Je Tsongkhapa “Tiga Aspek Utama dari Jalan” PDF Print
Translated by Valentina Suhendra   
Article hits: 4521

Oleh Yang Mulia Dalai Lama

Diterjemahkan oleh Lobsang Jordhen & diedit oleh Jeremy Russell

Yang Mulia memberikan ajaran ini atas permintaan sekelompok murid dari Prancis di wihara utama di Thekchen Choling pada musim gugur 1989.

Hari ini saya akan menjelaskan Tiga Aspek Utama dari Jalan. Seperti biasa, sebelum memulai ajaran, kita akan memulai tiga praktek untuk membersihkan kontinum mental kita dan kemudian kita akan meresitasi Sutra Hati. Sekarang persembahkan mandala.

by His Holiness the Dalai Lama

Translated by Lobsang Jordhen & edited by Jeremy Russell

His Holiness gave this teaching at the request of a group of students from France in the main temple at Thekchen Choling in the Autumn of 1989

Today I am going to explain the Three Principal Aspects of the Path. As usual, before beginning a teaching, we will do the three practices for cleaning our mental continuums and then we will recite the Heart Sutra. Now make the mandala offering.

Apapun ajaran yang diberikan kepada pendengar dan guru harus memiliki motivasi yang murni.Khususnya ketika kalian mendengarkan ajaran Mahayana, kalian pertama-tama harus mengambil refuge kepada Buddha, Dharma, dan Sangha untuk melindungi dirimu dari mengikuti jalan yang salah, dan kedua kalian harus menggenerasikan pikiran altruisme pencerahan untuk membedakan dirimu dari pengikut jalan yang lebih rendah.

Karena itu, kita harus memvisualisasikan dua poin: Pertama-tama, mengambil refuge pada Buddha, Dharma dan Sangha untuk memberi manfaat bagi semua makhluk hidup, kemudian menggenerasikan aspirasi altruisme menuju pencerahan bagi lembah semua makhluk hidup. Jadi dengan motivasi ini, kita harus meresitasi bait untuk mengambil refuge pada Buddha, Dharma dan Sangha tiga kali, dengan jelas memvisualisasikan bahwa kita melakukannya demi memberi manfaat bagi semua makhluk hidup.

Setelah Buddha yang tak tertandingi mendapatkan pencerahan di Bodh Gaya, dia mengajar Empat Kebenaran Mulia: Penderitaan sebenarnya, penghentian sebenarnya dan jalan yang benar. Hal ini menjadi dasar atau fondasi bagi semua ajaran yang diberikannya kemudian.

Walaupun Buddha mengajarkan Empat Kebenaran Mulia pada saat pemutaran roda doktrin, arti dari penghentian sebenarnya secara eksplisit diajarkan pada pemutaran roda doktrin yang kedua. Pada saat itu dia mengajar arti dari kekosongan secara langsung, dan secara implisit mengajar tahapan jalan.

Dengan kata lain, sementara mengajar kekosongan secara langsung, dia mengajar arti dari dua kebenaran, konvensional dan terakhir, dan makna lengkap dari nirvana dan penghentian.

Pada saat pemutaran roda doktrin yang ketiga, sang Buddha mengajar makna dari sifat sang Buddha dalam Sutra Esensi Tathagata, yang membentuk basis dari Sains Agung Maitreya, (Uttaratantra). Dia menjelaskan bahwa makhluk hidup memiliki sifat Buddha atau kemampuan untuk menjadi tercerahkan hanya dari sifat pikiran, yang kosong dari keberadaan inheren dan karena itu cocok untuk ditransformasikan menjadi pencerahan.

Telah dijelaskan dalam Sains Agung bahwa pikiran pada sifatnya adalah sangat murni dan bebas dari pencemaran yang membuatnya cocok untuk mendapatkan pencerahan. Hal ini karena apapun yang tidak memiliki keberadaan inheren dapat dirubah, dan tergantung pada sebab dan kondisi. Seperti yang dikatakan Nagarjuna dalam teks yang berjudul Kebijaksanaan Fundamental,

Untuk sistem apapun kekosongan adalah mungkin
Untuk apapun yang mungkin.
Untuk (sistem) apapun kekosongan tidak mungkin
Untuk ini, tidak ada yang tidak mungkin.

Makna dari kekosongan adalah kosong dari keberadaan inheren dan ini berarti tergantung pada yang lain, tergantung pada sebab dan fenomena lain, yang berarti ketika perubahan fenomena ini, hal tertentu ini juga akan berubah. Bila ia tidak tergantung pada sesuatu yang lain dan memiliki keberadaan inheren, maka hal ini tidak akan berubah karena kondisi yang lain.

Jadi pada saat pemutaran roda doktrin yang kedua, mengajar bahwa fenomena tidak memiliki keberadaan inheren, Sang Buddha mengajar dengan jelas bahwa fenomena dapat dibuat berubah karena mereka tergantung pada sebab dan kondisi. Sekarang walaupun fenomena tidak memiliki keberadaan inheren, ketika mereka nampak pada kita, kita berpikir bahwa mereka ada secara inheren. Tidak hanya fenomena nampak seperti bila mereka ada secara inheren, tetapi kita juga terikat pada mereka dan bertekad bahwa mereka ada secara inheren.

Dengan cara ini kita menggenerasikan keinginan, kemarahan, dan seterusnya. Ketika kita bertemu dengan beberapa obyek yang menyenangkan atau menarik, kita menggenerasikan banyak keterikatan dan bila kita melihat sesuatu yang tidak menyenangkan atau tidak menarik, kita menjadi marah. Karena itu, masalah seperti kemarahan dan keterikatan muncul karena mengkonsepsikan fenomena yang ada secara inheren.

