena bila kebahagiaan yang kekal bisa datang dari luar dari obyek fisik, makin banyak obyek fisik yang kita punya, seharusnya kita semakin bahagia. Bila kebahagiaan didasarkan pada penampilan yang menarik, maka semua supermodel di dunia seharusnya sangat-sangat bahagia. Semua bintang film seharusnya sangat bahagia, sangat bahagia sampai mereka tidak mempunyai waktu untuk menangis atau kesusahan apapun tetapi bila kita membaca majalah-majalah, mereka mempunyai berbagai ketidak-bahagiaan. Bila kebahagiaan didasarkan pada kekayaan, maka setiap orang kaya di dunia ini seharusnya sangat bahagia dan bebas dari masalah. Bila kebahagiaan didasarkan pada sahabat maka semakin banyak sahabat yang kita punya, kita lebih banyak merasakan kasih sayang, kenyamanan, dan kebahagiaan. Tetapi kenyataannya, bila kita punya kekayaan, kita tahu mengapa sahabat kita datang. Bila kita tidak punya kekayaan, kita melihat sekeliling dan bertanya, kemana teman kita? Tidak ada. Dan teman, kalian juga tidak bisa mendasarkan kebahagiaan kalian padanya. Dan juga kalian tidak bisa mendasarkan kebahagiaan kalian pada obyek yang bersifat sementara, yang akan berlalu. Pada saat obyek itu berubah atau sifatnya yang sementara bereaksi, contohnya sahabat kalian pindah, sahabat kalian meninggal, mobil kalian dicuri, mobil kalian tertabrak, kekayaan kalian hilang dalam satu malam di pasar saham. Pada menit kalian kehilangannya, ketidak-bahagiaan datang. Jadi bila kalian mendasarkan kebahagiaan kalian atas hal ini, ada banyak kesalahan: Kesalahan yang bersifat sementara, kesalahan bahwa obyeknya tidak bisa memberi kalian kebahagiaan. Bila ini memang benar maka makin banyak yang kalian punya, kalian seharusnya makin bahagia dan gembira. Pada kenyataannya tidak begitu.

Kebahagiaan adalah kondisi pikiran. Bila kebahagiaan adalah kondisi pikiran, maka pikiran harus berkembang. Bagaimana mungkin obyek fisik menciptakan kondisi pikiran? Ia bisa melengkapi pikiran. Sebagai contoh bila kalian makan makanan enak dan kalian menjaga tubuh kalian dengan baik, kalian tidak merasa tidak nyaman, ia bisa membantu. Tetapi ia bukan sebab atau sebab sebenarnya, ia hanya lingkungan atau sebab sementara untuk kebahagiaan kalian. Kebahagiaan yang sebenarnya datang dari kebebasan atas sifat-sifat negatif, delusi negatif.

Delusi adalah kebodohan, kebencian, dan nafsu datang dari iri hati, keinginan, rasa tidak puas, kemarahan, dll., dll., dll., akan muncul. Bila emosi negatif ini muncul dan membuat kalian untuk melakukan hal yang negatif dan karena itu mendapatkan hasil yang negatif, saat itulah ketidak-bahagiaan datang. Ketika kalian mempunyai dua gelas: satu adalah gelas yang lebih baik dan yang lain adalah gelas yang lebih buruk sahabat kalian datang dan mengambil gelas yang lebih baik dan kalian sedih. Kebahagiaan kalian tidaklah berdasar pada gelas itu. Kebahagiaan kalian tidak lengkap karena kalian tidak memberi dan bersyukur. Dan kalian terikat, kalian mempunyai nafsu. Karena kalian mempunyai nafsu, kalian akan bertengkar dengan teman kalian dan berkata, mengapa kamu sangat serakah? Kamu mengambil gelas yang lebih baik dan kamu meninggalkan saya dengan gelas yang lebih buruk. Kenyataannya, bila kalian menginginkan kebahagiaan yang sebenarnya, kalian tidak akan terikat pada gelas mana yang teman kalian ambil selama kalian mempunyai gelas. Karena kalian sangat serakah, karena kalian sangat terikat, datang dari nafsu, jadi ketika ia mengambil gelas yang satunya, kalian merasa tidak senang. Tetapi pikiran yang terdelusi mempermainkanmu untuk berkata, tidak, kebahagiaan saya tergantung dari gelas itu. Ia mengambil gelas itu, karena itu saya tidak bahagia. Kenyataannya bila kamu menginvestigasi dengan jelas, ketidak-bahagiaan bukanlah gelasnya, melainkan situasi dimana kondisi pikiran kalian direfleksikan. Lalu ketika kita melihat gelas itu dibawa pergi, dan kita melihat gelas yang lebih buruk dan kita membawanya pulang, setiap kalia kita melihatnya, kita mengulang kembali apa yang kita kondisikan pada pikiran kita: Dia mengambil gelas yang lebih baik. Dia orang jahat. Dia bukan teman saya. Saya tidak bahagia.

Jadi orang yang sangat berkonsentrasi pada hal ini, berulang-ulang menjadi gila atau menjadi neurotik, menjadi sangat terikat, posesif. Dan karena itu mereka mengaplikasikan ke-posesif-annya pada aspek lain dalam hidup mereka. Kepada suami mereka, kepada istri mereka, kepada perhiasan mereka, kepada mobil mereka, kepada perabotan mereka, rumah mereka, kantor mereka, akun bank mereka, dll., dll., dll. Dan karena itu bila salah satu dari hal itu diambil, ketika salah satu dari hal ini tidak memberi hasil yang diinginkan, kita merasa tidak bahagia. Dan karena itu, kita menunjuk pada sumbur dari ketidak-bahagiaan kita, pada situasi itu, pada orang tertentu, pada obyek itu. Kita menunjuknya. Lagi dan lagi, kita berdelusi terhadapnya.

Dan dengan pikiran yang terdelusi, kita mempersepsikan ketidak-bahagiaan kita datang dari obyek itu, contoh, bila seseorang mengambil gelas dari kita, dan kita melanjutkan dengan menciptakan hasil yang negatif, karma negatif. Kita memanggil orang tersebut. Pada awalnya kita berkata dengan baik-baik, bisa saya dapatkan gelasnya kembali, dan kamu mengambil gelas yang satunya? Orang satunya berkata, tidak saya mendapatkannya lebih dulu. Dan kamu berkata, saya pikir kamu akan mengambil gelas yang satunya dan saya mengambil gelas yang ini. Karma negatif dari perkataan, lebih banyak kemarahan, lebih banyak ketidak-bahagiaan dan setiak kamu melihat orang ini, kamu merasa marah. Mungkin kamu pergi ke orang itu dan memukulinya, dan berkelahi. Mungkin kamu memanggil geng untuk mengerjainya. Mungkin kamu mempunyai kedudukan dan kekuasaan dan menguncinya di penjara, hanya hal yang simpel.

Karena itu, setiap hal yang kamu lakukan karena kebencian dan nafsu, sekarang juga kebencian, setiap tindakan akan menciptakan cetakan mental dalam pikiran kalian, bibit mental dalam pikiran kalian, yang akan berbuah pada masa mendatang, pada situasi yang akan datang. Dan bila bibit ini adalah negatif, maka kalian akan mendapat hasil negatif. Sebagai contoh, bila kamu berbicara dengan kasar karena kebencian dan nafsu dan kebodohan. Salah satu dari tiga racun, delusi apapun, bila kalian berbicara kasar atas dasar ini kepada orang itu, kalian sudah mengumpulkan karma yang berhubungan dengan perkataan yang negatif. Karena itu, sebagai hasilnya, di kehidupan yang akan datang, kalian akan mengalami kelahiran kembali dalam lingkungan yang kering, kasar, dan sangat kotor dan hal-hal dasar yang kamu butuhkan untuk hidup seperti air dan tempat tinggal akan sangat sulit didapat. Untuk mendapatkan air, kalian harus berjalan berkilo-kilo meter, berjalan dibawah terik matahari, berbatu-batu, hanya untuk membawa air kembali, harus berusaha keras. Bahkan untuk mendapatkan pekerjaan, untuk mengumpulkan kayu bakar, atau menumbuhkan sesuatu di taman kalian, atau menumbuhkan sesuatu untuk dimakan, ketika kamu menumbuhkan sesuatu, kekeringan datang. Cuaca buruk menghancurkannya. Dari berbicara kasar yang kalian berikan pada orang lain, ketika kalian berteriak kepada seseorang, ketika kalian mengatakan hal-hal negatif kepada orang lain, ketika kalian berbicara kasar kepada orang lain dengan tiga delusi sebagai motivasinya, kalian akan menciptakan situasi untuk lahir dalam lingkungan yang negatif.

Bagaimana kalian bisa bertanya, bagaimana beberapa kata bisa menciptakan energi seperti itu? Bisa. Bagaimana bibit kecil bisa menjadi pohon apel atau pohon jeruk atau pohon pir? Ia hanya bibit yang kecil. Ya, mungkin saja hanya bibit kecil yang mempunyai potensi untuk tumbuh besar. Seperti itu juga walaupun karma adalah sesuatu yang kecil pada saat ini, ia bisa bertambah dan menjadi lebih besar, lebih besar, dan lebih besar.

Seperti itu juga, ada banyak orang yang tidak datang pada hari pertama karena ada urusan lalu saya mengulang ini dengan cepat untuk memberi manfaat bagi kalian karena saya lihat kalian tulus, bukan berarti orang yang hadir kemarin dan kemarin dulu tidak tulus. Tulus juga. Dan orang baru juga tulus.

Untuk orang awam, ada sepuluh tindakan yang harus kita hindari, apakah kalian beragama atau tidak, apakah kalian Yahudi, apakah kalian Kristen, apakah kalian Islam, Buddha, Hindu, Jain, dll. Apapun agama kalian, ada sepuluh hal dasar yang harus kita hindari sebagai manusia, dengan pertimbangan dan hormat kepada orang lain karena juga memiliki efek karma. Ada beberapa motivasi yang terlibat, pikiran yang terlibat. Agar ada akibat karma: 1) Seseorang harus mempunyai maksud untuk melakukan salah satu dari sepuluh tindakan ini. 2) Seseorang harus mengetahui bahwa ia akan melakukan tindakan ini, bukan hanya melakukannya tetapi sadar saat melakukannya. 3) Seseorang harus melakukan tindakan ini. Setelah tindakan ini dilakukan dan akibatnya sudah terjadi, 4) dan yang paling akhir adalah seseorang harus bergembira karena kalian sudah melakukannya: Oh saya sudah melakukan tindakan ini. Jadi untuk mempunyai maksud, melakukannya, tindakan ini menjadi lengkap dan bersyukur, bergembira karena kalian sudah melakukannya.

Jadi saya mempunyai maksud untuk memecahkan gelas ini, saya mendorongnya. Mungkin ia hanya terguling dan tidak rusak. Karma itu tetap ada tetapi tidak sekuat bila gelas itu pecah. Atau saya mau memecahkan gelas itu, saya mendorongnya dan ia pecah, dan ketika saya melihatnya, saya merasa menyesal. Lalu akibat karma itu jadi berkurang. Situasi lain, saya ingin memecahkan gelas itu: Saya mendorongnya, ia pecah dan orang lain menjadi depresi dan saya sangat senang dan bergembira. Dan saya memikirkan cara lain untuk membuatnya lebih tidak senang lagi. Tindakan ini lengkap. Karmanya sangat sangat kuat dan hasilnya akan kembali. Kalian harus mempunyai keempat sebab ini. Adakah dari kalian yang memikirkan kata-kata yang lebih baik? Empat…? Tidak apa, kita hanya mengatakan empat sebab. Keempat sebab ini harus ada agar tindakan itu lengkap. Jadi agar keempat sebab ini ada, tindakan nyatanya adalah……

Tiga tindakan buruk yang berhubungan dengan tubuh adalah membunuh, mencuri, dan menyeleweng. Keempat tindakan buruk yang berhubungan dengan perkataan adalah berbohong, memecah belah, menyiksa, dan gossip. Yang terakhir – tiga tindakan buruk yang berhubungan dengan pikiran adalah nafsu, maksud tidak baik, dan pandangan yang salah. Jadi membunuh, mencuri, menyeleweng, memecah belah, menyiksa, bergosip, nafsu, maksud tidak baik, pandangan yang salah. Ini adalah sepuluh tindakan yang harus kita hindari. Pasti.

Sekarang saya akan mengulang untuk memberi manfaat bagi setiap orang. Sekarang kalian mungkin berpikir, oh yang bisa diajarkan biksu ini adalah ini dan ini. Saya akan katakan, ini adalah dasar buat semua orang. Tanpa ini, kalian boleh melupakan ajaran yang lebih tinggi di semua agama. Kalian boleh melupakan ajaran yang lebih tinggi dalam agama Buddha. Kalian boleh melupakan ajaran yang lebih tinggi, mengenai mantra, inisiasi, pergi ke tempat suci, dan seterusnya. Tanpa sepuluh dasar ini sebagai manusia biasa kalian tidak mempunyai kualitas untuk diklasifikasikan sebagai manusia, bila kalian tidak melaksanakan sepuluh etika ini. Inilah yang membedakan kita dari hewan. Jadi, 1) membunuh, maksudnya harus di sana. Jadi membunuh orang tua, membunuh makhluk suci, membunuh Buddha tidaklah mungkin tetapi maksud bisa saya ada, atau arahat adalah karma yang sangat kuat. Hasil yang langsung adalah ketidak-bahagiaan dalam hidup. Membunuh manusia juga sangat-sangat berbahaya. Bahkan, membunuh hewan, hasilnya juga akan kembali ke kita… mengapa? Karena hal ini menciptakan ketidak-bahagiaan, hal ini menciptakan perpisahan, hal ini menciptakan rasa sakit bagi makhluk lain. Apakah makhluk lain itu pandai atau tidak, setiap makhluk mempunyai hak untuk hidup dalam damai, dalam kebahagiaan, dan ketika kita mengambil dari mereka, kita menciptakan rasa sakit, kita menciptakan kekhawatiran. Kita bisa melihan babi yang akan dipotong, menangis, menguik, dan merengek. Saya sudah melihatnya. Mereka tahu. Mereka pasti tahu. Jadi untuk menciptakan rasa sakit seperti itu dan menyerap rasa sakit itu dalam tubuh kita, kita akan menjadi orang seperti apa?

Bukan orang yang baik, pasti bukan. Setelah beberapa saat darah muncrat – pertama kali kita melihatnya, hal ini menakutkan, kedua, ketiga, keempat kali kita melihatnya, kita jadi terbiasa, kita sudah jatuh ke level yang lebih rendah. Jadi membunuh dengan cara apapun adalah karma yang sangat, sangat, sangat negatif.

Dan akibat dari membunuh adalah lahir di salah satu dari tiga alam terbawah, apakah neraka, alam arwah, atau alam hewan. Yang kedua adalah bila kalian lahir kembali sebagai manusia, kalian akan mempunyai kecenderungan untuk membunuh, kalian akan mempunyai hidup yang pendek dan kalian akan mempunyai banyak penyakit. Bahkan bila kalian mempunyai banyak penyakit dan kalin memakan obat, bahkan bila kalian pergi ke rumah sakit tertentu, kalian tidak akan sembuh. Orang berkata, bagaimana bisa saya melaksanakan Dharma dan saya tidak mendapatkan ini, saya tidak mendapatkan itu, saya tidak mencapai itu? Buat setiap orang di rumah sakit untuk sehat, tidak ada yang meninggal adalah tergantung karma, seberapa cepat, dan seberapa tepat kalian mendapat hasilnya. Hanya karena sebuah rumah sakit mempunyai beberapa kematian, kita tidak bisa bilang buruk. Bukan. Karena kekuatan membunuh dan hasil negatifnya, seseorang akan selalu berumur pendek dan hidup tidak bahagia – hidup yang dipenuhi dan dijangkiti penyakit dan bahkan ketika kalian sakit, obat tidak berguna. Kalian akan selalu merasa sakit dan mempunyai umur pendek. Beberapa anak, ketika mereka lahir, mereka suka menginjak serangga. Beberapa anak sangat natural. Insting dari kehidupan sebelumnya dibawa ke kehidupan yang sekarang. Ketiga adalah bila kalian lahir sebagai manusia, bahkan makanan enak yang diberikan pada kalian tidak memberi gizi. Bahkan vitamin yang diberikan pada kalian tidak akan membantu dan tubuh kalian akan lemah. Apapun yang kalian lakukan, tubuh kalian tidak akan bereaksi terhadap obat, perawatan, nutrisi, apa saja. Ini adalah beberapa hasil dari membunuh. Beberapa, bukan semua.

Lalu mencuri. Mencuri bisa dilakukan dengan mengambil obyek orang lain dan dengan mereka ketahui atau tanpa ketahui pada awalnya. Mencuri bisa menipu dengan kata-kata, dengan tulisan, menggunakan cara yang salah untuk menjual produk atau mempromosikan barang tertentu dalam satu negara ketika kalian menjual barang kalian dengan dasar yang salah dan orang lain mempercayai kalian dan membelinya dan kalian merasa senang dengan hasilnya dan kalian pergi liburan ke Bahama, tindakan ini menjadi lengkap. Jadi mencuri bisa dalam bentuk merampok, bisa dalam bentuk menipu dengan kata-kata atau tulisan, dengan cara palsu. Bahkan seperti yang saya katakan pada hari pertama, bila seseorang menitipkan uang kepada kalian dan melupakannya dan kalian tidak mengingatkan mereka dan menyimpannya, ini adalah mencuri.

Hasil dari mencuri adalah satu dari tiga alam bawah. Setelah, tiga dari alam terbawah, ketika kalian keluar, kalian akan dilahirkan sebagai manusia dan kalian tidak akan pernah bisa keluar dari kemiskinan. Atau kalian akan lahir dalam keluarga kaya tetapi kalian tidak bisa mendapatkan uang atau warisan. Atau apapun yang kalian lakukan atau pekerjaan apapun yang kalian lakukan, usaha apapun yang kalian lakukan, tidak akan ada hasilnya. Kalian bisa menamakannya nasib jelek. Beberapa orang melakukan sedikit usaha dan mendapat hasil yang banyak; beberapa orang melakukan banyak usaha dan tidak mendapatkan hasil. Atau, karma buruk seperti ini hasilnya bisa dalam bentuk (menggunakan contoh kuno) perusakan hasil panen karena cuaca buruk. Petani di kanan dan kiri tidak terkena dampaknya, tetapi kalian punya hancur. Mengapa? Kalian ada di area yang sama. Mencuri akan berakibat pada kemiskinan, kemiskinan dalam bentuk apapun: sementara, masa depan. Beberapa orang adalah pengusaha yang sangat kaya tetapi mereka jatuh. Beberapa orang melakukan bisnis macam-macam tetapi tidak mendapat apa-apa. Beberapa orang melakukan bisnis, mereka mendapat uang banyak tetapi mereka menghabiskannya atau [harta ini] dicuri dari mereka. Ini adalah hasil dari mencuri dari orang lain.

Menyeleweng adalah melakukan hubungan badan dengan seseorang yang bukan pasangan kalian. Jadi tentu saja bila kalian adalah pria, kalian tidak bersama istri kalian tetapi dengan wanita lain. Begitu juga sebaliknya. Dan bila kalian melakukannya dengan cara yang tidak natural. Dan bila kalian melakukannya dekat guru kalian, dekat institusi keagamaan, dekat altar kalian, pada hari raya keagamaan dan juga katanya pada siang hari. Buddha mengatakan bahwa nafsu sex kuat diantara manusia dan karena itu penting untuk menahan diri dari menyeleweng. Sangat, sangat kuat. Bila kalian melakukan salah satu tindakan ini sebagai orang awam, maka hasilnya adalah tiga alam bawah dan ketika kalian lahir kembali, akan ada ketidak-harmonisan (antara suami dan istri), kalian akan selalu tidak harmonis, berdebat dan bertengkar bolak-balik, tidak menyukai satu sama lain dan kabur lagi dan lagi. Dan kalian juga akan mempunyai akibat untuk hidup dalam tempat yang kotor, tempat yang tidak layak dan tempat yang sangat sangat tidak menyenangkan, sangat sangat tidak tertahankan tetapi kalian tidak punya pilihan kecuali tetap tinggal. Ini adalah hasil dari menyeleweng.

Menyadari bahwa dalam jangka waktu pendek, kita bisa mendapatkan kesenangan dari tindakan negatif kita, untuk waktu singkat, kesenangan sementara, tetapi tindakan ini pada akhirnya akan membawa hasil yang negatif, hasil yang tidak bahagia. Dengan bermeditasi mengenai hal ini, berpikir atau merenungkannya lagi dan lagi, dengan lambat tetapi pada waktunya. Seseorang harus melepaskan diri dari tindakan ini. Seseorang harus mempunyai penyesalan. Seseorang harus berjanji untuk tidak melakukannya lagi. Seseorang harus berjanji untuk tidak melakukannya lagi. Seseorang harus berkomuni dengan Tuhannya: Buddha, Yesus, dll. Seseorang harus berkomuni dan berjanji untuk tidak melakukan hal ini lagi dan menahan diri karena bila tidak akan berakibat sangat sangat buruk. Dan bila kalian tidak mempercayai hidup yang akan datang tetapi di kehidupan yang ini kalian bisa melihat ketidak-harmonisan dalam hidup kalian. Jadi hal ini sangat logis.

Berikutnya adalah empat tindakan yang berhubungan dengan perkataan: berbohong, memecah-belah, menyiksa dan bergosip. Berbohong bisa dengan kata-kata, bahasa tubuh dan bahkan kedipan mata. Hasil dari berbohong adalah kelahiran kembali di tiga alam bawah. Di masa depan, apapun yang kalian katakan, tidak akan dianggap serius, tidak ada yang mendengarkan, tidak ada yang akan percaya. Sepanjang waktu, apapun yang kalian katakan haruslah dengan suara banyak, berlompat-lompat untuk mendapat perhatian orang lain. Bahkan bila kalian melakukannya, orang lain akan menjauh. Tidak ada yang mau mendengarkan kalian sebagai hasil dari berbohong. Dan apapun yang kalian usahakan, kalian akan dibohongi, ditipu, dan dipermainkan oleh orang lain dan usaha kalian menjadi tidak sukses, sangat tidak sukses.

Memecah-belah adalah pembicaraan dengan maksud memecah belah dua sahabat, dua pihak, dua organisasi, dll., dll. Ini adalah jenis perkataan….. (akhir dari CD3) dan bagaimana mengatakannya, sangat bau.

Dan selanjutnya adalah menyakiti. Ini akan membawamu ke kelahiran kembali yang rendah, dan di kehidupan ini dan yang akan datang, kalian akan mempunyai reputasi yang rendah, tidak bisa akur dengan orang lain dan setiap orang akan secara insting membicarakanmu di belakang bahkan ketika kalian tidak melakukan apa-apa, bahkan ketika kalian tidak bersalah. Orang lain akan berbicara untuk melawan kalian. Dan lagi kalian akan lahir di lingkungan yang kotor, tidak menyenangkan dan berbahaya, dengan hewan liar, bencana alam. Lingkungan yang sangat bahaya.

Dan yang berikutnya adalah bergosip. Semua jenis pembicaraan mengenai hal yang tidak berguna dan tidak memberikan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Hanya berbicara terus-menerus, bergosip terus-menerus akan menciptakan karma di kehidupan manusia selanjutnya, kata-kata kalian tidak akan mempunyai pengaruh kepada orang lain dengan cara apapun. Bahkan anak-anak kalian. Ketika kalian mencoba mengajarkan anak-anak kalian hal yang baik, dengan maksud yang baik, mereka tidak akan mendengarkan kalian, begitu juga semua orang yang kalian temui. Kalian akan berbicara tanpa guna pada setiap kesempatan – hanya berbicara, berbicara, berbicara. Ada contoh lain di sini. Bila kalian mempunyai taman atau tanah, kalian tidak akan memperoleh panen darinya.

Maksud tidak baik. Tiga tindakan yang berhubungan dengan pikiran adalah nafsu, maksud tidak baik dan pandangan yang salah. Maksud tidak baik adalah mempunyai kebencian kepada seseorang dan karena itu bertindak karenanya. Seseorang akan lahir di tiga alam bawah karenanya. Bila seseorang lahir kembali sebagai manusia, kalian akan selalu merasa takut. Rasa takutnya akan selalu tidak berdasar, tidak terkendali dan selalu disakiti dan dihancurkan dan tidak harmonis tanpa menciptakannya di kehidupan ini. Orang itu selalu dalam situasi ini dan mereka akan dijangkiti penyakit yang terus-menerus dan hidup dalam tempat yang sedang berperang dan banyak penyiksaan sebagai hasil dari kebencian dan maksud buruk.

Dan selanjutnya adalah nafsu – keinginan ketika orang lain mendapatkan sesuatu yang baik, ketika orang lain mendapatkan hal yang positif, orang ini tidak bisa turut bergembira, orang ini tidak bisa bahagia, orang ini ingin menghancurkan atau mengambil barang itu, orang ini mau menyakiti atau menjatuhkan bisnis orang lain, dll. Jatuh. Hasilnya adalah di kehidupan selanjutnya, tidak peduli dalam situasi apa kalian berada, apakah kaya atau miskin, kalian akan selalu tidak puas. Selalu tidak puas. Selalu tidak bahagia. Bila kalian bisa mendapatkan pasangan yang paling cantik, rumah paling bagus dan nama yang tenar, kasta tertinggi, kalian masih tidak bahagia, selalu mencari jalan keluar, mungkin mencari jalan keluar yang salah seperti bunuh diri. Bila lingkungan tempat kalian hidup akan miskin dan tidak beruntung.

Lalu yang terakhir adalah pandangan yang salah. Pandangan yang salah seperti berpikir untuk melakukan tindakan negatif akan membawa hasil positif dan hal-hal positif akan membawa hasil negatif dan meneruskannya. Atau semua jenis pandangan yang salah seperti itu akan membawa kelahiran kembali dimana pelajaran apapun yang kalian lakukan dimasa depan, bilamana kalian berusaha maju dalam bidang akademis, tidak akan berhasil. Bila kalian mencoba bermeditasi, ini tidak akan berhasil walaupun kalian melakukannya dengan menyendiri. Kalian menghabiskan usaha dan energi kalian untuknya, tetapi kalian tidak mendapat hasil. Pikiran kalian akan tumpul, akan lambat, sangat bodoh. Bila kalian pergi ke tambang, kalian tidak akan menemukan harta karun karena mempunyai pandangan yang salah.

Ini adalah sepuluh tindakan buruk yang sebagai manusia harus kalian hindari agar tidak mengalami akibatnya. Akibat karma ini akan mengikuti pikiran dari satu kehidupan ke kehidupan selanjutnya, ke kehidupan selanjutnya, ke kehidupan selanjutnya sampai terjadi situasi dimana ia berbuah, apakah kalian mendapatkan penderitaan atau ketidak-bahagiaan sebagai hasilnya. Jadi sangatlah penting, sangat, sangat penting untuk menghindari sepuluh tindakan ini.

Buddha mengajarkan pada dasarnya kehidupan manusia sangat pendek dan dipenuhi penderitaan, dipenuhi ketidak-bahagiaan. Kita melakukan yang terbaik untuk membuat segala sesuatunya menyenangkan. Kita melakukan yang terbaik untuk membuat segala sesuatunya sempurna dan indah seperti mendandani wajah kita. Lalu untuk lari dari penderitaan atau Samsara, keberadaan penderitaan, lingkar keberadaan, yang dalam bahasa Sanskrit kita sebut samsara. Kita harus menghancurkan akarnya dengan menghilangkan keberadaan diri, kesinambungan mental. Ini tergantung pada latihan yang lebih tinggi, konsentrasi yang lebih tinggi, disiplin moral yang lebih tinggi. Sekarang Buddha mengajarkan banyak jenis penderitaan: 1) kelahiran 2) penuaan 3) penyakit 4) kematian 5) harus berpisah dengan hal yang kita sukai 6) harus mengalami hal yang tidak kita sukai 7) gagal untuk memuaskan nafsu kita…. Daftarnya panjang.

Kita harus menghabiskan sembilan bulan di dalam rahim ibu. Ketika ibu kita meminum sesuatu, ia melepuhkan kulit kita; ketika ibu kita meminum sesuatu yang dingin, kita kedinginan. Meskipun kita tidak ingat, ini adalah ruangan yang sempit dan sangat tertutup, sangat kecil dan tidak ada gerakan sedikitpun. Bila ada gerakan, sangatlah sedikit dan tertahan. Cukup banyak penderitaan dalam sembilan bulan, berada di dalam, tidak bergerak. Sebagai contoh, bila ia lari, tubuh kita terguncang. Pada saat ini, kita sendiri dan penderitaan yang kita rasakan dalam rahim sangatlah intens. Dan ketika kita akhirnya lahir, mereka bilang seperti didorong diantara dua batu ke dunia yang asing tidak bisa berbicara, mengekspresikan pandangan, tidak bisa berbicara. Pada saat itu, bila kita makhluk awam, kita akan melupakan kehidupan kita yang sebelumnya. Melupakan semuanya. Kita harus memulai dari awal lagi. Kulit kita sangat lembut bahkan kain yang paling lembut terasa kasar. Ketika kita lapar, kita tidak bisa mengatakannya. Ketika kita merasa sakit, kita tidak bila bilang ini menyakitkan. Satu-satunya tanda yang kita buat adalah air mata panas dan isyarat keparahan. Kita tidak mandiri dan harus diajari semuanya: bagaimana makan, bagaimana duduk, bagaimana berbicara. Dan kita harus memulai proses ini lagi dan lagi dan lagi.

Penuaan. Sesaat setelah kita lahir, proses penuaan dimulai. Seiring dengan bertambah tuanya kita, kemudaan dan vitalitas kita menurun. Kita menjadi bongkok, tidak menarik dan dibebani penyakit. Kemampuan melihat kita menjadi lemah dan pendengaran kita gagal. Kita tidak bisa mendapatkan kenikmatan seperti dulu seperti makanan, minuman, dan hiburan. Kita terlalu lemah untuk bermain game dan kita kadang terlalu lelah untuk hiburan. Ketika muda, kita sering berpergian, bahkan keliling dunia tetapi ketika kita tua, kita bahkan tidak bisa berjalan ke pintu depan. Kita terlalu lemah untuk ikut serta dalam hal-hal duniawi. Aktivitas spiritual kita terkukung. Sebagai contoh, kita tidak bisa bersujud dan kita tidak bisa pergi jauh untuk mendapat ajaran atau duduk dalam waktu yang lama. Ingatan dan konsentrasi kita melemah. Semua yang kita fokuskan, segera kita lupakan. Kemampuan intelektual kita yang dulu tajam sekarang tumpul. Tidak bisa mengerjakan hal-hal yang dulu kita lakukan dan dengan cara yang biasa kita lakukan untuk menolong orang lain, kita mulai merasa tidak berguna dalam masyarakat dan mulai kehilangan rasa hormat pada diri sendiri. Terkadang kita ditinggalkan anak-anak kita dan kita melihat dengan tidak berdaya sahabat-sahabat seumur kita sakit dan meninggal. Kesepian kalian semakin dalam. Kita tidak bisa melaksanakan Dharma ketika masih muda dan mempunyai kesempatan. Kita melewati beberapa tahun terakhir dengan rasa takut akan kematian dan penyesalan yang dalam, untuk hidup kita yang terbuang.

Dan bersamaan dengan hal ini penyakit, dengan lahir sebagai manusia, tidak mungkin kita bisa melarikan diri dari penyakit dalam hidup ini. Ketika kita jatuh sakit, kita seperti burung yang sudah terbang di langit dan tiba-tiba ditembak. Bahkan penyakit ringan pun bisa membuat kita tidak berdaya. Kita menikmati makanan yang kita suka dan mengambil bagian dalam aktivitas dengan teman-teman kita. Kita mungkin diberi tahu bahwa kita tidak bisa makan makanan kesukaan kita lagi, minum alkohol dan melakukan aktivitas yang melelahkan. Bila penyakit kita lebih serius, kita mungkin harus melalui operasi yang menyakitkan dan beresiko. Bila ini gagal, kita akan diberi tahu bahwa dokter tidak bisa melakukan apa-apa untuk menyembuhkan kita dan kita hanya mempunyai sedikit waktu untuk hidup. Bila kita tidak menghabiskan hidup kita untuk melakukan Dharma, kita akan dipenuhi rasa takut dan penyesalan. Orang muda mungkin bisa diserang oleh penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Walaupun mereka bisa hidup selama bertahun-tahun. Mereka harus melihat diri mereka melemah. Menyadari bahwa harapan tertutup dan mimpi tidak akan pernah tercapai, mereka mungkin ingin meninggal lebih cepat. Ketika kita mendengar mengenai penyakit yang terjadi pada orang lain, kita ingat bahwa hal yang sama bisa terjadi pada kita. Bila kita tetap di samsara, kita tidak pernah aman dari ancaman penyakit, selamanya.

Kematian. Bila selama hidup, kita bekerja keras untuk mendapatkan materi dan menjadi sangat terikat kepada mereka, kita akan mengalami penderitaan yang amat sangat ketika kita dipisahkan dari mereka pada saat kematian. Bahkan sekarang, kita sulit meminjamkan barang kita pada orang lain, apa lagi memberikannya. Tidak heran kita tidak bahagia ketia kita menyadari bahwa pada saat kematian kita harus meninggalkan semuanya. Melepaskan semuanya. Ketika kita meninggal, kita harus berpisah dengan sahabat terdekat. Kita harus meninggalkan pasangan kita walaupun kita menghabiskan hidup kita bersama mereka selama bertahun-tahun. Apa yang bisa kita lakukan adalah memegang tangan mereka. Kita tidak bisa menghentikan proses kematian karena walaupun mereka memohon kepada kita untuk tidak mati. Biasanya kita sangat terikat dan merasa cemburu bila mereka meninggalkan kita dengan sendirinya dan menghabiskan waktu dengan orang lain, tetapi ketika kita meninggal, kita harus meninggalkan semua sahabat kita dengan orang lain selamanya. Bila kita memiliki anak-anak, kita harus meninggalkan mereka ketika kita meninggal, dan semua teman spiritual yang sudah membantu kita di kehidupan ini. Ketika kita meninggal, tubuh ini yang kita rawat dengan berbagai cara akan ditinggalkan. Ia akan seperti batu dan dikubur di bawah tanah dan dikremasi. Bila kita tidak melaksanakan Dharma, dan belum melakukan perbuatan-perbuatan baik pada saat kematian, kita akan merasa takut dan stress juga rasa sakit.

Harus berpisah dengan apa yang kita sukai. Sebelum perpisahan pada saat kematian, kita harus mengalami perpisahan sementara dari orang yang kita sukai. Kita harus meninggalkan negara tempat sahabat dan keluarga kita tinggal, atau kita bisa kehilangan pekerjaan yang kita sukai, kita bisa kehilangan reputasi kita. Banyak kali dalam hidup ini, kita harus merasakan kesedihan karena berpisah dengan orang yang kita sukai atau mencari dan mencintai hal-hal yang kita rasa menyenangkan dan menarik. Tetapi ketika kita meninggal, kita harus berpisah dengan mereka selamanya, semua teman, hiburan, dan barang-barang milik kita.

