Dua Kebenaran oleh Denma Lochö Rinpoche PDF Print
Translated by Valentina Suhendra   
Article hits: 4608

Denma Lochö Rinpoche, mantan kepala biara Namgyal, biara Yang Mulia Dalai Lama di Dharamsala, India, mengajar selama dua minggu di Lembaga Akar di Bodhgaya, India Desember 1995. Ini adalah ringkasannya. Diterjemahkan oleh Gareth Sparham.

Setelah diminta untuk membicarakan Dua Kebenaran: tingkat konvensional atau permukaan dari kebenaran dan kebenaran terakhir. Melihatnya dari satu sisi seperti saya telah menyelesaikan ajaran saya karena hanya ada dua kata ini: konvensional dan terakhir, dan selesai! Tetapi fakta bahwa dua kebenaran ini menggolongkan di dalam mereka semua ajaran Buddha, jadi ada lebih banyak hal untuk dibicarakan daripada dalam paruh besar.

Denma Lochö Rinpoche, the ex-abbot of Namgyal, His Holiness the Dalai Lama’s monastery in Dharamsala, India, taught for two weeks at Root Institute in Bodhgaya, India December 1995. Here is an extract. Translated by Ven Gareth Sparham.

Have been asked to give a talk on the Two Truths: the conventional or surface level of truth and the ultimate truth. Looking at it one way it seems as if I’ve already finished my teaching because there are just these two words: conventional and ultimate, and that’s finished! But in fact these two truths subsume within them all of Buddhism, so there is more to talk about than you’d find in a huge beak.

Saya bertanya kepada kalian semua di tempat spesial Bodhgaya ini untuk membangkitkan dari dalam diri kalian motivasi spesial. Setiap makhluk hidup, tidak peduli siapa mereka, adalah makhluk hidup yang mencari kebahagiaan. Pada saat yang sama mereka mencari kebahagiaan, mereka tidak sadar mengenai sebab kebahagiaan, jadi sebut ini motivasi: untuk membebaskan mereka dari ketidak-bahagiaan, saya harus mendapatkan kualitas yang baik, semua kesempurnaan dari kondisi tercerahkan, agar dapat mengajar mereka bagaimana membebaskan diri mereka.

Makhluk hidup, seperti diri kita, didefinisikan sebagai ingin menghindari yang tidak menyenangkan, situasi menderita, dan ingin menempatkan diri mereka dalam situasi bahagia. Hewan, dari mulai serangga, memiliki pengetahuan metode untuk segera menghilangkan penderitaan, mereka memiliki kepandaian ini.

Manusia berbeda dari hewan karena mereka memiliki kepandaian untuk jangka waktu yang lebih besar. Mereka bisa mulai melakukan melakukan sesuatu untuk menanggalkan kondisi yang seharusnya mereka alami pada masa depan – sebagai contoh, mendapatkan pendidikan yang baik sehingga kita bisa mendapatkan pekerjaan, mencari uang, dan hidup berkecukupan di masa depan. Pada titik ini, kita berbicara secara umum; spiritualitas belum dimasukan dalam diskusi sama sekali.

Bila seseorang berbuat baik, masa depan orang tersebut akan ada dalam kondisi bahagia. Bila seseorang melakukan tindakan buruk, orang tersebut telah menciptakan sebab untuk berada dalam kondisi kesengsaraan. Spiritualitas lalu masuk dalam proses berpikir manusia yang merenungkan masa depan yang melebihi kematian yang sederhana.

Setiap hal yang dikatakan oleh yang tercerahkan membawa kembali pada pengertian dari dua kebenaran. (Hal ini tidak berarti tidak ada kebenaran ketiga, sebagai contoh Empat Kebenaran Mulia dan seterusnya, jadi kalian bisa memiliki sub-divisi.) Karena kalian memiliki dua tingkat kenyataan, kalian memiliki sesuatu yang terbagi, atau dikategorikan dalam dua kategori.

Jadi kalian bisa bertanya pada dirimu, “Apa yang dibagi?” dan jawabannya adalah dapat diketahui atau obyek pengetahuan (Tibet, she-ja). Di sini sesuatu yang dapat diketahui hanyalah sesuatu yang ada. Untuk ada berarti dapat diketahui, dan untuk dapat diketahui berarti untuk ada.