Konsepsi fenomena sebagai ada secara inheren adalah kesadaran yang salah terhadap obyek rujukan, yang menyediakan fondasi bagi semua delusi. Akan tetapi, bila kita menggenerasikan pengertian bahwa fenomena tidak ada secara inheren, hal ini akan bertindak sebagai perlawanan terhadap kesadaran yang salah. Hal ini menunjukan bahwa pencemaran dalam pikiran dapat dihilangkan.

Bila delusi yang mencemarkan pikiran dapat dihilangkan maka bibit atau potensi yang tertinggal di belakang oleh delusi ini juga dapat dieliminasi. Kemurnian total dari sifat pikiran, yang tidak memiliki keberadaan inheren, diajarkan secara sangat eksplisit pada pemutaran roda doktrin yang kedua.

Pada saat pemutaran roda ketiga, dijelaskan lagi bahwa tidak hanya dari yang terakhir, tetapi juga dari sudut pandang konvensional, bahwa sifat terakhir dari pikiran adalah murni, dan dalam kondisi murni hanya cahaya bening dan netral.

Sebagai contoh, siapapun diri kita, delusi tidak bermanifestasi dalam diri kita pada seluruh waktu. Terlebih lagi, obyek yang sama kepada siapa kita terkadang menggenerasikan kemarahan, terkadang kita menggenerasikan cinta, yang seharusnya tidak mungkin.

Hal ini jelas menunjukan sifat sebenarnya dari pikiran utama, pikiran itu sendiri, murni, tetapi karena faktor mental atau pikiran yang menemani pikiran utama, ia terkadang nampak memiliki kualitas baik seperti cinta, dan pada saat lain berbentuk delusi seperti kemarahan. Sifat dari pikiran utama karena itu adalah netral, tetapi tergantung dengan yang menemani, ia mungkin berubah dari baik menjadi tidak baik.

Jadi pikiran sebenarnya bersifat cahaya bening dan pencemaran atau delusi adalah sementara dan tidak disengaja. Hal ini mengindikasikan bahwa bila kita mempraktekan dan menumbuhkan kualitas yang baik, pikiran dapat ditransformasikan secara positif. Di sisi lain, bila ia bertemu dengan delusi maka ia akan mengambil bentuk delusi. Karena itu, semua kualitas sebagai sepuluh kekuatan Buddha juga dapat dicapai karena kualitas pikiran ini.

Sebagai contoh, segala macam kesadaran memiliki kualitas pengertian yang sama dan mengetahui obyek mereka dengan jelas, tetapi kesadaran tertentu bertemu dengan beberapa kesulitan tidak akan dapat mengerti obyeknya. Walaupun mata kesadaran saya memiliki potensi untuk melihat sebuah obyek, bila saya menutupinya ia tidak dapat melihat obyeknya.

Seperti itu juga, kesadaran mungkin tidak dapat melihat obyek karena ia terlalu jauh. Jadi pikiran sudah memiliki potensi untuk mengerti semua fenomena, kualitas yang tidak perlu diperkuat, tetapi dikaburkan oleh faktor-faktor lain.

Dengan pencapaian kualitas Buddha yang lebih tinggi, seperti sepuluh kekuatan, kita mendapatkan kondisi kesadaran yang dapat melihat obyek dengan jelas dan sepenuhnya. Hal ini juga dapat dicapai dengan hanya mengakui sifat pikiran yang sebenarnya dan menghilangkan delusi dan gangguan darinya.

Pada saat pemutaran roda doktrin ketiga, dari empat kebenaran mulia yang diajarkan pada pemutaran roda pertama, arti dari jalan yang benar dijelaskan dengan mendefinisikan makna dari tathagatagarbha, atau sifat Buddha. Hal ini memungkinkan pencapaian maha tahu, kondisi terakhir dari kesadaran yang dapat melihat fenomena dan sifatnya.

Karena itu, penjelasan lengkap dari makna penghentian sebenarnya diberikan pada pemutaran roda doktrin yang kedua dan penjelasan yang sangat detil mengenai jalan yang benar diberikan pada saat pemutaran roda yang ketiga. Hal ini menjelaskan potensi pikiran untuk mengetahui keberadaan akhir dari fenomena dan bagaimana kemaha-tahuan dapat dicapai bila kalian mempromosikan dan mengembangkannya.

Sekarang, ketika menjelaskan sifat sebenarnya dari pikiran dan kecocokannya untuk mencapai pencerahan, kita memiliki penjelasan sutra dan tantra. Keduanya dibedakan dari detil penjelasan mereka mengenai sifat dari pikiran. Ajaran tantrik memberikan penjelasan yang sangat jelas mengenai kondisi terhalus dari pencerahan dalam kelas tertinggi tantra, yaitu Tantra Yoga Tertinggi. Ketiga kelas tantra yang pertama membentuk fondasi untuk hal ini.

Dalam esensinya, ini adalah penjelasan singkat mengenai ajaran Buddha, dari Empat Kebenaran Mulia sampai kelas tertinggi dari ajaran tantrik. Akan tetapi, walaupun kita memiliki pengertian yang jelas mengenai sifat terakhir dari pikiran dan kemungkin untuk mendapatkan pencerahan dengannya, bila kita tidak mempraktekannya dan berusaha untuk mendapatkan tujuan ini, maka pencerahan tidak akan dicapai. Jadi sementara dalam satu sisi penting untuk mengetahui sifat terakhir dari pikiran, di sisi lain, kita harus menggenerasikan maksud untuk melakukan praktek dan menyadari potensi ini.