Setelah mengalami hal-hal yang tidak kita sukai, terkadang kita dipaksa untuk hidup atau bekerja pada orang yang tidak menyenangkan seperti mereka yang mengkritik kita tanpa alasan dan mereka yang menghalangi kita memenuhi harapan kita. Terkadang kita menemui diri kita berada dalam situasi yang berbahaya seperti kebakaran atau gempa bumi, diserang pembunuh. Bila negara kita berperang, kita mungkin dipanggil untuk berperang atau kalau tidak mau dipenjara. Bila kita menolak, rumah kita mungkin dibom dan keluarga kita dibunuh. Kita mungkin hidup dalam situasi yang ekstrim yang mengganggu kita. Pada liburan, hujan datang atau panasnya mengancam. Bila usaha kita jatuh, atau kita kehilangan pekerjaan kita atau simpanan kita. Kita berdebat dengan ayah kita dan anak-anak kita memberi kita banyak kekhawatiran. Teman lama kita tiba-tiba melawan kita. Tiba-tiba semua hal sepertinya salah. Bahkan dalam Dharma, kita sering menemui kesulitan. Bila kita duduk dan bermeditasi, kita diganggu oleh suara dari luar, telepon berdering atau seseorang datang untuk menemui kita. Terkadang, sepertinya walaupun kita sudah melaksanakan Dharma selama bertahun-tahun, delusi kita masih sama kuatnya. Walaupun kita berusaha keras untuk memikirkan orang lain, terkadang keluarga kita, teman-teman kita tidak senang dengan kita yang melaksanakan Dharma. Seperti kita hidup dalam semak berduri. Apapun yang kita usahakan untuk membuat diri kita lebih nyaman, duri ini menusuk kita lebih dalam.

Dalam samsara atau lingkaran keberadaan, rasa berlebihan dan frustasi adalah hal yang biasa. Kalian seharusnya sudah tahu, ketika kalian berjalan di tepi pantai, jangan terkejut bila kaki kalian menjadi basah. Dalam samsara, adalah hal yang natural untuk memiliki rasa yang berlebihan dan merasa frustasi terus-menerus.

Gagal memenuhi keinginan kita, kita mempunyai nafsu yang tak terhitung yang tidak dapat dipenuhi dan yang dipenuhi tetapi tidak memberi kita kepuasan yang kita harapkan. Langit adalah batasnya. Banyak orang yang tidak bisa memenuhi nafsu yang sederhana – kebutuhan dasar untuk hidup seperti makanan yang cukup, pakaian, tempat berlindung, persahabatan, pekerjaan yang menyenangkan dan kebebasan pribadi.

Akan tetapi, kebutuhan dasar dan keinginan tidak berhenti di sana. Dengan segera kita membutuhkan mobil, rumah yang lebih bagus, pekerjaan yang membayar lebih banyak. Liburan di pantai mungkin cukup, tetapi harapan kita terus meningkat dan sekarang kita mahal…..liburan. Ambisi dan persaingan adalah sebab umum dari rasa tidak puas. Anak sekolah yang ambisius tidak bisa beristirahat dengan tenang sampai ia mendapat peringkat tertinggi di sekolah, juga pengusaha [yang ambisius] sampai ia mendapatkan kekayaan. Sudah jelas, tidak semua orang bisa mencapai yang teratas. Agar seseorang bisa menang, orang lain harus kalah. Bahkan yang menang pun tidak berpuas untuk waktu yang lama. Ambisi akan mengemudikan mereka sampai mereka terlalu terpukul, lelah, atau mati.

Alasan lain mengapa kita gagal untuk memenuhi keinginan kita adalah mereka berkontradiksi satu sama lain. Alasan lain kita tidak bisa memuaskan semua keinginan kita adalah mereka berkontradiksi. Sebagai contoh, kita ingin mendapatkan kesuksesan duniawi dan hidup yang simpel. Kita mau ketenaran dan di saat yang sama privasi. Kita mau makanan enak yang menggemukan dan kita mau tubuh yang kurus. Kita menginginkan hal-hal yang menyenangkan dan pada saat yang sama keamanan. Kita ingin tetap melakukan cara lama dan ingin populer. Kontradiksi. Kita ingin mendapatkan kesadaran Dharma tetapi kita mencari reputasi dan kekayaan materi. Kontradiksi. Keinginan kita terkadang mencakup orang lain dan kita menciptakan ekspektasi. Banyak hubungan yang putus karena ekspektasi dan keinginan yang tidak realistis. Kontradiksi. Kekayaan dan hidup yang simpel. Bagaimana mungkin? Untuk membuatmu kaya, kalian sudah melepaskan hidup yang simpel. Ketenaran. Setiap orang mau menjadi terkenal. Tetapi ketika tercapai, kalian menginginkan privasi. Tidak masuk akal! Kita menyukai makanan enak tetapi kita mau langsing. Kita mau ketegangan, tetapi pada saat yang sama kita menginginkan rasa aman. Kita mau semua hal berjalan seperti yang kita inginkan dan hanya seperti yang kita inginkan, tetapi kita masih ingin populer – kontradiksi. Kita lihat bagaimana pikiran yang terdelusi mempermainkan kita dan membuat kita melakukan sesuatu yang membawa hasil yang berlawanan. Kita ingin kesadaran Dharma, kita mau mempunyai kebijaksanaan, meditasi yang baik. Kita mau mempunyai penglihatan akan masa depan, tetapi pada saat yang sama kita ingin reputasi yang baik dan kekayaan materi. Kontradiksi.

Kita menginginkan rumah yang sempurna di masyarakat, pasangan yang sempurna. Tetapi kesempurnaan tidak bisa didapat di Samsara. Ia tidak bisa ditemui dalam keberadaan karena keberadaan kita tidak sempurna, karena itu menciptakan situasi dan lingkungan yang tidak sempurna. Kita selalu mencari kesempurnaan, selalu. Kita tidak pernah membiarkan kewaspadaan kita turun karena kita telah menciptakan bibit karma untuk merasakan ketidak-sempurnaan. Tidak ada karma, kesempurnaan atau kedamaian yang bisa dicapai dalam samsara, dalam keberadaan. Tidak akan bisa. Tidak mungkin mengubah obyek sementara untuk memberi kebahagiaan yang kekal yang kita cari. Obyek sementara, kebahagiaan yang kekal. Kontradiksi! Semua obyek yang kita cari atau inginkan adalah bersifat sementara. Bagaimana mungkin obyek sementara yang akan mati atau menghilang menciptakan kebahagiaan yang kekal? Bagaimana mungkin? Tidak logis. Tetapi kita tetap mencari kebahagiaan yang kekal di obyek yang tidak permanen! Mobil baru, pasangan baru, perhiasan baru, akun bank yang lebih besar, pekerjaan yang lebih baik, situasi yang lebih baik, keuntungan lebih banyak, hiburan lebih banyak, ketika sifat dari fenomena adalah sementara atau tidak permanen, bagaimana mereka menciptakan kebahagiaan yang kekal?

Hal ini hanya bisa dicapai dengan membersihkan pahala kita. Kebodohan adalah sebab fundamental samsara atau keberadaan tetapi keinginan duniawi adalah bensin yang membuatnya kekal. Karena itu, kita bisa mengurangi keinginan duniawi kita dengan mengidentifikasi kesalahannya. Kita tidak harus berlari dengan telanjang dalam hujan, ke arah pegunungan menjadi tidak terikat dan melepaskan hidup duniawi. Hal ini tidak logis dan ekstrim. Kita tidak usah menyelimuti hidup kita dengan kekurangan akan barang materi. Satu-satunya cara untuk memperoleh kebahagiaan adalah dengan menyadari bahwa pikiran kalian terdelusi dan mempermainkan kalian untuk mempercayai bahwa barang-barang ini membawa kebahagiaan, sementara kebahagiaan yang sebenarnya didapat dari menghancurkan delusi ini sendiri: kebodohan, kebencian dan nafsu/ keinginan. Ketika akar delusi dicabut dan dihancurkan, pada saat itulah ketika kalian mempunyai barang, ketika kalian mempunyai sahabat, ketika kalian mempunyai orang lain, kalian tidak terikat. Kalian tidak bertindak atas dasar keterikatan. Kalian tidak mempunyai kebencian dan kalian tidak akan bertindak atas dasar kebencian. Maka semua obyek ini akan menyenangkan.

Semua makhluk besar sudah melepaskan [hal-hal duniawi]. Buddha atau Yesus, Muhammad, semua sudah melepaskan. Mereka tidak melepaskan karena kegagalan dalam berbisnis, atau karena mereka berasal dari kasta yang rendah atau karena mereka pandai tetapi karena mereka menyadari sejak awal bahwa hal-hal ini bersifat sementara, tidak permanen. Obyek fenomena atau hal-hal yang kita inginkan dan kita pikir akan membawa kebahagiaan pada kita. Kita menyadari bahwa hal-hal ini tidak akan membawa kebahagiaan, karena itu mereka mengajarkan doktrin yang disesuaikan dengan waktu, kebudayaan, dan situasi, agar dapat mencabut ketiga delusi ini.

Ketika pikiran ini timbul dengan jelas dan di pikiran kita, kita bermeditasi sampai pikiran kita terpisahkan dari delusi. Cara untuk memulai hal ini adalah pikiran kita mulai berpikir, merenungkan, bermeditasi, dan menganalisis cacat dan ketidak-bahagiaan yang mereka bawa. Dengan memikirkan hal ini lagi dan lagi dan lagi dan merenungkannya lagi dan lagi dan lagi dengan pikiran yang logis, pikiran uang sama akan melihat kesalahan dan karena itu lambat laun kalian akan melepaskan diri dan menjadi tidak terikat dengannya, seperti seseorang yang kecandual alkohol yang berpikir dan merenungkan akibat dari alkohol dan akibat negatif apa yang bisa dihasilkannya terhadap tubuhnya dan ketidak-harmonisan dalam keluarga, uang yang terbuang, waktu dan energi. Lagi dan lagi dan lagi mereka memikirkannya. Merenungkannya lagi dan lagi dan lagi. Akhirnya dan lambat laun mengurangi minum langkah demi langkah dan sampai akhirnya mereka tidak meminumnya. Akhirnya bahkan baunya tidak akan mengganggu mereka lagi.

Satu-satunya cara untuk keluar dari penderitaan ini adalah usaha yang sungguh-sungguh dan tulus untuk mencabut delusi. Bila akarnya tidak dicabut maka semua kepanjangan dari delusi ini seperti kemarahan dan bertengkar, perbedaan pendapat, kecemburuan dan sepuluh tindakan buruk dalam hidup ini: berbohong, memecah belah, menyiksa, bergosip, membunuh, mencuri, menyeleweng, dll. Akan muncul dengan sendirinya. Kalian melakukannya lagi dan lagi, karmanya terkumpul, dan disimpan dalam pikiran kalian dan pada saat yang tepat karma itu akan berbuah dalam bentuk penderitaan seperti yang sudah saya jelaskan dengan singkat sebelumnya. Hal ini sangatlah logis. Jadi karena itu, kita harus menemukan musuh yang sebenarnya, untuk mendedikasikan waktu kita kepada obyek yang benar dan memberi kebahagiaan yang kekal.

Kita bisa mempunyai keluarga, kita tidak harus menjadi biksu dan biksuni atau tidak menikah, atau penyendiri atau pertapa. Kita bisa mempunyai keluarga yang normal, kita bisa mempunyai situasi yang normal, tetapi sadarilah situasi dimana kamu berada dan secara mental lepaskanlah. Tidak berarti: selamat tinggal istriku, saya akan pergi bermeditasi dan melepaskan diri, bukan, bukan seperti itu. Kurangi keterikatan secara mental dan karena itu sepuluh tindakan buruk tidak akan muncul dan menjadi berkurang, hasil negatif dan penderitaan berkurang dan akhirnya dihilangkan.

Kalian harus melakukannya. Kalian harus memulai peperangan ini, kalian harus mencari waktu untuknya. Bila kalian berkata tidak mempunyai waktu: kalian mempunyai komitmen, kalian mempunyai janji, bila kalian tidak melakukannya, kalian akan melewatkan kesempatan ini lagi. Dan jangan pikir mudah untuk mendapatkan kelahiran kembali sebagai manusia di masa depan dengan kesempatan yang kalian miliki sekarang dengan lima indera yang baik. Tubuh manusia yang baik, dan sehat dengan kepandaian, di negara yang baik seperti ini, dengan makanan yang baik, lingkungan yang bersih, dengan guru dan doktrin. Lagi, bagaimana kalian tahu bahwa kalian akan menemukannya lagi? Apakah kalian mempunyai kendali kemana kalian akan pergi dalam kelahiran yang baru? Apakah kalian mempunyai kendali dimana kalian akan lahir kempabi? Bagaimana kalian tahu kalian akan mendapatkan kesempatan ini lagi? Bagaimana kalian tahu? Bila kalian lahir di situasi yang tidak bisa kalian atasi, apa yang akan kalian lakukan? Ketika kalian berjalan dan melihat orang buta, pada hari natal, ketika kalian pergi ke mal kalian melihat orang buta dengan gelas, kita mempunyai kasih. Itu mungkin saja diri kita. Kita melihat orang gila, berjalan diluar dalam hujan, tidak punya rumah. Kita merasa kasihan – kebanyakan dari kita. Ia bisa saja kita. Ia bisa saja kita. Kita melihat seseorang di rumah sakit, tidak bereaksi terhadap obat-obatan, tidak bahagia dan ketakutan – ia bisa saja kita. Kita melihat orang tua yang kehilangan kemampuannya – ia bisa saja kita. Kita melihat orang muda dan mendapat kecelakaan – ia bisa saja kita. Kita melihat seseorang kehilangan bisnisnya – ia bisa saja kita. Kita melihat ketidak-harmonisan, perpecahan dalam pernikahan, tidak bahagia, bunuh diri – ia bisa saja kita. Kita melihat anak-anak tidak seperti yang kita harapkan – ia bisa saja kita. Tetapi kita masih duduk dan berharap dari satu juta dan satu kemungkinan, semua hal tidak akan apa-apa.

Kita duduk di sana dan berharap karena kita tidak melihat cara lain. Kita belum diajarkan dan dikondisikan dengan cara lain. Bukan berarti kalian bodoh atau tidak pandai. Ini adalah kondisi dari kehidupan sebelumnya sampai sekarang. Untuk seorang pecandu alcohol untuk berhenti minum, tergantung dari berapa lama dia telah minum, hanya sebagai contoh. Bila dia telah minum untuk waktu yang lama, akan lebih sulit untuk berhenti. Bila dia hanya minum dalam waktu singkat, akan lebih mudah, dalam hampir semua kasus. Bila kita suka meneriaki orang, bergosip, berkelahi, membunuh, dan memakan buah hasil usaha orang lain seperti mencuri dari mereka. Karena kita telah melakukan ini tidak hanya di kehidupan yang ini saja, secara natural dan spontan, tidak ada yang mengajarkan kita untuk mencuri, tidak berbohong, tidak berteriak, tidak kejam terhadap orang lain. Kita melakukannya secara natural dengan gembira, dan tanpa usaha. Bahkan, kita memamerkannya – lihatlah saya! Tetapi untuk menjadi positif, baik, dan penuh kasih sayang, untuk mempunyai perkataan yang baik, tidak berbohong, dan jujur dalam bisnis, kita harus diingatkan dan “dipukuli dengan sapu.” Dan beberapa dari kita telah “dipukuli dengan sapu” dua atau tiga kali.

Karena itu, ini menunjukan bahwa pikiran kita telah dikondisikan. Dan pikiran kita biasa beroperasi atas dasar ini, apakah ini ekstrim atau tidak. Ini hanya contoh. Tetapi pasti, kalian sudah dikondisikan tidak hanya dalam hidup ini karena beberapa anak lahir dengan kecenderungan untuk membunuh, untuk mencuri, untuk berbohong, dengan karakter buruk, tetapi yang lain sangat berlawanan. Darimana ini datang? Pasti, orang tua mengajarkan mereka sebaik mungkin. Hampir semua orang tua baik dan mereka akan menghasilkan anak yang baik, tetapi ini malah berlawanan. Secara natural mereka melakukan hal-hal negatif. Kita tidak memarahi anak-anak kita karena mereka melakukan hal yang baik. Dari mana kebiasaan ini datang? Dari kehidupan yang sebelumnya, sebelumnya, sebelumnya, dan kembali ke ribuan kehidupan sebelumnya. Tidak terhitung, kita terbiasa melakukannya. Dulu. Karena itu, ia datang secara natural. Beberapa dari kita bisa mengendarai sepeda tanpa tangan. Beberapa dari kita dengan kedua tangan. Beberapa dari kita membutuhkan roda latihan. Ini masalah terbiasa atau tidak.

Seperti itu juga, seperti air yang kotor, sifat dari air adalah tidak kotor. Ia terpolusi kotoran untuk waktu sementara. [kotoran] ini bisa dibersihkan. Ketika kotoran ini dipindahkan, airnya bersih kembali. Sifat dari air adalah bersih. Bila ia tidak bersifat bersih maka tidak peduli apapun yang kalian gunakan untuk membersihkannya, ia akan tetap kotor. Seperti itu juga, pikiran hanya ternoda sementara. Seberapa banyak dan seberapa cepat yang kalian bersihkan tergantung pada seberapa kotor air ini. Untuk pikiran kalian, seberapa banyak ia sudah dikondisikan. Ia bisa dibersihkan. Kalian bukan tanpa harapan. Kalian bukan tidak bisa diselamatkan. Saya bisa diselamatkan. Saya tidak tanpa harapan. Karena itu agar kalian tercerahkan, terserah kalian untuk melakukannya. Kalian tidak bisa membunuh, membunuh, mencuri, mencuri, menyakiti, menyakiti dan pada saat kematian, penyesalan dan kalian masuk surga. Tidak logis. Tidak adil. Bila saya bangun, saya akan berbicara dengan mereka. Pada saat yang sama, kalian tidak bisa melakukan hal baik seluruh hidup kalian dan pada saat kematian, kalian menyesalinya dan kalian masuk neraka. Bila saya turun ke sana, saya akan berbicara dengan mereka. Dan saya yakin, saya akan ada di sana. Dalam kasus ini tidak logis.

Keselamatan atau kebebasan ada dalam diri kalian. Ia ada di tangan kalian. Dalam kapasitas kalian. Apakah kalian melakukannya atau tidak. Bila kalian tidak mau melakukannya, bersiaplah pada konsekwensinya. Bersiaplah! Seperti yang saya katakan kemarin, bila kalian sakit dan tidak mau mendapat perawatan medis - ya, sangat menakutkan untuk pergi ke rumah sakit dan diperiksa, ditusuk, dipotong, di x-ray dan diisi dengan obat-obatan seperti kelinci percobaan, tetapi seberapa menakutkannya bila kalian tidak pergi dan hasil dari penyakit ini datang.

Sulit untuk menghilangkan delusi. Sulit untuk menghilangkan keterikatan dan semua kepanjangan dari sepuluh tindakan buruk. Bila kita pergi ke restoran dan ada sepiring sayur, saya harus mendapatkan sayuran itu dengan cepat sebelum orang lain mendapatkannya. Ini adalah kebiasaan kita. Ketika kita memberi untuk amal kita harus melawan tangan kita untuk mengeluarkan uang itu. Sangat sulit. Tetapi ketika kita membeli Estee Lauder, ia selalu terbuka. Tidak ada kesulitan bahkan. Kita tidak bisa menutup tangan kita. Ketika kita pergi berbelanja untuk rambut kita, untuk diri kita, untuk pesta kita, tangan kita selalu terbuka, tidak bisa tertutup bahkan dengan lem super sekalipun. Tetapi untuk menolong orang lain, untuk memberi kepada orang lain, untuk melakukan sesuatu untuk orang lain, bahkan ketika kalian mengebomnya, masih juga tertutup. Ini menunjukan keterikatan yang kuat terhadap diri kita sendiri dan kondisi pikiran kita yang terdelusi. Cukup kuat. Tetapi, jangan berpikir, “aiyah, dia memberi tahu saya semua hal ini, apa yang akan saya lakukan sekarang?” Langkah demi langkah. Seperti yang saya katakan kemarin, langkah demi langkah, hilangkanlah delusi satu per satu. Contoh yang saya berikan kemarin, diri saya dan kemarahan. Saya tidak mempunyai kebencian. Saya tidak berteriak karena kebencian. Saya berteriak karena saya melihat suatu yang salah. Saya berusaha untuk berteriak lebih sedikit. Hari ini saya melihat sesuatu yang tidak menyenangkan saya. Pada sore hari saya berpikir untuk meneriaki orang itu. Lalu saya pergi ke kamar saya dan memikirkannya. Lalu saya keluar dan berkata, tidak saya tidak akan meneriaki orang itu. Tidak apa. Saya sudah memenuhi resolusi tahun baru saya. Saya mengurangi teriakan. Saya biasanya berteriak sepuluh kali sehari, sekarang saya membuatnya menjadi sembilan. Dulu sekitar lima belas. Jadi sekarang, sangat sangat berkurang. Sekarang saya akan mencoba untuk membuatnya menjadi delapan, tujuh, enam. Ini adalah perang dalam diri. Ini adalah perang dalam diri. Tetapi ini adalah peperangan yang harus dijalani. Peperangan ini akan memberi kalian kedamaian pikiran. Lalu ketika satu sudah dicabut, yang kedua sudah dicabut, yang ketiga sudah dicabut, kalian bisa melawan yang berikutnya dan berikutnya. Dan ketika kamu meninggal, karena pikiran yang terdelusi ini adalah satu dengan pikiran kalian, kalian bisa membawanya dengan kalian. Jadi bila kalian mempunyai sepuluh kondisi kemarahan dalam pikiran dan bila kalian sudah menghilangkan lima dan masih lima yang tertinggal, kalian sudah membuat tepi yang segar dalam hidup kalian. Kalian akan berurusan dengan lebih sedikit akibatnya, tidak seperti orang selanjutnya yang harus mulai dari awal mungkin lebih. Mungkin ia harus mulai dengan sebelas atau dua belas karena ia tidak pernah mengendalikannya.

Empat kualifikasi ini. Dalam Buddha Dharma, kita mengambil refuge. refuge berarti menyerah. Ia berarti melihat dengan logis manfaatnya dan menyerah. Menyerahkan apa? Diri kalian yang tidak mampu, bodoh, terdelusi dan metode yang terdelusi oleh kebodohan, dan sahabat kalian yang bodoh dan terdelusi dan menukarnya dengan sahabat yang mempunyai kebijaksanaan, kemampuan melihat masa depan dan masa lalu, mempunyai kejelasan, bebas dari ketakutan seperti ketika kalian ingin menolong orang yang tenggelam, kalian tidak bisa ikut tenggelam. Mempunyai cara yang tepat berarti menolong orang lain karena tahu cara berenang, mengetahui bagaimana cara menyelamatkan orang lain sebagai contoh, berpikiran stabil atau tidak setengah-setengah terhadap semua makhluk hidup. Dia orang tenggelam – yang kalian sukai kalian selamatkan tetapi yang satu yang tidak kalian sukai tidak kalian selamatkan. Bila kalian seperti itu, maka kalian bukanlah obyek untuk disembah atau obyek untuk refuge. Dalam kasus kita, bila kita melihat musuh tenggelam, kita berpura-pura tidak melihat atau kita melemparkan tongkat kecil, “ini tangkaplah, tangkaplah.” Jadi ketika ia tidak bisa menangkapnya, dan tenggelam, kita merasa sangat bahagia. Dan yang keempat, mempunyai keinginan untuk menolong orang lain tanpa peduli apapun yang mereka pernah perbuat terhadap diri kalian. Dia mencelakakan saya, dia menyakiti saya. Tidak, saya tidak mengajar dia, Saya tidak akan menunjukan metodenya. Saya tidak akan menolong dia lagi. Seseorang harus menyerahkan diri kepada makhluk yang bisa kita bilang Tuhan, Buddha, Yesus, Muhammad, atau apapun kita menamakannya dalam kata-kata dunia awam. Ia hanya kata-kata, hanya suara. Buat makhluk yang bebas dari ketakutan, yang mempunyai cara yang tepat untuk membebaskan, tidak pilih-pilih dan mempunyai keinginan untuk menolong orang lain tidak peduli apa yang pernah mereka lakukan terhadapnya. Dan untuk menyerahkan metode kalian yang terdelusi untuk metode yang suci. Ini adalah metode yang benar dan metode ini berdasarkan pada dasar yang logis. Maka menyerahkan teman yang melelahkan dan membuang-buang sumber daya untuk teman yang sebenarnya yang akan membantu kalian, yang akan membimbing kalian, yang akan mendorong kalian untuk tidak pergi ke karaoke tetapi mendorong kalian untuk membersihkan delusi kalian. Ini adalah makhluk yang tertinggi – mungkin kita sebut saja Buddha karena kita sedang berada di wihara. Jalan atau metode yang terbaik adalah Dharma. Dharma dalam bahasa Sanskrit berarti baik atau tindakan yang benar. Dan lalu teman yang tertinggi, Sangha: orang yang kalian contoh, yang memberi inspirasi kalian mungkin dengan rasa kagum, yang menyimpanmu dalam pikirannya, apakah dengan rujukan, apakah dengan ketakutan, apapun, orang yang bisa kalian kagumi – Sangha, yang berarti “orang contoh.” Tetapi ini juga berarti semua orang yang mempraktekan Dharma bersama kalian: Sangha: pendukung. Pendukung yang benar, yang akan mendukungmu menjadi benar, yang akan mendorongmu untuk tidak membuang-buang waktu, tidak marah, tidak menyakiti orang lain, tidak mencuri dan mereka adalah orang yang mempraktekan prinsip-prinsip ini, yang bisa kalian contoh dan lihat. Ini adalah Sangha. Buddha, dharma dan Sangha adalah sumber yang benar untuk refuge yang akan membawa kalian keluar dari Samsara atau lingkaran keberadaan atau penderitaan karena seperti orang yang sakit, kita memerlukan dokter dan suster. Dokter yang tertinggi adalah sang tercerahkan, Buddha. Obat yang terbaik adalah untuk mengobati kondisi negatif (penyakit), pikiran, penyakit yang sebenarnya yang akan menyebabkan kita untuk mempunyai ketidak-bahagiaan. Obat yang terbaik adalah Dharma, tingkah laku yang baik. Dan suster yang paling baik, yang akan membimbingmu, membantumu adalah Sangha. Ini adalah obyek refuge yang sebenarnya, bukan uang, kekuasaan, kedudukan, ketenaran.

Obyek refuge yang sebenarnya yang bisa mengeluarkan kalian adalah Tiga Permata yang berharga. Kita bisa menyebutnya dengan berbagai hal. Seperti Permata, bebas dari kemiskinan spiritual dan fisik. Seperti Permata yang sesungguhnya, permata yang berharga. Tiga permata: Buddha, Dharma, Sangha. Bermeditasi mengenai enam, tujuh kondisi yang baru kita sebutkan: kelahiran, usia tua, kematian, penyakit, tidak mendapatkan apa yang kalian inginkan, selalu menemui hal-hal yang tidak kalian inginkan (situasi yang tidak menyenangkan), dll., dll. Merenungkan hal-hal ini berulang-ulang tidak dirancang untuk membuatmu pikiranmu pesimis dan duduk di kamarmu sambil mengisap opium mencoba untuk melarikan diri darinya. Ia dirancang untuk membawamu kembali kepada realitas dan membuatmu melihat apa yang sebenarnya menciptakan penderitaan. Lalu merenungkan obyek-obyek penderitaan ini yang diwariskan pada setiap orang, dan setiap orang sudah menderita dalam kehidupan ini lagi dan lagi, apakah sudah menderita karenanya atau akan menderita karenanya. Merenungkan hal ini lagi dan lagi dan lagi akan menciptakan ketakutan dan pelepasan.

Lalu kita secara natural mengambil refuge, tempat untuk mencari perlindungan, tempat yang bisa membantu kita untuk keluar dari ini. Hal ini adalah Tiga Permata, yang bebas dari semua rasa takut, mempunyai cara yang tepat, yang berpikiran stabil, yang tidak memilih-milih, yang mempunyai kemampuan untuk menolong makhluk lain apapun yang telah mereka perbuat: tidak mendiskriminasi. Makhluk yang berharga seperti itu bisa menjadi obyek refuge. Bila kalian pergi ke refuge kepada dewa dewi duniawi, arwah duniawi, sahabat karena mereka bersifat sementara dan tidak mempunyai empat kualitas ini, bagaimana mungkin mereka dapat memberimu refuge yang sebenarnya. Arwah adalah partial, setan adalah partial, dewa local adalah partial. Mereka juga mempunyai rasa takut. Kenyataan bahwa mereka adalah arwah menunjukan fakta bahwa mereka sudah melakukan kesalahan untuk bisa sampai di situ. Sahabat kalian adalah partial. Mereka tidak mempunyai berbagai cara yang tepat. Mereka tidak memiliki pikiran yang stabil. Bagaimana mungkin mereka bisa menjadi obyek refuge? Mereka tidak bisa. Ini tidak logis. Lagi, pikirkan hati-hati. Seseorang harus merenungkan penderitaan dan mencari cara untuk membebaskan diri dan semua kualitas ini. Dengan melakukannya, seseorang menghindari kepercayaan buta (blind faith) dan menanam benih kesetiaan yang murni dan bisa memberikan diri seutuhnya. Ketika kalian menyerah kepada refuge, apa artinya? Dari tiga refuge yang paling penting adalah Dharma, jalan, yang paling penting. Karena bila Buddha ada dan beliau tidak mengajar, beliau melihatmu dan kalian melihat beliau. Ini adalah akhir dari cerita. Sebenarnya Dharma [yang paling penting]. Ketika Buddha berbicara dan membiri kalian metode dan kalian mendengarkan, mengerti, merenungkan dengan logika dan karena itu mencabut delusi kalian dan memotong penderitaan pada akarnya. Ini adalah refuge. Jadi bila kalian mengambil refuge di depan Lama eksotik, di depan pendeta eksotik, atau biksu atau Rinpoche atau apapun, di tempat yang eksotik dengan banyak renda dan lukisan yang indah dan kalian mendapatkan nama yang eksotik yang kalian tidak tahu cara membacanya tetapi kalian tahu bahwa nama itu mempunyai arti yang dalam dan kalian tidak bisa mengingat nama Rinpoche itu. Dan bila kalian berlari dan berteriak, saya beragama Buddha, Saya beragama Buddha, saya punya refuge. Saya punya refuge. Apa itu refuge? Tidak tahu. Apa itu sumpah? Tidak tahu. Siapa nama Lamanya? Tidak ingat. Dimana kalian mengambilnya? Tolong jangan terlalu banyak pertanyaan. Bagaimana mungkin kalian telah mengambil refuge?

Dari saat refuge sampai saat ini, harusnya ada pengurangan dari tindakan negatif kalian, kondisi negatif di pikiran kalian, dan peningkatan dalam kondisi positif pikiran kalian dan tindakan positif karena kalian telah mengambil refuge dalam Buddha, Dharma, dan Sangha. Bila kalian mengambil refuge dalam Dharma dan ia mengajarkan kalian untuk tidak membunuh, berbohong, mencuri, menyakiti, menipu, memecah belah, bergosip, etc., etc., dan kalian berlari sambil berteriak memanggil diri kalian beragama Buddha, tetapi kalian bergosip, memecah belah, berteriak, membunuh, berbohong, mencuri, melakukan aktivitas buruh. Bagaimana mungkin kalian telah mengambil refuge? Kalian ada di upacaranya tetapi kalian tidak lebih baik dari nyamuk yang duduk di sebelah kalian. Mereka ada pada saat upacara dan melakukan hal yang sama. Setelah itu, dan sama dengan kalian, tidak berbeda dari nyamuk yang terbang dekat dengan telinga kalian.

refuge berarti dalam agama Kristen (walaupun saya tidak terlalu fasih dalam kosa kata Kristen) “lahir kembali”. Tidak berarti kalian lahir kembali, tetapi ini berarti kalian mengganti lembaran baru dalam hidup kalian. Ketika kalian mengambil refuge, mulai saat itu kalian menyadari bahwa kalian melakukan hal yang kalian pikirkan dan bertindak salah dan menciptakan penderitaan bagi orang lain dan diri sendiri. Karena itu, kalian mencari metode yang benar dan kalian mencari perlindungn, menyerahkan semua aktivitas negative kalian dan mengadopsi aktivitas yang baik dan berguna dan mulai hari itu, mengurangi hal-hal negatif dan meningkatkan hal-hal positif. Ini adalah refuge.

Bila kalian mempunyai nama refuge, nama Dharma, dan nama Tibet yang bagus, kalian pergi ke wihara yang bagus, sifu kalian adalah Buddha, kalian mempunyai aula perlindungan yang eksotik, kalian mempunyai altar yang indah, kalian mempunyai biksu yang indah untuk mengadakan upacara yang indah, dan rumah kalian dipenuhi peralatan upacara, kalian masih tetap bisa pergi ke neraka. Bye, dan saya akan bertemu kalian di sana! Pasti! Apa gunanya semua hal eksternal yang kalian miliki bila kalian tidak mengambil refuge dari dalam hati dan bertindak sesuai dengannya? Ini sulit, tetapi setimpal.

Kita bisa menghabiskan bertahun-tahun untuk sekolah, dua puluh tahun lebih untuk pergi ke sekolah, tiga puluh tahun lebih untuk bekerja (tiga puluh tahun) dan sepuluh tahun berpikir bahwa kita akan menikmati, melihat di sini, bergerak dan menikmatinya dan habis itu sudah (Rinpoche menjentikan jari). Kita menghabiskan banyak waktu untuk hal-hal yang dan kebahagiaan yang bersifat sementara atau apa yang dinamai kebahagiaan tetapi kita tidak bisa menghabiskan satu menit untuk kebahagiaan yang sebenarnya. Bila seseorang meminta kita untuk bermeditasi, kita tidak mau mendengarkan. Atau pada saat bermeditasi, saya berpikir mengenai kue keju, tidak bisa berfokus. Ketika beberapa orang bermeditasi mereka memikirkan tempat bowling, beberapa orang berpikir tentang facial keesokan harinya, beberapa orang berpikir mengenai pergi ke salon, bebelanja, bertemu dengan pacar. Jadi ketika kalian bermeditasi, belanja, pacar, Estee Lauder, kue keju, dan setelah dua puluh tahun, masih belum tercerahkan. Apa yang terjadi? Bukan begini. Kalian harus memberikan usaha yang sadar, kalian mengambil refuge.

Buddha memiliki delapan kualitas yang jarang ditemukan yang dapat dijadikan refuge. Dan Budda tidak berarti Buddha yang hidup di India tetapi termasuk beliau. Buddha adalah kondisi pikiran. Ia bukanlah satu orang tertentu, atau hanya Siddharta Gautama dari India. Buddha adalah kondisi pikiran yang bisa dicapai seseorang, telah dicapai, akan dicapai, dalam kasus ini Buddha adalah gelar, ketika kita menyebut “President” tidak berarti Presiden Malaysia atau Perdana Mentri Malaysia, dll. Buddha mempunyai delapan kualitas yang jarang dan berharga yang bisa dijadikan refuge. Buddha menampakan diri dalam berbagai kehidupan di dunia, dimana saja: dengan mata biru, dengan mata hitam, dengan rambut kuning, dengan rambut hitam, di negara timur, di negara barat, negara mediterania, negara utara, negara selatan. Mereka menampakan diri dimana saja. Jangan menganggap remeh kekuatan dari pikiran yang tercerahkan.

Ia mendapatkan penghentian yang permanen dari penderitaannya, karena itu bebas dari lahir sampai mati. Semua tindakan datang secara spontan dan kita tidak berusaha. Ia menolong kalian secara natural. Bila kita mau menolong diri sendiri, kita memerlukan suami atau istri untuk mendorong kita keluar pintu untuk melakukan sesuatu. Bagi Buddha, hal ini adalah senatural makan, tidur, minum – tidak perlu usaha, secara spontan! Ia mempunyai kebijaksanaan mengenai sunyata atau kesadaran atas sifat fenomena yang sebenarnya dan apa yang menjadi dasarnya: penderitaan, delusi. Ia mempunyai kebijaksanaan yang sempurna. Ia mempunyai cinta kasih yang sempurna untuk semua makhluk, tidak bias. Ia memiliki kekuatan yang tidak tertandingi untuk membawa orang lain menuju kebebasan. Beberapa makhluk tidak bisa dibimbing dengan ajaran saja. Mereka harus dibimbing dengan bukti fisik. Dalam kasus seperti ini, ia menciptakan keajaiban. Buddha sudah mencapai tujuan utamanya yang terdiri dari tiga kualitas pertama. Ia sudah mendapatkan cara yang sempurna untuk membebaskan orang lain. Semua penampakan Buddha adalah baik. Bila kalian berpikir mengenai Buddha seperti yang diajarkan dalam kepercayaan agama kalian, sebagai Bunda Maria, Yesus Kristus, Krishna – tidak apa, tidak masalah, tidak ada konflik. Tidak ada konflik sama sekali. Buddha menampakan diri di mana saja, dalam segala bentuk, dan ukuran. Pasti. Dan bila kalian berpikir hanya di India, di Bodghaya dua ribu lima ratus tahun yang lalu dan tidak ada Buddha yang lain. Salah! Dimana saja, kapan saja, di tempat apapun, berkali-kali dan di masa datang, lagi.

