Hidup Dengan Etika: Memberi dan Menerima PDF Print
Translated by Valentina Suhendra   
Article hits: 9666

Menerima tanpa memberi itu seperti kalian mendapatkan sesuatu dengan gratis, dan kalian mendapatkan sesuatu tanpa memberi apa-apa, tetapi hal ini adalah menipu. Karma selalu ada di sana… dan kalian harus membayar kembali dengan satu cara atau cara lain.
His Eminence Tsem Tulku Rinpoche

Receiving without giving seems like you are getting something for free, and you are getting something for nothing but that is deceptive. Karma is always there…and you have to pay back one way or another.
His Eminence Tsem Tulku Rinpoche

Hukum karma adalah hukum sebab akibat, dimana semua tindakan kita adalah sebab dan pengalaman kita, adalah akibatnya. Hukum sebab –akibat adalah hukum yang paling adil karena mereka tidak tergantung pada hal-hal eksternal untuk bekerja. Hukum konvensional kita di sisi lain, tidaklah selalu berjalan dengan baik karena mereka dibuat oleh manusia dan karena itu dapat menjadi subyek manipulasi, politik, kebias-an manusia dan kesalahan. Hukum konvensional berguna karena mereka membantu pemerintah dan negara untuk menjaga kedamaian. Akan tetapi, mereka tidak selalu mempromosikan keadilan atau kondisi manusia.

The laws of karma is a special instance of the law of cause and effect, whereby all our actions are the causes and our experiences, their effects. Causal laws are the fairest laws as they do not depend on an external agency to operate. Our conventional laws on the other hand, are not reliable because they are man-made and hence subject to manipulation, politics, human bias and errors. Conventional laws are useful because they help governments and nations to maintain peace. However, they do not necessarily promote justice or the human condition.

Sebagian besar dari kita pernah mengamati atau mengalami ketidak-adilan yang tidak bisa diatasi oleh hukum negara kita. Beberapa contoh seperti orang yang melakukan kejahatan dan lolos dari hukuman, orang yang tidak bersalah yang dinyatakan bersalah, atau orang malas yang hidup dalam kemewahan sementara orang baik tidak berkecukupan berapapun usaha yang mereka lakukan.

Karma menawarkan penjelasan dari semua ketidak-samaan dalam dunia. Akan tetapi, agar dapat mengerti cara bekerjanya, kita perlu memiliki keyakinan yang kuat atas kehidupan di masa lalu dan di masa datang. Hal ini sangat penting karena beberapa potensi akibat (yang muncul dari suatu sebab) baru akan terbuka lama setelah suatu tindakan lama dilakukan – yaitu, akibat yang mungkin terjadi di kehidupan kita yang sekarang, dan di kehidupan yang akan datang.

Most of us will have observed or had experience of unfairness which the laws of our country cannot address. Some examples include people who commit crimes and get away with them, innocent parties who are found guilty, or lazy people who live a life of luxury while good folks eke out a living no matter how much effort they put in.

Karma offers an explanation for the inequalities of the world. However, in order to understand its operation, we need to have a strong belief in past and future lives. This is crucial because the potential for an effect (arising from a cause) may ripen long after an action has been completed – that is, an effect may occur after our present life, and in our future lives.

Mereka yang selalu mengambil – suka gratisan, parasit, atau apapun namanya – mungkin mempunyai pandangan yang salah bahwa mereka bisa lolos karena mereka melakukannya dengan licik, atau karena orang yang “baik” membiarkan mereka melanjutkan cara mereka. Akan tetapi, mereka yang mengambil tanpa memberi kembali menderita akibat karma yang sama seperti pencuri dan orang yang serakah.

Keserakahan dan mengambil tanpa memberi semuanya menghasilkan kelahiran kembali sebagai setan kelaparan. Suka memberi, di sisi lain, menghasilkan sumber daya yang berlimpah dan kelahiran kembali sebagai manusia atau dewa.