Dalam ajaran dua Kebenaran Mulia yang pertama, sang Buddha menggambarkan kesalahan, cacat yang harus dilepaskan dan dieliminasi, ini adalah penderitaan yang benar dan asal penderitaan. Dalam ajaran pasangan kedua dari Empat Kebenaran Mulia, ini adalah jalan yang benar dan penghentian yang benar, sang Buddha menjelaskan bahwa ada metode, jalan untuk menghindari penderitaan dan delusi ini dimana penghentian dari para delusi ini dapat dicapai.

Bila tidak ada penawar atau metode untuk mengeliminasi penderitaan dan mencapai kondisi penghentian penuh dan kedamaian, tidak perlu untuk berdiskusi, berpikir atau bermeditasi mengenai penderitaan, karena hal ini hanya akan membangkitkan pesimisme dan menciptakan lebih banyak penderitaan untuk dirimu. Akan lebih baik untuk tetap liar dan tidak peduli.

Akan tetapi, faktanya kita tidak memiliki kesempatan, ada jalan dan metode untuk menghindari penderitaan, jadi baik untuk berbicara dan berpikir mengenai penderitaan. Ini adalah penting dan mencakup kualitas dari ajaran Buddha mengenai Empat Kebenaran Mulia, karena mereka menyediakan basis dan fondasi untuk semua praktek.

Ketika kita berpikir mengenai penderitaan yang sebenarnya dan asal-muasal penderitaan, dan kita mengerti mengenai dua kebenaran ini, kita akan menggenerasikan harapan untuk menghindari penderitaan dan sebabnya. Dengan kata lain, karena kita tidak menyukai penderitaan yang sebenarnya dan asal sebenarnya dari penderitaan kita akan menggenerasikan harapan untuk menolak mereka. Hal ini disebut tekad untuk bebas.

Ketika kalian dengan hati-hati mempertimbangkan penderitaan, tidak hanya kalian yang berada dibawah pengaruhnya, karena makhluk lain juga menderita dengan cara yang sama. Kemudian kalian harus berpikir bahwa karena makhluk lain juga menderita seperti saya, betapa baiknya bila mereka dapat mengeliminasi penderitaan dan penyebabnya.

Harapan seperti ini untuk makhluk lain untuk mengeliminasi penderitaan dan penyebabnya disebut kasih sayang. Ketika, karena kasih sayang, kalian memutuskan bahwa kalian akan membantu mereka untuk mengeliminasi penderitaan dan penyebabnya, ini adalah tekad atau pikiran yang mengharapkan dengan aktif untuk memberi manfaat bagi makhluk lain.

Kemudian, bila kalian melihat dengan hati-hati mengenai bagaimana makhluk hidup mendapatkan manfaat tidak hanya sementara tetapi juga pada akhirnya, kalian akan mengambil kesimpulan bahwa kalian dapat memberi manfaat pada mereka sepenuhnya bila kalian membantu mereka mendapatkan pencerahan dan untuk melakukan hal ini, kalian sendiri harus mencapai pencerahan. Pikiran yang pengasih berharap untuk mendapatkan ke-Buddha-an agar dapat membantu semua makhluk hidup untuk mencapai pencerahan disebut pikiran tercerahkan.

Memungkinkan untuk menghindari penderitaan dan mencapai status tercerahkan karena fenomena tidak memiliki keberadaan independen atau inheren. Karena itu, penting untuk mengerti sifat dari fenomena, mereka tidak memiliki keberadaan inheren. Pengertian bahwa fenomena tidak memiliki keberadaan inheret disebut pandangan yang benar.

Ketiga kualitas inilah: Tekad untuk bebas, pikiran tercerahkan, dan pandangan yang benar yang diperlakukan di sini sebagai tiga jalan utama. Mereka dinamakan seperti ini karena mereka menyediakan motivasi yang sebenarnya untuk mendapatkan kebebasan dari siklus keberadaan dan bentuk kerangka untuk mendapatkan pencerahan.

Makna utama dari mendapatkan kebebasan dari siklus keberadaan adalah tekad untuk bebas dan cara utama untuk mendapatkan pencerahan adalah pikiran tercerahkan. Keduanya dilengkapi dengan pandangan yang benar atau kebijaksanaan yang menyadari kekosongan.

Sekarang saya akan mulai menjelaskan teks ini.

Hormat

Saya memberi hormat kepada lama mulia yang terdepan

Baris ini adalah ekspresi hormat pengarang sebelum mengkomposisikan teks. Saya akan menjelaskan makna dari beberapa kata di sini. Kata lama tidak hanya melambangkan posisi status dan pengaruh dalam arti duniawi, tetapi mengindikasikan seseorang yang benar-benar baik dan memiliki kualitas luar biasa.

Dalam kata-kata Tibet Jey atau yang terdepan di sini menandakan seseorang yang tidak terlalu mempedulikan kesenangan jangka pendek atau sensual dari dunia ini, hidup dalam siklus keberadaan ini daripada kehidupan mendatang. Hal ini merujuk pada seseorang yang peduli mengenai manfaat jangka panjang bagi makhluk lain dalam banyak kehidupan mendatang.

Kata Tibet tsun, berarti mulia atau disiplin, merujuk pada sang lama karena dia telah mengerti itu, seberapa menyenangkan atau menarik halnya, kesenangan dan ketertarikan pada siklus keberadaan adalah tidak berharga. Dia telah melihat tidak adanya nilai berarti diantara fenomena duniawi, dan telah membalikan pikiran dia ke arah kebahagiaan yang kekal dari kehidupan mendatang.