Begitu kalian mengambil refuge, apakah kalian melakukannya dalam upacara formal yang hanya mengambil sepuluh menit atau bila kalian belum melakukan upacara, tetapi kalian mengambil refuge setiap hari dalam hidupmu dengan mempunyai kepercayaan yang penuh pada guru yang superior, Buddha, jalan yang superior, yang membebaskan kalian dari delusi, Dharma, teman yang superior yang membawa kamu naik dalam dunia ini, Sangha. Sahabat spiritual kita, hubungan kita dengan mereka akan berkembang dengan berkurangkan aktivitas negatif dan bertambahnya aktivitas positif. Ini adalah definisi dari sahabat spiritual. Bila kita mempunyai sahabat spiritual dan aktivitas negative kalian meningkat, maka ada sesuatu yang salah. Dan pasti ketika seseorang mengambil refuge, orang itu mengambil komitmen.

Hari ini sudah jam 9:45. Hari ini adalah yang pertama. Ya, waktu berjalan sangat cepat. Hari ini, bertahanlah bersama saya, saya tahu beberapa dari kalian harus bekerja, kalian mempunyai hidup yang sibuk dan tidak tidur sampai pukul dua belas seperti saya dan beberapa orang lain. Tetapi bertahanlah bersama saya malam ini sebentar lagi. Bertahanlah dan mari kita selesaikan. Saya mempunyai dua atau tiga subyek lagi yang masih tertinggal, percaya atau tidak saya berusaha mempercepatnya; Dalam biara, dibutuhkan waktu sekitar sebulan untuk mengajarkan hal ini. Ini sangat ekstensif – lagi dan lagi. Saya sudah menghadiri ajaran yang mengambil sekitar enam atau tujuh jam sehari selama sebulan atau sebulan setengah dan biar saya beritahu, saya tidak bisa menggerakan kaki saya pada akhir minggu ketiga, keempat. Saya harus diangkat dan dipindahkan. Jadi bertahanlah bersama saya hari ini dan biar kita selesaikan. Ini adalah malam terakhir di sini, bukan yang terakhir saya harap, tetapi malam terakhir di wihara ini. Jadi bersabarlah dengan bikshu ini yang banyak bicara dan berteriak pada kalian sepanjang malam dan mengatakan betapa buruknya kalian. Bertahanlah bersama saya malam ini dan kita selesaikan malam ini dan kita buat penyelesaian yang baik. Besok kalian akan sedikit ngantuk di kantor. Katakan pada bos kalian kalau kalian menghadiri pesta besar kemarin malam. Ini adalah pertama kalinya kalian berusaha untuk sesuatu yang akan memberi manfaat besar bagi kita. Jadi bertahanlah. Apa kalian tidak apa-apa? (Ya). Terima kasih. Terima kasih.

Lalu, komitmen refuge. Komitmen sangatlah penting. Setelah kalian mengambil refuge, ada dua belas hal yang harus kalian hindari. 1) jangan pergi ke guru yang mengkontradik jalan yang benar, yang menyuruhmu untuk berbohong, untuk mencuri, untuk menyakiti, untuk mencelakai. Jangan mengambil refuge pada guru dan doktrin yang mengkontradik doktrin yang benar. 2) untuk menganggap semua bentuk [(lukisan, patung, dll.)] Buddha sebagai Buddha yang sebenarnya. Dan tidak membedakan bahwa ini adalah patung Buddha dari tanah liat, terbuat dari emas, terbuat dari perunggu, terbuat dari kuningan, tua, antik, baru. Yang baru, yang dari tanah liat, yang tidak dibuat dengan baik kalian taruh di bawah dan kalian sembunyikan. Tetapi yang dari emas, yang antik, yang mahal kalian taruh di depan. Tidak ada bedanya. Buddha adalah Buddha. Ini menunjukan kebodohanmu. Semua rupa yang kita namakan Buddha apakah mereka pendek, gendut, langsing, putih, hitam, terbuat dari tanah liat, kuningan, perak, aluminum harus dihormati sebagai rupa Buddha, dengan sama. 3) Untuk menganggap semua ajaran Buddha [(buku, skriptur)] sebagai permata Dharma.Sehingga kalian mengambil skriptur Dharma – Qur’an, kitab suci, kalian harus meyakitkan bahwa tangan kalian bersih dan sudah dicuci. Dan kalian tidak mengupil, mengorek kuping, atau mengibas rambut dan memakai ludah lalu membalik halaman. Sebelum kalian mengambilnya, kalian harus menyentuhkannya ke kepala kalian. Setelah kalian membacanya dan merenungkannya kalian harus menyentuhkannya ke kepala kalian dan menunjukan rasa hormat. Kalian harus menyimpannya di tempat tertinggi, terbersih, dan terbaik dan dibungkus dengan material terbaik yang bisa kalian beli. Biasanya buku Dharma ditaruh bersama “rumah dan taman” dan semua majalah kecantikan.

Tetapi Buku akunmu dan sertifikat-sertifikat ditaruh di tempat yang sangat aman, bersih dan indah, dikunci. Dan ketika kita pergi untuk mengambil sertifikat, buku akun, dan buku bank, kita mencuci tangan kita dengan upacara dan kita mengambil waktu untuk mengunci pintu (hampir bersujud tiga kali), kita membuka kunci kotak besi, kita melihatnya, kita menciumnya, kita memikirkannya, kita bahkan boleh tidur dengannya. Kita melihatnya lagi, menyentuhnya dengan kepala kita dan merasa kebahagiaan yang lengkap. Tetapi dengan buku Dharma… (melempar). Setelah kalian mengambil refuge ini tidak benar. Bila buku Dharma adalah dan ada di got dan hujan turun, kalian berkata, “Oh hujan, biarkan saja.” Bila kita melihat dua puluh dolar di got dan hujan turun sekalipun, kita akan memancingnya. Ini menunjukan kurangnya rasa hormat dan pengetahun mengenai bagaimana buku Dharma harus diperlakukan. Ajaran suci harus ditaruh di tempat yang tinggi dengan sangat hormat dan harus dibungkus dengan baik. Mereka tidak boleh dilempar kesana kemari bersama dengan bacaan kita yang lain; Rumah dan Taman, majalah kecantikan, motor,…ringkasan, Rolling Stones – mereka harus ditaruh di tempat yang berbeda. Karena mereka menunjukan jalan menuju pencerahan. Karena ini akan membawamu ke – kamu tau kemana? Bagaimana mungkin mereka bisa disatukan tanpa hormat? Hanya melempar mereka bersamaan dengan dokumen kalian yang lain di sudut, bertumpuk, dan membusuk. Tidak! Diploma kalian, kalian bingkai dan ditaruh di tempat yang sangat baik, disinari lampu khusus, sehingga semua orang bisa melihat gelar Doktor, Phd kalian. Atas dasar ini, ia akan membawamu ke pencerahan, seberapa banyak hormat yang harus kalian tunjukan padanya. Di tempat yang tinggi dan bersih, secara praktis. Dan bila suatu saat ia menjadi tua dan rusak, kita akan memvisualisasikannya seperti sinar dan ia bersatu dengan diri kalian dan memberkahi kalian dan ia menjadi buku kosong atau apapun yang kalian bawa ke tempat yang bersih dan kalian bakar, tidak bersama sampah dan baju tua kalian. Secara hormat, di tempat yang bersih, bakarlah. Pada waktu membakar, kalian harus membaca mantra suci seperti OM MANI PADME HUM atau OM MUNI MUNI MAHAMUNI YE SVAHA atau OM ARAPACHA NADI. Dan dengan hormat. Ini adalah sumpah refuge. Kejutan. 4) Tidak membiarkan diri kalian, orang yang menolak ajaran Buddha atau ajaran kebenaran. Ini tidak berarti: kalian bukan pengikut Buddha, keluar! Bukan, ajaran Buddha mempunyai pandangan yang luas. Orang yang menghindari sepuluh tindakan buruk adalah teman kalian. Tentu saja, kita bisa mempunyai teman Kristen, Muslim, dan Hindu. Tentu saja. Tetapi bila ia memanggil dirinya beragama Buddha tetapi tidak mempraktekan ajaran Buddha dan kalian pergi dengan mereka ke Karaoke, mabuk, dan kembali, kita semua beragama Buddha. Tidak, bukan begitu caranya. Salah. Ini bukanlah teman yang sebenarnya. Jangan dibodohi oleh orang yang membawamu jatuh secara perlahan. Dan kalian bangun dengan sakit kepala. 50 aspirin. OM MANI PADME HUM, OM MANI PADME HUM….. sementara kalian bermeditasi, kalian berpikir tentang rumah sakit dan “dokter, dokter, dokter….”tidakberada di tempat yang benar. 5) Lalu untuk menganggap semua orang yang sudah ditahbiskan dan memakai jubah sebagai Sangha yang sebenarnya. Semua orang yang sudah ditahbiskan dan dari agama apapun. Dan saya tidak berusaha untuk mendapatkan hormat dari kalian, percayalah. Kalian menghormati orang lain yang sudah ditahbiskan karena mereka melepaskan rambut mereka, pakaian indah mereka, mereka melepaskan pantai dan pesta, mereka melepaskan Estee Lauder (biksuni), mereka melepaskan semuanya yang tidak bisa kalian lepaskan. Mereka tidak membuang waktu mereka dan mempraktekan Dharma secara penuh. Mereka mempraktekan Dharma, mereka mempunyai 253 sumpah yang harus mereka pegang setiap hari. Dan mereka menggunakan sumpah untuk melindungi mereka seperti pagar yang melindungi anak kecil keluar batas. Dan mereka karena itu mempraktekan Dharma seratus persen. Karena itu, obyek berharga untuk dirujuk. ………….

…..Bila kalian melakukannya, dengan kekuatan sumpah mereka dan perkataan negatif kalian, kalian akan mendapatkan celaka. Bukan berarti bila kalian menyumpahi mereka, mereka akan melakukan sesuatu yang buruk untuk membalas kalian, mereka tidak akan…. Suci, mereka tidak akan menjadi biksu dan biksuni atau pendeta keagamaan atau pelaksana ajaran lagi bila mereka melakukan tindakan negatif. Karena mereka berfokus pada hal-hal positif lebih yang kalian bisa. Dan mereka mempunyai sumpah yang disebutkan oleh Sang Buddha.

Pertama, sumpah itu adalah kekuatan dan setiap hari mereka memegang sumpah ini adalah satu hari lebih dekat dengan pencerahan lebih cepat dari kalian, dan mereka menjadi lebih baik dan mampu membimbing dan menolong kalian. Mereka sudah melepaskan kesenangan, hiburan, uang, keterikatan pada tubuh mereka, berlari sambil menghabiskan waktu. Mereka mempraktekan Dharma 100 persen karena itu bisa mengajar kalian, menolong kalian, membantu kalian, membimbing. Mungkin untuk membuat kalian terinspirasi. Bagaimana mungkin kita bisa mengatakan hal-hal negatif, melakukan hal negatif atau menyuruh-nyuruh mereka seperti anjing peliharaan kalian? Lakukan ini, lakukan itu. Bahkan, dengan tangan terkatup pada lutut kalian kalian meminta mereka untuk melakukan sesuatu. Bahkan bila kalian tidak bisa mengatupkan tangan kalian dan bersandar pada lutut kalian untuk memamerkannya, tidak apa, tetapi dari hati kalian dengan hormat, “Bisakah kalian melakukan ini, bisakah kalian melakukan itu?” dan bila mereka berkata “tidak,” “Mengapa tidak?” Bukan, bukan, bukan seperti itu. Bila mereka tidak melakukannya, mengapa tidak? “Hmm, sami, sami, kembalikan ang pow saya!” kembalikan, berlari keatas, complain, “Wow, wow, wow, …….”. Berminggu-minggu mengkomplain mengenai “wow, wow, wow…..” Mari saya beritahu sesuatu: karma yang kalian kumpulkan akan lebih kuat daripada karma yang kalian dapatkan bila kalian menyiksa orang awam karena mereka tidak mempunyai sumpahnya. Pasti. Bahkan bila mereka mengatakan “tidak”, mereka akan mengatakan “ya, venerable sifu.” “Oh ya, OK”. Jangan mengganggu pikiran mereka dan jangan keluar hanya untuk melihat apakah ia melakukan sesuatu atau tidak. Tidak apa, ia pasti mempunyai alasan tersendiri. Jangan licik dengan perkataan yang memecah belah. Bila kalian menunjukan hormat pada obyek yang membimbing kalian, kalian akan dibimbing dengan benar. Biksu dan Biksuni dan pengikut keagamaan dari berbagai aliran harus ditaruh di tempat yang lebih tinggi, lebih bersih, dan dibicarakan dengan hormat, memberi hormat.

Orang beragama akan memenuhi kebutuhan spiritual kalian sekarang dan di masa depan. Ini adalah kewajiban kalian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Ini adalah hubungan timbal-balik, ini adalah keseimbangan. Mereka akan melakukan hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh kalian, dan karena itu saling mendukung, dan saling membantu.

Bila kalian kebetulan bertemu dengan biksu dan biksuni yang tidak baik, tidak perlu berkata apa-apa. Kalian tidak harus membantu mereka, kalian tidak mendukung mereka, kalian tidak menyiksa mereka. Kalian pergi menjauh. Bye! Ini bukan karena kalian bodoh, kalian tahu yang sebenarnya karena kalian mempunyai mata dan telinga. Tetapi untuk menghakimi, bagi orang yang baru belajar, kalian menyiksa biksu atau biksuni, mengatakan hal yang buruk kepada mereka – kalian menyiksa mereka. Bagi orang baru, semua orang bisa melakukan itu dan mereka akan melakukan hal yang sama kepada biksu dan biksuni manapun. Karena itu, kalian menciptakan roda bagi mereka untuk dilahirkan kembali pada alam bawah karena melawan orang yang baik dengan sumpah dan moralitas. Jadi bahkan bila kalian bertemu dengan orang yang kurang baik seperti itu, bila kalian bisa ini adalah dunia yang normal, saya tidak sempurna. Tetapi bila kalian bergosip dan menyebarkan gossip, dan melakukan sesuatu. Bila kalian tidak mau terlibat, tidak apa. Ini adalah pilihan kalian. Tetapi bila kalian menciptakan gossip tentang orang lain, untuk terlibat, bahaya akan datang. Dan bahkan bila ia seorang biksu yang tidak baik, ia mempunyai 253 sumpah, bila ia melanggar sepuluh, ia masih punya 243. Karena itu bila kalian melakukan sesuatu, akibat dari karma kalian bukan 253, tetapi 243. Bahkan seorang biksu yang jatuh dan buruk masih lebih baik daripada seorang heretic – Seseorang yang menolak ajaran yang baik. Jadi berhati-hatilah dengan mulut kalian dan tindakan kalian mengenai Sangha dari berbagai aliran. Dan maafkan saya untuk mengatakan hal ini kepada kalian dan saya berjanji bahwa saya tidak mengatakan ini karena saya adalah seorang biksu. Saya sendiri berusaha untuk melakukan hal ini kepada biksu lain. Saya berusaha untuk mempraktekan ini kepada diri saya kepada biksu lain. Saya berusaha untuk mempraktekan ini kepada diri saya bukan berarti saya sukses dengan murid saya tetapi maafkan saya. Tetapi saya mencoba untuk mendidik kalian dan membuat kalian tahu. Saya tidak berusaha untuk melakukan semua untuk biksu dan biksuni dan biksu dan biksuni adalah baik. Mereka juga mempunyai tanggung jawab. Percayalah, mereka punya.

Jadi pikirkanlah secara logis. Bahkan seorang biksu yang bodoh, tidak terdidik, biksu yang tidak bisa mengajar atau biksuni yang bodoh, mereka tetap biksu dan biksuni atau pendeta. Dan mereka masih mempunyai sumpah mereka tidak peduli apakah mereka mempunyai pencapaian yang tinggi atau tidak. Dikatakan dalam sutra Vinaya dan Bodhisattva dan Kuan Yin Pusa bermanifestasi sebagai orang awam atau sebagai biksu biasa dan biksu ini bukanlah Buddha, tidak ada pencapaian, tidak ada yang special tetapi ia memegang sumpahnya dengan baik. Bila ada dua tempat duduk, tempat yang lebih tinggi harus diberikan kepada biksu. Dan emanasi Kuan Yin harus bersujud kepada biksu itu, atau Tiga Permata tidaklah lengkap. Dikatakan dalam sutra Vinaya atas dasar sumpahnya yang pernah disebutkan oleh sang Buddha, jadi saya menunjukan rasa tidak hormat kepada biksu, ini menunjukan kalian menunjukan rasa tidak hormat kepada kondisi yang mereka representasikan. Bila kalian menunjukan rasa tidak hormat kepada Sangha – biksu, biksuni, pendeta, atau apa saja – ini menunjukan pengetahuan kalian yang kurang mengenai apa yang mereka wakilkan dan kalian menciptakan karma untuk tidak mendapatkan apa yang akan mereka dapatkan akhirnya. Karena itu, di masa depan ketika kalian bermeditasi, ketika kalian melakukan doa, ketika kalian pergi ke gereja atau sinagog, kalian berusaha untuk melakukan, mendengarkan hal yang baik, kalian akan terganggu. Kalian akan mengantuk, kalian akan merasa bosan, kalian mendapatkan…….., kalian memikirkan mengenai kue keju. Ini adalah tanda yang kalian tunjukan rasa tidak hormat kepada seseorang yang seharusnya dihormati.

Pikirkanlah. Ini adalah untuk evolusi spiritual kalian maka saya membicarakan hal ini. Ini bukanlah sesuatu yang saya buat-buat pada saat ini. Kalian harus memeriksa buku Dharma apapun dalam bahasa apapun – mandarin, Tibet, Hindi. Di Thailand, ketika biksu datang orang-orang harus berlutut. Dan ketika mereka mempersembahkan makanan dengan lutut mereka dan dengan kepala tertunduk, biksu ini tidak melihat kepada si pemberi dan mereka tidak melihat mangkuk mereka apakah ada kue keju. Mereka mendapat satu, mereka berdoa, bila mereka tidak mendapatkannya, mereka tidak berdoa – seperti saya! Mereka menerima apa yang dipersembahkan kepada mereka, dan mereka menaruhnya di atas kepala pemberi dan dengan segera membaca sutra untuk kelahiran kembali yang baik untuk si pemberi tanpa keterikatan. Dan bikshu kembali ke biara untuk melakukan doa mereka dan untuk menghabiskan waktu untuk melakukan doa mereka dan untuk bermeditasi untuk maju. Ini adalah maksud dari hubungan Sangha dan pemberi. Kalian akan mempersembahkan dana dan bantuan pada kondisi ini yang kalian hormati dan akan kalian capai. Kalian akan mencapai dengan kekuatan karma kalian dan kekuatan sumpah mereka. Dengan kekuatan sumpah mereka seperti yang sudah disebutkan oleh sang Buddha. 6) Untuk mengambil refuge pada Tiga Permata lagi dan lagi, mengingat kualitas mereka. Mengambil refuge lagi dan lagi, kepada sang Buddha yang bebas dari rasa takut. Ini tidak berarti pergi ke upacara setiap kalian ada Lama yang datang. Kalian pergi ke upacara. Ini berarti mengingat sumpah setiap hari mengingat Dharma, mempraktekan Dharma, mengingat refuge lagi dan lagi. 7) Setiap kali kalian makan, mempersembahkan porsi pertama dari makanan ini kepada altar kalian, bila kalian memilikinya. Kita akan membicarakan mengenai bagaimana menyusun altar secara singkat. Untuk mempersembahkan porsi pertama dari makanan kalian sebelum kalian menyentuhnya. Lalu sebelum kalian makan, kalian mempunyai piring kecil dan menaruh porsi kecil dari nasi atau sayur, apapun yang kalian punya dan kalian mempersembahkannya di altar kalian bila kalian memilikinya dan lalu kalian menaruhnya di sana dan pada akhir hari atau pada siang hari, kalian mengambilnya dan membuangnya di tempat yang bersih. Dan setiap hari paling tidak lakukanlah satu kali, tetapi bila tiga kali sehari, bagus sekali. Tetapi paling tidak sekali sehari. Dan ketika kalian mempersembahkan, seperti yang saya katakan, sayuran yang lebih segar kalian taruh di piring kalian, sayur yang di bawah yang terlalu matang atau hangus, kalian taruh dalam piring dan berkata, saya mengambil refuge kepada Buddha, Dharma, dan Sangha. Tidak, tidak seperti itu. Taruhlah bagian terbaik dari makanan kalian, untuk kalian persembahkan. Dan cobalah untuk tidak membuat piring ini terlalu kecil. Satu butir nasi, dan kita mengambil refuge. Dan tidak terlalu besar. Dari mulut, kita mengatakannya tetapi dari hati kita mengatakannya pelit – porsi yang baik setiap hari. Jangan pakai mangkuk ini untuk hal lain selain untuk altar kalian. Agar selalu memiliki cinta kasih untuk mendorong orang lain untuk mengambil refuge dengan cinta kasih. Bila kalian tidak melaksanakannya, kalian pergi ke neraka! Bukan begitu. Oh kalian berbicara terlalu banyak, karma buruk, kalian lihatlah diri kalian sendiri. Apa yang kalian katakan kepadanya? Dan untuk mendorong orang lain dengan cinta kasih dan cara yang tepat. Tetapi bila kalian tidak mempraktekannya dengan baik, berdiam dirilah, karena orang lain akan melihat dan berkata, praktek Dharma ternyata seperti itu, mari pergi ke pantai. Benar? 9) Lalu, mengingat manfaat untuk mengambil refuge. Mengingat manfaatnya. Manfaatnya banyak sekali. Dari banyak manfaat ini, pada dasarnya kalian mempunyai delapan manfaat setelah mengambil refuge. Dan banyak lagi:

  • Kalian menjadi pemeluk agama Buddha yang sebenarnya
  • Kalian menjadi kandidat untuk menerima semua sumpah: sepuluh sumpah refuge. Tanpa sumpah, tanpa pencapaian, tanpa dasar, tanpa tembok, dan tanpa atap. Dasar dari pencapaian adalah sumpah ini didasarkan pada sepuluh penghindaran, lima presep, dll., dll. Bila kalian tidak mempunyai refuge, kalian bukanlah kandidat untuk menerima sumpah. Bila kalian tidak mempunyai sumpah, kalian tidak mempunyai pencapaian, kalian tidak akan berubah. Sumpah dimaksudkan untuk melindungi kalian, bukan untuk memenjarakan kalian.
  • Kalian akan menghabiskan delusi kalian dan karma yang terkumpul sebelumnya. Delusi kalian akan berkurang, kebijaksanaan kalian akan bertambah.
  • Kalian mengumpulkan lebih banyak karma baik atas dasar refuge karena dengan mengikuti dharma kalian mendapatkan karma baik dan karena itu hasilnya. Dan dengan motivasi yang pantas, pahala akan membawa kepada pencerahan.
  • Kalian tidak akan diganggu oleh manusia dan bukan manusia. Bila ada arwah bumi, hantu, setan, orang mencoba untuk mengutuk kalian – ilmu hitam, tidak akan yang bisa menyakiti kalian lagi setelah refuge yang sebenarnya. Hal-hal buruk seperti ini tidak akan mengganggu kalian lagi bila kalian mengambil refuge. Kalian tidak akan jatuh, dan bila kalian mengambil refuge dan seseorang mengutuk kalian – ini banyak terjadi di sekitar sini, saya perhatikan, atau menaruh guna-guna pada diri kalian, atau menaruh sesuatu di dompet kalian atau sesuatu di mobil kalian, apapun, mencoba menghancurkan kalian. Bila kalian mengambil refuge, kutukan dan jimat ini akan dinetralkan karena tidak ada yang lebih baik dari Buddha atas dasar cinta kasih. Cinta kasih mengatasi segalanya. Dan beliau memiliki 100% cinta kasih.
  • Kalian tidak akan jatuh pada alam bawah sebagai hewan, arwah atau alam neraka. Karena bila kalian mengambil refuge yang sebenarnya, kalian akan berhenti melakukan tindakan negatif dan karena itu kalian tidak akan mendapatkan hasil yang negatif dan karena itu kalian tidak akan jatuh ke alam bawah.
  • Kalian akan mendapatkan tujuan jangka pendek dan jangka panjang dalam hidup ini, kalian akan mendapatkannya tanpa susah payah
  • Dan pada akhirnya kalian akan tercerahkan lebih cepat.

Ini adalah delapan manfaat dari mengambil refuge. Untuk mengingat manfaat dari refuge lagi dan lagi, seperti yang dikatakan dalam sutra, tiga kali pada siang hari dan tiga kali pada malam hari. Terkecuali bila kalian bisa melakukannya satu kali sudah OK. Bila kalian bisa melakukannya. 10) untuk melakukan setiap tindakan dengan kepercayaan penuh pada Tiga Permata. Kepercayaan seperti apa? Atas dasar Karma: ketika hal-hal negatif terjadi, dengan martabat, dengan anggun, hadapilah. Ketika hal-hal positif terjadi, jangan melompat-lompat dan menjambak rambut kalian karena gembira. Sadarilah hal ini hanya bersifat sementara. Untuk mempercayakan semua tindakan pada Tiga Permata. 11) lalu jangan pernah menyerahkan Tiga Permata bahkan untuk hidupmu sekalipun atau sebagai canda. Hah, bila kalian tidak dapat melakukannya, saya tidak akan mempraktekannya lagi. Kalian kalah. Jangan pernah menyerahkan Tiga Permata bahkan untuk hidupmu sekalipun.

Dua belas sumpah refuge setelah kalian mengambil refuge bukanlah untuk melawan guru yang melawan hal-hal positif. Tidak pernah. Untung menganggap semua rupa Buddha sebagai Buddha apapun bahan, umur, bentuknya. Tidak menyakiti orang lain dengan sepuluh tindakan buruk. Untuk menganggap semua buku Dharma sebagai permata Dharma yang sebenarnya. Tidak membiarkan diri kalian dipengaruhi orang yang menolak jalan yang benar. Untuk menganggap semua orang yang memakai jubah biksu sebagai Sangha yang sebenarnya dan obyek refuge. Untuk mengambil refuge dari Tiga Permata lagi dan lagi. Untuk mempersembahkan porsi pertama dari apapun yang kalian makan setiap hari dan mengingat kebaikan dari Tiga Permata. Dengan cinta kasih, mendorong orang lain untuk mengambil refuge. Mengingat manfaat dari pergi ke refuge setiap hari. Untuk melakukan setiap tindakan dengan kepercayaan penuh kepada Tiga Permata dan tidak meragukan Tiga Permata walaupun hidupmu adalah taruhannya atau sebagai lelucon.

Ketika kalian mengambil refuge, kalian mendapatkan nama Dharma baru, menggambarkan kelahiran kembali – dari negatif ke positif. Ketika kalian mengambil refuge, mulai saat itu, kalian berkata dengan sadar dan terbuka, mengiklankan, saya akan menghentikan atau mengurangi tindakan negatif saya. Kalian mengiklankan dan bahkan kalian bersumpah di depan sifu, Buddha, Dharma,dan Sangha, bahwa mulai saat itu, kalian akan mengurangi dan akhirnya memusnahkan tindakan negatif kalian. Ini adalah refuge. Dan bila melakukannya, delapan manfaat beserta manfaat tambahannya akan datang, dan mengikuti kalian seperti bayangan pada tubuh. Kalian mungkin berpikir bahwa komitmen-komitmen ini berat, tetapi, bila kalian tidak mengambilnya, betapa beratnya. Pikir. Selalu pada jalur ini. Berpikirlah pada spektrum yang lebih luas.

Lalu, susunlah sebuah altar bila anggota keluarga kalian setuju. Bila ini adalah antar-agama dan pasangan kalian setuju dan tidak melukai dan altar adalah obyek bagi kalian untuk mengumpulkan pahala. Obyek untuk mengingatkan kalian akan refuge dan latihan meditasi kalian dan bukan untuk dipamerkan, bukan merupakan dekorasi pada rumah kalian. Untuk menyusun altar adalah sangat baik. Ada tiga barang yang diperlukan untuk altar kalian, yaitu representasi dari tubuh, perkataan, dan pikiran Buddha. Dan seterusnya setiap altar Buddha…… bila kalian mempunyai altar, bila kalian tidak bisa, tidak apa. Bukan berarti kalian bukan beragama Buddha.

Buddha ada dimana-mana, dimanapun kalian memikirkan Buddha, beliau ada di sana. Untuk mempunyai rupa Buddha dalam bentuk apapun. Buddha mempunyai kemampuan untuk berganti rupa dengan sangat mudah. Seperti H2O yang bisa menjadi embun, es, rintik hujan, butir salju. Tentu saja Buddha mempunyai kemampuan atas tubuhnya lebih dari air hujan. Jadi Buddha bisa tampak dalam banyak bentuk. Kebijaksanaan Buddha tidaklah seperti kebijaksanaan kita, ia bisa menampakan diri dalam bentuk tak terlihat. Dan kebijaksanaan Buddha bisa Nampak dalam bentuk Manjushri Pusa yang mulia, yang mempunyai pisau bersinar untuk memotong semua kelemahan kalian. Ini tidak berarti ia akan memotong kebodohan kalian, kebencian kalian, nafsu kalian, ilusi kalian. Ia mewakili kekuatan Dharma dalam bentuk kebijaksanaan, pedang yang mengiris kebodohan, kebencian, keinginan, dan keterikatan kalian yang tebal. Lalu Biddha menampakan cinta kasihnya yang besar, keinginannya untuk menolong orang lain dalam bentuk Kuan Yin Pusa, dengan seribu lengan, dengan empat lengan. Kuan Yin Pusa dengan empat lengan menggambarkan kasih sayang Buddha yang besar – kemampuannya untuk menstabilisasi – tampak dalam bentuk Pusa yang marah atau Bodhisattva Vajrapani. Ini adalah kekuatan Buddha untuk menampakan diri sebagai Vajrapani yang menyeramkan. Beliau menyeramkan dalam menunjukan apinya, ketiga matanya, rambut, dan api, memakai kulit macan dan ular. Beliau menunjukan wujud menakutkan bukan pada kalian, tetapi pada delusi kalian, kebodohan kalian, kebencian kalian dan nafsu kalian, karma negatif kalian, dan aktivitas negatif kalian. Beliau menampakan wujud ini untuk menakuti dan menghentikan kalian dengan cara yang keras dari melakukan hal-hal negatif.

Di Tibet, beberapa Lama menyebarkan Dharma dalam bentuk yang damai seperti Kuan Yin. Beberapa menampakan diri dalam bentuk menyeramkan: mereka memukul kalian, meneriaki kalian, mereka meneriaki kalian agar dapat membawa kalian ke jalan Dharma tetapi motivasi dibaliknya adalah cinta kasih, apakah beliau menampakan diri sebagai Vajrapani yang menyeramkan atau sebagai Kuan Yin, maksudnya adalah untuk menolong, tidak pernah untuk mencelakakan. Hubungan kita dengan mereka apakah beliau menampakan diri dalam bentuk damai atau menyeramkan akan selalu membawamu ke jalan Dharma. Ini adalah tanda bahwa metode mereka adalah berdasarkan maksud yang baik.

Maka Buddha adalah seperti itu, menampakan diri dalam tiga bentuk Pusa: Kuan Yin (atau dalam agama Tiber, Chenrezing, dan dalam Sanskrit Avalokitesvara), maka kebijaksanaan adalah Manjushri (yang dalam bahasa Sanskrit berarti perkataan yang baik/ fasih/lancar) atau Manjushri Pusa, dan yang ketiga sebagai Vajrapani (atau Chin Kang Pusa dalam bahasa Mandarin). Vajrapani berarti kekuatan. Dan seperti itu, Buddha akan menampakan diri sebagai Tara (di sini pada sisi kanan Manjushri) semua aktivitas Buddha akan tampak dalam dewi Tara. Buddha datang dalam bentuk Lama atau guru atau ketiga Pusa ini bergabung dalam satu dan ada di bumi untuk mengajar dan menolong lagi seperti Tsongkhapa yang mulia (seperti yang bisa kalian lihat di sini dalam thangka. Memakai topi kuning di wihara). Tsongkhapa adalah wujud dari tiga Pusa, ketiganya. Jadi Buddha membagi dan lagi bergabung untuk menampakan diri di bumi agar dapat menolong dan membantu.

Beberapa dari kita mempunyai banyak cinta kasih tetapi tidak pandai – memerlukan Manjushri. Beberapa dari kita cukup pandai dan cukup menakutkan – memerlukan Kuan Yin. Beberapa dari kita selalu ketakutan – memerlukan Vajrapani. Beberapa dari kita pandai dan mempunyai cinta kasih, tetapi tidak sukses dalam apapun yang kita lakukan – memerlukan Tara. Jadi Buddha menampakan diri dalam berbagai bentuk untuk dapat membantu kita dengan tepat. Kepada Pusa manapun kalian berdoa, kepada Buddha manapun kalian berdoa, ia adalah Buddha, tetapi Buddha mempunyai hubungan khusus mengenai mengapa mereka menampakan diri seperti itu. Jadi bila kalian berdoa kepada Manjushri Pusa, kebijaksanaan akan ditekankan, bersamaan dengan cinta kasih, kekuasaan, dan tindakan dengan cara yang tepat. Bila kalian berdoa kepada Tara Pusa (Tomo Pusa), maka tindakan cepat bersamaan dengan cinta kasih ditekankan. Seperti dokter yang berspesialisasi di area yang berbeda. Beliau adalah dokter, ia belajar mengenai hal-hal yang perlu diketahui seorang dokter, tetapi beliau berspesialisasi.

Dalam bentuk fisik, suara dan meditasi akan menciptakan situasi dalam karma kalian dan energi kalian dan pikiran kalian dan “qi” kalian untuk berkembang lebih cepat dari Buddha lain. Tetapi hal ini tidak berarti bila kalian berfokus pada Manjushri, kalian tidak mendapatkan kasih sayang, ini hanya berarti bahwa salah satu aspek dari pencerahan lebih ditekankan. Ketika kalian berdoa kepada Manjushri, kalian juga berdoa kepada semua Pusa – semua: karena mereka adalah manifestasi dari semua Buddha. Jadi jangan berpikir bahwa bila kalian mempunyai dua di altar kalian, istri kalian berdoa kepada Buddha dan kalian berdoa kepada Tara atau suami kalian berdoa kepada Buddha dan kalian kepada Tara, hmmm…… ada sesuatu yang salah di sini. Tidak, jangan berpikir. Mereka tidak akan berpikir seperti itu. Tara tidak akan menonjok Buddha karena ia berada di tempat duduk yang lebih tinggi. Atau bila kalian mempunyai dupa dan kalian menganggap kalian harus mempunyai tempat dupa terpisah untuk masing-masing Buddha. Kalian mempersembahkan kepada yang satu dan kalian berpikir bahwa yang satunya lagi menatap kalian…hmmmm….. maka kalian juga mempersembahkan dupa kepada yang satunya lagi. Ketika kalian mempersembahkan makanan, kalian berpikir: hanya satu cangkir, tetapi ada dua, bagaimana meminumnya? Janganlah berpikir seperti itu. Sangat kerdil. Buddha penuh kasih, ketika kalian berdoa kepada satu Buddha, ketika kalian melakukan persembahan kepada satu Buddha, kalian hanya melakukan persembahan kepada satu Buddha, kalian melakukan persembahan ini kepada semua Buddha secara bersamaan. Bila kalian berdoa kepada Buddha Obat, beliau adalah aspek obat yang menyembuhkan dari Buddha Sakyamuni, energi Buddha untuk menyembuhkan, menyembuhkan kebodohan, kebencian dan nafsu, secara sementara penyakitmu, gangguan dan kesulitan kalian.