Sebagai contoh, ide tanduk rusa pada kelinci – hal ini muncul dalam pikiran saya. Saya dapat memfabrikasi kesadaran ini, dan tanduk kelinci adalah sesuatu yang diketahui tetapi mereka tidak ada. [masalah] di sini adalah kalian menyamakan hal yang ada dan hal yang diketahui, mereka diketahui oleh kesadaran [yang valid] tetapi tidak oleh kesadaran [mana saja]. Dengan kata lain, saya dapat keluar dari kesulitan ini dengan berkata bahwa, benar, tanduk rusa diketahui oleh kesadaran [seseorang], tetapi tidak selalu berarti mereka diketahui oleh kesadaran!

Kebenaran terakhir, paramarthasatya, bila kalian melihat makna bahasa Sanskrit: artha merujuk pada apa yang diketahui; parama merujuk pada apa yang mengetahui obyeknya, yaitu, pikiran makhluk berspiritualitas tinggil satya berarti kebenaran. Kebenaran karena apa yang diketahui sebagai kebenaran adalah apa yang mengetahui obyeknya, pikiran dari makhluk berspiritualitas tinggi, karena itu, kebenaran terakhir, hal yang paling benar.

Jadi bagaimana dengan kebenaran yang lain, tingkat konvensional, permukaan: Bagaimana seseorang mengerti yang kedua dari dua kebenaran ini bila kenyataan terakhir dimengerti dengan cara ini? Ini adalah smvrtisatya. Samvrti adalah menutupi sepenuhnya, dan menutupi di sini berarti kesadaran biasa menutupi yang nyata. Satya adalah kebenaran, tetapi kebenaran bagi kesadaran biasa. Dengan kata lain, semua hal yang benar bagi pikiran biasa seperti pikiran kita dianggap sebagai nyata oleh mereka – adalah kebenaran konvensional, karena itu, kebenaran dari pikiran biasa yang tertutup.

Dalam tradisi ilmiah kita berkata bahwa apapun yang diketahui akan selalu tercakup dalam salah satu dari dua tingkat kenyataan. Setiap hal yang tidak ditutupi oleh dua tingkat ini adalah di luar dari lingkungan yang bisa diketahui. Ada logika yang dalam di sini – kedua kategori ini, kedua kebenaran, adalah deskripsi lengkap dari semua yang ada di sini.

Ini adalah cara bekerjanya. Kebenaran dan kebohongan berjalan bersamaan, benarkah? Bila seseorang membuat pernyataan yang mencerminkan kenyataan, maka pernyataan ini benar. Akan tetapi, pernyataan yang tidak mencerminkan kenyataan adalah salah.

Tingkat terakhir dari kenyataan dicerminkan dalam pikiran yang sadar yang mengetahuinya, dengan cara ini tidak berbohong. Hal ini memunculkan situasi dimana semua kebenaran konvensional berbohong terhadap kesadaran yang mengetahui mereka, mengenai cara mereka nampak.

Seperti itu juga, hal biasa yang nampak pada kesadaran biasa harus dikatakan sebagai berbohong kepada kesadaran biasa itu. Kalian, dengan menghilangkan kebenaran, secara positif menunjukan kebenaran dari kesadaran akan yang terakhir. Yang terakhir tampak kepada kesadaran yang mengetahui bahwa ia tidak berbohong kepada kesadaran tersebut, ini adalah demikian halnya- kenyataan terakhir dari hal.

Jadi kalian memiliki satu makhluk yang diharuskan oleh yang lain untuk melihat, dan dari cerita ini, kalian bisa mengekstrapolasi untuk menunjukan bahwa pernyataan ini adalah lengkap bagi semua yang dapat diketahui, dan yang ada.

Dalam ide sistem Buddha, ada banyak interpretasi dari dua tingkat kebenaran. Mereka ditunjukan dalam dua sekolah filosofi Buddha.

Dalam sekolah yang paling bermakna, Jalan Tengah sekolah Consequentialist, apakah kekosongan atau yang terakhir? Adalah ini: bahwa tidak ada siapapun atau apapun, dimanapun, yang memiliki hal yang membuat apa adanya. Tidak ada yang memiliki pertanda pribadi.

Ketiadaan sesuatu, ketiadaan total, total ketiadaan, ketidak-beradaan dari apapun yang tidak ada di sana melalui kekuatan bahasa dan pikiran adalah shunyata, kekosongan, dan kebenaran terakhir.