Dengan kata lain, sang lama adalah seseorang yang memiliki pikiran disiplin dan tidak mengejar kesenangan dunia ini tetapi ingin mencapai kebebasan. Kata lama sebetulnya berarti tertinggi, mengindikasikan seseorang yang memiliki kepedulian lebih besar untuk makhluk lain daripada dirinya dan tidak mempedulikan kepentingan dirinya demi mereka.

"Saya memberi hormat" menyiratkan sujud. Kalian bersujud kepada sang lama karena melihat kualitas kepeduliannya bagi makhluk hidup lain dan kebahagiaan mereka tanpa mempedulikan dirinya. Dalam memberi hormat kepada kualitas ini dalam diri sang lama, dengan bersujud kepadanya, kalian membuat aspirasi untuk mendapatkan kualitas tersebut bagi diri kalian.

Janji untuk mengkomposisikan teks

Saya akan menjelaskan, sebaik saya bisa,
Esensi dari semua ajaran Penakluk,
Jalan yang dipuji oleh Anak-Anak Penakluk,
Pintu masuk bagi yang beruntung menginginkan kebebasan.

Baris pertama mengekspresikan janji pengarang untuk mengkomposisikan teks ini. Yang kedua menyiratkan tekad untuk bebas karena semua ajaran Buddha ditujukan pada kebebasan.

Dari sudut pandang inilah, tujuan untuk mendapatkan kebebasan, bahwa kita harus dapat melihat kesalahan dalam ketertarikan pada siklus keberadaan dan menggenerasikan harapan untuk melepaskan mereka. Hal ini sebenarnya sangat penting bila kita berharap untuk mendapatkan kebebasan. Jadi baris ini menyiratkan melepaskan siklus keberadaan.

Kata "Anak-anak Penakluk" di baris ketiga memiliki tiga konotasi. Mereka merujuk pada mereka yang lahir dari tubuh, perkataan, atau pikiran sang Buddha. Rahula adalah putranya secara fisik. Anak dari perkataannya merujuk pada Buddha Pendengar dan Penyendiri.

Tetapi dalam konteks ini, "Anak-anak Penakluk" merujuk pada mereka yang lahir dari pikiran sang Buddha, mereka yang telah menggenerasikan pikiran tercerahkan. Kalian menjadi Bodhisattva atau anak dari Buddha hanya bila kalian memiliki aspirasi altruisme untuk pencerahan. Bodhisattva disebut anak-anak pikiran sang Buddha, karena mereka lahir dari kualitas yang ditemukan dalam pikiran sang Buddha.

Baris terakhir dari bait ini menyiratkan pandangan yang benar, karena pencapaian kebebasan tergantung pada apakah kalian telah menyadari kekosongan. Jadi ketiga baris ini meringkas makna dari tekad untuk bebas, pikiran tercerahkan, dan pandangan kekosongan yang dijelaskan dalam teks ini.

Membuat Para Murid Mendengar

Mereka yang tidak terikat pada kesenangan dari siklus keberadaan
Berusaha untuk membuat kesenangan dan kesempatan ini berarti,
Mengandalkan jalan yang menyenangkan sang Penakluk,
Mereka yang beruntung, dengarkan dengan pikiran yang jernih.

Kebanyakan dari kita di sini memiliki sumber daya yang cukup sehingga kita tidak perlu bekerja keras untuk mendapatkan makanan, pakaian dan seterusnya. Tetapi jelas bahwa dalam hidup ini hanya memiliki sesuatu untuk dikenakan dan dimakan tidaklah cukup. Kita menginginkan hal lain. Kita masih menginginkan sesuatu yang lebih.

Hal ini dengan jelas mengilustrasikan bahwa kecuali kesenangan dan kebahagiaan dihasilkan dari mentransformasikan pikiran, tidak mungkin untuk mendapatkan kebahagiaan kekal melalui cara eksternal, akan tetapi kondisi eksternal yang mendukung mungkin. Kebahagiaan dan ketidak-nyamanan sebetulnya tergantung pada tingkah laku mental kita.

Jadi penting bahwa kita harus mentransformasikan pikiran kita secara internal. Karena kebahagiaan yang kekal hanya didapat dengan cara ini sangat penting untuk mengandalkan kekuatan pikiran dan untuk menemukan sifat sebenarnya dari pikiran.

Ada beragam ajaran dalam tradisi agama yang berbeda-beda mengenai bagaimana membawa transformasi ini. Ajaran Buddha, yang kita diskusikan di sini, mengandung penjelasan yang jelas, detil dan sistematis.

Kita, kurang atau lebih berkualifikasi sebagai "yang beruntung" seperti yang dirujuk dalam bait ini, karena kita mencoba untuk mengurangi keterikatan kita, kita mencoba untuk menggunakan kehidupan yang berharga sebagai manusia yang bebas dan beruntung ini berarti, dan kita mengandalkan ajaran sang Buddha. Jadi, baris ini mengatakan pada kita untuk memperhatikan ajaran yang akan diberikan oleh sang pengarang.

Perlunya Menggenerasikan Tekad untuk Bebas

Tanpa tekad murni untuk bebas, tidak ada cara untuk mendapatkan kedamaian
Karena fokus pada efek menyenangkan dari samudera keberadaan.
Makhluk berwujud sepenuhnya terikat pada keinginan akan keberadaan,
Karena itu, dari awal carilah tekad untuk bebas.