Jadi kepada jejak karma dan insting kita, beberapa dari kita mempunyai lebih banyak karma buruk yang berkaitan dengan kesehatan, jadi kita memerlukan Buddha Obat. Beberapa dari kita mempunyai lebih sedikit kebijaksanaan, jadi kita berdoa kepada Manjushri. Kita berfokus kepada aktivitas dimana kita kekurangan dan mendapatkan pencerahan pada saat yang bersamaan melalui salah satu dari mereka. Bila kalian mempunyai lebih dari satu atau hanya satu – terserah kalian. Lebih besar lebih baik: lebih baik materialnya lebih baik, semampu kalian. Lebih baik membeli patung Buddha yang berharga dan menghiasinya dengan ornament yang berharga seperti emas dan permata daripada menghiasi diri kalian dengan permata, mewarnai muka kalian, memakai pakaian indah dan berkeliling sambil memamerkannya, dan duduk di depan kaca selama dua sampai tiga jam untuk melihat diri kalian sendiri. Untuk diri kalian, cincin berlian sembilan karat bila kalian memakai berlian di pesta dan kalian berusaha agar sudutnya mengenai lampu dan di depan muka teman kalian. Tetapi untuk Buddha, kalian membeli batu hiasan murahan, mungkin dari kaca, menutup mata kalian dan berkata,”Oh untuk anda Buddha’. Mungkin saya akan mendapat pencerahan. Mungkin saya akan mendapatkan yang terbaik. Oh saya sangat setia kepadamu. Saya adalah pengikut yang baik. Tidak ada! Buddha duduk di sana dan berdiam diri, tetapi beliau penuh cinta kasih. Secara logis. Menghiasi Buddha memberi pahala bagi kalian untuk mendapatkan kekayaan yang nyata. Kalian menghiasi dan melakukan persembahan kepada makhluk yang bebas dari segala bentuk penderitaan, karena itu dengan melakukan persembahan kepada mereka, perhiasan terbaik, baju terbaik, emas dan kalian merawatnya dengan baik, kalian menciptakan pahala dan karma untuk mendapatkan keadaan yang tercerahkan dan secara langsung, kalian akan mendapatkan kekayaan, ketika kalian mendapatkannya, kalian akan kehilangannya, dicuri atau kalian habiskan dengan cepat. Tetapi bila kalian mempunyai karma untuk mendapatkannya, apakah kalian bekerja atau tidak, kalian akan mendapatkannya. Cara yang terbaik adalah dengan melakukan persembahan kepada Tiga Permata. Cara yang paling efisien. Bila saya boleh lebih jauh, dengan rasa hormat kepada kalian dan dengan tidak berusaha untuk menggoyang pikiran kalian atau apapun tetapi dengan hormat, cara yang terbaik adalah Sangha. Bila kalian mempunyai masalah bisnis, bila kalian mempunyai masalah keluarga, lakukanlah persembahan kepada Sangha dari dalam hatimu, bersujudlah tiga kali, persembahkanlah dengan kedua tangan dan berdoalah semoga semua makhluk terbebas dari masalah yang kalian miliki dan maka dengan hormat, lakukanlah persembahan. Ini adalah salah satu cara yang terbaik. Dan sangat diyakini di semua negara Buddha, kalian tahu.

Lalu setelah kalian mendapatkan patung Buddha kalian, bila kalian bisa mengisinya dengan mantra, tidak apa. Bila patungnya terlalu kecil, kalian bisa mengisinya dengan batu-batu berharga dan semi-berharga tergantung kemampuan finansial kalian. Isilah hingga penuh. Bila tidak, paling tidak isilah dengan mantra sementara. Kalian bisa menulis OM AH HUM dalam bahasa Inggris. Bila kalian salah mengejanya, tidak masalah. Taruhlah di dalam. Ada yang bilang bila patung Buddha kosong, ia akan menjadi tempat arwah. Tetapi jangan takut, “Oh Buddha saya sudah kosong selama bertahun-tahun.” Tidak apa. Bila kalian bisa, OK, bila tidak kalian visualisasikan dengan kuat sang Buddha ada di sana. Jadi jangan jadi khawatir dan percaya tahyul.

Mereka menutupi Buddha dan beberapa orang melubanginya di depan karena mereka berpikir: “Oh Buddha tidak dapat memberikan berkat. Bagaimana mungkin Buddha menyumbat berkat dari selembar kaca? Orang bertanya apakah saya perlu melubanginya di depan. Saya bertanya: “Mengapa?” Saya kira karena Buddha tidak bisa bernapas atau apalah. “ Bukan, bukan, saya tidak bisa mendapatkan berkat dan juga ketika saya berdoa, doa saya tidak sampai kepadanya.” Jadi inilah mengapa mereka melubanginya. Saya jawab: “Mengapa kalian tidak menaruh gelas, mengapa kalian tidak melepaskannya dan mendapatkan berkat, semua di sana.’ Janganlah berpikir bahwa Buddha sangat bodoh dan selembar kaca dapat menyumbat berkat-Nya. Kalian bisa menutupinya sehingga tidak ada debu pada representasi fisik dari tubuhnya.

Ketika kalian memindahkannya dan membersihkannya, pindahkanlah dengan tangan yang bersih, bersujud tiga kali, kalian pindahkan dan bersihkan, dan kembalikan. Kalian bisa membersihkannya sesering mungkin. Dalam prosesnya, bila kalian merusaknya atau membuat tanda sedikit, ini bukanlah akhir dari dunia. Bukan! Bukan dengan sengaja, Buddha penuh cinta kasih. Jangan khawatir, tidak ada yang akan terjadi. Bagaimana mungkin makhluk yang penuh cinta kasih membalas dendam bila kalian memindahkannya ketika beliau sedang minum teh? Tidak bisa! Bila ini adalah halnya, kalian angkat dan lempar keluar jendela. Bye! Kembalilah ke karaoke. Jangan mandek dengan praktek seperti ini. Saya tidak berkata kalian seperti ini, tetapi bila saja, karena pertanyaan-pertanyaan seperti ini diajukan pada saya. Dan pada sisi kiri Buddha, kalian tempatkan kitab Dharma, baik yang besar, terbuat dari emas, perak, dibungkus dengan baik atau dalam bahasa Mandarin, Tibet, Hindi, tidak masalah. Semua jenis representasi Dharma Buddha dapat ditaruh di altar.

Dan pada sisi kanan, harus ada “stupa.” Di depan Kuan Yin Pusa di altar, ada sebuah benda yang dinamakan “Stupa” atau pagoda dalam bahasa Mandarin. Ia merepresentasikan pikiran Buddha yang tercerahkan.

Jadi kalian menyembah tubuh, perkataan dan pikiran Buddha. Kalian semua harus mendapatkan representasi Buddha, Dharma. Setinggi apapun, sekecil apapun, materialnya terserah kalian – terserah keadaan keuangan kalian. Lebih baik, lebih mahal. Tidak masalah dan tidak ada konflik antara sesama Buddha. Kadang saya memberi Buddha Sakyamuni kepada orang lain, dan mereka berkata,”apakah boleh saya meletakannya di sebelah Kuan Yin?” Saya bilang tidak, mereka akan bertengkar. Tentu saja boleh. Tidak masalah. Mereka adalah sama. Seperti halnya lima jenis gelas yang berbeda: yang satu kuning, hijau, biru, putih tetapi isinya sama, tetapi diluarnya berbeda.

Dan kalian harus meletakan persembahan yang indah di depannya – bunga, dupa, penerangan (lampu listrik juga tidak apa) dan gantilah setiap hari. Kalian bersihkan dengan baik. Ketika kalian membersihkannya, kalian tidak boleh berpikir, pacar saya akan datang, maka saya membersihkannya. Bahkan ketika kalian membersihkannya, kalian harus berpikir bahwa Buddha hadir, saya harus membersihkan untuk Buddha.

Dan akhirnya di depan altar, kalian tidak boleh bertengkar, mengucapkan hal yang buruk, melakukan hal-hal negatif. Kalian harus mempunyai rasa hormat. Bila (dan ini bukan lelucon, maafkan saya karena mengatakannya), beberapa orang yang tinggal di apartemen dengan satu ruangan dan mereka tinggal bersama pasangan mereka, bagaimana mereka mempunyai altar dan mereka melakukan urusan mereka di malam hari. Bagaimana? Ini sangatlah praktis. Sebenarnya, kalian bisa menutup rupa Buddha ini. Di Tibet, kita mempunyai altar dengan tirai untuk menutupinya. Bukan karena Buddha tidak bisa melihat melalui tirai, kalian tahu. Ini hanya masalah hormat. Hormat dari dalam hati. Jadi dalam kasus ini, saya tidak mencoba untuk……sungguh, beberapa orang mempunyai pikiran seperti ini. Beberapa orang memilikinya dan mereka tidak buruk, mereka mempunyai pertanyaan yang harus dijawab.

Lalu kita harus membuat persembahan yang indah. Dengan kualitas semampu kalian. Ketika membersihkan, bahkan peralatan untuk membersihkan harus dipisah. Kain yang kalian gunakan. Kalian gunakan untuk membersihkan hidung kalian saat bangkis. Saya rasa ini bukanlah ide yang baik. Semuanya harus terpisah. Ketika kalian mempersembahkan bunga, semuanya harus dengan kualitas yang baik. Kalian bisa menggunakan bunga tiruan, bunga dari giok, bunga yang sebenarnya; sinar artifisial – tidak masalah. Dengan air, teh, yoghurt, susu, dan semua yang asli dan segar, dari dalam hatimu. Jumlahnya terserah kalian. Kalian bisa mempersembahkan kue keju dan membawanya kembali lalu memakannya sebagai berkah. Ini adalah apa yang saya lakukan. Kalian bisa, tetapi kalian tidak boleh mempersembahkannya sambil melihatnya dan berkata, “Oh, saya menginginkannya. Tidak seperti itu. Harus bebas dari rasa kikir.

Ini adalah cara kita menyusun sebuah altar. Ini adalah penjelasan singkat. Atau bila kalian mempunyai simbol Buddha, tidak masalah.

Dan bila kalian membuat rupa Buddha, membuat buku Dharma, dan menolong Sangha, ini adalah sangat baik. Lagi, saya memberitahu kalian sebagai pengetahuan yang bersifat umum. Semakin banyak rupa Buddha yang kalian buat….. ini dikatakan dalam sutra, bahkan garis yang digambar pada Buddha dengan kemarahan akan menanamkan bibit di pikiran kalian bahwa kalian akan melihat Buddha yang sebenarnya – uh, sepuluh juta Buddha di masa depan. Ini adalah kekuatan dari bentuk Buddha. Jadi bayangkan bila kalian melihat rupa Buddha dengan keyakinan, ada berapa banyak manfaat yang bisa didapat. Rupa Buddha membawa kedamaian, keharmonisan, Feng Shui yang benar, energi yang benar, dan mengingatkan kalian pada keadaan yang bisa kalian capai dan semua kualitas positif yang tersedia bagi manusia. Ia akan mengingatkan kalian akan hal itu. Dan untuk membuat persembahan, pujian, dan ber “kow tow” kepada Buddha – semua bentuk untuk mengingatkan bahwa kalian tertarik kepada kualitas-kualitas tersebut, dan ini bukan kualitas sepatu. Setelah itu, semua rupa Buddha adalah baik. Dan untuk membuat sebanyak mungkin rupa [Buddha]. Dengan membuat rupa Buddha, seseorang menciptakan karma tidak langsung untuk mendapatkan tubuh yang indah, tubuh yang sehat dan tubuh yang kuat karena bila kalian menciptakan rupa yang merepresentasikan hal-hal ini, aka nada buahnya, karena itu, orang tersebut juga akan menciptakan karma untuk mendapatkannya. Jadi seseorang harus membuat rupa Buddha sebanyak mungkin untuk diberikan kepada mereka yang menginginkannya. Ambilah. Saya tidak mau. Ambilah. Saya tidak mau. Ambilah. Tidak seperti itu. Bukan tipe seperti itu. Berikan pada mereka yang memerlukannya, sebanyak mungkin.

Lalu untuk mencetak buku Dharma. Berapa banyak manfaat yang kalian dapatkan dari membaca buku Dharma. Ada banyak orang yang tidak dapat membelinya, mereka yang miskin. Untuk membuatnya, untuk memberikannya dan membawa Dharma dalam kehidupan mereka dan ketika mereka membacanya, pikiran mereka berubah dan mulai melepaskan dan mulai bertransformasi karena itu, ini dikarenakan donasi kalian atas buku itu. Semua pencapaian yang mereka dapat akan membuat kalian mendapatkan pencapaian. Jadi bila mereka membaca bagian tentang kemarahan, mereka akan berlatih dan bermeditasi dan mereka akan mengurangi kemarahan mereka, kalian akan mendapatkan karma untuk mengurangi kemarahan kalian dengan cepat karena kalian sudah menciptakannya pada diri orang lain. Sangatlah baik untuk membiayai institusi keagamaan. Sangatlah baik untuk membiayai patron Dharma, untuk membiayai pencetakan untuk dibagikan dengan gratis. Dan jangan pernah menjual patung Buddha, jangan pernah menjual buku Dharma. Jangan pernah.

Di Tibet, ketika kita membuat patung, ketika kita membuat buku, kita pergi ke artis pembuatnya. Orang yang membuat patung menganggapnya sebagai latihan pribadi karena mereka tidak bisa bermeditasi, mereka membuat patung yang indah untuk orang lain bermeditasi. Karena itu, ketika kalian pergi untuk membeli patung dari mereka, kalian menawarkan uang serelanya. Mereka tidak akan protes. Kini hal ini sudah menjadi komersial. Sayangnya, tidak ada yang dapat kita perbuat. Tetapi seseorang tidak boleh menjual patung dalam segala bentuk. Bila kalian meminta seseorang untuk memilihkan, kalian berikan uangnya sesuai harga yang pasti, dan bila kalian harus menanggung kerugian satu dua dolar, tanggunglah sehingga kalian tidak menciptakan karma hitam. Sangat baik. Lalu, ini adalah mengenai altar. Selanjutnya topik terakhir yang akan saya liput – untuk kekecewaan beberapa orang dan untuk kebahagiaan beberapa orang – ada meditasi yang mudah yang bisa kalian mulai, dalam semua agama. Ini adalah teknik yang diajarkan Buddha untuk menenangkan pikiran kalian. Secara ideal, kalian bangun, kalian melakukan persembahan pada altar kalian. Kalian bersujud, berdoa, dan bermeditasi pada Buddha, atau Tara. Ketika kalian duduk bermeditasi dan melakukan dedikasi. Secara ideal.

Bila kalian berasal dari agama lain, tidak masalah. Setelah bangun, kalian masih dapat bermeditasi untuk menenangkan pikiran tetapi kalian juga bisa membaca versa berikut: Sebagai orang yang beragama Buddha, ini adalah versa yang sangat baik untuk melatih pikiran (Delapan Versa Untuk Melatih Pikiran).

  • Dengan tekad yang kuat untuk mencapai yang tertinggi untuk semua makhluk hidup, bahkan lebih dari permata pengabul permintaan, semoga saya bisa memeluk mereka dengan penuh kasih setiap saat.
  • Pada saat saya berhubungan dengan seseorang, saya berpikir bahwa saya adalah yang terendah diantara semua orang dan menganggap orang lain mulia dan dekat di hatiku (rendah hati)
  • Dalam semua tindakan saya, semoga saya mencari dalam pikiran saya pada saat delusi muncul dan membahayakan diri saya dan orang lain, semoga saya bisa menghadapi dan mengatasinya.
  • Ketika saya bertemu dengan makhluk yang mempunyai sifat jahat dan tertekan oleh dosa dan penderitaan, semoga saya bisa bersabar, dan memperlakukan mereka seperti permata yang langka dan berharga
  • Ketika orang lain karena iri memperlakukan saya dengan buruk dengan menyiksa menyebarkan hal-hal buruk dan…., hidup saya, semoga saya menderita kekalahan dan memberikan kemenangan bagi orang lain (Semoga kamu mendapatkan kerajaan surga)
  • Ketika orang yang sangat saya harapkan menyakiti saya dengan sangat, semoga saya memandangnya sebagai guru saya yang mulia
  • Singkatnya, semoga saya baik secara langsung dan tidak langsung memberikan manfaat dan kebahagiaan kepada semua makhluk. Semoga saya segera dapat mengambil penderitaan semua makhluk
  • Semoga semua ini tidak dinodai dengan delapan prinsip duniawi (yang kita bicarakan) dengan mempersepsikan semua fenomena sebagai ilusi dan menjadi tidak terikat dan penderitaan

Seseorang harus membaca ini untuk mengingatkan apa yang harus dilakukan setiap hari dan memulai meditasi. Atau bila kalian mempraktekan agama Buddha, kalian bangun, melakukan persembahan, bersujud, duduk, mengambil refuge. Kalian berdoa kepada Buddha meditasi kalian, bila kalian menyukainya. Atau Shakyamuni dan Kuan Yin. Tidak masalah – semua sama. Bacalah doa dan mantra ini yang sesuai dengan mereka.

Bila Buddha Obat dan kalian berdoa semoga semua makhluk mencapai pencerahan. Lalu bila kalian suka, Delapan Versa untuk Melatih Pikiran. Lalu meditasi yang actual. Lalu setelah itu, dedikasi. Inti dari praktek Dharma adalah meditasi. Tanpa meditasi, tidak ada pencapaian yang akan didapat. Jadi bila hanya membaca mantra, pergi ke ajaran Dharma tetapi kalian tidak bermeditasi, tidak akan ada yang dicapai. Tidak ada. Tujuan pertama dari meditasi adalah membuat pikiran kalian tenang dan damai.

Bila pikiran kalian tenang dan damai, kalian akan bebas dari kekhawatiran dan ketidak-nyamanan mental. Jadi kita akan merasakan dua kebagahiaan. Bila pikiran kalian tidak damai, kalian akan kesulitan untuk menjadi bahagia bahkan bila kita hidup dalam kondisi yang terbaik. Bila kita berlatih meditasi, pikiran kita akan bertambah damai perlahan-lahan dan kita akan merasakan kebahagiaan yang sebenarnya. Akhirnya kita bisa tetap bahagia setiap saat bahkan pada situasi yang sulit.

Biasanya kita merasa sulit untuk mengendalikan pikiran kita. Pikiran kita seperti balon di udara yang diterbangkan kesana dan kemari oleh situasi di luar diri kita. Ketika semua hal berjalan baik, pikiran kita bahagia, tetapi ketika mereka tidak berjalan dengan baik, pikiran kita segera menjadi tidak bahagia. Sebagai contoh, bila kita mendapatkan hal yang kita inginkan seperti barang baru atau pasangan baru, kita menjadi gembira dan menggantungkan diri pada mereka erat-erat. Tetapi karena kita tidak bisa memiliki segalanya yang kita inginkan dan pada akhirnya kita akan berpisah dari teman dan barang yang sekarang kita nikmati, keterikatan pada pikiran kita menyebabkan sakit. Akan tetapi bila kita tidak mendapatkan apa yang tidak kita inginkan dan kita kehilangan semua yang kita sukai, kita menjadi mudah marah. Sebagai contoh, bila kita dipaksa untuk bekerja dengan rekan yang tidak kita sukai, kita mungkin akan mudah marah dan sebagai hasilnya, kita tidak bisa bekerja dengan efisien dan waktu kerja kita akan penuh dengan stress dan tidak menyenangkan. Fluktuasi dan mood muncul karena kita terlibat terlalu jauh dengan keadaan di luar diri kita. Kita seperti anak kecil yang membuat istana pasir, yang gembira ketika ia membuatnya pertama kali tetapi menjadi sedih ketika ia dihancurkan oleh ombak yang datang. Dengan berlatih meditasi, kita bisa menciptakan tempat di dalam diri dan kejelasan yang membuat kita dapat mengendalikan pikiran kita tanpa dipengaruhi keadaan di sekitar kita. Perlahan-lahan kita akan mengembangkan ekuilibrium dalam pikiran kita, pikiran yang seimbang yang bahagia setiap saat daripada pikiran yang tidak seimbang yang diombang-ambing kebahagiaan dan kesedihan yang amat sangat.

Bacalah paragraph ini lagi karena ini sangatlah penting. Fluktuasi dari mood muncul karena kita terlibat terlalu jauh dengan situasi di luar diri kita. Kita seperti anak kecil yang membuat istana pasir yang gembira ketika ia jadi tetapi sedih ketika ia dihancurkan oleh ombak yang datang. Dengan berlatih meditasi, kita bisa menciptakan tempat di dalam diri dan kejelasan yang membuat kita dapat mengendalikan pikiran kita tanpa dipengaruhi keadaan di sekitar kita. Perlahan-lahan kita akan mengembangkan ekuilibrium dalam pikiran kita, pikiran yang seimbang yang bahagia setiap saat daripada pikiran yang tidak seimbang yang diombang-ambing kebahagiaan dan kesedihan yang amat sangat.

Bila kalian berlatih metode meditasi secara sistemik, akhirnya kita akan dapat menghilangkan pikiran kita dari delusi yang menjadi penyebab masalah dan penderitaan kita. Dengan cara ini, kita akan dapat merasakan kedamaian dalam diri yang dikenal dengan kebebasan atau nirvana. Lalu, siang dan malam, kita hanya akan merasakan kedamaian dan kebahagiaan. Meditasi adalah metode untuk memperkenalkan pikiran kita dengan kebaikan. Ia adalah pikiran yang menganalisa atau berkonsentrasi kepada obyek kebajikan – bila kalian meminta saya untuk memberi definisi – semakin banyak kalian berkonsentrasi, semakin banyak yang kalian lakukan, lebih banyak kedamaian dan lebih banyak keharmonisan yang akan diciptakan bagi orang lain dan diri sendiri. Ini adalah definisi dari kebajikan atau aktivitas, atau kondisi pikiran. Apapun yang menyebabkan lebih banyak keburukan, kekhawatiran adalah tindakan yang tidak bajik. Bila kita merenungkan obyek yang membuat kalian untuk mengembangkan pikiran yang tidak damai, kemarahan, atau kebencian atau tindakan yang negatif, ini menandakan bahwa obyek tersebut adalah tidak bajik. Ada banyak obyek yang bukan tidak bajik maupun bajik, tetapi netral.

Ada dua tipe meditasi: analytical meditation dan placement meditation. Analytical meditation adalah ketika kalian merenungkan atau memikirkan tentang sebuah subyek berkali-kali sampai pikiran kalian menjadi tidak terikat, bertransformasi atau berubah. placement meditation adalah untuk mengembangkan konsentrasi: samatha, meditasi vipassana dalam tradisi Thai yang suci untuk mendapatkan konsentrasi penuh. Dengan berkonsentrasi, ketika pikiran kalian lebih tenang, ini seperti ombak di laut naik ketika laut sedang berbadai dan pasir naik dan lautan menjadi keruh. Ketika angin berhenti, pasir turun dan air kembali menjadi jernih. Sekarang ini, pikiran kita seperti air laut yang ditiup angin, menaikan semua pasir dan lumpur, dan kotoran, karena itu, airnya menjadi tidak jernih. Pada saat laut kembali tenang, kita bisa melihat melalui air dengan jelas. Pikiran kita menjadi tajam dan halus.

Sebelum kalian bisa merenungkan dengan baik, kalian harus dapat melakukan placement meditation. Bila bisa melakukan dua-duanya, sangat baik bila kalian mempunyai waktu cukup dan kalian dapat menguasai keduanya secara bersamaan. Dengan placement meditation kalian akan menjadi lebih focus atau berkonsentrasi dalam kehidupan sehari-hari, lebih tenang, lebih bahagia karena pikira kalian lebih terfokus dan terbebas.

Tahap pertama dari meditasi adalah menghentikan gangguan dan membuat pikiran kalian jernih dan jelas. Ini bisa dicapai dengan meditasi napas yang mudah. Kita bisa memilih tempat yang baik dan duduk dalam posisi nyaman. Kita dapat duduk bersila atau duduk di bangku. Yang paling penting adalah tubuh kalian harus lurus untuk menghindari rasa kantuk. Kita duduk dengan mata setengah tertutup dengan perhatian terhadap napas kita. Kita bernapas secara natural melalui hidung kita dengan tidak mencoba untuk mengendalikan napas kita. Kita mencoba untuk menjadi sadar dengan sensasi seiring dengan udara yang masuk dan keluar melalui hidung kita. Kita melakukan ini selama saya memberi penjelasan. Bila kalian tidak bisa mengikuti, tidak apa, tetapi tetaplah berpikir. Pada awalnya, pikiran kita akan sangat sibuk dan kita bahkan bisa merasa bahwa bermeditasi akan membuat pikiran kita lebih sibuk. Tetapi dalam kenyataannya, kita hanya menjadi sadar mengenai betapa sibuknya pikiran kita. Akan ada godaan untuk mengikuti berbagai pikiran yang muncul………..

So one should rejoice that at this time one is not frivolously wasting time or going out or doing things that one has normally done which does not bring one, happiness in this life or in previous lives. But this time, one has sacrificed, one has given up, one has made the effort to come to the holy Dharma. This is in itself quite an auspicious event and at the time when the old year is finishing it is auspicious in the sense that we give up our old habits and our old ways of negative type acting and we are starting the New Year with Dharma on a new basis and a new motivation and a new kind of transformation, a new type of life. So it is very, very auspicious.

Today I do extensive prayers and request the masters of the lineage all the way back to the Buddha to give their holy presence here so that we may be able to understand the Dharma, listen to the Dharma, concentrate on it, contemplate on it and therefore gain the holy result which is full enlightenment.

Again one should not listen to the Dharma with the faults of the three parts. One should not listen to the Dharma with low motivation. The three faulty parts are: the part that is facing down, the part that is facing up but dirty and the part that leaks. One who is listening to Dharma with the part facing down is like someone who comes with a closed mind. So when the part is down even though it is raining hard, no water can be collected inside. The second part which is facing up and collecting the water but it is contaminated. Even if we put the cleanest and best, to put in the part to eat or whatever, it will be contaminated although the item is good. In this example, it is coming to the Dharma with wrong motivation. It is coming to listen to the Dharma to pass time, to listen to the Dharma because you are bored. In order to listen to the Dharma, in order to get wealthy, to get young, to get beautiful, to just simply to have a good life. That is listening to the Dharma with a faulty part, that in the part that is contaminated with a faulty motivation. Then the third one is to have leaks and cracks. Whatever you listen to the Dharma you agree upon, you think it is excellent, you think it is wonderful, yet one does not practice. It enters one ear and leaves through the other.

So one should not listen to the Dharma with the three faulty parts.

On should not listen to the Dharma with low motivation – that one may get good life, one may get a healthy life, one may get money, one may get a deity who helps us to get a long life, health, excellence, money, wealth. We may gain some practice which will help us get a good future life. We should not be listening or practicing the Dharma with such lowly motivations when we have such a precious jewel. When we have such an excellent jewel, when we have such an excellent method, we should aim for the highest and not settle for the middle or lower scope.

That would be that all sentient beings inclusive of oneself are just like oneself want happiness. Everyone is not different, everyone wants happiness. Everyone is completely looking for happiness. Even the tiniest ant or tiniest insect is looking for happiness. Not anyone wants one moment of suffering, one moment of happiness. On that basis, others and myself, there is completely no difference. They want happiness and I want happiness. If they want happiness, there are more of them and there is only one of me. How can I as a logical person forsake other people and think about only myself? How can I practice Dharma only for myself and nothing for other people? That is completely illogical. I will in fact practice Dharma for the sake of all other sentient beings who are suffering and who have not met Dharma and who do not know about Dharma, who have not heard about Dharma, who have no idea about Dharma and therefore are ignorant of the true method to gain happiness and the true method to cessate/stop unhappiness.

So I will listen to the Dharma and therefore by gaining knowledge and by gaining experience of the Dharma, I will put it into practice into my daily life in order that I may gain the fully enlightened state of a conqueror Buddha like Lord Shakyamuni. Therefore I shall not rest in enlightenment and come back to this world again and again and again until all suffering ceases, until the last sentient being is released. With this motivation, therefore I shall listen to the holy teaching of the Dharma.

This motivation is such that even when traveling in your car and going through traffic jams, sacrificing what you usually do, sitting here in a posture that is uncomfortable to your body, thinking and focusing becomes and act of merit, it becomes an act of Dharma. If the motivation is low, if the motivation is just to gain higher rebirths only, in order to get more health, in order to get more wealth, position and beauty and power, in order to gain friends and influences, to only be involved in social activities, to go to the Dharma centers to meet other friends, if the motivation is that it becomes not a Dharma practice. It becomes a worldly practice. These actions that you do become worldly actions. They do not become the merit or karma for you to become a fully enlightened being. It is not the actions that you do that determine whether it is Dharma or not. It is the motivation behind the action. It is the motivation.

Lord Buddha, in one of his previous lifetimes in the Jataka Tales, was on a ship traveling with five hundred merchants. Lord Buddha was the captain of the ship in charge, responsible for the crew. Although he was not a Buddha, he was a highly realized bodhisattva. Being a highly realized bodhisattva, he had very powerful clairvoyance that can read the mind of others. While he was traveling on the ship, he realized that one of the members on board had the intention to kill the other members and robbing them of all their possessions. Buddha out of great compassion, in order that the four hundred and ninety eight members are not to be killed and in order that the intended killer not accumulate such negative karma and go to the lower realm for millenniums, Buddha generated the great compassion. Buddha had no choice but to kill that person. Buddha killing that person became an act of merit, became an act of Dharma, became an act of Dharma for enlightenment because that act became completely pure, the object was correct and also the intention was faultless.

Therefore, actions that seemingly appear negative if done on the basis of bodhichitta or compassion will gain good results. Whereas actions that seemingly seem like Dharma, if you go to the Dharma centers, if you meditate, if you pray, if you do your mantras, if you make offerings, if you buy statues, if you do charity, if you help the poor, if you do these actions but the motivation or intention is to look good in front of your friends to gain position and power, to move up in life, to impress or to gain higher rebirth or to gain wealth then that action in itself is not Dharma, that action becomes stained and it becomes a worldly action. Therefore it does not equate Dharma.

So when one goes to the Dharma center, one has taken refuge, one has a nice altar, one makes offerings, one chants mantras and prayers, but it does not make one a Dharma practitioner. One knows one is a Dharma practitioner when one’s act is done without the eight worldly concerns. Any Dharma action in order for it to be qualified as a Dharma action must be free of the eight worldly concerns – the concern to encounter pleasure, the concern to encounter material gain, the concern to encounter praise and fine reputation, the concern to avoid pain, to avoid material loss, to avoid blame and poor reputation. If you do Dharma with the motivation to gain pleasure, material gain, praise and fine reputation, and to avoid material loss, blame and poor reputation, then you are not practicing Dharma. Although you can be sitting in a cave reciting millions and millions of mantras and doing millions and millions of meditation, if any of your Dharma practices is done with any of the eight worldly concerns, you are not a Dharma practitioner. You may practice Dharma for seven, eight, nine or ten years, you can practice for twenty, thirty or forty years and if you check yourself carefully and deeply, not one single grain of improvement can you find. In fact, your mind becomes lower, becomes more attached, becomes more angry, becomes more negative. In fact, you will start using Dharma as an excuse to cover up your inequities, all your mistakes, your pride, your ego.

If you are practicing Dharma without the eight worldly concerns, then yearly you see an improvement in your mind. You should definitely see an improvement in your worldly situations of/if your worldly situations are decreasing/ deteriorating and the years in the Dharma is increasing, in general it is a very bad sign. It is a sign that you have not been practicing the Dharma sincerely and well. If you find that your mind yearly becomes more and more agitated, more and more angry, more and more hateful, more and more spiteful, more and more vengeful, if it becomes any of those delusion, you have been doing your Dharma practice wrong. It is not that the Dharma is wrong, it is not that the Buddha is wrong, it is not that the practice is wrong, it is the way that you are doing it. If you have a wonderful car you cannot drive it and you have an accident you cannot blame the dealer, you cannot blame the maker, you cannot blame the car. Only yourself.

Like that Dharma is excellent, Dharma is pure, Dharma is unstained, unsullied. But one must know how to practice Dharma. And before any type of practice of Dharma one should definitely, intimately internalize – get to know, understand what is to be avoided and what is not and that is to practice the Dharma. Without any of the eight worldly concerns, if it is done with that you will not gain the results. Definitely you will not gain the results.

In general, and religious tradition basically has only one aim. Any religious tradition, the aim is to bring about harmony, love and compassion and the betterment of society or the happiness of the individual. Any religious tradition, the reason for it is to bring about a good harmonious, happy situation or happy society. Therefore on the basis of knowing that motivation, any religious teacher of the past of any religious denomination has taught a particular path according to time, geography, culture and situation of the people. Therefore those religious teachers might have changed the words or changed the circumstances but the meaning is always basically the same. Basically the same – not to harm, not to bring unhappiness to others but to increase others’ happiness, to benefit others, that is the basic or fundamental aim of any religious practice.

If a certain religious practitioner of any denomination does it wrong or has a bad way of doing things, it does not mean that the Dharma is bad, it does not mean that the particular religious denomination is bad, but the person, like the unskilled driver of a car, does not know how to practice that particular faith well.

On the basic, that any religious teacher in the world, it is the denomination that has taught a particular path to bring about harmony for us. On that basis and on that motivation alone we can gain a very wonderful respect, we can gain a very wonderful appreciation, a very wonderful overview of any religious faith or denomination. Any religious faith or any denomination is good, is excellent because it teaches a very pure path. If you want to go to K.L. from different cities such as Ipoh, Penang and Malacca, etc. we can take different types of road. We can take a rougher road, a smoother road or a faster road. We can take it by walking, we can take it by riding a bike, we can take it by taking a vehicle, we can take it by airplane. How fast or slow and by what road, it doesn’t matter as long as we are traveling on that road.

Therefore realizing the motivation of each religious teacher, realizing the magnificent motivation and altruistic intention of each religious teacher who has manifested in this world regardless of the religious denomination, we can gain a very deep respect for all religious traditions, any religious tradition and not just within the Buddhist faith, the Buddhist sect, the Buddhist denomination. Any religious tradition. On that sincere basis, on that sincere thinking, we can gain great respect for any great religious denomination.

And whether it is a correct religious denomination or not is checked, whether the teachings teach you to tame your delusions or not, and as I check the world religious teach us different methods to tame the delusions in our minds. We are so-called Buddhists within the Buddhist faith, our affinity, our karma, our propensity, our liking is within the Buddhist faith. Within a restaurant, you have many different types of food. No need to argue what food you are going to eat as long as your stomach is filled. You become full. Your hunger is taken care of. So like that, there are different religious denominations, different religious teaches and different religious methods. With the different religious there are different types of sects and methods, all are excellent, all intentions are the same. The important thing is for us to pick one.

By these religious methods, one can gain mental happiness. By worldly methods, one can gain some kind of physical comfort, one cannot gain mental happiness. If by worldly methods and worldly items and possessions we can gain happiness, then the more possessions we have, the more wealth, we have, the more power or position we have the happier we should became. In fact, if we were to check well, people in high places or high positions, people of wealth and power are quite unhappy. They do not have free time. They have a lot of health problems, they have a lot of worries. They have a lot of tension. Even when they die, at the time of death, they cannot die in peace, wondering what’s going to happen to the hard-earned wealth that they are going to leave behind them, who’s going to handle the mantle. What’s going to happen to their hard-earned wealth.