Karena itu, mereka yang hidup dengan selalu mengambil dari orang lain dan tidak pernah memberi, mungkin nampak seperti menikmati keberuntungan yang baik dalam kehidupan ini. Tetapi sebenarnya, dalam kehidupan-kehidupan yang akan datang, tipe karma yang dikumpulkan orang-orang seperti ini dari selalu mengambil akan direfleksikan dalam tipe penderitaan yang akan dialami nanti. Mereka, kemungkinan besar akan lahir kembali sebagai hantu kelaparan yang tidak pernah dapat memenuhi perut mereka. Bila mereka dilahirkan kembali sebagai manusia, mereka akan mengalami kemiskinan dan tidak akan dapat memiliki sesuatu untuk waktu yang lama. Bila mereka mempunyai uang atau harta benda, mereka akan menghabiskannya dengan mudah; mereka akan merasa sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan atau bantuan dalam bentuk apapun dan akan selalu kekurangan.

Hal ini mempertimbangkan bahwa karma yang berbuah di kehidupan yang akan datang. Bila karma berbuah dalam kehidupan yang ini, mereka akan kehilangan sahabat, keluarga dan harta benda. Penderitaan dari karma ini terjadi pada saat kematian, ketika seseorang menderita penyesalan, kekecewaan, kemiskinan, dan kesepian.

Apakah kita mau mendapatkan keuntungan jangka pendek, hanya untuk menerima penderitaan dalam jangka panjang?

Those who are always on the take – freeloaders, parasites or whatever they are called – may be under the mistaken impression that they can get away with it simply because they do it sneakily, or because ‘kind’ people allow them to continue their ways. However, those who take without giving back suffer similar karmic repercussions as thieves and greedy people.

Greed and taking without giving both lead to rebirth as hungry ghosts. Generosity on the other hand, leads to an abundance of resources and our rebirth as a human or god.

Therefore those who live their life always taking from others and never giving, may appear to enjoy good fortune during this lifetime. In reality however, in lifetimes to come, the type of karma these people accumulate from always taking will be reflected in the type of suffering they experience later. They will most likely be reborn as hungry ghosts who are never able to fill their stomachs. If they are reborn as humans, they will experience abject poverty and will not be able to hold on to anything for long. If they have money or possessions, they will lose it very easily; they will find it very hard to secure a job or any kind of help and will constantly be in need.

That is considering that the karma ripens in a future life. If their karma ripens in this life, they will lose their friends, family and possessions. The suffering of this type of karma occurs at the moment of death, when the person suffers regret, disappointment, poverty and loneliness.

Do we want short-term gains, only to receive long-term suffering?

Peraturan dan Persetujuan Terjemahan

Terjemahan ini adalah hasil pekerjaan dari penerjemah pihak ketiga di luar organisasi Kechara. Apabila terjadi salah paham terhadap pengertian dari materi versi bahasa Indonesia, versi bahasa Inggris akan dianggap sebagai versi yang lebih akurat. Walaupun setiap upaya telah dilakukan untuk memeriksa akurasi dari hasil terjemahan ini, kemungkinan terjadi kesalahan tetap ada. Semua pihak yang menggunakan informasi yang didapat dari artikel ini, melakukan hal tersebut dengan resiko pribadi.

© Hak cipta dari artikel ini dipegang oleh Tsem Tulku Rinpoche. Artikel ini bisa di - download, dicetak, dan gandakan hanya untuk kepentingan pribadi atau kegiatan belajar - mengajar. Kegiatan men-download, menggandakan, tidak boleh dilakukan untuk kepentingan komersial atau untuk mewakili kepentingan perusahaan komersial tanpa ijin eksplisit dari Tsem Tulku Rinpoche. Untuk kepentingan seperti ini, harap menghubungi Liason Susan Lim dari Kechara Media and Publication ( This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it ).

Translation Disclaimer

This translation is the work of a third party translator external to the Kechara Organisation. Should confusion arise in the interpretation of the Indonesian versions of the materials of this page, the English version will be considered as accurate. While every effort is made to ensure the accuracy of the translation, portions may be incorrect. Any person or entity who relies on information obtained from the article does so at his or her own risk.

© The copyright to this article is held by Tsem Tulku Rinpoche. It may be downloaded, printed and reproduced only for personal or classroom use. Absolutely no downloading or copying may be done for, or on behalf of, any for-profit commercial firm or other commercial purpose without the explicit permission of Tsem Tulku Rinpoche. For this purpose, contact Susan Lim, Kechara Media and Publication Liaison, at This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it .

 

Add comment

Visitors

We have 25 guests online

Social Media

Have anything to say?


Copyright © 2013