Di sini kita mulai dengan tubuh teks yang sebenarnya, ajaran sebenarnya yang tercakup. Bait ini menjelaskan perlunya untuk menggenerasikan tekad untuk bebas atau pikiran yang mencari kebebasan dair siklus keberadaan. Melihat kesalahan dan kekurangan dari siklus keberadaan dan menggenerasikan harapan yang sangat kuat untuk meninggalkannya dan mencapai kebebasan disebut tekad untuk bebas.

Sepanjang kalian tidak bisa melihat tidak bernilainya kesenangan dari siklus keberadaan, tetapi terus melihat arti atau ketertarikan pada mereka dan menempel pada mereka, kalian tidak akan mengarahkan pikiran kalian ke arah kebebasan dan kalian tidak akan menyadari bahwa kalian terikat.

Jadi baris pertama dari bait ini berkata bahwa kecuali kalian memiliki tekad murni untuk membebaskan diri kalian dari samudera siklus keberadaan, usaha kalian untuk mendapat kedamaian akan percuma. Kekaguman kita akan siklus keberadaan karena keinginan dan keberadaan, yang mengikat kita di dalamnya.

Karena itu, bila kita benar-benar mencari kedamaian dari kebebasan, jalan yang harus diambil adalah menggenerasikan tekad untuk bebas, untuk mengakui kesalahan dari siklus keberadaan dan menolak mereka. Biografi dari Buddha sendiri dapat memberikan kita pengertian mengenai makna dari tekad untuk bebas demi praktek kita.

Dia terlahir sebagai pangeran dari keluarga kaya, dan terpelajar, memiliki seorang istri dan putra dan menikmati semua kesenangan duniawi yang dapat dibayangkan. Akan tetapi, walaupun semua kesenangan yang menggoda tersedia untuknya, ketika dia menemukan contoh dari penderitaan kelahiran, penyakit, penuaan dan kematian, dia dipicu oleh pemandangan penderitaan makhluk lain.

Dia menemukan sendiri bahwa, tidak peduli betapa menariknya kenyamanan eksternal, sepanjang kalian memiliki tubuh fisik seperti kita, yang merupakan produk berumur pendek dari tindakan terkontaminasi dan delusi, maka kesenangan eksternal yang menarik adalah ilusi.

Menyadari hal ini, dia mencoba untuk menemukan jalan menuju kebebasan dari penderitaan dan melepaskan semua kesenangan duniawi, termasuk istri dan putranya. Secara bertahap meningkatkan tekadnya untuk bebas dengan cara ini dia mendapatkan tidak hanya kebebasan, tetapi juga pencerahan.

Karena itu, diajarkan bahwa kita perlu mengembangkan tekad untuk bebas. Hanya dengan melepaskan kenyamanan siklus keberadaan dan memeriksa keterikatan dan keinginan atas hal ini tidaklah cukup. Kita harus memotong aliran kelahiran. Kelahiran kembali datang karena keinginan, dan kita harus memutuskan kesinambungannya melalui praktek meditasi.

Karena itu, sang Buddha memasuki stabilisasi meditasi selama enam tahun. Akhirnya dengan cara menyatukan ketenangan dan pandangan khusus dia mendapatkan kekuatan untuk mengatasi gangguan yang diberikan oleh agregat dan kekuatan jahat eksternal. Dia mengeliminasi sumber dari emosi mengganggu dan karena mereka telah dimatikan dia dapat mengatasi kematian. Dengan cara ini dia menaklukan empat kekuatan jahat atau gangguan.

Sebagai pengikut sang Buddha, kita juga harus mencoba melihat kesalahan dari ketertarikan akan siklus keberadaan yang menggoda. Kemudian tanpa keterikatan terhadap mereka menggenerasikan konsentrasi dan fokus pada pandangan tidak mementingkan diri sendiri - mengerti sifat sebenarnya dari fenomena.

Sekarang, kalian mungkin bertanya-tanya bagaimana mempraktekan tekad untuk bebas, bagaimana menggenerasikan pikiran yang berharap untuk melepaskan siklus keberadaan, bait selanjutnya berkata:

Merenungkan bagaimana kebebasan dan keberuntungan sulit untuk ditemukan

Dan dalam hidup, tidak ada waktu untuk dibuang, hambatlah ketertarikan pada
penampakan menggoda dari kehidupan ini.
Berulang kali merenungkan tindakan dari efek sempurna
Dan penderitaan dari siklus keberadaan hambatlah
Penampakan menggoda dari kehidupan mendatang.

Bait ini menjelaskan bagaimana memeriksa keterikatan terhadap kehidupan ini dan kemudian terhadap kehidupan mendatang. Agar dapat memotong keterikatan terhadap kesenangan dalam hidup ini, penting untuk berpikir mengenai berharganya kehidupan manusia ini, bagaimana sulitnya untuk menemukan dan banyak kualitas yang disediakannya.

Bila kita berpikir dengan jelas mengenai poin-poin ini, kita akan dapat mengekstrak makna dari mendapatkan kelahiran manusia. Hidup sebagai manusia adalah berharga karena dengannya kita mendapatkan status, kualitas dan kepandaian, yang tidak dimiliki hewan lain, bahkan dalam makhluk hidup lain. Kita memiliki kekuatan untuk mendapatkan manfaat besar dan kerusakan. Bila kita hanya sebentar dari waktu kita dan membuang potensi berharga ini dengan aktivitas yang bodoh dan tidak berarti, hal ini akan merupakan kerugian besar.

Karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui kapasitas kita, kualitas kita dan kepandaian yang tinggi yang tidak dimiliki makhluk hidup lain. Bila kita dapat mengidentifikasi hal-hal ini, kita akan dapat menghargai dan menggunakan mereka. Kekuatan dari otak dan kepandaian manusia adalah luar biasa.