Ketika seseorang berbicara mengenai kebenaran akhir, kekosongan, seseorang memiliki sebuah focus, orang tersebut melihat obyek dan menemukan mereka kosong total. Apa yang dilihat dan ditemukan sebagai kosong sangatlah penting. Identifikasi pertama dari hal menjadi hal yang penting untuk dilakukan karena kebenaran terakhir bukanlah sesuatu yang dapat dipahami oleh indera kita – kita tidak dapat melihatnya. Kita harus sampai padanya melalui proses pikiran kita, dan agar dapat melakukan ini kita harus menggunakan alasan. Alasan ini berangkat dari hal-hal tertentu atau dasar, jadi kita harus mengidentifikasi ini pada kesempatan pertama.

Mari mulai dengan mencoba untuk mengidentifikasi apa yang secara klasik adalah yang paling penting bagi dasar-dasar ini, lima agregat atau skanda. Dalam Sutra Hati dikatakan, “Dia mencari dan melihat lima agregat adalah kosong dari keberadaan inheren.” Jadi bila kalian tidak mengetahui apa kelima hal ini, bagaimana mungkin kalian bisa menemukan kebenaran terakhir dari mereka?

Kelima agregat adalah tumpukan besar dari hal-hal fisik, tumpukan besar perasaan, tumpukan besar diskriminasi, tumpukan besar dari hal-hal yang diciptakan (Sanskrit, samskara) dan tumpukan besar kesadaran.

Jadi, seseorang memiliki tumpukan-tumpukan, agregat, dan hal ini melokasikan makhluk hidup. Marilah kita ambil agregat dari hal-hal fisik, yang dapat dipecah-pecah menjadi hal fisik obyektif eksternal dan hal fisik subyektif internal. Penglihatan, suara, bau, rasa, dan sensasi adalah hal-hal fisik eksternal atau obyektif dalam tumpukan besar hal-hal fisik, sementara lima indera adalah hal-hal fisik subyektif atau internal.

Tumpukan kedua adalah perasaan. Apakah perasaan itu? Mereka adalah pengalaman yang dirasakan seseorang dari hal-hal: pengalaman menyenangkan, pengalaman neutral dan yang tidak menyenangkan.

Tumpukan selanjutnya adalah diskriminasi, yang didefinisikan sebagai bagian dari pikiran yang berfungsi untuk mengidentifikasi hal-hal tertentu sebagaimana adanya.

Agregat keempat dari hal-hal yang dibuat paling banyak tidak berhubungan dengan hal-hal yang dibuat. Ini adalah tas-tangkapan bagi setiap hal yang tidak termasuk dalam empat tumpukan.

Dan apakah tumpukan kelima? Ini adalah kesadaran atau pikiran. Hal ini biasanya dilihat dari indera berdasarkan kesadaran yang datang dari pikiran yang berpikir.

Seseorang hanya dapat berfokus pada realitas kekosongan ketika seseorang telah melihat ukuran, dimensi, dari apa yang disangkal.

Orang suci Tibet Tsong Khapa berkata, “Semua hal yang dihasilkan dari kondisi tidak pernah diproduksi.” Kalian bisa mengeluarkan paradoks dengan cara ini. Apa yang kau katakan adalah tidak ada yang diproduksi sebagai sesuatu yang independen; tidak ada yang diproduksi sebagai sesuatu dari kekuatannya sendiri. Ini adalah apa yang ingin didemonstrasikan.

Sebagai contoh, sebuah bibit tidak diproduksi sebagai sesuatu atas kekuatannya sendiri, sebagai sesuatu yang secara inheren apa adanya. Mengapa? Karena hal ini dihasilkan dari sebab dan kondisi. Inilah bagaimana kalian memilah arti dari pernyataan untuk memformulasikan alasan dari makna tertentu, yang merupakan kekosongan, untuk mendapatkan pikiran yang jelas.

Lama Tsong Khapa menulis Pujian bagi Ketergantungan yang terkenal, “Apa yang lebih luar biasa, adakah cara yang lebih baik untuk mengekspresikan realita yang telah ditemukan? Apapun yang tergantung pada kondisi adalah kosong.”

Ada banyak alasan beragam seseorang dapat mengerti kekosongan. Tetapi di sini kita bertemu dengan raja dari semua penalaran – ketergantungan – karena apapun yang diproduksi atau ada karena ketergantungan adalah alasan bagi setiap kekosongan. Menggunakan alasan ini, seseorang menghindari nihilisme yang ekstrim, karena ketergantungan menunjukan sesuatu di sana; akan tetapi, karena ini adalah alasan yang menunjukan bahwa kekosongan juga menghilangkan kekekalan.