People who are worldly and ignorant do not know what brings happiness, are attached to worldly things – diamonds, cars, houses, mates, friends, position and power. Worldly people who do not know the methods of happiness are attached. Therefore if they have a car, or a diamond ring, or a nice house then every single day they have it, they should create more and more and more happiness. In fact, when we have a new possession for the first few days, we may feel kid of transitory happiness but as the days go by, it becomes a problem or a source of suffering. For example, the car, you have to maintain it, we have to pay its fees. We have to make sure it is not broken. We have to make sure we park it right so that no one hits it. We have to make sure that it looks nice, that the paint doesn’t crack, that is clean and wash it. And when it is getting older, we sell it off. These are subtle sources of suffering. These are subtle sources of unhappiness. Yet our ignorant mind grasps on to such an object and think it is a source of happiness, yet not knowing one is suffering, yet not knowing that one is unhappy.

That is applicable to all Dharmas. All Dharmas in this case means all phenomena, all objects that we are attached to whether it be a mate, a friend, or a person we are married to. Our wife is very young, our wife is very beautiful. We are attracted but as the years go by maybe she gets a bit of paunchy, some lives started coming in and we start looking at other people, we start looking at other things. It shows that all phenomena are transitory. It shows that we are attached and that we like things that we think bring us happiness, bring us some kind of comfort. If it did bring us comfort then from that day we possessed and owned it, every single day, the happiness should increase and become better and better and better.

It doesn’t mean that you should go and throw away your jewelry, your rings, your bank accounts, your wives. It doesn’t mean that. What it means is not to be attached to it. To have it, to possess it but at the same time to realize that those are not what bring real happiness. They are supplements to keep your body fit and your mind in shape so that you can look and practice Dharma to gain real happiness. You should have a comfortable place to stay, you should have proper food, you should take care of yourself. If you are in a job in a high position and you need to be effective to impress others to get business, it is all right. But you have to realize that itself is not an end, and that itself is not good enough to justify yourself to only do that and not practice any Dharma. Oh, I must take care of myself. I must be well. I must be in position. I must be this and this and that and that. That is not justifiable. Everything is transitory. Everything is transitory. Everything must come to an end. Again it will generate itself in another form, again it will dissolve.

Yesterday, we gave the teaching on continuity, or continuum. Yesterday, what I spoke on, I will tell you very briefly again. The teaching on continuity as spoken by the great Dharmakirti.

Everything moves on continuity, everything is continuous. It has to have a beginning. It has to have an end. The beginning is beginning-less but end has an end. There is the cessation of sufferings. Like all phenomena, as I talked about, have to have a beginning. A piece of paper. It must have been to the press, it must have been to the printer, before that it must have been pulp, it must have been a tree, it must have been a sapling, it must have been a seed. It must have been born from a previous tree and that from a previous tree and on and on. In fact, the lineage is uncountable.

Like that our human body is also uncountable. Our human body is innumerable. It has no end and it has no beginning. We, our human bodies in order for it to exist at this moment, it might have had previous existence based on logic. Our human body existed at 8 o’clock, it must be around at 7 o’clock, it must be around at 6 o’clock, at five, at four, at three, yesterday, the day before, last month, last year, ten years ago, whatever. If we were conceived at 10am as I explained yesterday, our body at 9:59 was apparently inside our parents. The white cell of the father and the red cell of the mother. Those two cells must have come from our parents. Those two cells must have come together at 10 o’clock. At 10 o’clock, we were conceived. At 9:59, our body also had a previous moment. At that moment we were inside our parents. Like that when we trace back and back and back, again and again and again, our parents must have come from their parents and from their parents and from their parents and so on innumerously/innumerably. So innumerable that it is uncountable, almost uncountable beyond human comprehension beyond comprehension. Innumerable. Therefore at 9:59, you enter the womb of the mother and took formation (you were conceived) at 10 am. Similarly, that’s where your physical body came from.

Now in order for your mind to exist at this moment, it must have been existing a previous moment. It must be existing at 8:19, 8:18, 8:17……. It must have been existing at 8 o’clock, seven, six. It must have been existing yesterday. You see, the mind, ‘kicit’ means instantaneous moves instantaneously. It moves like this, like this (Tsem Ripoche demonstrates). It moves constantly to form a continuum. The mind doesn’t just exist and then goes. In order for it to have an existence at this moment, it must have a previous moment – a previous, a previous, a previous to form a continuum. Therefore, 8 o’clock, 8:01, 8:02, 8:03, 8:04, 8:05, …06, …07, …08, …09 and so on continuously. In order for the mind to exist tomorrow, it must exist today, it can’t just appear tomorrow. Like that, in order for your mind to exist at 8:20 now, it must have existed at 8:19. It was continuous – 8 o’clock, 7 o’clock, 6 o’clock, yesterday, the day before, the previous month, last year, all the way back to when we were ten years old, nine, eight, seven, six, to the time we were one year old.

Then we move back to the time when we were inside our mother’s womb – the nine approximate months of gestation. Your mind was still existing in subtle form – not as active as now but still existing. Now when you were conceived at 10 o’clock, at9:59, you mind must have existed. In order for your mind to have existed at 10 o’clock, it must have existed at 9:59. Think about that carefully. It must have existed at 9:59, and therefore existed at 9:58, 9:57 … 9 o’clock, 8 o’clock, 7 o’clock, 6 o’clock, 5 o’clock. If you were born on the 24th at 10:00, where were you on the 23rd at 10:00, on the 22nd at 10:00?

Now if you say your body come from your parents, it is logically correct and can be scientifically proven. But if you say to me that your mind has come from your parents, scientifically, logically, I can debate with you. Then if your mind at 9:59 came from your parents, it came out of your parents and entered your mother’s womb, therefore to created your mind, then your mind must be a perfect off-shoot of your parents’ mind – your thinking and your likes and dislikes in this life. Therefore if your parents are geniuses, are experts and good in music, you must be likewise, you must be the same. If your parents are not intelligent, you must also be unintelligent. If your parents are highly intelligent, you must be geniuses. If your parents are experts on computers, you must be also. If your parents are simple farmers, you must carry on and be a simple farmer. True, certain conditions, certain things that we like may be conditioned by our parents, for a period of time because we have been with them for a certain period of time and we have been conditioned to like this and that, and this and that. But deep down inside our way of thinking is completely different from our parents, mostly. 99.9% of the time our thinking is different from our parents, that 0.1% that we meet is coincidental. So if that is the case, we can logically refute and say; If our mind was existing at 10:00, logically it must have been existing at 9:59. Now, you can ask yourself where was that mind at 9:59? Where was that mind at 9:58, 9:57? It must have existed in order for it to have exist at 10:00. All phenomena must exist on a continuous basis. It must have a previous moment in order for it to happen the next moment. It cannot just spontaneously arise at 10 o’clock. Any phenomenon, any object whether it is living or not living. So where was your mind at 9:59, 9:58, 9 o’clock, 8 o’clock? It must have been existing outside of that womb in another form, perhaps in another dimension. That was your previous life. So in order for you to have your mind now, in order for it to be existing at 10:00, it must be existing at 9:59, most probably in your previous lives, carried on.

Like that if you die at 11 o’clock, whatever date in the future, at 11 o’clock, your body starts to deteriorate – it is deteriorating, but it will deteriorate at a faster or quicker rate. It will deteriorate starting at 11 o’clock at a faster rate. After a few months, you can say that it basically completely goes, except the bones which will deteriorate again and again. It goes back into the earth and generate into another form. It generates into another being, with mind or without mind. In fact, it will become nourishment for another type of living being. So your body degenerates and continues in another form.

Then at 11:00, where is your mind when you die and leave your body? Where is your mind at 11:01, 11:02? Your body continues to exist in another form and your mind will also continue to exist in another form. It will continue. That will be your next rebirth.

What determines you to take on a future rebirth? Where? Within the six realms: the hell realm, the petas realm or spirit realm, animal realm, human realm, demigods or deva realm, highest god realm – not god as a Buddha or Pusa, not this sense of gods but gods with worldly sense pleasures. Your rebirth in one of the six realms again according/are in accordance to the dispositions and the imprints that you have collected in your previous lives and most importantly in this life and more importantly the state of mind at 11 o’clock that you have died in will bring up the karmic imprints that you have accumulated in this life and your previous lives. For example, you could have been a great farmer cultivating plants, flowers and whatnots. You could have been a simple gardener cultivating flower seeds you have taken the time to put the manure on the ground, take weeds and pebbles out to make it smooth and soft, pliable, plantable. Then you plant the seeds. You water it everyday and protect it. You keep the dogs and cats away. Then when just the seeds are about to sprout, at that time if you give good protection and you watch it well, then it will sprout strong and big. Then at that moment, one of your kids come by and trample on it and crush it. Or a bird can come by and thinking it is a work kills it. Or cat or dog can come around and urinate on it and kill it. At that moment whether it will grow or not depends on your protection. Similarly at the time of death, although you may be a great Dharma practitioner and you have worked very hard during your life, but if your greed, avarice, hatred and anger are not controlled at the time of death, you worry: What’s going to happen to my family? What’s going to happen to my possessions? What’s going to happen to my position, my name, my fame? What’s going to happen? And if you become attached and due to your attachment, your previous karma that you have collected that is negative will sprout immediately. Whereas if at the point of death, you keep a calm, pleasant and good state of mind focusing on the three Jewels: the Buddha, the Dharma and the Sangha or your guru (sifu) or any Dharma teachings, and you focus and be detached, then immediately the Dharma seed will sprout and you take on a good rebirth immediately.

But that doesn’t mean you don’t have any bad seeds or if you take a bad rebirth that doesn’t mean that you don’t have good seeds. It means that at that very moment, the moment of truth, the positive seed that you have collected will sprout. Right now we are filled with karmic imprints or karmic seeds. When and how they sprout is determined by what mental activity you focus on. If you focus on negative activities or harmful things, negative seeds will come out, will sprout. Similarly having a good flower bed, whatever flower you concentrate on or cultivate will grow better. So if you cultivate and you work on your good or positives seeds, therefore, your positive seeds will arise. While you are working on your positive seeds, then the negative seeds that you have accrued in your previous lives and in this life will slowly be purified, by purifactory/purification practices. Whereas if you concentrate on negative things: lying, divisive talk, harmful talk, harsh speech, stealing, adultery, killing, any of these actions.

And if you gain some kind of success or you gain some kind of temporal or transitory happiness (if we may label it happiness), and if we gain it, it doesn’t mean you are doing well. What it means is that in your storage, or bank of karma, the good seeds are being used up and only the bad seeds will remain so that when you die you will in fact immediately take a bad rebirth. Immediately, you will take a bad rebirth. It is like we have a bank account. We don’t make more money and we replenish it. If we use it frivolously over again and again and again, definitely it will exhaust. Whereas if we use it wisely and replenish it more than what we use, we will definitely have a lovely and wonderful savings. But if in this life if we frivolously spend our good karma by taking care of our physical health, our well-being, our sensory and physical pleasures and we use the good karma we have collected in our previous lives and in this life for frivolous activities, sensory pleasures, then we are using up our positive karma and we will only have negative karma. That is why certain people are very wealthy, very successful and very high in life and all of a sudden they fall flat on their faces. They lose their positions, they lose their name, they lose their everything. And they suffer, and they cry and scream, they run out and look for help. They are desperate. Because they have been using their store of good karma for the wrong things and not replenishing it with more positive karma.

Whereas a Dharma practitioner is modest in his possession, in his activities, in his sensory pleasures and therefore uses very little of his good karma and at the same time practicing Dharma and collecting more positive karma adding to what they already have, replenishing and increasing. Therefore, a Dharma practitioner will only move up. And if a Dharma practitioner has more problems and more sufferings, and if a true Dharma practitioner has more problems and more heartaches, it is a very good sign. Why is it a very good sign? Because the karma for them to suffer in a deeper or more harsh and rough environment is being exhausted. For example, if you were very thirsty, if you have the karma to be thirsty, if you have that karma, if you are thirsty as human in this human realm in this OK country, in this OK environment, even though you are thirsty, you suffer for a short while thirst, you can go out and get something to drink, ask for something, look for something, buy something. Whereas if you are thirsty and are in a hell situation or animal situation, you will not be able to get anything for yourself. It is the same karma but due to the environment, the suffering will be more or less. Is that clear? Does anyone have questions on that? I want that to be very clear.

If you were to suffer the karma of being thirsty in the human realm, the thirst will be temporary and short and not as hard or difficult to bear. Whereas if you have the same karma in a different such as in the animal or the spirit or hell realms, you will not be able to take care of your thirst. It is the same karma. Like that a good Dharma practitioner if you get sufferings: financial disasters, disharmony, hate, heartaches, discomfort and sickness, you should in fact rejoice with dignity. If you are a real Dharma practitioner and accept your lot. You should realize, that you are purifying your negative karma now, and by the blessings, of the three Jewels and the gurus and your purification practices you are suffering your negative karma now and therefore you will not have to suffer in the future. For example, if you did lots of ‘Om Mani Padme Hum’, you are meant to have a car accident and you help or assist a lot of people and you do charity and you control your anger, our human desires and lust, you control them to the best of your ability and lessen them and practice, you still have the karma to have the accident and maybe you were supposed to break both your arms and legs and maybe even injure your spine in the accident but due to some purification practices you have done, you still have the accident but break only one arm, as opposed to both your arms and your legs as well as your spine. Whereas if you increase the power of your practice, you can even prevent yourself from having any broken bones – just a light accident. Whereas if you purify your karma even more by practice, instead o f a heavy crash, you have a light skid and may be a slight dent and if you practice more, you may be able to purify the karma completely that you do not have an accident at all. It can affect your karma, it can affect what happens to you but you ultimately have to do it. They will teach you, show you and explain but you in fact have to do it.

If you know you are going to have an accident tomorrow and Kuan Yin comes to you in a dream and says to you: Don’t go tomorrow. But you don’t listen to her words, you are too excited to meet your girlfriend or your boyfriend. You are too excited to go to the disco. You are too attached to your girlfriend or boyfriend and you can’t let go. You don’t heed her advice and you get into an accident. It is not Kuan Yin’s fault. She did her best to protect you. You ultimately have to suffer the karma. Whereas if in the beginning you have lessened your delusions, attachment, anger, hatred – if you have begun lessening that and then if Kuan Yin gives an answer in your dreams a warning and you listen because you have already lessened your attachment, instead of going to see your boyfriend or girlfriend in this bar or disco, you call up your boyfriend or girlfriend and say, ‘I can’t make it today, please forgive me’. And if you don’t go you can avoid it.

That is a very rough example. You are taught the methods, you are given the methods. It is up to you to practice.

If something goes wrong, don’t go wailing and crying to your teacher, don’t close up your altar, scream at Kuan Yin, scream at Buddha and say, ‘Why you didn’t help me?’ That is not logical. When you do that it may be very dramatic. Other Dharma practitioners who don’t know much may say ‘Oh yeah, that’s true’. But people who know the truth, people who understand the workings of Karma will in fact have great pity, will in fact have great compassion and say, ‘ Oh he/she doesn’t understand, never mind.’ The Buddha can work only if you agree and you try to do it. The Lamas, the Ripoches and the sifus and the monks can only do something for you if you agree to do it wholeheartedly, not half-heartedly, not quarter heartedly, not one or two percent but one hundred percent. OK, now if we have to bargain, let us make it fifty percent for now, but at least make an attempt. These teachings are designed to take you out of suffering, not designed to imprison you.

Just as I explained yesterday, a railing is designed to protect a child from falling over the ledge. It is not designed to imprison the child. The rules of a country, the rules of a city, the rules of a house, the rules of a school or institution are there to protect the individual on the whole, not to imprison the individual. If the rule is based on truth and honesty, then of course, it is designed to protect the individual.

Like that the Buddha teaches things to protect you. The Dharma is protection. The real refuge that you go for protection and your trust is the Dharma. When you actually practice the Dharma and you engage in the Dharma, and you read, contemplate, think, and you enact the Dharma in your lives, you will see that things will be different.

If you enact indifference/act indifferent and if you do not practice the Dharma, how do you expect true, happiness and peace to come? If you think it is to get a higher or better job with a bigger salary, expand your work, expand your fleet of cars, expand your fleet of wives, no. If that were the case, then the more wives, the more cars, the more jewels you have, you should be in continuous non-stop bliss! And I don’t think any of us are.

Therefore, think about the workings of karma. Now you may think, Well, I have already created this karma, I will have to suffer, what I have already created. I have no choice. No, that is not the case. There are certain types of karmas that you have which you cannot stop anymore, which already have sprouted. There are certain types of karmas that you do not have to suffer, which have not begun to sprout or which have yet to sprout. For example, if you are very sick and through this sickness you are meant to die, very severe sickness and you are meant to die, and you do good practice and you do purification practices and you do excellent practices. You do practices to purify and to collect good karma, you will still get sick but at the same time maybe you won’t die….at the same time you won’t die. You will live, you will continue. How much you enact the Dharma and how you practice in your life, how much and the degree, and the sincerity and the authenticity of your practice will reflect in your daily lives, immediately, in your attitude and in your mind. Immediately. Slowly in your way of life. Example such as your physical form and the place you live, that karma has sprouted and therefore you are in that particular physical form, that particular shape, likes and dislikes. It has already sprouted. There is not much you can do about that. But things such as sickness, things such as your ignorant mind – these things can be changed because the karma has not fully sprouted. Why has not fully sprouted? We can see it because the mind can still be changed. Health – we can get well, there are medicines, there are methods. Think about it clearly.

Things that you cannot change because the karma has ripened you accept with dignity, with a grain of salt, and accept with grace and not scream out, shout out, fight back, kick and grovel on the ground and complain about your lot to others again and again. What benefit does that bring? Whereas things that you can change, you do something about it but you it at the right method. If you have financial difficulties and financial problem, for example, don’t shout and scream and talk about and advertise it. But do something about it. Do something about it on two level: on a spiritual level and on a worldly level. The spiritual level is to meditate on miserliness and the effects of miserliness. And therefore, your mind starts to detach itself from miserliness and therefore cut off future potential to suffer poverty. On a worldly level, you do not do crooked business – lie about your products, lie about your skill, lie about what you have not done. You should pursue what you are doing in a worldly way honestly with effort and with enthusiasm. And then through those two methods, you can make a change in your situation. If you have problems in your difficulties and they are the result of your negative karma due to negative, negative actions, how can you further your situation with more negative actions, thinking that if I do this and I get my lump sum of money, I will do good actions. Impossible! Illogical! Good actions create good results. Negative actions create negative results. If you have a negative result now and you perpetual it with further negative actions, hoping to get a positive result, it is illogical. You cannot plant an orange seed and wait to get an apple tree. And when the apple tree comes up what happens? Excuse the term, you are playing stupid! If you do business, as an example, or you apply anything in your life, if you do it with negative intention, negative method, or positive method with negative intention or good intention with negative method, you will not get positive results. Temporarily may be you get some money. Temporarily you get some relationship or friends or comfort but ultimately you will suffer, now and in your next life. So how can negative actions bring about positive results? It is not logical. It has no basis. You can ask any spiritual denomination. Anyone in the world who has any type of logic, any spiritual teacher, any religion. If you ask, that will be correct. How can negative actions bring about positive results? How can small negative things and a little positive things mix around together to bring about positive results? It cannot! Please think about it with your intelligent educated minds. This is not something for you to accept on the basis of faith. It is not something that is pounded in your ears, to say that if you don’t believe it, you will go to hell. This is logical, it is clear, it is black and white. Think about it.

When you think about it ‘Toh tu nah’ which means that if you can perceive it then realize that it is true, then enact it into your lives, apply it into your lives immediately. Not tomorrow, not after the business deal. Immediately! And any negative actions that you have collected from your previous lives and in this life that you have done negatively you do not have to suffer the results. You definitely do not have to suffer the results. Any actions that have been accrued by killings, stealing, sexual misconduct, lying, divisive speech, hurtful speech, idle gossip, covertures malice, holding wrong views. Any of those actions based on the root negative deeds that you have done in your lives (this life and in your previous lives) whether you can remember or not. You do not have to suffer the results. You do not.

On what basis? Karma is impermanent and therefore it can be changed. Karma is not permanent. All phenomena are impermanent and therefore karma is phenomena – one type of phenomena. Logically, you can change that karma. You can redirect it.

If we have a snow mountain and lots of snow of has fallen and the sun has been unusually hotter and more snow has melted, eighty, ninety kilometers down there is a small village which usually enjoys a river that has more water flowing during that season. But this year there is danger that it becomes wiped out by flood. If those people take preventive measures they can avoid destruction. If the mountain is here and the village is here, half-way down they can build trenches or dams to divert the water from the village, instead of straight away to the village. We make trenches or rivers going this, and this way, several rivers to divert the force of the river to bypass and circumvent around the village so that the villages is not destroyed. Preventive measures.

Like that the snow mountain is like the store of your negative actions, collected on the basis of the ten non-virtues which I have mentioned yesterday and today in detail. And collected by body speech and mind that may be averted or diverted or lessened. When your store of demerits are lessened, such as like the snow on the snow mountain is ready to come down, the sun is like the environment cause or condition. Environment does not only refer to the place around here but to the people and the way they think. When the snow is about to melt and come down to destroy the village (the village is yourself), if you take preventive measures you will definitely lessen its strength. Definitely you can lessen its strength. By that you did not push the water up, you did not dry up the water, you did not destroy or evaporate the water. Like that you cannot make your karma disappear, you cannot destroy your karma, you cannot avoid your karma like the river but you like that you can lessen the karma and its effects. How? By purification practices.

What purification practices? Many. But all purifactory/purification practices are based on the four powers, ‘Tok shi’ – four opponent powers, all purification practices are based on the four opponent powers. The purification practices regardless, can be prostrations, mandala offering, vajrasattva mantras. They can be visiting the holy places, offering to the Three Jewels, performing charities, etcetera, etcetera, for it to have any effect. For it to have effect will depend not on the amount you do, how you do it, where you do it. For it to have any effect any purification practices must be based on the four opponent powers. Number one is remorse, regret wishing that you have not done it, to be ashamed of it and not to parade around like a peacock and be proud of your negative actions and be proud that you are evil and be proud that you have a big mouth, be proud that you can fight, be proud that you can sway people, be proud that you can buy people, be proud that you can push people around because you have some power, position or wealth, to parade around like is shameless peacock, but to actually have shame, to regret, to remorse from the heart and that regret and remorse will be based on knowing that these actions will bring harm and unhappiness to oneself in the future again. Therefore, fearing the consequences for oneself and others. Knowing on a logical sound basis, that this will come to you and you do not want to experience it you will not want it to come like that silly village down there enjoying having parties, not worrying about the flash flood coming. Jumping up and down singing karaoke, whatever, and when the flood comes everyone is killed except a few survivors and everyone sat around and mourn. ‘We should have done something. We should have done something’. Too late. You should do preventive practices. Number one is remorse and regret.

Number two is to resolve not to do it again. A deep resolve not to do it again. If that action is very strong and you cannot uproot it immediately, at least take it out slowly and gradually, if not immediately. So if you lie, if you scream like myself – I scream a few times a day at my monks – try to make it nine. It used to be fifteen by the way, and now it has become nine, nine and a half. Sometimes it goes back to nine, sometimes it goes to nine and a quarter. Now I want to make it eight. My New Year resolution is to make it to eight – my screaming at my attendants and monks, eight. And then next year, seven. That is reachable. That is a good and reachable goal. That is not because I am doing it but because I don’t want to be screamed at in my future life. In this life because I am so attached, and because I am so conditioned, and because I am unenlightened and because I am an ordinary being, I realize I do that, so therefore, my New Year resolution, tonight at 12:01am will be to scream at my monks eight times a day, and not nine. But actually I am going to work a little harder – I am going to make it five or four. In any case with the delusion that we have the strongest, whether it is desire, whether it is screaming or shouting, whether it is the wish to lie about a product that we have that we know that is third class and we say it is first class or second class. Or if we have attachment to certain people whom we know our detrimental to our lives we should gradually lessen those actions step by step. How? By realizing that damaging effects – number one. By knowing immediately these have a damaging effect and ultimately we will suffer because of the negative karma accrued from those negative actions. Therefore number one, to have remorse. Number two to have sincerely wish not to do it again. Not smoking in front of your friends in a karaoke bar. This year I am going to buy one Mercedes less. This year I am going to have one car less. This year I am going to scream at my wife one time less, at my husband one time less just to impress my friends. And then when we go back we do it double, we do it more. That is not true result. And no matter how much fun or entertaining it might seem at the moment when the results of those actions come and ripen, you will be in deep trouble, deep, deep trouble – and then you will grovel and scream and wail and roll on the ground and cry and pull your hair out. And run to your sifus, run to the Taoist temples, and run to the monks. That’s where I get my business! So don’t give me any business. No more business. That’s when you run to the Kuan Yin temple with joss-sticks shaking, crying, on your knees, wishing for help and assistance. Too late! Too late! When you have an accident you run to the Kuan Yin temple and say, please don’t let me have an accident – not very smart.

But you avoid it from the beginning – the first is remorse, the second is the true resolve not to do it again and be compassionate with yourself. How come I didn’t become a Buddha on the third of January and you jump off the cliff. You run back to your sifu. You give your books back, you give your statue back. ‘This is not for me – it doesn’t work.’ No, you have to understand that you have been in Samsara for thousands and thousands of years.

In this life, if you eat a lot of cake like me, you like cheese cakes and black forest, the minute you walk to the bakery, your heart starts to palpitate because you are excited. Every time you say ‘Diet, diet. I will go on a diet’ but if someone brings you a cheese cake out of love, you make up an excuse saying, ‘Oh you are so kind, if I don’t eat it I will hurt your feelings. If I don’t eat it, it goes to waste.’ It shows a lack of strength of character in myself! So if I take the cheese cakes on a continuous basis like what I have been taking. I look at myself now – 50kg heavier than when I was in 1992, more health problems. And if I go on this way, I will destroy my health, destroy it. Forget about the physical appearance which doesn’t really matter but health wise I destroy my precious human body, like that to be compassionate even to yourself you realize that in this life alone we have a bad habit. How hard it is to pull it out. How hard it is to uproot it. How hard it is. If small habit like my cheese cake habit is so hard to uproot, which I feel is very difficult to uproot, and I haven’t uprooted it and my friends are not helping me. It is so difficult. I have attachment for lasagna, cake and spaghetti. Whenever someone says, I bring that to you, my mind says ‘no’ but my mouth says ‘yes’. I don’t know why. If is automatic. In any case the habit is so strong. It is just an example.

So with small habits like that if we cannot get rid of how can we expect to get rid of ignorance, hatred, desire, jealousy, anger, malice, covetousness in two, three days, in two, three years? It is illogical assumption that you can get rid of it so fast when you have that habit for so many previous, previous, previous, so many lifetimes – innumerable! How can we just get rid of it in two, three days? Then we give everything back: our dharma, our malas and we go to our sifus and say goodbye and we go to the karaoke. No, it cannot happen so easy like that. Be compassionate and be forgiving with yourself. But don’t be too forgiving, then you go off the other bend. Next year Rinpoche, next year. This year it is not going to work for me. I have already fallen off the cliff.

Not to go extremes, both extremes, go the middle way. But if you shout ten times a day like me, you make it nine. And believe me, with training, with effort and enthusiasm and with contemplation on its disbenefits you will definitely be able to uproot it. You will definitely be able to lessen it. I have been able to lessen my shouting for sure. I have many witnesses. I have lessened. Like that I have lessened my jealousies. I have my hatred and vengeance. When I was in America, if someone did something to me, I wouldn’t speak to them for months, not because I hated them but because I just ignored them, let them go. Now if someone does something to me, I just ignore them for a few days, not out of hatred but to let the person simmer down and myself simmer down and with prayers and hope that in the future it won’t happen again, very sincerely, I am telling you. I am not so easy anymore to fall into those traps, not because I am a Rinpoche, Rinpoche will not throw the label out. I know I am a human being with a lot of faults – a lot of pluses. The aim here is to increase the pluses and to lessen the faults. And thank goodness I have Dharma to show me how. In this case, Buddhist Dharma. Again here, is to lessen those faults. So by being compassionate and forgiving and with time and patience even with yourself, you can lessen those activities.

And you can make a promise not to do those again in the future. And gradually you make eight, seven, six. Even if you take fifty years to get rid of your anger, it is fabulous. Because you will never have anger again, therefore you will never collect the karma that comes from anger and therefore you will never have to suffer the repercussions of that effect which is to be born in a barren land, a land that is bare and scarce in nourishment. That is rough that is dirty. You will avoid rebirth in that. And that rooting out of anger can be taken with you because the anger is from the mind and when you die you take the mind with you. Therefore, if you take your mind with you in the next life you start with one step ahead: no anger, you work on jealousy. Then next life more and more and more. Eventually to enlightenment. But if you use your precious human life with ten endowments and eight freedoms that I have taught yesterday in detail, if you use your precious human life to accumulate wealth, long life, friends, beauty, power and position, etcetera, if you do it for those reason and because they are not associated with the mind you cannot take them with you in your next life. They will be left behind and therefore they are bereft of any benefit in the ultimate term. Therefore they are empty. So if you waste your life hundred percent on these transitory, transient, temporary, illusive happiness, when you leave you will be very unhappy.

Therefore to focus your mind on what will really bring you happiness which is the complete destructing of delusion: the three main delusions being ignorance, hatred and desire. The three if you condense them in ignorance, which is what binds us to suffering, uncontrolled existence.

People like his Holiness the Dalai Lama, His Holiness Sakya Trinzin, Tenzin Khenytse Rinpoche, for example, those beings are not in cyclic existence without control. They are here with control, with power, with intention, skillfully helping others out. That is a different situation, like when Buddha took birth on this planet controlled, with the intention to show the final enlightenment. He could have got enlightened in the Garden Heaven (Tushita) but he purposely manifested enlightenment in our world as an example, as a play for us to emulate upon.

Like that if you destroy all your delusions and all their extensions ten you can definitely gain great happiness on the logical basis that when these delusions are acted out you will not act upon them. When you do not act upon them, you do not accumulate further negative karma, therefore you will not suffer the results. That is very logical.

That’s why Buddha says you do not need to depend on an external god, an external deity. You do not need gods and deities and spirits to get you to enlightenment. It is for you and yourself alone. Salvation is in your hands. On that logical basis, please meditate and contemplate and think about that. You know when you start contemplating and meditating and when our attitude changes and therefore your actions. Don’t think about meditating on naked deities with consorts, fifty thousand arms, lots of heads, wrathful in the middle of fire and smoke, riding on horses, mules, chickens…. I don’t know what they are riding on. Don’t think about meditating on these deities that are fat or skinny, different colors if you do not even try for a minute to change your own delusions. Those deities are covering their mouths, laughing at you and at the same time trying to look compassionate when you lookup at them because that is not the way to enlightenment.

If you recite a few mantras, make offerings, do a few prostrations, make images of Buddhas, keep a picture of our guru, stuck on our forehead and can become enlighten, then we would have been enlightened a long time ago. I have been doing that for years and I am still not enlightened – far from it. That’s my guru. I have gone for this refuge ceremony, I have gone for this initiation, I got this statue, that Mala, I have gone to India, my gurus are His Holiness, the Eminence, is Faultlessness, his Worship and on and on and on. Yet look at us: shameless heaps of negative karma! Untouched.

Therefore to make your new year’s resolution immediately your New Year resolution, your life resolution to decrease your delusions step by step by step immediately based on sound backing. That is the second of the four opponent powers. And some of you are thinking, oh do we have time for the third and fourth? Yes, we do. First: remorse, second: make a vow not to do it again. Even if you don’t want to do it again, make small vows. You go in front of the Buddha, your Kuan Yin, your sifu, your meditational deity, yourself, if wish for happiness and you are a free thinker and say: Today from 9am to 9pm, I will not shout at anyone. And tomorrow you shout a little and the net day you take the vows. Then again and again and again. Gradually lessening that. I do that. I do for one hour at a time, not one day at a time. I know myself. I’ll say from 9:00 to 10:00, I won’t shout – that’s the time I am usually sleeping, I usually wake up at 11:00. No need to have a big Rinpoche on a big throne in your centers. You do it yourself, you have communion with the Buddha. You say it in front of the altar. It doesn’t matter if it is Kuan Yin or Shakyamuni or if the Buddha image is porcelain or clay or whatever. To have communion with the Three Jewels and consciously say: from today on, from tonight I will not do it. That is it.

That’s the secret. No mantras, no bells, no initiation. Sorry, if you can sit there and think about cheese cakes and spaghettis and boyfriends and girlfriends and going out to the karaoke, and celebrations and drinks and while you are meditating a nice lady walks by and you look at her. The mantra is not going to help you. It’s not going to help you. It is not going to do a thing. Then you put the mantra on tape on the table and let it play round and round and you can just take a nap. If you can get enlightened like this you come and see me and I will try it. That is not the way to make your commitments. weekly commitments, monthly and increase it to yearly and increase it to life. Be practical, be forgiving, be compassionate and be simple with yourself and know your limitations. If your limitations are great, wonderful. Don’t shout the next morning ‘I have made this commitment’ and then fail and look stupid in front of your friends. Be a real communion, be a real commitment.

Number three is to do purification practices, antidote practices – any antidotes such as Vajrasattva meditation, The Thirty-five confession Buddhas meditation, taking refuge, prostrations, mandala offerings – any of those practices. Visiting holy places, serving your teacher – any of those purificatory/purification practices will help to purify your already accumulated negative karma.

Then number four, the last of the four opponent powers, is to do the opposite of what you have been doing. Instead of shouting, speak softly, instead of having anger, practice patience. Instead of being attached, try to be detached. When you see people who bother you and drive your crazy, force a smile and then go away and don’t say anything. If you like to gossip about people, lessen it, stop it. If you are used to upgrading your credits but you know you are in the lowest grade, stop it. You make a little money now and later you will be suffering poverty, look out into the world and see how many people are poverty stricken and how many people are actually wealthy. The ration is quite a bit difference. To do the opposite actions: to develop compassion, to read Dharma books with good motivation, to take refuge, to do meditation, to listen to the Dharma, to contribute to the Dharma emotionally, physically, financially, anyway that you can sincerely.

If you do these four opponent powers and you apply that to any Dharma or purification practices, definitely, surely and steadily you will become purified. And you will get the signs and dreams of purifications. For example in your dreams, you will have signs that you are washing your guru, washing a Buddha statue, vomiting, walking up a mountain, seeing the sunrise, seeing the moon rise, or coming out of quicksand, or coming out of a deep pool. You will have these signs and very clearly. That I can guarantee you.

I am not saying that I am so purified, I am so excellent, but one day I was in the dark doing some purification practices. I had a dream that H. H. the great Zong Rinpoche came. Zong Rinpoche is one of my root gurus. H. H. Zong Rinpoche came into my room and I had a bucket of water and use it to wash his feet, and I was washing with lots of live and care. I was washing them and dried them and put my head over them. And then I woke up very happy. Then I asked one of my other gurus who was with me, H. H. Drikung Rinpoche of Kagjupa sect, and I said to him that I had these signs and asked what does that mean and he said, ‘Oh, your purification practices are taking effect.’ This I share with you but not to say that I have attained. I still have a lot to attain. I still have a lot more to purify. But because of those purification practices I can tell you that a lot of sicknesses that would have come to me have been avoided and the sicknesses that have come to me have been very much less and the degree is less. And also when I take certain medicines it takes effect.

Purification practices work and it must be based on the four opponent powers. If the four opponent powers are applied and you do the purification practices you will be able to purify your karma, good karma. And if it is dedicated for bodhichitta, for enlightenment, it will become merit.

There is a difference between good karma and merit. Merit is what propels you to enlightenment. Good karma is what propels you to good rebirth in this life. They are different. Merit can equal both but karma cannot equal both. Merit will give you a good life, good situation, good sustenance, friends, family and position, power and etcetera, etcetera, and those accessories if I may, will help you on your journey to enlightenment. Whereas good karma, not merit, that is collected on the basis of false or wrong motivation will give you good wealth, happiness like family, high caste, etcetera, etcetera, but will not propel you to enlightenment but will in fact bring you down in samsara. For example, Mother Theresa has wealth, and power and standing in the world in fact propels her to enlightenment. And enlightenment is also in our hands. Do you see the difference between merit and good karma? There is a big difference. Do not mistake yourselves.