Ia mampu untuk merencanakan ke depan dan dapat terlibat dengan pikiran yang dalam dan ekstensif, yang tidak dapat dilakukan makhluk lain. Karena kita memiliki otak yang kuat dan kepandaian, sangat penting bahwa kita mengakui kekuatan dan karakter dari kesadaran ini. Kita kemudian harus mengarahkannya pada arah yang benar, sehingga ia dapat berkontribusi secara signifikan bagi kedamaian dan keharmonisan di dunia dan diantara semua makhluk.

Mari kita ambil contoh energi nuklir. Ada kekuatan besar dalam partikel nuklir, tetapi bila kita menggunakan kekuatan ini dengan salah atau menyalah-gunakannya, ia dapat merusak. Sekarang ini, kita memiliki misil nuklir dan senjata lain yang namanya saja membuat kita takut, karena mereka sangat berbahaya. Mereka dapat menyebabkan kehancuran massal dalam waktu sebentar saja.

Di sisi lain, bila kita menggunakan kekuatan nuklir dengan cara yang konstruktif, ia dapat melayani kemanusiaan dan makhluk hidup secara kesuluruhan. Seperti itu juga karena manusia memiliki kapasitas dan kekuatan seperti ini, penting bagi mereka untuk menggunakannya demi memberi manfaat bagi semua makhluk hidup. Dengan pantas menggunakan ketulusan manusia dapat menjadi sumber manfaat dan kebahagiaan, tetapi bila disalah-gunakan, hal ini akan membawa kesedihan dan kerusakan.

Dari sudut pandang kepandaian inilah kita harus berpikir mengenai pentingnya kehidupan manusia kita yang berharga. Akan tetapi, akan penting bagi kita untuk mengerti bahwa hidup dari manusia yang bebas dan beruntung bukan hanya berarti dan sulit didapatkan, tetapi juga singkat.

Dua baris berikutnya bahwa bila kita berpikir berulang kali mengenai hubungan sempurna antara sebab, tindakan kita, dan penderitaan siklus keberadaan, kita akan dapat memotong keterikatan kita terhadap kehidupan selanjutnya. Pada saat ini kita terlibat dalam banyak tingkatan aktivitas untuk mendapatkan pakaian, makanan, dan nama yang baik.

Di samping itu, pengalaman kita pada bagian hidup kita selanjutnya tergantung pada tindakan yang kita lakukan di bagian sebelumnya. Hal ini sebenarnya adalah arti dari tindakan dan hasil. Walaupun ini bukan interpretasi terhalus, ketika kita berbicara mengenai tindakan dan hasilnya, tindakan mencakup semua hal yang kita lakukan untuk mendapatkan kebahagian atau kesenangan. Hasil adalah efek yang kita terima.

Karena itu, pada bagian pertama hidup kita, kita melakukan aktivitas yang kita pikir akan membawa kesuksesan pada masa yang akan datang. Seperti itu juga, kita terlibat dalam tindakan tertentu dalam hidup ini sehingga kita bisa mendapatkan hasil yang baik pada kehidupan kita yang akan datang.

Dengan kata lain, pengalaman kita pada bagian kedua hidup kita adalah tergantung pada tindakan yang kita lakukan pada bagian sebelumnya dan pengalaman kita di kehidupan mendatang, apakah menyenangkan atau tidak menyenangkan, tergantung pada tindakan yang kita lakukan di kehidupan sebelumnya.

Tindakan ini dilakukan oleh tubuh, perkataan, atau pikiran dan juga disebut fisik, verbal dan mental. Dari sudut pandang ini hasilnya, dapat disebut baik, tidak baik atau tindakan netral. Tindakan baik berakibat pada hasil yang menyenangkan, tindakan tidak baik mengakibatkan hasil yang tidak menyenangkan dan tindakan netral membawa pada perasaan tenang.

Kemudian ada tindakan yang pasti akan menyebabkan hasil dan mereka yang tidak. Sebagai contoh, ketika tindakan dilakukan, pertama-tama ada motivasi, ada maksud, kemudian ia diimplementasikan dan akhirnya dibawa pada penyelesaian.

Sekarang, ketika tujuan, tindakan dan kesimpulan adalah sangat kuat, sudah pasti tindakan tersebut akan membawa hasil, apakah itu baik atau buruk. Di sisi lain, bila maksudnya sangat kuat tetapi kalian tidak melakukannya, atau pada akhirnya daripada berpikir kalian telah menyelesaikan tindakan, kalian menyesal dengan apa yang kalian lakukan, maka tindakan tersebut tidak menghasilkan efek pada saat itu.

Bila ketiga aspek maksud, aplikasi dan kesimpulan, tidak ada tindakan tersebut diklasifikasikan sebagai tidak terbatas. Tetapi dari sudut pandang mengalami hasil, ada tindakan yang berbuah pada kehidupan ini, tindakan yang berbuah pada kehidupan selanjutnya dan tindakan yang berbuah pada banyak kehidupan setelahnya.

Kemudian ada dua tingkat tindakan yang dapat diklasifikasikan sebagai tindakan memproyeksikan dan menyelesaikan. Tindakan memproyeksikan adalah tindakan yang bertanggung jawab untuk memproyeksikan kita ke kehidupan tertentu melalui kelahiran sebagai manusia, hewan atau makhluk dalam kondisi lain. Tindakan penyelesaian adalah mereka yang menentukan kualitas dari hidup dimana kalian terlahir.