Seperti yang dikatakan Aryadeva, “Seseorang yang mendapatkan pandangan atas suatu realita mendapatkan pandangan atas semua realita.” Apa yang dikatakannya adalah bila seseorang betul-betul mendalami realita apapun, seseorang tidak perlu melalui seluruh proses ini lagi dengan obyek yang lain. Dengan membawa pada pikiran realita yang kalian lihat dalam satu obyek atau orang, dan memutar pikiran ke orang lain, kalian akan melihat realita ini juga.

Inilah mengapa setiap sadhana kita tanpa kecuali dimulai dengan mantra yang berarti “Om, ini adalah kemurnian, semua Dharma adalah murni, saya adalah kemurnian.” Sebelum melakukan sadhana seseorang dapat mengingat hal ini sebagai realita terakhir – kekosongan.

I ask all of you in this special place of Bodhgaya to bring up within you a special motivation. Every living creature, no matter who they are, are living creatures seeking happiness. At the same time they seek happiness, they are unaware of the cause of happiness, so call up this motivation: that to relieve them from their unhappiness, I must myself achieve all the wonderful qualities, all the excellence of an enlightened state, in order to teach them how to free themselves.

Living creatures, just like ourselves, are defined by seeking to avoid unpleasant, suffering situations, and seeking to place themselves in happy situations. Animals, from insects on up, have knowledge of methods to immediately remove suffering, they have this intelligence.

The human being differs from the animal as they have the intelligence to take into account a much greater time span. They can begin to do things to alleviate states that they will otherwise experience a long time in the future—for example, getting a good education so we can find a job, make money, and live well in the future. At this point we are talking generally; spirituality hasn’t entered into the discussion at all.

If one performs wholesome deeds, one’s future will be in a happy state. If one has performed unwholesome deeds, one has set down the causes to find oneself in a state of woe. Spirituality then enters the thought process of a human being contemplating a future that goes beyond simple death.

Everything that the enlightened one spoke of leads back to the understanding of the two levels of truth. (This doesn’t mean there is no third truth, for example the Four Noble Truths and so on, so you can have sub-divisions.) Since you have two levels of reality, you have to have something being sub-divided, or categorized in two categories.

So you can ask yourself, “What is being sub-divided?” and the answer is knowables or objects of knowledge (Tibetan, she-ja). Here, a knowable is simply something that is existing. To exist means to be knowable, and to be knowable means to exist.

For example, I could have the idea of antlers on a rabbit—it could come up in my mind. I could fabricate this awareness, and in that sense rabbit’s antlers are something known but they certainly don’t exist. [The problem] here is that when you equate things that exist and things that are known, they are known by [a valid] awareness but not by [just any] awareness. In other words I could get out of this difficulty by saying that, true, rabbit’s antlers are known by [a particular person's] awareness, but this doesn’t necessarily mean that they are known by awareness!

Ultimate truth, paramarthasatya, if you take the [Sanskrit] word apart is this: artha refers to that which is known; parama refers to that which knows its object, that is, the mind of a high spiritual being; satya means truth. It is truth because that which is known is true for that which knows its object, the mind of the high spiritual being, therefore, ultimate truth, an ultimate thing that is true.

So what about this other truth, the conventional, surface level of truth: how does one come to understand this second of the two truths if the ultimate reality is understood in this way? This is samvrtisatya. Samvrti is total covering up, and covering here means ordinary awareness covering that which is real. Here again satya is truth, but truth for an ordinary awareness. In other words, all the things that are true for ordinary minds like our own that are taken as real by them—are conventional truths, therefore, truth for an ordinary covering mind.

In the scholastic tradition we say that anything that is known will always be included in one of these two levels of reality. Anything not covered by these two levels is beyond the sphere of what is knowable. There is a deep logic here—that these two categories, the two truths, are an exhaustive description of all that there is.

Here is how it works. Truth and lie go together, don’t they? If a person makes a statement that mirrors reality, then that statement is true. However, a statement not mirroring reality is a lie.

The ultimate level of reality is mirrored in the mind of awareness that knows it, in a way that is not lying. This necessarily brings out the situation that all conventional truths are lying to the awareness that knows them, about the way they appear.