Therefore it beholds us to make a very good motivation before any Dharma talk, any Dharma action, any prostrations, meditation, practices, pilgrimages, meeting our guru. In fact, any charitable actions before we do, we should develop an extremely good motivation. Therefore that action will affect the collection of merit, not good karma.

The result of good karma is someone who is very wealthy and rich and just give away to show friends, to show how wealthy they are, how their position is. What they do is good but the result will be rebirth in the human realm again in the future with some sort of wealth, or as a god with some sort of wealth but that wealth will pull them down. They can be reborn in a family that is very wealthy but they experience beatings, sufferings, abuse. They can also be reborn in a very wealthy family as a French poodle, getting wonderful food, getting wonderful bath, getting your fur trimmed. You can be born into a wealthy that does not take care of you. You can be born in a wealthy family and enjoy wealth for a few years and die. Or you can be born in a wealthy family where you are excluded from inheritance. Wealth and charitable acts do not equal charitable results.

Charitable acts with good motivations will equal good results – enlightenment, regardless of the actions. Like a mother scolding her child out of love as opposed to me scolding my mum out of anger. Both are scolding but the motivation is different. Therefore the results will be completely different. It is very logical. It is not the action.

Therefore one must apply the four opponent power: remorse, the resolution not to do it again, antidote – any antidote application such as Vajrasattvas, such as prostrations, mandalas, purification practices, and fourthly to do the opposite of what you have been doing such as to do charity, to have compassion, to meditate, to study in fact to substitute your negative activities with your time of positive activities. That is very basic, that is very fundamental, that is in every religious faith. Therefore as I told you at the beginning of this teaching that the teaching of every religious faith is fundamentally the same. Now, what is left for us is to do it.

Today all of you know, today all of you are of sound mind and you can do it. And you can absorb it, you can understand it and you can do it. It is up to you to do it. It is up to you to apply it. Therefore salvation is in your hands.

Now yesterday, we talked about the ten negative actions. Now we will talk about the some virtuous karma and its results. There are two types of karma: throwing karma and completing karma. Good throwing karma leads to rebirth in one of the higher realms, and good completing karma to a happy situation in that realm. Good throwing karma leads to rebirth in one of those higher realms: humans, demi-gods, gods. Or if you want to use Sanskrit: manusa, asuras, and devas. Asuras are demi-gods or half the status of gods, between humans and gods. For example, the condition of a human who constantly suffers from illness is due to that person having good throwing karma and bad completing karma. He had good throwing karma that throw him into rebirth as a human but yet as a human he cannot fulfill his full human potential due to his completing karma which created him to be sick constantly. If bad throwing and completing karma are combined it lead to rebirth in the hell regions – a bad throwing karma and a bad completing karma. The situation of pet dog who is fed and treated well is the result of a bad throwing karma but good completing karma. The situation of a human that is poverty stricken is the result of a good throwing karma and bad completing karma.

A human who has his five senses intact who is relatively well-fed, who has all the needs to sustain his life provided and to practice Dharma is the result of good throwing karma and good completing karma. That is actually a very very rare event. For example without any pride and prejudice, how many people have attended a Dharma talk? The result of very much good throwing karma but the completing karma is not there. Why? Because the dharma actually teaches you the true methods to the cessation of suffering. In order to hear it, you must have throwing karma, completing karma and merits, especially merits.

Like that restraining oneself from the ten non-virtues is essential in developing skilful means and wisdom. If one is able to refrain from the three mental vices, those of the body and speech will be easily avoided. If you can avoid the three negative mental states, the vices of the body and speech will be easily controlled. It is the mind. If one’s mental activity is under control it good to live in a populated place because it leads to love and compassion, because you have the opportunity to practice love and compassion with those people who are not loving and compassionate. Further, such an environment offers a situation where one’s anger may be aroused thus giving one the opportunity to apply the four opponent powers and to develop the virtue of patience. But without their mental control it is better to live in seclusion. The beginner is like a rabbit and his delusions are like an elephant. So his remedy for his delusions is very weak. If one lives as a town dweller, it is good to check one’s motivation before going out and watch for the craving that arises as one walks through the town.

The fruit of non-virtuous act in which there is intention and completion of the act must be experienced unless the four opponent powers are applied. However if there is an act without intention one does not need to experience the karmic fruit of that act.

There are further three types of karma ‘tong tze you you ghi leh’ or the karma of which the fruit is experienced in this life. The second is the karma of which the fruit is experienced in the next life. Third is the karma that is to be experienced in the next several lives. In order to attain higher states of existence to help others the following eight qualities are very beneficial. All good karma, all good actions, all positive actions, are based on the avoidance of ten non-virtuous acts which we have talked about yesterday in detail, killing, stealing, sexual misconduct, lying, divisive speech, hurtful speech, idle gossip, covetousness, malice and holding wrong views. All suffering can be destroyed on the basis of just those ten avoidances. How simple and wonderful, how basically easy to learn because Buddha has given the method. Because by avoiding those ten the mind becomes calmer, negativities do not accrue anymore and what has been accrued becomes purified.

Number one, restrain from killing and helping others out of trouble, such as being a doctor or a nurse is the cause of a long life. If you have long life, this enables one to attain one’s goal and those of others. One needs long life in order to take advantage of the fully endowed human form, so it is important to take good care of one’s body. Number two: patience and such acts painting, repairing religious temples, statues and so forth, will enable one to have the karma to have a pleasing physical appearance. People are immediately attracted to one whose appearance is pleasing. Thus such a one is in a better position to offer help. Number three: humility overcoming one’s pride and respecting one’s elders and other people in general will result in birth in a race for a place that is highly regarded by society. Others listen to such people whereas they might ignore a low caste person even one who is very wise in general. Number four: the act of making offerings and making charity will result in wealth. This can be used to help others, people who require food and clothing before, they can practice the Dharma. Number five: restrain from the four non-virtues act of speech – lying, divisive speech, harsh talk and idle speech. Restrain from these four actions of the speech will give you the karma in the future and now to always be truthful. Therefore this increases one’s speech will be pleasant and people will listen. People will respect you. People will like hearing your voice. In general, you will gain a pleasant life, and a clear strong voice that is very pleasant and melodious to hear when one is restrained in acts of speech. Beautiful voice, pleasant voice, voice that reaches others, that touches others, that can change others, that can guide others, that is respected by others. This is the type of speech that you will get like H. H. the Dalai Lama whose voice regardless of the words even the tone of the voice bring tears because it is so beautiful. Or some singers who when you just hear their voice brings pleasure. It is the result of refraining from the four unwholesome acts of speech. Number six: combining humility with the use one’s power to the full extent to be of benefit to others. Prayers to the Triple Gems for attainment of a fully endowed body with the eight qualities in the next life will also be the cause for power and fame. Combining humility, the direct result will be to gain power and fame in your future life. And now in fact a person with these attributes has a greater influence over others and thus can effectively bring about changes for their benefit. For example, a king can cause monasteries and stupas to be built. Number seven: by helping the poor and the weak and doing for them what they are unable to do, not hitting any living beings, not even one’s pet animal, will be the further case of having a capable mind and body. Helping the poor and the weak, the sick, the disabled, and not hitting others, not abusing others’ bodies will result in a healthy body and mind in a future life and in this life in fact. If such a person can follow the instructions of his guru and by attempting and achieving goals which others will not strive for, attaining enlightenment in one life. Number eight: rejoicing in the Triple Gem, having reverence for others and reciting the Manjurshri mantra etcetera, this will result in very strong will power. Will power that cannot be diverted, pushed off its goals or easily manipulated. To have will power, having this, one will be content while following any practices and you will even have the ability to live in a cave alone, if necessary in order to do your practices. If you have strong determination in getting a girlfriend, if you have strong will power in order to get a good business, that is not a positive sign, that is in fact a negative sign. It is a sign that it will increase your delusions. When you are afraid of meditation, you afraid of seclusion in caves and you are afraid of these places, it is a sign that in your previous lives you did not rejoice in other people’s good deeds, in the Triple Gem’s good deeds. You did not have reverence far others. And you in fact did not have respect for the true activities that will benefit your life and future lives, others and eventually your own enlightenment. Having willpower in the correct sense you will be content and happy with practices and events that will come along and you will not be influenced by worldly people, worldly advice and talk you will be very strong in your determination to practice. Even when your teacher says: ‘Go into a cave. Go into a retreat for one year’, you will say ‘I will do so’. When the teacher says come to a Dharma talk, go into a retreat, do this meditation, recite this prayer one million times, you will think of every excuse that is existing not to do it. It shows a lack willpower in the correct sense of the word. But when your teacher says: ‘Go get a good job. Fix yourself up. Go get a nice boyfriend’ before he finishes half the sentence you are out of the door. That is the wrong type of willpower. That is willpower towards delusion and delusional activities.

These eight are not necessarily for the attainment of enlightenment. But they do make progress faster and one’s act more effective. Having them is like traveling from point A to B in a go-cart and out to the beyond. These eight results are not the aim of practice by the avoidance of the non-virtuous acts, four of speech, three of body, one can accumulate the karma to attain these eight positions: long life, a pleasing physical appearance, birth in a high society, high race, wealth, to be truthful, powerful, famous, a healthy able body with strong willpower. These will help you and supplement you and bring you up and others to the Dharma. To be born in a high caste, naturally you will be respected. To be born with a good pleasing physical appearance that is good to look at, nice to look but does not attract other people’s desires but to have charisma. When other people see you or hear you or are with you, they are attracted and spell-bound by your Dharma charisma. Not to have a pleasing appearance that brings desire or passion. That is the wrong type of charisma, but to have Dharmic charisma to attract others just by appearance, to look different. Just by seeing you, someone says ‘Hey, he looks different. What is it about them?’ And by that way is one method to bring them to Dharma. To have wealth, to use it for the benefit of others, to always have good speech, pleasant speech, to have power in fame so that you can influence others on to the good path, to have healthy body and mind so that whatever one wishes to do positively, one is able. To have strong willpower so that you will not be pushed off the path, no matter what people do to you, how much beating you get, how much scolding, how much people may make fun of you or tease you, or cheat you or whether all the people in the world or your society people are saying the wrong things yet you have the strong determination from a very young age to do it, and you know it is right and you do it. And not to be thrown off in spite of the obstacles. It is the result of rejoicing in others’ merits and especially the Triple Gem, having reverence for others and also meditation upon Manjushri. Any of those factors.

Those are not what we want out of Dharma practice. They will be a by product of our Dharma practice. They will come without our asking for it. Therefore, you do have to create or dedicate your merits for achieving long life, health, wealth, fame, beauty, position. You do not. You dedicate it for enlightenment and those eight qualities will come naturally like a lake in the summer monsoon rains, it will swell up naturally without expectations. Therefore, it is always very beneficial to have excellent motivation, to dedicate it to the supreme of the supreme, enlightenment.

And on the basis of the avoidance of the ten non-virtuous activities coupled with the four opponent powers, that is Dharma practice, that is real Dharma practice. Without that, the initiations, the mantras, the meditation, everything is useless. So if your Dharma practice consists of rolling the malas (rolling your rosaries) having a beautiful altar, giving gifts to the Sangha, if it consists only of that you will get some benefits by the power of the Three Jewels but the benefits will not be lasting like enlightenment. There will be some sort of benefit like wealth – fleeting wealth, fleeting happy state of mind because the object you have done this is relation to the power to grant that.

So virtuous karma, in order to take the full benefit of the eight qualities, one should try to benefit all creatures. That is the motivation.

Does anyone have any question? Today we have gone into karma strongly. Yesterday we talked about previous lives, how they exist on a logical basis. Today, at the beginning, I have gone over with you. This has strengthened your already, maybe strong or not strong belief in reincarnation. At least in our cultures, our Eastern cultures, we have a strong belief in reincarnation. We have been part of it, we have been exposed. If our grandmother told us on that basis, we will just believe it. But yesterday I have given you a sound irrefutable basis to contemplate on reincarnation.

Today we have talked about the workings of karma. Remember refuge through Dharma practice motivated by the wish to free others on the basis of the ten avoidance of the then non-virtuous actions coupled with four opponent powers. This is Dharma practice, this is the core. This is the essence.

If this is done then meditation, mantras, initiations, making statues, making religious artifacts, helping the Sangha, sponsoring the Rinpoches, sponsoring monks, sponsoring the monasteries, sponsoring centers will bring true benefit: will not bring karma but merits. Think about it carefully. On these basis if you do any Dharma practice, you will gain results quickly. I hate to use this, but it is not the quantity but the quality. It is better to recite one Shakyamuni mantra or one Om Mani Padme Hum with remorse (regret), with the vow not to do negative actions and to do antidote actions, such as compassion and meditation and to avoid the ten negative actions, then to do one Om Mani Padme Hum on this basis is better than to do one million without those. And that is the truth. Enlightenment is not from your mouth. It is from your mind. So if your mind is not developed, how can the mouth be effective? It can supplement it, if it is coupled with the right mind.

From today on, I beg you, I implore you, I ask you, I request you with folded hands and on my knees that all of you take these teachings to heart and that from today on to make a change in your lives. To change your attitude even 0.01% from today on, from the teaching and not to leave the teaching on the shelf and brag how beautiful it is, how wonderful it is, how you received it and how excellent it was, etcetera, etcetera, to put flowery praises on it but to actually enact it, use it and do it. Therefore, your purpose of coming here today and my purpose of coming here today and your coming here and all the people we are involved in my coming in small and great ways, equally will be benefited. That’s how an affinity with people, lamas, and teachers and Buddhas and Sanghas that you like will become stronger. When that affinity and karma become stronger, your negativity will lessen because the definition of a spiritual friend or guide is one that when you stay around them, your positive activities will increase and your negative activities will decrease. That is the definition of a spiritual friend, that is your guru, sangha, dharma brothers and sisters, etcetera, etcetera. When you hang around these people, when you stay around these people, you will notice with time that your negative actions decrease and your positive actions increase. That is the definition of a spiritual friend. You want to have affinity with these people.

Does anyone have any question on the teaching, we had yesterday and the day before yesterday before we go on? No questions? It is clear. Is it necessary to go over the logical analysis on reincarnation? Will you be bored? A lot of new faces, I see. Is it necessary? The day before yesterday we went over (it) for about half and hour. Yesterday we went over for about fifteen minutes. Today we will go over for about seven or eight minutes so that those who have steadily attended everyday won’t be bored and yet the new people will not be left out either.

The whole basis of Buddhism is the theory of reincarnation. The whole basis that Buddhism is based on is the theory of reincarnation. And how that comes about is not something made up or something that is used to scare young kids, that is used to scare us into doing this and that practice. Not this type of practice. But it is a very exact or precise science that is very logical, that can be examined in your own mind which was already spoken by Lord Buddha. And later further explained by great masters such as Dharmakirti. This is one of the main texts that we study in the monasteries.

Dharmakirti spoke of all phenomena as existing on the basis of continuity or continuum. All objects are on the basis of a continuum, of a continuity. For example, I gave the example of a piece of paper the other day. In order for this paper to exist now, it has to have existed via previous moment and is a previous moment. It has to have existed yesterday and the day before and if we go back and back and back and examine it carefully, it has existed at the printers. Before that it was a pulp or recycled. Before that it was a tree. Before that it was a sapling and a seed. From that seed, it had to have come from another tree and therefore if we go backwards in the same procedure, the previous tree, the previous tree, the previous tree and back and back and back without count, innumerable. So therefore, like that all phenomena that exist in this world are operating on the same basis. Like that our bodies are operating on the same basis, the basis of continuity. Now for our body to exist, now at 8 o’clock, it must have existed at 7:30, 6:30, 6 o’clock and so on. It must have existed yesterday, the day before. It must have existed last week, the week before that. It must have existed the previous month and the month before that, last year and the year before that and back, back, back, back. The body could not have just come out of nowhere. The paper, the book, the cup, the table, the altar, the place could not have come out of nowhere and just appeared out of the sky. It must have had a source, it must have had a previous moment. It must have a previous continuous moment.

Like that the body must have had a previous moment going back and back and back. So if we look at the body it has a previous moment and a previous moment which if gathers momentum, it becomes minute, it becomes hours, it becomes days. It becomes months, it becomes years and on ad on. So like that all the way up to the point of our birth even if we were born inside our mother’s womb. This is just an example. Of course the labor takes a longer time than that. Then before that we must have been in our mother’s womb. In our kind mother’s womb. Then nine months of gestation inside our mother’s womb and even all the way back. If you go back to the formation of the fetus and way back, back, back to the point of conception where the white cell of the father and the red cell of the mother, as Buddha spoke in the Tantras, combine at that moment in order that we are conceived. So say if we were conceived at 9 o’clock, then at 8:59 that white cell and that red cell must have been in or parents and therefore, that previous moment before our conception, we just cannot be conceived out of nowhere. We must have been coming from somewhere. Like that continuity, if we go backwards, those cells if we trace back go back to our parents, to their parents and their parents and back, back, back to the time to their childhood, when they were children and back, back, back to the time when they were in their parents’ wombs and they went back to their parents and they to their parents and so on. It is innumerable. It goes back to so many thousands and thousands of millenniums actually. Like that we don’t have the intellectual or mental capacity to count how many. We do not have the clairvoyance to see how many. But it goes back and back and back. Innumerable. Uncountable. Like that it is definitely like counting the stars in the sky but it is beyond our human comprehension to be able to count the number of stars in the sky. So we put a label saying, innumerable as the Buddha states. Therefore, at the moment of conception, we can see very clearly that on a continuous basis, we bring it back fort from our parents, the cells and come and form inside from our mother’s womb. And inside our mother’s womb we have been conceived at around nine o’clock At nine o’clock up to approximately nine month, our body develop to a complete fetus until birth and it continues up, up, up until this very point where we are existing right now and tomorrow second by second it must exist, forming minutes, forming hours, forming days, weeks, months and years. And going on and on and on like that continuously.

Even when our body dies, it physically continues differently in different forms. The body doesn’t just disappear, whether you are cremated, whether you are burned or interned in the ground, whatever, the body will continue in another form. Even when you are cremated and your ashes thrown on the ground, your ashes will nurture new forms of life. In fact, your body will continue in a new form of life and continue again and again without stop, without end, no matter how minute.

Like that our mind is also a phenomena in Buddhism, like our body and like all objects that we can see with our physical eye, that is tangible. It is called all phenomena. So all phenomena operate on the basis of a continuum. Our mind is also a type of phenomena. It also operates on a continuum. Like that in order for your mind to exist now at 8 o’clock it must have existed at 7:59, at 7 o’clock and on and on, backwards and backwards, going all the way back to the time to your childhood, to the time when you were very young and even when you cannot remember clearly what you did when you were four, what you did when you were three, what you did when you were one. Even when you don’t remember when you were inside your mother’s womb, even if you cannot remember what happened in there, it doesn’t deny the fact that it didn’t exist, it doesn’t deny the fact that it wasn’t there simply because you cannot remember. That is illogical. So like that when you think on a logical basis you have had a previous life. Like that you have had a previous moment, if brought your mind continuum back all the way to the time you were born. And that was brought back all the way into your mother’s womb and that was brought back nine months to the previous conception at nine o’clock when you were conceived. There at that point of conception the red and white cell the previous moment for those cells to combine to form you that previous moment was from your parents of you think about it carefully, that is very logical.

What about at ten o’clock, where did the mind come from? How did the mind appear? At nine o’clock you were conceived. You were existing from nine o’clock. What is the continuum, if you go back at 8:59? Where was your mind at 8:59? Didn’t just pop out of the sky? Did it just appear with the body? Was it just formed with the body? It is illogical. The mind being a phenomenon must have had a precious continuum – must have had a previous moment in order for it to exist at 9 o’clock. So the mind must have been existing at 8:59, 8:58, 8:57, 8 o’clock, 7 o’clock, 6 o’clock, 5 o’clock etcetera, etcetera. So if you have been born on the 24th, you must have existed on the 23rd, 22nd, 21st, 20th, 19th, 18th, 17th, 16th and so on and on for it to have existed. In order for it to forward, you must also be able to trace it backward on a logical basis. If you cannot trace it backward, how can it go forward? It must have come from somewhere. Therefore, at 9 o’clock you were conceived, your body can be traced coming from your parents. Where was your mind? Where was your mind at 8:59? As the great Dharmakirti has explained, at 8:59 you were existing in another form, existing in another way, existing in another plane. It can be in a different plane, it can be existing in this world in different forms. At 8:58, you were in a different form, at 8:57 you were in your previous form. Therefore at 8:59, we can use a simple example. At 8:59 your mind had died. That mind in order to exist again by the power of its karma, took on a new form which took rebirth in the womb of your new mother at 9 am. So the mind entered at 8:59, it entered and continued to 9 o’clock, and from 9 o’clock, your parents’ cells combine to grow at this point. And your mind which was at 8:59 in another life form took on rebirth at 9 o’clock to continue up to this point.

Likewise, when we go backward, we can go forward. Up till this point, up to 27, 28 or 29 years old, I am not sure about my birth date. In any case let’s say I am twenty-one, it sounds nicer. Some of you are laughing. OK, let’s say I am twenty-two. I am twenty –two. I must progress to twenty-three, twenty four, twenty five, twenty six, twenty-seven, twenty-eight….thirty, forty, fifty. Let’s say sixty. It has to continue from that point just from my age of twenty-two up to fifty.

Let’s say I am going to die at the age of fifty. When I die at the age of fifty, when I leave my body, the body will continue in another way. What about the mind? How will it continue? It must exist. It cannot just disappear. This energy cannot just disappear so easily. So if we die, let’s say at 12 o’clock. At 12 o’clock, your mind and body functions cease. They cease to exist in their present form. They will exist in another form. They will go down as nutrients into ground. Let’s make it simple. At 12:01 where is your mind? At 12:02, where is your mind? At 12:03, 12:04 etcetera, etcetera. Where is your mind the next day, the next day, the next day? On a logical basis your mind works on a continuity. It works continuously. It moves continuously. In order for it to exist at this moment it has to have a previous moment. It works on a continuity.

Like that if you say that your mind come from your parents, it is not very logical because physically we have the attributes of our parents. If not our parents, at least our grandparents. But if we check mentally, we are quite different from our parents – the way we think and the way we act. Our kids are quite different from us. In fact the likes of the parents of this life are the dislikes of the kids. The parents likes are the dislikes of the children. You can have scientific geniuses as parents and not very intelligent children. You can have not very intelligent parents and extremely intelligent children. So if the mind were stemming from the parents, then the minds must resemble the parents in everyway. Now what resemblances, we might have to our parents’ way of think or moving or doing things is just a matter of conditioning. When we have been with someone for a very very long time and we look up to that person and you only know how to do things in this way, then in that way we may do things similarly but that does not prove that the mind has come from the parents because the majority of us are quite different from our parents – our careers, our skills, what we like and we don’t like are quite different from our parents. So on a logical examination, the mind cannot just have existed at the time of birth. It must have had a previous moment. The mind could not have come from the parents because if it did it has to resemble the parents, like our physical bodies. Even genetically our diseases are sometimes inherited. It must have come from our parents. But we are completely different from our parents, completely different. That is where the conflict arises, but that is a whole different story.

Then on this basis, Buddha with his great omniscience and clairvoyance can put the doctrine of reincarnation in or ordinary worldly terms on that basis. There are actual people who can see clearly or remember what happened to them when they were five, what happened to them when they were four, where they were when they were one. There are even people who can remember clearly what they were doing inside the womb, what they were thinking and how they were feeling. There are even people who can remember what they were doing in their previous life, very very clearly. They can remember the one before that by the power of their meditation. Even today with the right meditation you will be able to unlock the powers of your memory and your mind which (never mind previous lives) will help you to focus, make your mind straight, powerful, clear like an arrow, very sharp that you can remember things when you were very very young that you can remember things that you will never recall otherwise. And therefore going back to your previous life and previous existences and what you have been doing. Only the Buddha as a fully enlightened being can see their previous lives clearly without fault all the way back back back. People who have certain meditational abilities can see their previous lives up to a certain point and the stop and some can see your previous lives to a certain point and then stop. It depends on your meditational abilities.

On that basis which I have condensed, Buddhism bases its doctrine on reincarnation, reincarnation meaning the mind taking on a new rebirth, taking up a new situation again and again.

I explained yesterday that there are three types of karma, and sub-divisions. The three types of karma are positive karma, neutral karma and negative karma. Karma is the Sanskrit word for action or deed, what we are doing. Karma is just a word that has been used over and over and over. This sometimes, it is used as a joke. Karma means action. So good action, bad action, neutral action. Good action is determined by, be it your body, speech and mind, benefits others and oneself. Bad action is any act that you do that creates harm and unhappiness to others and oneself. Neutral action is any action that brings no harm and brings no good to others, for example, eating. So good karma or good actions s create a positive result. Negative actions create negative results. It is very simple. Therefore, what rebirth you take, what environment you take in and the situation that you go through and the form that you have to go through, and the positive or negative feelings, and the positive and negative experiences that you have to go through all depend on karma. All actions definitely have results. Definitely will have a result. All actions cannot be without results.

It also operates on continuity basis. Whether the results come to you quickly or whether the results come slowly still definitely the results will come. On the basis we can base the theory of reincarnation. Along with reincarnation, there must be deeds or acts. Without deeds and acts people cannot just wander around and get a new rebirth. If there is a doctrine of karma then it could explain very clearly why some people are very attractive, why some people are very unattractive, why some people are born in a very good places, happy places and why some people are born in unhappy places, why some people have a lot of sickness and illness and some people have very unhealthy bodies, why some people are born in pleasant environments, where they can get food and water and get jobs easily and some people are born in unpleasant environment.

In Buddhism we do not accept or deny a God theory. It is something we do not worry about at this moment. It is not a denial, it is not an acceptance. What we concentrate on is deeds and actions at this moment, because if you do good things, if you do positive things, definitely you have a positive results. If you do harmful things you will have harmful results. Whether there is a God punishing you or rewarding you or whether there is karma, giving you the fruitioning or ripening of your actions, at this point it is not a big concern for us. But if you operate on a Buddhist or Hindu thought (which based on) karma, then you be careful of your actions. How you speak to others, how you interact and react to others on the basis that these negative actions or positive actions will fruition back upon you. If you operate on a god theory which is if you do good actions, it is recorded and you will be rewarded in heaven or when if you do negative things and harm your whole life and if you die you will be condemned to hell. If that theory helps you to do positive things, it is all right. If the theory of karma helps you to do positive things, it is all right – no difference. There is no conflict. We should not make a conflict out of it. We shouldn’t see it as a conflict because there is no conflict. The ultimate that we want is a good positive, harmonious society. And if the society is harmonious and kind to their environment and the beings such as animals and spirits, everyone lives in harmony and respect to each other. This is the goal of all religious practices. So if the goal of all religious practices is that and if a person likes to do that on the basis of God, it is all right. If that person does it on the basis of karma, it is all right. Because if this guy gives to charity and I give to charity, and this guy will say, ‘Oh I will be rewarded in heaven because I do charity.’ When these two meet, from the outside the both do charity, they both help people. They both are assisting. There is no difference. There is no need to argue whether there is God, there is no karma or there is no God, there is karma. So in that case, there is no need to do charity – just back and forth, back and forth. It is illogical. No need to argue. No need to clarify with each other. What you believe, what helps you is perfect.

The enlightened ones, the Buddhas, did not manifest always in the form of a Buddha with slanting eyes or in India or as Jesus or Mohammed. They will manifest in all forms: as Buddha, as Jesus, as Muhammad, as Krishna, etcetera, etcetera, all over this world system to benefit people, to teach the doctrine to people according to time, place, culture and environment. These beings will manifest and teach you how to be kind, compassionate, harmonious individuals. The method they teach you will be again be according to time, culture and situation. Which, church, synagogue, mosque is the right church, the right synagogue, the right mosque etcetera, etcetera. We waste our whole life arguing and not doing any spiritual practice. We have actually wasted the opportunity to utilize the purpose of these places, the purpose of these doctrines to become a better being.

Instead of utilizing these holy doctrines to become a better human being, we have used these doctrines in the opposite direction which from that creates conflicts, disharmony and unhappiness. It is like an example I gave yesterday. If you don’t know how to drive a car, you bang it up, but that doesn’t mean the car is bad or the maker is bad or the dealer. It means that you don’t know how to drive it, whatever theory that you would like to operate on in your lives, whatever theory. Even as a non-religious person, a person who does not want to take on any religion, but he has respect for the other persons, the environment, the other beings and on that basis of respect, morality and treat other kindly and develop himself mentally, that is OK. Because in the end at the moment of truth, at the time that comes, if there is a heaven they will all go there. If there is karma all will take a good rebirth. If there is neither, according to the non-religious person, still you have not wasted life. You have lived your life as a real human being and not as an animal that fights and secures its own den and territory and hunts and scavenges for food all day long and procreates the young. We are not animals, we have a higher intelligence, we have a higher ability. This ability can be made to put into the development of the mind. If it is put into development of the mind then we can go very far.

If it is put into the development of just wealth, position, power, games, entertainment, fun, if it is just used for this then actually this great ability is wasted. Because lasting happiness can come from outer, physical objects, then the more physical outer objects that we have, the happier we must become. If happiness were based on good appearance then every supermodels in the world should be very very happy. All the film stars should be extremely happy, so happy that they have no time to cry or have any kind of distress but if we read all these kinds of magazine they have all these kinds of unhappiness. If happiness were based on wealth, then every single person that has wealth in this world should be very happy, free of problems. If happiness were based on friends then the more friends we have the more love we must feel, the more comfort and happiness we must feel. But in fact, if we have wealth we know why the friends are coming. But if we don’t have wealth, we look around and say, where are our friends? No friends. Friends also you cannot base your happiness on. And also if you base your happiness on an object that is transitory, that is transient and passes, as soon as that object changes or that transitory nature takes effect, for example your friend moves away, your friend dies, your car is stolen, your car is banged up, your wealth is lost overnight on the shares, the minute you lose it, then unhappiness comes. So if you base your happiness on that, there are many faults: the faults of transientness/transience or the faults of impermanence, that fault that thee objects cannot be the ones that bring you happiness. If it is, then the more you have, the happier you should be, the more joyous you should be. In fact if we check it, it is not.

Happiness is a state of mind. If happiness is the state of mind, then that mind must be developed. How an outer physical object creates a state of mind? It can supplement a state of mind. For example if you eat good food and you can keep your body well and you don’t feel uncomfortable, it can help, it can assist. But t is not the cause or real cause, it is environment or temporary cause to your happiness. It is not the ultimate cause. Real happiness comes from inner disarmament or freedom from one’s own negative traits, negative delusions.

Delusions such as ignorance, hatred and desire comes jealous, craving, dissatisfaction, anger, etcetera, etcetera, etcetera, will arise. When these negative emotions arise and propel you to do something negative and therefore get a negative result, that is when unhappiness comes. If you have two cups: one is a better cup and the other a worse cup and your friend comes along and take the better cup and you get upset. Your happiness is not based on that cup, your happiness is not complete because you do not have giving, you do not have rejoicing. And you are attached, you have desire. Because you have desire, you will argue with your friend, and say, why are you so greedy? You take the better cup and you leave me the worse cup. In fact, if you want real (happiness), you won’t even be attached which one your friend took as long as you have a cup. Because you yourself are very greedy, because you yourself are very attached, coming from desire, so when he took the other cup, you feel very unhappy. But the deluded mind tricks you into saying, no my happiness is dependent on that cup. He took that cup, that better cup, therefore I am unhappy. But in fact if you investigate clearly, the unhappiness is not the cup, it is the situation in which your state of mind has been reflected on. Then when we see the that cup is taken away and we see the worse cup and we take that home, every time we see it, we reinforce that which we condition ourselves to think: he took the better cup. He is a bad person. He is an evil person. He is not really my friend. I am unhappy.

So people who concentrate on it very much, over and over and over again become crazy or become neurotic, will become extremely attached, possessive. And therefore, they apply their possessiveness to other aspects of their lives, to their husbands, to their wives, to their jewelry, their cars, their furniture, their house, their office, their bank accounts, etcetera, etcetera, etcetera. And therefore, when one of these things are taken away, when one of these things do not produce the desired results, we experience unhappiness. And therefore, we point to the source of our unhappiness, at that particular situation, at that particular person, that particular object. We have pointed at it. Again and again we delude ourselves into that.

And then by that deluded state of mind, we have perceived that our unhappiness has come from that object, for example, that person who has taken the cup from us, then we proceed to create negative result, negative karma. We call up the person. At first we say nicely, can I have the cup back and you take the other on? The other person says, no I got if first. And you say, I thought you were going to take the other one and I take this one. Negative karma of speech, more anger, more unhappiness and every time you see this person, you feel angry. Maybe you even got to the extent of going up to the person and beating him up, having a nice fight. Maybe you call up a gang to work on him. Maybe you have position and power and lock him up in jail, just for a simple thing.

Therefore, every single action that you do out of hate and desire, now hate comes in, every single action will create an mental imprint in your mind, a mental seed in your mind, a mental karmic imprint in your mind which will fruition at a later time, at a later situation. And if that imprint was negative as in this case, then you will get negative result. For example, if you speak very harsh words out of hatred and desire and ignorance. Any of these three poisons, any of these delusions, if you speak any harsh word on the basis of these three to that person, you have collected a karma of the speech, that is negative. Therefore, as a result of having this spoken, in your future life, you will take rebirth in an environment that is very dry, that is very rough, that is very dirty and the simple things that you need to live such as water and shelter are going to be very difficult. To get water, you must travel miles and miles or kilometers and kilometers, walk in the hot sun, on rocks just to get that water and bring it back and go through so much effort. Even to get a job, to collect some firewood, or to grow something on your garden, or grow something to eat, when you grow something a kind of drought comes along. Bad weather conditions destroy it. From that harsh speech that you have given to other people, when you shout at people, when you say negative things at other people, when you say harsh words at other people with the three delusions as the motivating factor, you will create a situation that you will reborn in a negative environment.

How you may say, how can such a few words create such an energy? It can. How can a small or small seed bear such an apple tree or an orange tree or a pear tree? It is just a tiny little seed. Yes, it may be a small little seed that has the potential to grow something big. Like that although the karma is something very small, it is very minute at this time, it will increases and become bigger and bigger and bigger.

Like that there are many people who did not come on the first day because of previous engagements then I will go through these quickly for your benefit because I see that the audience is very sincere, not that yesterday and the day before, the audience was not very sincere. Sincere also. New people sincere too.

For a lay person, there are ten actions that we should avoid whether you are religious person or a non-religious person, whether you are a Jew, whether you are a Christian, whether you are a Muslim, a Buddhist, Hindu, Jain, (and) etcetera. Whatever religious nominations you are these are the ten basic things that we should avoid as humans, with consideration and respect for others because they also have their karmic effects. There must be a couple of motivations involved, mind thoughts involved. In order to have karmic effects: 1) One must have the intention to do one of these ten actions. 2) One must know one is going to do the action, not just do it but knowingly do it. 3) One must carry out the actions. After the action is carried out and the effect has taken place, 4) and the last is one must rejoice that you have it: Oh, I have done this action. So to have the intend, to do it, the action gets complete and then rejoicing, be happy that you have done it.

So I have the intention of breaking his cup, I actually pushed it. Maybe it just rolled off and doesn’t get broken. The karma is still there but not as strong as when the cup is broken. Or I want to break that cup, I push it over and then it breaks and when I see him very sad I feel remorse and regret. Then the karmic effect becomes less. Then another ‘situation’ is I want to break the cup: I push it, it gets broken and the other person is depressed and I am extremely happy and I am rejoicing. And I am thinking of another way to make him even unhappier. The action is complete. The karma becomes very very strong, very, very powerful and that result will come back. You must have the four causes. Can anyone think of a better word? Four ……? Never mind, we just say the four causes. The four causes must be there for the action to be complete. So in order that these four are there, the actual actions are….