Sebagai contoh, walaupun terlahir sebagai manusia, kalian bisa terus miskin. Mulai dari lahir, indera kalian mungkin rusak atau bagian tubuh kalian cacat. Di sisi lain, kompleksi kalian mungkin cemerlang dan kalian memiliki kekuatan natural. Bahkan bila terlahir sebagai hewan kalian mungkin, seperti anjing peliharaan, memiliki rumah yang nyaman. Jenis kualitas dan kerusakan yang kalian warisi sejak lahir, adalah aktualisasi tambahan dari kelahiran tertentu, sebagai hasil dari tindakan penyelesaian.

Jadi, tindakan dapat disebut memproyeksikan atau menyelesaikan menurut fungsi mereka. Adalah mungkin bahwa walaupun tindakan memproyeksikan adalah baik, tindakan penyelesaiannya tidak baik, dan walaupun tindakan penyelesaiannya tidak baik, tindakan proyeksinya adalah baik.

Apakah tindakan tertentu adalah positif, seperti keyakinan pada Buddha, atau negatif, seperti keterikatan, bila hal ini adalah murni, ia dapat dilihat sebagai putih dan baik secara keseluruhan atau hitam dan buruk secara keseluruhan. Bila persiapan, aplikasi dan penyelesaian dari tindakan tertentu adalah baik maka tindakan tersebut dapat dilihat sebagai tindakan baik. Tetapi bila ia menghasilkan kesimpulan yang tidak murni, dengan kata lain, bila ia adalah campuran antara kualitas positif dan negative, maka ia dapat disebut tindakan campuran.

Adalah "Saya", atau orang, yang mengakumulasikan tindakan dan pengalaman dan hasilnya. Walaupun perbedaan tingkatan tindakan, adalah hasil dari berpikir makhluk hidup tertentu, mereka tidak dihasilkan oleh pencipta dunia ini. Ada seseorang yang menciptakan tindakan, karena ketika kita berbicara mengenai tindakan, kata-kata ini menyiratkan bahwa ada aktor atau agen yang melakukan tindakan, tetapi bukan agen eksternal.

Bagaimana cara tindakan menghasilkan akibat? Sebagai contoh, ketika saya menjentikan jari, dengan segera saya berhenti, tindakan ini lengkap, meninggalkan hasil. Bila kalian bertanya, apa hasilnya, ia hanya tindakan yang terdisintegrasi, dan disintegrasi tindakan ini terus berjalan.

Jadi, ketika kita berbicara mengenai hasil dari tindakan tertentu, ia hanya disintegrasi, atau bagian dari disintegrasi, atau penghentian tindakan tertentu. Untuk menjelaskan poin ini ada potensi yang ditinggalkan oleh disintegrasi tindakan tersebut, yang bertanggung jawab untuk membawa fenomena yang terkondisi lainnya.

Ketika kalian mencari kemana jejak dari potensi disintegrasi atau penghentian dari tindakan tersebut ada, jawabannya ada di kontinum kesadaran yang ada pada saat penghentian tindakan tersebut. Ada kesempatan dimana kesadaran awas dan bangun dan ada kesempatan dimana kesadaran tidak awas, sebagai contoh ketika kita dalam keadaan tidur nyenyak atau ketika kita pingsan.

Karena itu, kesadaran bukanlah tempat yang dapat diandalkan untuk menyimpan potensi. Terkadang ia sangat halus dan terkadang ia sangat kasar, jadi kesadaran hanya menyediakan tempat sementara untuk jejak ini.

Karena itu, bila kita mencari penjelasan, hanya "Saya" atau orang, yang membawa potensi dari tindakan tertentu. Penjelasan ini berdasarkan pada penjelasan akhir dari sekolah tertinggi, yaitu Sekolah Jalan Tengah Konsekuensialis.

Saya menggunakan kata "hanya Saya" untuk mengklarifikasi "Saya" atau orang yang hanya nominal dan bukan ada secara inheren. Ia hanya ditujukan dan tidak ada dengan sendirinya. Ia bukan sesuatu yang dapat kalian tunjuk dengan jari. Kata "hanya" mengindikasikan "Saya" yang hanya ditujukan oleh nama dan pikiran dan menegasi dukungan diri atau "Saya" yang independen.

Negasi dari keberadaan inheren atau "dukungan diri "Saya" tidak berarti bahwa "Saya" tidak ada sama sekali, ia hanya ada secara nominal. Kata hanya "Saya" atau orang menjadi dasar dimana jejak atau potensi tindakan tertinggal. Secara umum, "Saya" ditujukan pada koleksi dari agregat fisik dan mental.

Ketika kita berbicara mengenai tubuh fisik dan kesadaran, yang merupakan dasar dari "Saya", dengan referensi kepada manusia, ia terutama adalah kesadaran yang menjadi dasar bagi kata "Saya". Kesadaran memiliki banyak tingkatan, beberapa dari mereka kasar dan beberapa halus.

Tubuh fisik seorang manusia juga dapat dibagi menjadi banyak bagian, seperti mata, telinga, dan seterusnya. Bagian fisik ini lagi menjadi dasar bagi tujuan kesadaran. Sebagai contoh, kesadaran mata ditujukan untuk melihat, dan kesadaran telinga untuk mendengar dan seterusnya.

Tetapi bila kalian mencoba untuk mencari dasar terhalus dari tujuan kesadaran, sepertinya saraf dan jalan dari otak sebenarnya adalah basis untuk tujuan kesadaran mental.

Kemudian juga ada pembicaraan mengenai basis dari kekuatan indera dan ini seharusnya sangat halus. Tidak jelas apakah basis dari fakultas indera dapat ditemukan pada otak atau di tempat lain. Hal ini akan menjadi obyek penelitian yang menarik.