Similarly, ordinary things appearing to ordinary awareness must be said to be lying to that ordinary awareness. You are, by removing that truth, positively showing the truth of the awareness of the ultimate. That ultimate, appearing to an awareness that knows it is not lying to that awareness, is the suchness of things—the ultimate reality of things.

So you have one being necessitated by another in a see-saw-like fashion, and from that account you can extrapolate out to show that it is a statement that is exhaustive of all knowables, of all that exists.

In Buddhist systems of ideas, there are many interpretations of what exactly these two levels of truth are. They are set forth as the four Buddhist schools of philosophy.

In the most profound school, the Middle Way Consequentialist school, just what is emptiness or the ultimate? It is this: that in fact nobody or nothing, anywhere, has anything that inherently makes it what it is. Nothing has its own personal mark. Everything exists simply through language, through ideas.

The absence of something, the total absence, the total not-being, non-existence of anything that is not there through the power of language and thought is shunyata, emptiness, the ultimate truth.

When one talks of an ultimate truth, of emptiness, one has a focus; one is looking at objects and finding them to be totally empty. What one is looking at and finding to be empty is very important. The identification of things first becomes an important thing to do because the ultimate truth isn’t something immediately apprehensible by our senses — we can’t see it. We have to arrive at it through our thought processes, and in order to do this we have to use reasoning. This reasoning takes as its point of departure certain things or bases, so we must identify these in the first instance.

Let’s start by trying to identify what are classically the most important of these bases, the five aggregates or skandas. In The Heart Sutra it says, “He looked and saw that the five aggregates are empty of inherent existence.” So if you don’t know what these five are, how can you look into the ultimate truth of them?

The five aggregates are: a great heap of physical things, a great heap of feelings, a great heap of discriminations, a great heap of created things (Sanskrit, samskara) and a great heap of awareness.

So then, one has heaps, aggregates, and these locate living creatures. Let’s take the aggregate of physical things, which can be further broken down into the external objective physical things and the internal subjective physical things. Sights, sounds, smells, tastes and sensations are the external or objective physical things in this great heap of physical things, while the five senses are the subjective or internal physical things.

The second heap is that of feelings. What are feelings? They are the experiences one gets out of things: pleasant experiences, neutral experiences and unpleasant ones.

The next heap is discrimination, which is defined as that part of the mind that functions to identify particular things as what they are.

The fourth aggregate of created things has most of the non-associated created things. It’s a catch-bag for everything not included in the other four heaps.

And what is the fifth heap? This is all our awarenesses or consciousness or thoughts. This is generally looked at as sense-based awareness coming from a thinking mind.

One can only focus on the reality of emptiness when one has seen the size, the dimensions, of what one is refuting or denying.

The Tibetan saint Tsong Khapa said, “Anything that is produced from conditions is never produced.” You can unpack this apparent paradox in this way. What you are saying is that nothing is produced as something that is independent; nothing is produced as something that is there under its own power. That’s what you are trying to demonstrate.

For example, a seedling isn’t produced as something there under its own power, as something that is inherently what it is. Why? Because it is produced from causes and conditions. That’s how you break down the meaning of the statement to formulate it as a reason for the hidden meaning, which is emptiness, to come clear to the mind.

Lama Tsong Khapa writes in his famous Praise to Dependent Arising, “What is more amazing, what better way of expressing a reality has ever been found? Namely that anything that depends on conditions is empty.”

There are many different reasons a person can use to come to understand emptiness. But here we meet with the king of all reasonings—dependent arising—because being produced or arising dependently is the reason for everything’s emptiness. Using this reason, one avoids the extreme of nihilism, because dependent arising shows something is there; nevertheless, because it is a reason that shows emptiness it also removes eternalism.

As the great Aryadeva said, “Anyone who gets a view into one reality gets a view into all realities.” What he is saying is that if one plumbs the depths of reality of anything, one doesn’t need to go through the whole process again with another object. Just bringing to the mind the reality you’ve seen in one object or person, and turning the mind to another, you will look at its reality as well.

That’s why every one of our sadhanas without exception starts with the mantra that means “Om, this is purity, all Dharmas are pure, I am that purity.” Before doing any sadhana one brings to mind this fact of the ultimate reality—of emptiness.

 

Visitors

We have 12 guests online

Social Media

Have anything to say?


Copyright © 2013