Now tomorrow will be New Year. In two hours and ten minutes, time it will be New Year. I am sure most of you will be awake still. Have communion with the Three Jewels. If you are from another religious sect, fine, have communion with Mohamed, with God, with Jesus. Have communion with the God of Israel. It doesn’t matter, but have communion with them and say that from now on, I will avoid the for negative actions of speech, three of the mind and three of the body – killing, stealing, sexual misconduct. Three of the body. Four of the speech – lying, harsh speech, divisive speech, gossip (idle talk). That is your new year resolution. Not to get a new diamond ring or to get to England, or to get a relationship, a success or bust. No. Your resolution should be to avoid the ten non-virtuous actions to the best of your ability and not for one or two days and then you get back to your old self. But to continuously do it again and again and again until your root it out and therefore bring happiness to yourself and to others. That should be your new year resolution. If you begin that and you start that, everything will change for you. People around you will like you. They will like you better if they already like you. Your mind will be calm and you will be happier.

And if you decided to engage in tantric practices, you will be able to attain your enlightenment at the most in sixteen lifetimes, at the least one lifetime. He is able to, therefore appear in whatever guise, form, shape, colour, size, time, place, object animate or inanimate in order to benefit you. And we don’t know if our neighbor is a Buddha emanation or not. Do not look at them for face value. We do not have the wisdom eye or clairvoyance to see who is an emanation, who has attained and who has not. Do not assume that that person has not attained, simply on face value. It is very dangerous in that way.

Make your New Year resolutions clear and strong. Start your Dharma practice on New Year’s Day, in two hours time. Start it. Begin it. Regret, have remorse, promise not to do negative actions, do purification practices, do practices that collect merit on New Year and from then on, avoid the ten non-virtues. Nobody is asking you to sit in a cave to meditate on a deity with some fifty thousand arms. You cannot even count the hands, forget about visualizing. No one is asking you to go to some monastery in India and shave off your hair. No one is asking you to remove and hang up your clothes in the woods and rub ashes all over your body and run about naked in the rain. But the Buddha is asking you to avoid the ten non-virtues and apply the four purification practices for your own benefit.

If that is hard, have a good time in samsara, I am getting out. And if you are very sick, it is scary to go to the hospital and get poked on, to get cut, to get needles, to get examination, to get exposed to radiation and get our hair falling out. It is scary to hang out and you don’t know what they are doing to you, what is going to happen. It is definitely scary but how scary would it be if your disease progress and you don’t go to the hospital. Yes, it is scary and difficult if you don’t avoid the ten non-virtues and the results come. How scary would that be. Think about it. No one is asking you today to do anything that is out of your ability or your intellectual capacities. Think about it. Make your correct resolutions. It is the time. It is ripe. You are not too old and you are not too young.

The great Mahasiddha, Tentipa, lived about a thousand years after Buddha. He was a carpet weaver. He expanded his business very widely because he was hardworking, industrious, and he made the greatest and most wonderful carpets. He got the greatest patrons, the riches people in town. Even the king patronized him. His carpets were the talk of different cities and different towns and different districts in his country, in India. When he got old he lost his ability, he lost his nimbleness of his hands, everything, and he could not do it anymore. He passed his knowledge to his four sons who were equally industrious equality smart as their father. They respected their father and mother with grace, with dignity and with deep love. And they worked at their business very successfully and it grew more and more even bigger than their father had ever done it in his life. In front of the shop, they had displays of their carpets and at the back was where they worked. And way at the back there was a jasmine garden and their living quarters. They had a big compound. And when the father became old and unable to work, out of respect they kept their father in front near the display area, the display room. And lots of customers would come and the father would sit there quietly while the sons talked and advertised and show them samples. After a while the sons started to marry, each brought back his wife home. It was the custom in India to bring the wives home, the wives were equally hardworking industrious and respectful of their parents, the in-laws. And their husbands respected their wives. And it was very harmonious.

After a while age crept up and the father lost some sensory power, he started to drool and could not control his urine. He couldn’t hear well. He in fact would fall asleep and when customers came, not knowing that he was the father, it was not an inviting display for their business. So their wives asked their husbands to remove their father to the back and build a nice little house at the back to relax. The husbands listened and they did so. And in the jasmine garden, they built a nice little house in the back for him. The father was very angry, very upset, very disgusted, very hurt. In my prime, I was the best, very excellent. In my old age, I gave all to my sons and they abandoned and throw me at the back. I am a source of shame and disgust for them. He became very hurt and agitated and therefore, very very frustrated and angry person. He was in his seventies.

One day, a mendicant came along. He was actually a realized person. In Sanskrit, we call them ‘mahasiddha’, ‘great attained one’ A mahasiddha came. And it was usual in the Buddhist country that the mahasiddha comes and begs at the door. He stood at the door and the sisters immediately love it. It was an honor to offer food to this mendicant monk, this teacher. They invited him in and washed his feet, touched their heads to his feet and offered him delicious food and waited on and served him. Then he gave them a talk on Dharma. And they asked him, ‘Please stay in our house for one night to honor our house and bless our place, please stay.’ So the medicant said, ‘No. I am not used to staying in comfortable places. I usually live in the forest, near the rivers, in trees, in caves.’ ‘Just for one night, out of compassion with us.’ The four wives implored. He agreed out of compassion. But I will not sleep on a high comfortable bed. I will sleep in the garden. The sisters ere excited and the y prepared a place in the garden. Then they led the mahasiddha into the garden and left him to do his prayers.

When the mahasiddha was meditating in the night he heard a kind of grumbling and a kind of scowling. He went to investigate and he saw a little house. He saw a decrepit old man. And he asked, ‘What are you grumbling about? What are you complaining about?’ And he told him. The guru asked him, ‘Would you like a method to get out of your suffering permanently?’ And the old man said, ‘Yes, I do.’ So the guru that whole night without sleeping and the old man also the whole night without sleeping (which is an impossible task to me) taught him what I taught you today. The avoidance of the ten non-virtues, the four opponent powers and initiated him into the tantric circle of Hevajra which is very common in the holy Sakya Lineage, Hevajra Tantra.

From that day on since he took the vow, the father stopped complaining, stopped talking immediately. He realized the disbenefits. He went into meditation on Hevajra. He meditated for twelve year silently and quietly. Everyday the lovely wives would take care of his food, bathed him and washed him. And they just saw him as an ordinary father, an ordinary person but they wondered why he was so quiet.

One day, there was a commission for a wonderful carpet and it was a very very big sum that they had received for that carpet. They went to the patron’s house and delivered the carpet and had a little celebration. During the celebration, the wives forgot about the father, and when they remembered they gathered the food immediately and ran to the father to see what was going on. They were sure that the old man would start grumbling again. They forgot to feed him his dinner. When the sister ran there, they saw a little glow that was coming from the hut the father was living in. And when they looked in, their mouths were agape and the trays dropped, because around the father were sixteen beautiful goddesses (not ordinary goddesses) with different types of savories and different types of curries (maybe cheese cakes in my case, huh, sixteen different types of cheese cakes), surrounding the father with cheese cakes and with their delicate fingers put in into the mouth of the mahasiddha. And he, his body like a sixteen year old youth, his body was like a polished mirror, bright and beautiful and shining, floating about the air, receiving the beautiful delights. Don’t you wish you were there?

The sisters ran back. They thought they were hallucinating as if somebody put something in their drink at a party. They ran back and said, ‘Hey! Hey!’ calling their husbands. ‘Either we have gone man or the old man has gone mad.’ Everyone ran back to witness and the old man was floating into air. The sixteen goddesses dissolved. The sixteen goddesses were the sixteen deities of the Hevajra mandala. The old man manifested as the Hevajra deity and taught them Dharma beginning with the Four Noble Truths. And from then on the father lived for a few more years teaching the Dharma. At the time of death, he was able to take a few hundred disciples with him without leaving his body behind. This old father flew into the sky with his vajra and bell crossed, and with an entourage or his disciples to enter the Buddha fields. He flew up into the sky. That was the great mahasiddha Tentipa. He started his meditational practices in his seventies.

Anyone can do it, anytime – it is determination. Anyone, anytime, thousands of mahasiddhas but eighty four recorded mahasiddhas – it is called Masters of enchantment. I have the book. It is from Snow Lion Publications. It is very excellent. It is very very inspirational. One should read through it. The point of this is that one can do it anytime, if one has the determination. And the best time now is start on the new year, start 1997 off….with Dharma. Not outer Dharma but inner Dharma. Don’t make a big nose, put on all the party hats and run to the karaoke. Make communion with the Three Jewels. Make communion with Jesus. Make communion with Muhammed with Krishna, etcetera, etcetera. Make communion with them. And pray and start with the avoidance of the ten non-virtuous actions and the four opponent powers. Any question?

Q: Can you please elaborate on the throwing and completing karma again?

A: Yes, that is very simple. Throwing karma is what brings you immediately into a certain existence. Completing karma is what completes the existence. If you have the karma to throw you into good existence, that is good throwing karma. That is the karma that propels or throws you into the existence of a human. But in order for that human to have meaning, it has to have good completing karma which is wealth, name, fame, appearance, Dharma, etcetera. Whereas if you have bad throwing karma and good completing karma you can be reborn as a dog but unlike other dogs that are born in the streets, you are reborn in a family that take care of you, that feeds you, that cuddles you. They care about you and love you and when you die, they put you in a coffin too. You understand? Throwing is what puts you in a certain situation, but whether that situation is pleasant or unpleasant is completion karma. Understood?

Q: How does one………………….. (not discernable)

A: It is a good motivation. It is not a good motivation. It is not motivated by the eight worldly concerns.

Q: Sometimes we don’t realize it.

A: How can you not realize it? Whether you shout at someone out of love or at someone out of hate, you don’t know? When you steal or when you give, you don’t know the difference? When you feel the frustrations at someone or you say something harsh to them, when forgive them and never minded, you can see the distinction? Any action that harms others in anyway is negative action.

Q: But sometime you don’t realize it.

A: Exactly! After sometimes you realize and catch yourself again and again and again, and then you can stop yourself at the beginning, exactly. Training yourself, awareness, exactly, very good, exactly. I will be teaching you meditation but not today of course, which will help you to increase your awareness of what you do. It is a meditation that is good for anybody: free thinkers, Buddhists, non-Buddhists – anyone to gain awareness. Very good. You come to that. Any other questions?

Q: Rinpoche, in our daily existence as humans, we ourselves may be teaching Dharma and patience, but if we ourselves are in the world. Socialising with other human beings, who are not practicing Dharma, and they are throwing their weight at us and we are the victims, what shall we do? We cannot wait for our good karma.

A: Are you a victim? Is it because of the negative karma that you have collected or because of the good karma that you have collected? I don’t think so.

Q: But it is the external environment.

A: But is the external environment created by your good karma or your bad karma?

Q: That is not my question.

A: Listen to mine, to my question. When you answer that you will have the answer to yours. Is the external negative environment created as a result of your negative karma or your positive karma?

Q: The negative karma.

A: Good! Who created the negative karma for you to experience that negative environment?

Q: Perhaps your ownself.

A: Bingo! So by experiencing that you are at the same time purifying it. If they throw things at you and if you throw back, you will only get thrown at again. If they throw things at you and you practice patience and you realize that that is the result of your own negative karma, therefore, you are the victim and you don’t react back anymore. That karma will be purified, number one. And then no further karma to experience that again will be accrued. Do you understand? To realise that that is the extension of your own negative karma and not to do it again in order to increase the negative karma in order to experience it again. And to have patience. Do you understand? It is difficult, isn’t it? But if you fight back, it is going to be more difficult in the future. There are many of them and only one of you. Eventually the victimization will stop. Do you understand? That’s Dharma. That should be your New Year resolution. Very good question. Every centre I go to one person will ask that. I am glad you ask the question for the benefit of everyone. Maybe you are the emanation of Buddha to say that. Very good. Very good. Do you understand? Think about that. I will give you some reading materials that will help you on that. Any other questions?

The three non-virtuous actions of the body are killing, stealing, sexual misconduct. The four acts of the speech are lying, divisive talk, abuse, idle gossip. Then the last one – the three non-virtuous of the acts of the mind – are craving or desire, ill-will and wrong view. So killing, stealing, sexual misconduct, divisive speech, abuse, idle gossip, craving, ill-will, wrong views. These are the ten actions which we should definitely avoid. Definitely.

Now I will go over for the benefit of everyone. Now you may think, oh all this monk has to do is to teach this, this, this. Let me tell you, this is basic for everyone. Without this, you can forget the higher practices in any religion. You can forget any higher practices in Buddhism. You can forget about higher studies, about mantras and initiations, going to holy places and on and on. Without these ten basics as ordinary human being you do not have the qualities to be classified as a human being, if you do not bold on to these ten ethics. It is very, very important as human beings. That is what differentiate us from animals. So, 1) Killing, the intent must be there. So killing one’s parents, killing a holy being, killing a Buddha is not possible but the intent can be there, or an arahant is very powerful karma. It will result immediately in unhappiness in one’s life. Killing another human being is also very, very harmful. In fact, if we kill animals the result will come back to us also…Why? Because it creates unhappiness, it creates separation, it creates pain for another being. Whether the being is intelligent or not, every single being has the right to live and exist in peace, in happiness, and when we take that away from them we create pain, we create anxiety. We can even see pigs that are taken to slaughter, crying and squealing and wailing. I have seen it. They know. They definitely know. So to create that kind of pain and to absorb that kind of pain in our body, what kind of people do we become?

Not nice people, definitely not. After a while seeing the blood gush out – the first time we see it, it is kind of squeamish, the second, third, fourth time we see it, we get used to it, we have sunk to a lower level. So killing of any type is very, very negative karma.

And the effect of killing will be being born in one, of the three lower states of existence, either hell, spirit realm or animal realm. The second one is if you take rebirth as a human, you will have a tendency or liking to killing, you will have a short life and you will have a lot of illnesses. Even if you have a lot of illness and you take medicines, even if you go to certain hospitals, you will not be healed. People say, how come I practice Dharma and then I cannot get this, I cannot get that, I cannot achieve that? For everybody in the hospital to get well, nobody dies is according to the karma, how fast how quick, and how precise you get your results. Just because a hospital has a few deaths, we cannot say it is bad. No. By the power of killing and its negative results, one will always have a short life and an unhappy life – a life that is filled and fraught with illness and even when you get ill, medicines have no effect. You will always be in pain and a (have) a short life. Some kids when they are born, they like to step on a lot of bugs naturally. Some kids are very natural. Instincts from their previous lives have carried over in their lives. The third is that if you have a human life, even good food that is given to you will not become nourishing. Even vitamins given to you will not be nourishing and the body will be very weak. Whatever you do your body will not respond to medicines, treatment, nourishment, anything. These are some of the results of killing, some, not all the results.

Then we have stealing. Stealing can be done by taking out somebody’s object and with their knowing, or not knowing at first. Stealing can be swindling with words, in writing, using false ways to sell a product or advertising a certain product to be a thing from a certain country and selling off like that when you have sold your product on a wrong basis and the other person believers you and bought it and you feel happy about the result and you go to the Bahamas for a vacation, the action is completed. So stealing can be in the form of robbing, it can be in the form of swindling with words or writing, using false ways. Even as I said on the first day, if someone leaves some money in your care and forgot about it and you don’t remind them and keep it, that is stealing.

The result of stealing will be one of the three lower realms for sure. After the three lower realms, when you come out, you will be born as a human and you will never be able to escape poverty. Or you are born in a rich family but you will never be able to get any of the money or inheritance. Or, whatever you do or whatever jobs you do, whatever effort you put in, nothing comes out of it. You may label this bad luck. Some people do very little and get big results; some people do very much but do not get any results. Or, this kind of bad karma can result in (using ancient examples) destruction of crops where there are bad weather conditions. The farmers on your left and right are OK but yours are destroyed. Why? You are in the same area. Stealing will have definite result in poverty, any type of poverty: temporary, future. Some people are very rich businessmen but they fall down. Some people whatever business they do, do not give results. Some people when they do business, they gain lots of money but they lose it or it is stolen from them. That is the result of stealing from others.

Then sexual misconduct again is having intercourse with someone who is not your partner. So of course if you are a man, you are not with your wife but with another lady and vice versa. And if you do it in unnatural ways. And if you do it near your religious teachers, near religious institutions, near your altar, on religious holidays and also it says during the day. Buddha says sexual desire is strong in all humans and therefore it is important to restrain oneself from adultery. Very, very strong. If you commit any of those actions as a lay person, then the result of that will be the three lower realms and when you take rebirth again, there will be disharmony with your mates (between husband and wife), you will always have disharmony, arguments and fighting back and forth, not liking each other and running off again and again. And also you will have the effect of living in dirty places, unendurable places and places that are very, very unpleasant, very, very unbearable but you have no choice but to stay. That will be some of the results you will get from adultery.

Realizing that for a short time, we may get some pleasure out of your action which is negative, for a short time, temporary pleasures, but these actions will in the end bring about negative results, unhappy results. Meditating on that, thinking or contemplating on that again and again, slowly but in time. One should detach oneself from these actions. One should have remorse, one should have regret. One should promise not to do it again. One should have communion with one’s Deity: Buddha, Jesus, etcetera. One should have communion and promise not to do these again and to restraint oneself because not doing so will bring very, very bad results. And if you don’t believe in future lives but in this very life you can see disharmony already brought into your lives. So it is very logical.

The next one is the four actions of speech: lying, divisive speech, abuse and idle talk, lying can be with words, gestures or even a wink. The result of lying will be rebirth in one of the lower realms. In the future, whatever you say, no one will take you seriously, no one will listen to you, no one will ever believe you. All the time whatever you say will have to make a lot of noise, jumping up and down to get anyone’s attention. Even if you do that you push people further away. No one wants to listen to you as a result of lying. And whatever one tries to endeavor in one will be deceived, cheated and tricked by others and your endeavors will become unsuccessful, completely unsuccessful.

Divisive speech is any speech with the intention to divide between two friends, two parties, two organizations, etcetera, etcetera. This type of speech……..(end of CD3) and how to say, very, very smelly.

And the next one will be abuse or slander. That will lead you to a low rebirth, and in this life and future lives you will have a low reputation, unable to get along with others and everybody will instinctively speak about you behind your back even if you didn’t do anything, even if you are totally innocent. People will speak against you. And again you will be reborn in a dirty, unpleasant and dangerous environment, with wild animals, natural disasters. Very dangerous environment.

And the last of speech is idle gossip. Any type of speech about useless things that does not benefit oneself or others. Just talking on and on and on, idly gossiping on and on and on will created the kind of karma where in your next human life, your words will not influence others in anyway, not even your kids. Even when you try to teach your kid the good things, with good intention, even they will not listen to you, not even anybody else whom you meet. You will uselessly talk whenever the opportunity arises – just talk and talk and talk. There is another example here. If you have a garden or field, one will not reap harvest from it.

Ill will. Three actions of the mind will be craving, ill will and wrong view. That will be ill will, having hatred against someone and therefore acting upon it. One will gain rebirth in one of the three lower realms. If one gains rebirth as a human, one will have perpetual fear. One’s fear will always be groundless, incontrollable and always getting harmed and always getting destruction and disharmony without even creating it in that life. One is always in that situation and one will endure continuous sickness and unhappiness and live in places of war and heavy violence as a result of hatred and malice.

And the next one will be craving or desire – the wish that when someone else has something good, when someone else has something positive, one cannot rejoice, one cannot be happy, one wants to destroy or take that possession, one wants to do something to harm or to bring that person or the person’s business, etcetera down. The result of that will be in your future lives, no matter what situation you are in, whether it is very wealthy or a poor situation, you will always have continual dissatisfaction. Always dissatisfied. Always will be unhappy. If you can have the most beautiful mate, the most wonderful house and the highest name, the highest caste, still you will be unhappy, always looking for a way out, perhaps looking for the wrong type of escapism like suicide. Then one’s environment that one lives in will be fraught with poverty, with constant misfortune.

Then the last one would be wrong views. Wrong views such as thinking of doing negative things will have positive results and positive things will have negative results and perpetuating that. Or any type of wrong views along those lines will be rebirth where whatever studies you do in the future, whatever you try to advance in scholastics will not be successful. If you try to do any type of meditational practices, it will not be successful although you may try to do it in very, very ascetic ways. You put all your effort and energy to it, still you will not get results. Your mind will be dull, will be slow, very stupid. If you go to a mine, you will never find treasures as a result of having wrong views.

These are the ten non-virtuous actions that as human beings you should try to avoid so as not to experience the karmic effects. These karmic effects will follow the mind from one life to the next life, to the next life, to the next life until the situation occurs that with the fruition either you get the suffering or the unhappiness as the result. So it is very important, very, very important to avoid those ten.

Buddha taught basically that human life is very short, fraught with suffering, fraught with unhappiness. We do our best to make everything pleasant. We do our best to make everything wonderful. We do our best to pull ourselves to make everything wonderful, fabulous and beautiful like making make-up over our face. Then to escape from suffering or Samsara, suffering existence, cyclic existence which in Sanskrit, we say Samsara. We must crack its roots by eliminating self-grasping, a mental continuum. This depends on higher training, this depends on higher concentration, this depends on higher moral discipline. Now Buddha taught specifically many, many different types of sufferings: 1) birth 2) aging 3) sickness 4) death 5) having to part with what we like 6) having to encounter what we do not like 7) failing to satisfy our desire….the list goes on and on.

We had to spend nine months inside our mothers’ womb. When our mothers drink something hot it scalds one skin; when our mother drinks something cold, we freeze. Although we cannot remember, it is a very tight sac, it is very close, it is very small and there is no movement of any type. If there is any movement, it is very slight and quite restrained. Quite a lot of suffering for nine months, staying inside, unmoving. For example, if she runs, our body is badly jolted. During this time, we are alone and the suffering, that we experience inside the womb is quite intense. And then when we finally take rebirth, they say it is like being pushed between a narrow crevice of two hand rocks into a harsh alien world unable to speak, unable to express one’s views, unable to talk. We have at that point if we are ordinary beings we would have forgotten our previous lifetimes. Forgotten completely. We have to start anew, we are dumb. We have to start everything anew again. Our skin is so tender that even the softest cloth feels abrasive. When we are hungry, we cannot say so. When we are in pain, we cannot say this is hurting me. The only sign we make are hot tears and furious gestures. We are completely helpless and have to be taught everything: how to eat, how to sit, how to talk. And we have to start this process again and again and again.

Then aging. As soon as we are born the process of aging begins. As we grow old our youth and vitality diminishes. We become bent, unattractive and burdened with illness. Our eyesight becomes weaken and our hearing fails. We cannot derive the same enjoyment was we used to such as food, drinks and entertainment. We are too weak to play games and we are often too exhausted even for entertainment. When we are young we can travel a lot, even around the whole world but when we are old, we cannot even walk to or own front door. We become too weak to engage in many worldly activities. Our spiritual activities are often curtailed. For example, we cannot make prostrations and we cannot travel far to seek teachings or sit for a long time. Our memory and our concentration weaken. Anything that we focus on, we forget immediately. Our intellect which used to be very sharp becomes very dull. Unable to do the work we used to do or the way we used to help others, we begin to feel useless in society and start to lose self-respect. We are often neglected by our children and we watch helplessly as our old friends and contemporaries get sick and die. Inexorably, your loneliness deepens. We did not practice Dharma when we were younger and had the opportunity. We passed the few remaining years with a growing fear of death and a deepening sense of regret, for our wasted life.

Then along with that sickness, having been born as a human, it is impossible to escape having to experience sickness in this life. When we fall ill, we are like a bird that has been soaring in the sky and suddenly shot down. Even a mild illness can be completely incapacitating. We enjoy the food we like and take part in the activities with our friends. We may be told hat we can never again eat our favorite food, drink alcohol and engage in strenuous exercises. If our disease is more serious, we may have to undergo a more painful and possibly risky operation. Should these fail, we will be told that the doctors can do nothing to cure us and we have only a short time left to live. If we have not used our life to practice Dharma, we shall be overcome with fear and regret. Young people in their prime may be struck down by an incurable degenerative illness. Though they may be alive for many years, they have to watch themselves slowly deteriorate. Realizing that closes hopes and dreams will never be fulfilled, they may wish that they die sooner. When we hear about the diseases that happen to others we remember that the same may happen to us. While we remain in Samsara, we are never safe from the threat of sickness, ever.

Death. If during our life, we have worked hard to acquire possession and become very attached to them, we shall experience great sufferings when we are separated from them at the time of death. Even now we find it difficult to lend one of our treasured possessions to someone else, let alone give it away. No wonder we become so miserable when we realize in the hands of death we have to abandon everything. Give up everything. When we die we have to part with even our closest friends. We have to leave our partner though we have spent our lives together for many years, never even spending a day apart. If we are attached to our friends, we will experience great misery at the time of our death. All that we shall be able to do is to hold their hands. We shall not be able to halt the process of death even if they plead with us not to die. Usually we are very attached and feel jealous if they leave us on our own and spend time with someone else, but when we die, we shall have to leave all our friends with others forever. If we have children, we shall have to leave them when we die, and all the spiritual friends who have helped us in this life. When we die this body that we have cherished and cared for in so many ways will be left behind. It will become mindless like a stone and be buried in the ground and cremated. If we have not practiced Dharma and have not practiced virtuous actions at the time of death we shall develop fear and stress as well as bodily pain.

Having to part with what we like. Before the separation at the time of death, we have to experience temporary separation from the people we like. We have to leave the country where our friends and relatives live, or we may lose the job we like, we may lose our reputation. Many times in this life, we have to feel the misery of parting with the people we like or seeking and loving the things that we find pleasant and attractive. But when we die, we have to part with them forever, all the companions, all the enjoyments, all possessions.

Having to encounter what we do not like. We are often forced to live or work with people whom we found unpleasant such as those who criticize us for no reason and those who interfere with our wishes. Sometimes we may find ourselves in a very dangerous situation such as in a fire or earthquake, attacked by a mugger or killer. If our country goes to war, we may be called up to fight or else be imprisoned. If we refuse, our homes may be bombed and our relatives killed. Our lives may be in extreme situations which we find annoying. On holidays, it rains or else the heat is threatening. Our business fails, or we lose our job or we lose our savings. We argue with our father and our children give us many worries. Our old friends suddenly turn against us. Suddenly everything seems to go wrong. Even in our Dharma practice, we continually meet obstacles. Even if we sit down and meditate we are distracted by outside noise, the telephone rings or someone comes to see us. Sometimes it seems that even though we have practiced Dharma for years but our delusions seem to be stronger than ever. Even though we try hard to be considerate, sometimes our family, our friends become unhappy about our Dharma practice. It is just like we are living in a thorn bush. Whatever we do to try adjust ourselves to make ourselves more comfortable, the thorns prick us more deeply.

In Samsara or cyclic existence, aggravations and frustration are the natural state of affairs. In cyclic existence, frustration and aggravations is a natural state of affairs. You should expect it, like when you walk near the shore-line of the ocean, don’t be surprised when your toes and feet get wet. In Samsara it is a natural state of affairs to have aggravation and frustrations, constantly.

Failing to satisfy our desire, we have countless desires many of which cannot be fulfilled and those that are fulfilled do not bring us any satisfaction for which we have hope. The sky is the limit. Many people are not even able to satisfy the modest desires – the basic necessities of life such as adequate food, clothing, shelter, companionship, tolerable work or some degree of personal freedom. Unfortunately these basic needs or desires do not end there. Soon we need a car, a better luxurious home, a better paying job. A holiday at the seaside may be sufficient. But our expectations continually increase and now we need expensive……..holidays. Ambition and competitiveness are the common cause of dissatisfaction. The ambitious school child cannot rest content until he or she comes out top in the class, nor the businessman until he has made his fortune. Clearly not everyone can come top. For one person to win the others must lose. But even then the winner is not satisfied for long. The ambition drives them on until they are too beaten, worn our or dead.

Another reason why we fail to satisfy our desires is that are often contradictory. Another reason why we fail to satisfy all our desires is that they are often contradictory. For example, we want both worldly success and simple life. We want fame and at the same time privacy. We want delicious fattening rich foods and at the same time a slim figure. We want excitement and at the same time security. We may remain in our old ways all the time and still expect to be popular. Contradictions. We may wish Dharma realizations and yet seek reputation and material wealth. Contradictions. Our desires often involve other people and this creates expectations. Many relationships break up because of unrealistic expectations and desires. Contradictions. Wealth and yet a simple life. How can that be? All that entails you to be wealthy excludes you from having a simple life. Fame. Everyone wants to be famous and well-known. But when it becomes overbearing you want to have privacy. Out of question! We love delicious food yet we still want to be slim. We want a lot of excitement and at the same time we want security. We want everything our way and our way only but we also want to be popular – contradictory. We see how our deluded mind tricks us and make us do things that bring the opposite results. We want Dharma realizations, we want to have wisdom, good meditation. We want to have clairvoyance, but at the same time we covet a good reputation and material wealth. Contradictions.

We seek in society the perfect home, the perfect partner. But perfection cannot be found in Samsara. It cannot be found in existence because our existence is based on imperfect acts, therefore creating imperfect situations and environment. We constantly seek perfection but we constantly meet up with imperfections, constantly. We can never let our guard down because we have created the karmic seed for us to experience the karma of imperfection. No karma or perfection or happiness or lasting peace can be achieved in Samsara, in existence. It cannot be. It is not possible for impure transient objects to provide the lasting joy that we seek. Transient objects, lasting joy. Contradictions! All objects that we seek after or want are transient – temporary. How can transient objects that will die or disappear or be taken away from us created lasting joy? How can it? Illogical. Yet we still seek lasting joy in transient impermanent object! A new car, a new partner, more jewelry, bigger bank accounts, better job, better situations, more gains, more entertainment, when the very nature of the phenomena are transient or impermanent, how can they created permanent happiness?

This can only be obtained by purifying our merit. Ignorance is the fundamental cause of Samsara or existence but worldly desire is the fuel that perpetuates it. Therefore, we need to reduce our worldly desire by recognizing their faults. We don’t have to run out naked into the rain, into the mountains become unattached and become enunciates. That is illogical and that is also extreme. We also should not cover ourselves in lack of luxury and comfort of material things in order to get happiness. These are extremes. They cannot bear happiness. The only way to gain happiness is to realize that your mind has deluded you, has tricked you into believing that these things bring happiness, whereas the actual happiness comes about through the destruction of the delusions themselves: ignorance, hatred and desire. When those delusions are rooted out and destroyed, then when you have possessions, when you have friends, when you have people you are not attached. You do not act out of attachment. You do not have hatred and you will not act out of hatred. Then only these objects be pleasant.

All great beings have been renunciates. Buddha or Jesus, Muhammad, all have been renunciates. They did not become renunciates because they were failure in business, or because they were low caste or because they were intelligent but because they realized from the start that these transient, impermanent phenomena objects or things we grasp our mind to think they bring us happiness. They realized earlier on that these did not bring happiness, therefore they have taught a doctrine according to time, culture and situation, to in fact root out those three delusions.

When this thought arise clearly and definitely in our mind, we meditate until the thought comes to separate away and definitely in our mind we meditate until the thought comes to separate away from ourselves the delusions and these states of mind. The way to start this in our mind is to start thinking, contemplating, meditating and analyzing the faults and unhappiness they have already brought you. By thinking about it again and again and again and contemplating on it again and again and again in a logical mind, a same mind will clearly see the faults and therefore you will slowly release yourself and become detached to it, like someone who is an alcoholic who thinks and contemplates on the disbenefits of alcohol and the harm on his or her body and the disharmony of the family, wastage of money, time and energy. Again and again and again, they think about it. Contemplate it again and again and again. Finally and slowly then reduce drinking step by step and until finally they don’t drink it. Finally latter even the smell does not bother them anymore.

The only way to get out of these suffering is a devoted, sincere effort to root out these delusions. If these are not rooted out then all the extensions of these delusions such as anger and fighting, disputes, jealousy and the ten non-virtuous acts of life: lying, divisive talk, abuse, idle gossip, killing, stealing, sexual misconduct, etcetera will arise spontaneously. You commit it and again, that karma is collected, stored in your mind and then at the right situation in turn, that karma will fruition into a certain type of suffering as I have described earlier in brief. It is very logical. So therefore, it behooves us to find our real enemies, to devote our time to the object of real and lasting happiness.

We can have family, we don’t have to become monks and nuns or celibates, or hermits or yogis. We can have our normal family, we can have our normal situations, but realize the situation you are in mentally detached, mentally let go. It doesn’t mean: goodbye wife, I am going to meditate and be detached. No, not that. Mentally become less attached to it and therefore the ten non-virtuous actions do not arise and become less, and therefore the ten non-virtuous actions become less, the negative results and suffering decrease and eventually is eliminated.

Once you have taken refuge, whether you have done it in a formal ceremony which basically takes ten minutes or if you have not done the ceremony but you have taken refuge every single day in your life by having complete confidence in the Supreme Teacher, the Buddha, in the Supreme path, which frees you from delusions, the Dharma, in the Supreme friends that bring you up in the world, the Sangha. Our spiritual friends, our relationship with them will develop into less negative activities and more positive activities. That is the definition of a spiritual friend. If you have a spiritual friend and your negative activities are increasing then something is wrong. And definitely when one takes refuge, one has commitments.

Today it is already a quarter to ten. Today is the first. Yes, the time has gone very quickly. Today please bear with me, I know all of you have to go to work, you have busy lives and don’t get to sleep till twelve like me and some other people. But please bear with me tonight for a little longer. Bear with me the heat and let us finish. I have two or three subjects left. Believe it or not, I am rushing through it. In the monastery, it takes a month to go this over. It is very extensive – over and over. I have gone for teachings that are six or seven hours a day for a month or a month and a half at a time and let me tell you, I could not even move my legs at the end of three, four weeks. I had to be picked up and moved out. So please bear with me today and let me finish. It is the last night here, not the last time I hope, but the last night at this center. So please be patient with this monk who speaks a lot and shouts at you the whole night long telling you how bad you are. Please bear with me and finish off tonight and make it an auspicious finish. Tomorrow you will be a little bit sleepy for work. Tell your boss that you had a big party last night. It is a big party. It is the first time we have given so much effort for something that will bear us so much benefit. So please bear with me. Is everyone alright? (Yes). Thank you. Thank you.

Then, the refuge commitment. The commitment is very important. After you have taken refuge, there are twelve things that you should avoid. 1) Not to go to teachers who contradict the right path, who tell you to lie, to steal, to hurt, to harm. Not to take refuge in teachers and doctrines that contradict the right doctrine 2) To regard every image of the Buddha as an actual image. And not to make the distinction that is Buddha statue is made of clay, this is made of gold, this is made of copper, this is made of brass, this is old, this is an antique, this is new. The new ones, the clay ones, the ones that are not made well you put at the bottom or hide at the back, but the gold one, the antique one, the expensive one you put in front. There is no difference: a Buddha is a Buddha. It shows your ignorance. Any image hat we have named the Buddha whether they are short, fat, slender, white, black, whether they are from clay, brass, silver, aluminum are to be respected as a Buddha image, equally 3) To regard any Dharma scriptures as the Dharma Jewel. So when you take any Dharma scripture – the Koran, the Bible, you should make sure your hands are clean and washed and you are not picking your nose, or digging your ears or twisting your hair and taking the saliva and turning the pages. Before you take it you should touch it to your head. After you have read it and contemplated on it you should touch it to your head and show reverence. It should be kept in the highest and cleanest and best places and bound in the best material that you can afford. Usually Dharma books are thrown at side, thrown together with the ‘house and garden’ and all the beauty magazines.

But our account books and our deeds are kept in a very safe, clan and wonderful place, locked away. And when we go to get our deeds, our accounts books and our interest book, we wash our hands with ceremony and we take time and we lock the door (almost make three prostrations) we unlock the safe, we look at it, we kiss it, we think about it, we may even sleep with it. We look at it again, touch it to our head and feel complete bliss. But when it is a Dharma book….(throwing action). After you take refuge, it is not right. If a Dharma book is and in the gutter and it is raining, you say, ‘Oh it is raining, just leave it.’ If we see twenty dollar in the gutter, even if it is raining, we would fish it our, get it out of the gutter. It shows our lack of respect and knowledge of what a holy text should be treated. A holy text should be kept high with a lot of respect and it should be well bound. It shouldn’t be thrown here and there with our reading materials: House and Garden, beauty magazines, motorcycle, ….preview, Rolling Stones – all that should be kept separately. Because this will bring to enlightenment because this will bring you – you know where? How can they be put together with no respect? Just throw them together with your other documents just in a corner, shriveled up, let it rot. No! Your diploma, you frame it and put it in a very nice place, shine the spot light on it, so that everybody can see your doctorate, your PhD. On that basis, this will bring you to enlightenment, how much respect you should show it. It should be in a high clean place, practically and if one day it become old and damaged, we should visualize it that the letters, from into light dissolves into you and bless you and it becomes an empty book or whatever you take out to a clean place and burn it, not with your garbage and your trash and your old clothes. Respectfully, in a clean place, burn it. While you are burning it, you can recite some precious mantras like OM MANI PADME HUM or OM MUNI MUNI MAHAMUNI YE SVAHA or OM ARAPACHA NADI. And with respect. That is the vow of refuge. Surprise. 4) Not to allow yourself, people who reject the Buddha’s Teaching or Teachings of Truth. It does mean: you are not Buddha’s followers, get out! No, Buddha’s Teachings have a wide view. People who are practicing the avoidance of the ten non-virtues are your friends. Of course we can have Christian, Muslim and Hindu friends. Of course. But if he calls himself a Buddhist but is not practicing Buddhist and you go out with him, go to the karaoke, get drunk, come back, we are all Buddhist. No, doesn’t work out like that. Wrong. That is not a real friend. Do not be fooled by people who pull you down gradually. And you wake up with a hangover. Fifty aspirins. OM MANI PADME HUM, OM MANI PADME HUM….. While you are meditating, you think about all the hospitals and “Doctor, doctor, doctor………” It is not the right place. 5) Then to regard anyone who ordains and wears the robes as the actual Sangha. Anyone who is ordained and of any religious denomination. And I am not trying to get respect out of you, believe me. You respect people who are ordained because they have given up their hair, their beautiful clothes, they have given up beaches and parties, they have given up Estee Lauder (nuns), they have given up everything that you cannot give up. They do not waste their time and practice the dharma fully. They are practicing the dharma, they have 253 vows that they are holding daily. And they are using the vows of protection form them like a fence protecting a small child going over ledge. And they are therefore practicing Dharma one hundred percent. Therefore worthy objects of reverence. ………

…..if you do, by the power of their vows and your negative speech you will receive harm. It is not that these holy beings when you curse them they do something bad back to you, they won’t be…..holy, they won’t be monks or nuns or religious priests or practitioners anymore if they do negative things. Because they are focusing on positive things on more than you can ever. And they have the vows as spoken by the Buddha.

First, those vows have power and each day they hold these vows is one day they come closer to enlightenment quicker than you, and they become better and able guides to help you. They have given up enjoyments, entertainments, fund, attachment to their body, running around wasting time. They have devoted to practicing Dharma one hundred per cent therefore to be able to teach you, to help you, to assist you, to guide. Perhaps to inspire you. How can we say negative things, do negative things or order them around like your pet dogs? Do this, do that. In fact, with folded hands on your knees you should request them to do certain things. Even if you cannot fold your hands and go on your knees to make such a display, never mind, but from your heart with respect, ‘Can you do this, can you do that?’ And if they say ‘no’, ‘why not?’ No, no, not like that. If they don’t do, why not? ‘Hmn, sami, sami, give me back my angpow!’ Take back, run upstairs, and complain, ‘Wow, wow, wow,………’. Weeks on end complaining about ‘wow, wow, wow…….’ Well, let me tell you something: the karma that you collect will be more powerful than the karma from abusing a normal person because they don’t have the vows. Definitely. In fact, if they say ‘no’, we should say ‘yes, venerable sifu.’ ‘Oh yes, OK’. Don’t disturb their minds and don’t go out casually to see if he has done something or he didn’t. Never mind, he must have his reasons. No, not to be tricky in your divisive talk. If you so show respect to the objects who guide you, you will be guided correctly. Monks and nuns and religious practitioners of any denomination should be put on a higher place, cleaner place, talked to with respect, shown respect, given respect.

The religion people will take care of your spiritual needs now and in the future. It is your duty to take care of their normal everyday worldly needs. It is an inter-relationship, it is a balance. They will do all the things you cannot do, and you will do all the things that they cannot do, and therefore support each other, help each other.

If you happen to come across a degenerate monk or nun, no need to say anything. You don’t have to help them, you don’t support them, you don’t have to abuse them. You go away. Bye! It is not that you are stupid or anything, you know the truth because you have eyes and ears. But hold judgment, because to newcomer, who comes along and you are abusing a monk or nun, say something bad to them – you are abusing them. To a newcomer, anyone can do that and they about doing that to any monks and nuns. Therefore, you have created a cycle for them to be reborn in the lower realms by going against a good person with the vows with morality. So even if you come across a degenerate, person like that, if you can this is a normal world, I am not perfect. But not talk rumors and spread rumors and do thing. If you don’t want to be involved, fine. It is your choice. But if you create talk about other people, to be involved, the danger will come. And so even if he is a degenerate monk, he has 253 vows, if ten are broken, he still has 243. So if you say something to him, the effect of your karma will not be 253 on the basis but 243. Even a completely fallen and degenerate monk is better than a heretic – one who rejects any good teachings. So be very careful with our mouths and our actions about the Sangha of any denomination. And please forgive me for saying this to you and I promise you that I am not saying this because I am a monk but I try to practice that being a monk. I try to practice that myself to other monk, not that I am successful to my students but they forgive me. But I am trying to educate you and let you know. I am not trying to get you to do everything for the monks and nuns and that monks and nuns are wonderful. They have their responsibilities too. Believe me, they do.

So think about that logically. Even a stupid monk, an uneducated monk, a monk who cannot teach or stupid nun, still he or she is a monk, a monk or a nun or a priest. And they still have their vows regardless of their high attainments or not. It is said in the Vinaya scriptures that bodhisattva like Kuan Yin Pusa manifests as an ordinary man or as an ordinary monk and this monk is not a Buddha, no attainment, nothing special but he holds his vows well, if there are two seats, the higher seat should be offered to the monk. And Kuan Yin’s emanation must prostrate to the monk, otherwise the Three Jewels will not be complete. It is said in the Vinaya Sutras on the basis of the vows which the Buddha has spoken first, so if you can show disrespect to monks, it shows you show disrespect to the state that they represent. If you show disrespect to the Sangha – monks, nuns, priests or anything – it shows your lack knowledge of what they represent and you create the karma not to attain what they will attain eventually. Therefore in the future when you meditate, when you do prayers, when you go to churches or talks or talks or the synagogues, you try to do, listen to good things, you get distracted. There, you get sleepy, you get bored, you get…………., you think about cheese cakes. That is a sign that you have shown very deep disrespect to someone who should be respected.

Think about it. It is for your spiritual evolution that I am talking about it. This is not something that I have made up at this moment. You can check any Dharma book in any language – Chinese, Tibetan, Hindi. In Thailand, when monks come by people must get down on their knees. And when they offer them food on their knees and with their head down, the monks don’t look at the patrons and they don’t look into their bowls to see if there is a cheese cake. They get one, they pray, they don’t get one they don’t pray – like me! They take what is given to them and they put on the head of the patrons and immediately recite the sutra for the good rebirth of that patron, without attachment. And the monks go back to the monasteries to do their prayers and to spend time on their meditation to advance. That is the purpose of the Sangha and lay patron relationship. You will offer dana and assistance to the state that you respect and you will achieve. You will achieve by the power of your karma and by the power of their vows. By the power of their vows as spoken by the Buddha. 6) To go for refuge to the Three Jewels again and again, remember their qualities. To go again and again for refuge, to the Buddha who is free from fears. It doesn’t mean going for the ceremonies every time a Lama shows up. You run to ceremonies. It means daily to recall the vows, to recall the dharma, to practice the Dharma, to remember the Refuge again and again. 7) Whenever you eat, to offer the first portion of food to your altar, if you have one. We will talk about how to set up the altar briefly. To offer the first portion of your food before you touch it. Then before you eat you have a small plate, and put a small portion of your rice or vegetables, whatever you haves and you offer to your altar if you have one and then you keep it there and at the end of the day or in the afternoon, you can take it and dump it in a clean place. And every day at least to do it once, but if three times a day, it is fabulous. But at least once a day. And when you offer, as I said the nicer crispier vegetables you put it on your plate, the vegetables at the bottom that is overcooked or burnt, you put on the plate, and the sticky rice at the bottom, you put on the plate and say, I take refuge to Buddha, Dharma and Sangha. No, not like that. Put the best portion of your meal, you offer up. And try not to make the plate too small. One grain of rice, and we take refuge. And not too big. From the mouth, we say it but from the heart we say it miserly – a good size everyday. Not to use that bowl for other things but for offerings on the altar. To always be with compassion to encourage others to practice to have refuge with compassion. If you don’t practice you go to hell! That is not the way. Oh you talk too much, bad karma, you look at yourself. What are you saying to her? What are you saying to him? And to encourage others with compassion and skill. But if you are not practicing well, just keep quiet, because other people will look and say, practice Dharma look like that, let’s go to the beach. Right? 9) Then, remembering the benefits of going for refuge. Remember the benefits. The benefits are many. Out of some of the benefits, you have basically eight benefits after taking refuge (but there are a lot more):

  • You become a true Buddhist
  • You become a candidate for all the vows: the ten refuge vows. Without vows, no attainments, without foundation, no wall, and no roof. The basis of attainment is the vows based on the ten avoidances, five precepts, etc, etc. If you do not have refuge, you are not candidate for the vows. If you don’t have vows, you will not have any attainments, you will not change. Vows are meant to protect you not to imprison you.
  • You will use up your delusions and previously acquired karma. Your delusions will become less, your wisdom will become more.
  • You accumulate a lot more good karma on the basis of refuge because in only follow the dharma you will get good karma and therefore the results. And with proper motivation, merits which leads to enlightenment.
  • You will not be bothered by humans and non-humans. If there are earth spirits, ghosts, demons, people try to make curses on you – black magic, no one can ever hurt you again after true refuge. None of these harms an ever bother you again if you take refuge. You will not fall, and if you take refuge and someone curses you – it happens a lot around here, I notice, or put a spell on you, or put something in your purse or something in your car, whatever, try to ruin you. If you take refuge, the curses, amulets are nullified immediately because nothing is more supreme than the Buddha on the basis of compassion. Compassion overcomes everything. And he has one hundred percent compassion.
  • You will not fall into the lower realms as an animal, spirit or hell realm. Because if you take real refuge, you stop doing negative actions and therefore you will not have negative results and therefore will not fall into the lower realms.
  • You will effortlessly achieve all temporary and long term aims. All temporary aims in this life, you will achieve effortlessly
  • And in the end you become enlightened quicker

These are the eight benefits of refuge. To remember the benefit of refuge again, as says in the texts, three times in the day and three times in the night. Exception even once a day is OK. If you can do that. 10) To perform every action with complete trust in the Three Jewels. What kind of trust? On the basis of karma: when negative things happen, with dignity, with grace, take it. When positive things happen don’t jump up and down and pull your hair out of excitement. Realize its transitory nature. To trust every action in the Three Jewels. 11) then never to forsake the Three Jewels even at the cot of your life or as a joke. Hah, if you are not going to do that, I am not going to practice anymore. You lose. Never to forsake the Three Jewels even at the cost of your life.

The twelve refuge vows after you have taken refuge is not to go against teachers or doctrines that counter the positive. Never. To regard all images of the Buddha as the Buddha regardless of the material, age, form. Not to harm others based on the ten non-virtuous actions. To regard any Dharma scriptures as the actual Dharma Jewel. Not to allow yourself to be influenced by people who reject the correct path. To regard anyone who wears the robes as the true Sangha and as an object of refuge. To go for refuge to the Three Jewels again and again. To offer the first portion of whatever you eat daily and remember the Three Jewels kindness. With compassion, encourage others to go for refuge. Remembering the benefits of going for refuge daily. To perform every action with complete trust in the three Jewels and never forsake the Three Jewels even at the cost of your lives or as a joke.

When you take refuge, you get a new Dharma name, signifying rebirth – from negative to positive. When you take refuge, from that moment on, you say consciously and openly, advertising, I will stop or lessen my negative deeds. You are advertising and in fact you are swearing in front of your sifu, the Buddha, the Dharma and the Sangha, that from that moment on, you will lessen and eventually eradicate your negative actions. That is refuge. And if do that the eight benefits and the auxiliary benefits will ensue, will follow you like a shadow to its body. You may think that the commitments are hard but again if you don’t take, how hard will it be. Think. Always on those terms. Think on a wide broader spectrum.

Then set up an altar if you family members agree. If it is an inter-religions and your partner agrees and it doesn’t offend and the altar is an object for you to collect merit, an object to remind you of your refuge and your practice of meditation and not for show, not as an ornament to you house. To set up the altar is very nice. There are three necessary items to your altar which are the representations of the Buddha’s body, Buddha’s speech and Buddha’s mind. So on every Buddhist altar…..if you can you have an altar, if you can’t never mind. It doesn’t mean you are not a Buddhist.

Buddha is everywhere, wherever you think the Buddha is, he is there. To have a Buddha image in any form. The Buddha has the power to de-atomize and change to any form, really, easily. Just like the simple H2O can change into mist, can change into ice, change into the precipitation of rain, snowflakes. Surely the Buddha has more power over his physical form than plain old rain. So Buddha can manifest in many forms. The Buddha’s wisdom is not like our wisdom, it can manifest intangible forms. And the Buddha’s wisdom manifest in the great Manjushri Pusa, the one with the flaming sword cutting off all obscurations. It doesn’t mean he is going to cut your ignorance, your hatred, your desire, your illusions. It represents the power of the Dharma in the form of the wisdom, sword to slice through your thick coat of ignorance, hatred and desire and your attachments. Then the Buddha manifests his great compassion, his wish to help others in the form of Kuan Yin Pusa, with a thousand arms, with four arms. The four-armed Kuan Yin Pusa represents the Buddha’s great compassion. The Buddha’s great power – his ability to remain stabilizing power – manifest in the form of a wrathful Pusa or Boddhisattva who is Vajrapani. This is Buddha’s power manifesting as Vajrapani in a wrathful form. He is wrathful showing his flames, his three eyes, hair and flames, wearing tiger skin and snakes. He is showing a fearful fierce form not at you but at your delusions, your ignorance and your hatred and your desire, your negative karma and your negative activities. He is designed to scare you and stop you in a fierce way from doing negative things.

In Tibet, some lamas bring around Dharma in a very peaceful and serene way like Kuan Yin. Some lamas manifest wrath: they beat you, they scream at you, they yell at you in order to bring you to the path of Dharma but the underlying motivation is compassion, whether it is Vajrapani wrathful or he manifest as a Kuan Yin, the intention is to help, never to harm. Our relationship with them whether it is peaceful or wrathful will always bring you to the Dharma path. There is a sign that their method is upon good intention.

Then the Buddha like that, manifest as three different Pusas: Kuan Yin (or in Tibetan Cheurezig and in Sanskrit Avalokitesvara), then wisdom is Manjushri (which in Sanskrit mean eloquent speech) or Manjushri Pusa, and the third one is Vajrapani ( or Chin Kang Pusa in Chinese). Vajrapani means power. And like that Buddha will manifest as Tara (here on the right side of Manjushri) all the Buddha’s skilful activities will manifest as a female goddess, Tara. The Buddha coming in the form of a Lama or teacher or these three Pusas rejoining into one and emanate on the earth to teach and to help, again as the great Tsongkhapa (as you can see here in the thangka. Wearing the yellow hat in the centre). Tsongkhapa is the manifestation of three Pusas, all three. So the Buddha divides and again combines to manifest on this earth in order to help and to assists.

Some of us have a lots of compassion but are not so smart – need Manjushri. Some of us are quite smart and quite fierce – need Kuan Yin. Some of us are fearful – need Vajrapani. Some of us are smart and compassionate but not so successful in whatever we do – need Tara. So the Buddha manifest in different myriads of forms to skillfully assist us. Which ever Pusa you pray to, which ever Buddha you pray to, it is the Buddha, but the Buddha will have a special link as to why he manifested in that way. So if you pray to Manjushri Pusa, wisdom will be stressed, doing along compassion and power and activity and skilful means. If you pray to Tara Pusa (Tomo Pusa), then quick activity along with compassion is stressed. Like a doctor who specializes in different fields, like different specialists. He is a doctor, he studies all the things that a doctor needs to know but he specializes…….

The physical form, the sound and meditation will create a situation in your karma and your energies and your mind and your ‘qi’ to develop quicker than the other deities. It doesn’t mean that if you practice Manjushri you don’t get compassion but it means that one aspect of enlightenment stressed. But when you are praying to Manjushri, you are simultaneously praying to all the Pusas –all: because they are the manifestations of all the Buddhas. So don’t think that if you have two on the altar, your wife is praying to Buddha, and you are praying to Tara or your husband is praying to Buddha and you to Tara, hmmmm….something wrong here…..No, don’t think. They will never think like that. Tara won’t punch Buddha because he has a higher seat. Or if you have a joss-stick and you think you have to have a joss-stick container for each Buddha, you offer one and you think the others are looking at you…hmmmm……Then you offer the other one and you think the other one is looking at you. When you offer food, you think: only one cup, but there are two, how to drink? Don’t think like that. It is very small. The Buddhas are compassionate, when you pray to one Buddha, when you are making offerings to one deity, you are making offerings to all simultaneously. If you are praying to medicine Buddha, he is the medicinal healing aspect of Shakyamuni, the Buddha energy for healing, healing ultimately ignorance, hatred and desire, temporarily your diseases and your distractions and your obstacles.

So to our karmic imprints and instincts, some of us have more bad karma for health, so we need medicine Buddha. Some of us have less wisdom, so we worship Manjushri. We can focus on that activity, we are deficient in and at the same time gaining enlightenment through any of them. So you can have more than one or just one – it is up to you. The bigger the better: the better the material the better, whatever financially you can afford. It is better to buy a precious statue of the Buddha and put precious ornaments and put gold and jewels on your image than to put jewels on yourself, paint your face, put on beautiful clothes and parade around, and sit in front of the mirror and look at yourself for two or three hours. For yourself, the biggest nine carat ring if you get diamonds at parties and you make sure the angle just hit the light in your friends’ face. But for the Buddha, you buy a cheap semi-precious stone, maybe glass, close your eyes and blink, ‘Oh for you Buddha,. May I gain enlightenment. May I get the best. Oh I am so devoted to you. I am a good practitioner’. Nothing! The Buddha sits there and keep quiet but he is compassionate. Logically. To ornament a Buddha the merits you gain is the real wealth. You are ornamenting or making offerings to a being who is free from all states of sufferings, therefore by making offerings to them, the best jewelry, the best clothes, gold the best statue and you keep them well, you are actually creating the merits and the karma to attain the enlightened state and directly, you will attain wealth. If you do not have the karma to attain wealth, when you get it, you will lose it, it gets stolen or you use it up quickly. If you have the karma to get it, whether you do work or not, you will get it. The best way is to make offerings to the Three Jewels. The most efficient way. If I may go further, with deep respect to all of you and not to try to sway your thoughts or anything but with respect, the best way is Sangha. If you have business problems, if you have family problems, offer to the Sangha from your heart, prostrate three times, offer with both hands and pray that all beings may be free from the problems that you have and then with respect, make offerings. It is one of the best way. It is predominant in all the Buddhist countries, you know.

Then once you get your Buddha statue, if you can fill the inside with mantras, fine. If it is too small, you can fill it with precious or semi-precious depending on your financial ability. Fill it up. If not, at least put on temporary mantra. You can write OM AH HUM in English. If you misspell it, no problem. Put it inside. If the statue is empty, it is said to collect spirits. But don’t get scared, ‘Oh my deities have been empty for years’. Never mind. If you can it is OK, if not you visualize the Buddha strongly there, filling up the statue. Never mind it is OK. So don’t get worried and superstitious.

They cover up the Buddha and some people keep a round hole in front because they think: ‘Oh the Buddha cannot give the blessings. How can Buddha be blocked from blessing with a piece of glass? People ask me whether I need to cut a hole in the front. I said: ‘Why?’ I thought it was the Buddha can’t breathe or what. ‘No, no, I cannot get the blessing and also when I pray my prayer don’t go to him.’ So that is why they put a hole. I say: ‘Why do you put the glass, why don’t you take it off and get all the blessings, all there’. Don’t think the Buddha is so stupid that the piece of glass can block his blessings. You can cover it so that the dust doesn’t collect on the physical representation of his body.

When you need to move it and clean it, move it with clean hands and good motivation, make three prostrations, you remove it and clean it and put it back. You clean it as often as possible. In the process, if you happen to break it or chip it, it is the end of the world. No! Not with the intention, Buddha is compassionate. Don’t worry, none of the will happen. How can a compassionate being take revenge if you remove it while he was having his tea? Cannot! If that is the case you pick it up and throw it out of the window. Bye! Go back to karaoke. Don’t be so stuck with this kind of practice. I am not saying you are, but in case, because I have been approached with these questions.

Then on the left of the Buddha, you put a Dharma text whether it is big, made of gold, silver wrapped nicely or what, Chinese, Tibetan, Hindi, it doesn’t matter. Any representation of the Buddha’s dharma should be on the Altar.

Then on the right, there should be a ‘stupa’. Here in front of Kuan Yin Pusa on the altar, there is a white figurine called the ‘stupa’ or pagoda in Chinese. This represents the Buddha’s enlightened mind.

So you are worshipping the body, speech and mind of the Buddha. You should all obtain a Buddha, Dharma representation. How high, how small, the material is up to you – up to your finances. The better, the more expense for you, the more the better. No problem and no conflict between the different deities. Sometimes I give Buddha Sakyamuni to people, they say ‘is it OK to place next to Kuan Yin?’ I say no, they will fight. Of course it is OK. No problem. They are the same. It is just like five different types of glasses: one is yellow, green, blue, white and the volume inside is the same. Inside the same but outside, it is different.

And you should make beautiful offerings in front – of flowers, incenses, light (electric light is OK) and change daily. You clean it nicely. Even as you clean around the altar, you should not think my boyfriend is coming, my girlfriend is coming, so I make it clean. Even as you clean you should think that the Buddha is present. I should clean for the Buddha.

And finally in front of the altar you should not fight, say bad things, do negative things. You should have some respect. If (and this is not a joke, excuse me for saying it), some people have one room apartments and they are living with their girlfriend or boyfriend, how do they keep their altar and they have to do their thing at night. How? That is very practical. Actually you can cover up the image. In Tibet, we have altars with curtains to cover up. It is not that Buddha cannot see through the curtains, you know. It is just a matter of respect. It is just a matter of respect from your heart. So just in case, and I am not trying to be…..really, these people who have these kinds of thoughts. Some people have and they are not bad, they have questions that should be answered.

Then we should make beautiful offerings. We should use un-chipped cups, with the best quality you can afford. When cleaning, even the cleaning instruments should be separate. The cloth that you use. You blow your nose and you wipe it. I don’t think it is a good idea. Everything should be separate. When you make offerings of flowers, everything should be of good quality. You can put artificial flowers, jade flowers, real flowers; artificial lights – no problem. With water, tea, yoghurt, milk, anything pure and fresh, from your hear. The amount is up to you. You can even offer cheese cake and then bring it back and eat it as a blessing. That is what I do. You can, but you shouldn’t offer it up, look at it and say, ‘Oh, I want it. Not like that. Should be free from miserliness.

That is the way to set up and altar. That is the way a simple explanation. Or if you can …symbol of the Buddha, no problem.

And if you can create Buddha images, make Dharma texts and help the Sangha, it is excellent. Again, I am telling you for general knowledge. The more Buddha images you create…..it is said in the scriptures, even a line drawn on the Buddha with anger will plant a seed in your mind that you will see the real Buddha – uh, ten million Buddhas in the future. That is the power of Buddha’s form. So imagine if you were to see a Buddha image with faith, how much more benefit is brings. A Buddha’s image will bring peace, harmony, correct feng shui, correct energy, bring solace, and remind you of your practice, and remind you of the state of being that you can achieve and all the positive qualities that are available for human kind. It will remind you of that. And to make offerings, the praise, the ‘kow tow’ to the Buddha is that way – any form as a reminder that you are attracted to those qualities, that you wasn’t shoes qualities. Then any image of the Buddha is excellent. And to make as many images as possible. By making Buddha images, one creates the indirect karma of attaining a beautiful body, a healthy body and strong body because if you create an image that represents that there is the fruition of that, therefore one will also create the karma to get that. So one should make as many Buddha images as possible to give away to people who want it. Take it. I don’t want. Take it. I don’t want. Take it. Not that type. Give to some who need it. As much as possible.

Then to print dharma books. How much benefit you get from Dharma books to read. There are many people who cannot buy it, who are poor. To make it, to give it to bring Dharma in their lives and whenever they read it and their mind changes and start to detach and start to transform because of that, it is because of your sponsorship for that book. Any attainments that they get will propel your attainments. So if they read the part about anger, they practice and meditate and they lessen their anger, you will lessen the karma to lessen your anger fast because you have created that in others. It is excellent to sponsor religious institutions. It is excellent to sponsor patrons of Dharma, to sponsor the printing and give away free. And never sell Buddha statues, never sell dharma books. No, never.

In Tibet when we make the statues, when we make the books, we go to the artisan before. People who make statues take that as a personal practice because if they cannot meditate they make beautiful statues for other people to meditate with. Therefore, when you go to buy statues from them, you offer whatever amount you are willing to offer. They will never complain. Today it has become commercial. Unfortunately, we cannot do anything. But one should not sell statues in any shape or form. If you ask someone to pick one up, you give the exact money, the exact price, and if you have to take a one two dollar loss, take it so that you don’t make black karma. It is excellent. Then that is the simplicity of an altar.Then the last topic that I will cover – to some people’s dismay and to some people’s happiness – Is the actual simple meditation that you can begin, in any religious denomination. It is a technique taught by the Buddha to calm your mind. Ideally, you get up, you make offerings on your altar. You do some kowtows, pray, do your mediation deities whether it is Buddha, or Tara. Then you sit for meditation and do dedication. Ideally. If you are of other religious denomination it is not a problem. On wake up, you can still do the meditation to calm your mind but you can recite these verses. As Buddhists these are wonderful verses for training the mind (the Eight Verses for Training the Mind).

  • With the determination of accomplishing the highest for all sentient being, even as a wish granting gem, may I hold them dear at all times
  • Whenever I associate with someone, I think myself the lowest amongst all and hold others supreme close to my heart (humility)
  • In all my actions, may I search through my mind and as soon as I flick it, delusion arises endangering myself and others, may I firmly face and avert it
  • When I see beings of wicked nature pressed by violence, sins and sufferings, may I hold patience, these rare ones as dear as precious gems
  • When others out of envy treat me badly with abuse, slander and ……., my life, may I suffer defeat and offer the victory to others. (May you inherit the kingdom of heaven)
  • When the one whom I have great hope hurts me very badly, may I behold him as my supreme teacher
  • In short may I directly and indirectly offer benefit and happiness to all sentient beings. May I swiftly take the harm and sufferings of all
  • May all these not be defiled by the eight worldly principles (that we talked about) by perceiving all phenomena as illusive become unattached and free from suffering.

One should recite this as a reminder of what one should do daily and begin the meditation. Or if you are a practicing Buddhist, you get up, you do your offerings, kowtow, you sit, take refuge. You pray to your meditational deity, if you like. If you don’t, Shakyamuni or Kuan Yin. No problem – all are the same. Recite the prayers and mantras that go along with them.

If medicine Buddha and you pray that all sentient beings gain enlightenment. Then if you like, the Eight Verses of Training the Mind and then the actual meditation. And then afterwards the dedication.

I will show you the meditation and then I will conclude. It is actually very simple and easy. There are two types of meditation. The heart of Dharma practice is meditation. Without meditation, no attainment will come along. So just reciting mantras, to Dharma talks but you don’t meditate, nothing can be achieved. Nothing. The first purpose of meditation is to make our mind calm and peaceful.

If you mind is calm and peaceful, we shall be free from worries and mental discomfort. So we shall experience two happiness. If our mind is not peaceful, we shall find it very difficult to be happy even if we are living in the very best conditions. If we train in meditation, our mind will gradually become more and more peaceful and we shall experience a purer and purer form of happiness. Eventually we shall be able to remain happy at all times even in the most difficult circumstances.

Usually we find it difficult to control our mind. It seems as if our mind is like a balloon in the wind, blown here and there by external circumstance. When things go well the mind is happy but when things do not go well, the mind immediately becomes unhappy. For example, if we get what we want such as new possessions or a new partner, we become excited and cling to them tightly. But since we cannot have everything, we want and since we will inevitably be separated from friends and possessions we currently enjoy the mental stickiness or attachment serves to cause us pain. On the other hand, if we do not get what we want and we lose something that we like, we become despondent or irritated. For example, if we are forced to work with colleagues we dislike, we shall probably feel irritated and aggrieved with the result that we shall not be able to work efficiently and our time of work will become stressful and unrewarding. Such fluctuations and mood arise because we are too closely involved with our external situations. We are like a child making a sand castle, who is excited when it is first made but who becomes upset when it is destroyed by the incoming tide. By training in meditation, we create an inner space and clarity that enables us to control our mind regardless of external circumstances. Gradually we develop mental equilibrium, a balanced mind that is happy at all times rather than an unbalanced mind that oscillates between the extreme of the states of excitement and despondency.

Please read this paragraph again because it is very important. Such fluctuations of the moods arise because we are too closely involved in the external situation. We are like a child making a sand castle who is excited when it is first made, and become upset when it is destroyed by the incoming tide. By training in meditation, we create an inner space and clarity that enable us to control our mind regardless of the external circumstances. Gradually we develop mental equilibrium or balanced mind that is happy at all times rather than an unbalanced mind that oscillates or fluctuates between the extremes of excitement and despondency.

If you train in a meditation method systematically, eventually we shall be able to eradicate from our mind the delusions that are the causes of all our problems and suffering. In this way, we shall come to experience a permanent inner peace known as liberation or nirvana. Then day and night, we shall experience only peace and happiness. Meditation is a method for acquainting our mind with virtue. It is a mind that analyses or concentrates on a virtuous object. A virtuous object is one that causes us to develop a peaceful mind when we analyze it or concentrate on it. Any virtuous object – if you ask me to give the definition – the more you concentrate, the more you do it, the more peace, and more harmony it will create for others and for oneself. That is the definition of a virtuous act or activity or state of mind. Anything that creates more harm, more worry, more anxiety is a non-virtuous activity. If we contemplate an object that causes you to develop an un-peaceful mind, anger or hatred or negative actions, this indicates that, that object is non-virtuous. There are also many objects that are neither virtuous nor non-virtuous but neutral.

There are two types of meditation: analytical meditation and placement meditation. Analytical meditation is when you contemplate and think about a subject over and over and over again until your mind becomes detached or transformed or changes. Placement meditation is to develop concentration: samatha, vipassana meditation in the holy Thai tradition to get complete concentration. With concentration when the mind calms down, this is like the ocean waves churning when the sea is rough, sediment are churned up and the water becomes murky. When the wind dies down the sediment settles and the water becomes clear. Right now our mind is like the sea water being blown by wind, churning all the sand, and the mud and the pebbles, therefore the water is unclear. The moment the sea comes down we can see through the water clearly. Our mind becomes lucid and subtle.

Before you can do good contemplated meditation you must do placement meditation. If can do both, it is wonderful if you have enough time and you can achieve both simultaneously. With placement meditation you will have more focus or concentration in your daily lives, more calmness, more happiness because your mind is focused and calm and released.

The first stage of meditation is to stop distraction and to make our mind clear and lucid. This can be accomplished by practicing a simple breathing meditation. We choose the fine place and sit in a comfortable position. We can sit the traditional crossed-legged posture or any other posture that is comfortable. If you wish, you can sit in a chair. The most important thing is to keep our back straight to prevent our mind from becoming sluggish or sleepy. We sit with our eyes partially close, with our attention on our breathing. We breathe naturally, comfortably through our nostrils, without trying to control our breath. We try to become aware of the sensation as our breath enters and leaves the nostrils. We do this as I give the explanation. If you cannot follow, never mind, but still think. At first our mind will be very busy and we may even feel that the meditation is making our mind even busier. But in reality we are just becoming to be aware how busy our mind really is. There will be great temptation to follow the different thoughts as the arise…….

Written by Valentina Suhendra

 

Peraturan dan Persetujuan Terjemahan

Terjemahan ini adalah hasil pekerjaan dari penerjemah pihak ketiga di luar organisasi Kechara. Apabila terjadi salah paham terhadap pengertian dari materi versi bahasa Indonesia, versi bahasa Inggris akan dianggap sebagai versi yang lebih akurat. Walaupun setiap upaya telah dilakukan untuk memeriksa akurasi dari hasil terjemahan ini, kemungkinan terjadi kesalahan tetap ada. Semua pihak yang menggunakan informasi yang didapat dari artikel ini, melakukan hal tersebut dengan resiko pribadi.

© Hak cipta dari artikel ini dipegang oleh Tsem Tulku Rinpoche. Artikel ini bisa di - download, dicetak, dan gandakan hanya untuk kepentingan pribadi atau kegiatan belajar - mengajar. Kegiatan men-download, menggandakan, tidak boleh dilakukan untuk kepentingan komersial atau untuk mewakili kepentingan perusahaan komersial tanpa ijin eksplisit dari Tsem Tulku Rinpoche. Untuk kepentingan seperti ini, harap menghubungi Liason Susan Lim dari Kechara Media and Publication ( This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it ).

Translation Disclaimer

This translation is the work of a third party translator external to the Kechara Organisation. Should confusion arise in the interpretation of the Indonesian versions of the materials of this page, the English version will be considered as accurate. While every effort is made to ensure the accuracy of the translation, portions may be incorrect. Any person or entity who relies on information obtained from the article does so at his or her own risk.

© The copyright to this article is held by Tsem Tulku Rinpoche. It may be downloaded, printed and reproduced only for personal or classroom use. Absolutely no downloading or copying may be done for, or on behalf of, any for-profit commercial firm or other commercial purpose without the explicit permission of Tsem Tulku Rinpoche. For this purpose, contact Susan Lim, Kechara Media and Publication Liaison, at This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it .

 

Comments  

 
# bhayue 2011-10-11 06:29
apa cara mnghindaridari samsara dalam agama budha..??? :-?
Quote
 
 
# Valentina Suhendra 2011-10-15 08:21
Hi Bhayue

cara menghindari samsara adalah dengan mengikuti ajaran Buddha. Mudah2an kamu akan menemukan guru yang tepat dan berkualifikasi untuk memberikan nasihat yang tepat mengenai hal ini.

Valentina
Quote
 
 
# รับเช่ 2014-02-24 12:03
Hello there! Do you use Twitter? I'd like to follow you if that would be ok.
I'm definitely enjoying your blog and look forward to new posts.
Quote
 
 
# รับทำ seo 2014-02-28 02:29
Hi, yeah this paragraph is genuinely nice and I have learned
lot of things from it on the topic of blogging. thanks.
Quote
 
 
# http:// 2014-03-02 06:49
Simply desire to say your article is as astounding.
The clearness in your post is just great and i can assume you are an expert on this
subject. Well with your permission let me to grab your RSS feed to
keep up to date with forthcoming post. Thanks a million and please continue the gratifying work.
Quote
 

Add comment

Visitors

We have 31 guests online

Social Media

Have anything to say?


Copyright © 2013