Mari kita ambil sebuah contoh, agar dapat menggenerasikan kesadaran mata banyak kondisi atau sebab yang diperlukan. Sebab yang dominan adalah kekuatan indera mata yang tidak rusak. Memiliki bentuk tertentu dalam fokusnya menjadi kondisi obyektif.

Akan tetapi, walaupun ada kehadiran dari kondisi seperti ini tidak pasti bahwa kesadaran mata akan bangkit. Hal ini mengindikasikan bahwa kondisi ketiga, kondisi yang sebelumnya, yaitu kesadaran, diperlukan selain kondisi obyektif eksternal dan kondisi dominan internal dari kekuatan indera.

Karena itu, agar supaya kesadaran indera mata bangkit ketiga kondisi ini diperlukan.

Sebagai contoh untuk mengupas poin ini, terkadang ada kasus orang yang setelah sakit untuk waktu yang lama menjadi sangat lemah secara fisik sehingga detak jantung dan semua fungsi fisik mereka berhenti. Memasuki keadaan koma sehingga tidak ada aktivitas fisik atau fungsi yang bisa dipersepsikan, dokter mendeklarasikan mereka mati secara klinis.

Akan tetapi, terkadang setelah beberapa menit atau bahkan jam, walaupun tidak ada aktivitas fisik, orang tersebut mulai bernafas lagi, jantungnya mulai berdetak, dan fungsi fisik didapat kembali. Kebangkitan ini, walaupun ada penghentian dari semua fungsi sebelumnya, menunjukan kehadiran yang tak terhindarkan dari kondisi mental yang sebelumnya. Ketika ada kondisi sebelumnya, sebuah kesadaran, hadir dan orang tersebut dapat hidup lagi.

Seperti itu juga, dalam kasus kesadaran indera, hanya adanya kondisi yang dominan dan kondisi obyektif tidaklah cukup untuk menggenerasikan kesadaran tertentu.

Menurut pandangan Buddha, ketika kita berbicara mengenai berbagai tingkatan kesadaran dari manusia tertentu yang ditujukan pada berbagai bagian tubuhnya maka kita merujuk pada tingkat yang lebih kasar dari kesadaran orang tersebut. Kesadaran ini disebut kesadaran dari manusia karena mereka tergantung pada bagian tertentu dari tubuh manusia.

Karena itu, ketika makhluk hidup meninggal, semua kesadaran yang kasar yang tergantung pada tubuh fisik juga seperti menghilang, tetapi menarik untuk dicatat bahwa entitas kesadaran tidak bangkit semata-mata hanya karena adanya tubuh fisik. Mereka diproduksi sebagai entitas kejelasan dan kesadaran seperti kesadaran mata, kesadaran telinga dan seterusnya, tergantung pada kondisi selain tubuh.

Ada sebab fundamental yang menggenerasikan kesadaran ini sebagai entitas dari kejelasan dan kesadaran dan menurut berbagai kondisi yang ditemui kesadaran bentuk kognitif, suara, dan seterusnya bangkit. Hal ini menunjukan bahwa ada kesadaran yang independen dari tubuh fisik yang kasar, tetapi ketika ia menemui kondisi yang lebih kasar, ia nampak dalam bentuk kesadaran yang lebih kasar.

Kesadaran memiliki sifat yang lebih halus dan bila kalian memeriksa sifat yang lebih halus, maka sebab yang benar, substansial dari kesadaran itu hanya akan menjadi kontinum lain dari kesadaran yang mendahuluinya, tidak peduli ada tubuh fisik atau tidak.

Karena itu, ada sejenis sifat natural, yang murni dan jelas sepenuhnya. Ketika kondisi murni dari pikiran berhubungan dengan berbagai tingkat tubuh fisik, kesadaran juga memanifestasikan dirinya lebih atau kurang kasar, tergantung dari bagian mana dari tubuh fisik dia ditujukan. Tetapi bila kalian memeriksa sifat sebenarnya dari pikiran, ia memiliki keberadaan yang independen dari tingkat yang lebih kasar dari tubuh fisik.

Kondisi pikiran yang natural dan murni, yang ada independen dari tubuh fisik, disebut cahaya bening purba atau kesadaran purba - kesadaran yang selalu ada. Dibandingkan dengan hal ini, kesadaran yang lebih kasar adalah tidak disengaja, karena mereka terkadang hadir dan terkadang tidak hadir dan ini adalah kriteria utama yang membedakan mahkluk hidup dari benda hidup lainnya dan fenomena lain.

Tidak diragukan seseorang atau "Saya" diatribusikan pada agregat total dari tubuh fisik dan kesadaran, tetapi cahaya bening purba yang merupakan dasar eksklusif dari seseorang, dan bukan tubuh fisik, tetapi karena mereka tidak memiliki kesadaran halus seperti ini mereka tidak dirujuk sebagai orang.

Apapun bentukmu, bentuk atau aspek luar, siapapun yang memiliki kesadaran berkesinambungan dan memiliki perasaan, persepsi dan seterusnya dianggap sebagai seorang manusia. Karena itu berbagai teks menjelaskan bahwa "Saya" atau orang yang diatribusikan kepada kontinuitas atau aliran kesadaran.

Walaupun kesadaran spesifik beragam menurut kesempatan yang berbeda dan tingkat kesadaran yang lebih kasar tergantung pada berbagai tubuh fisik, tingkat kesadaran terhalus, hanya entitas kejelasan dan kesadaran, cahaya bening kesadaran purba, bergantung pada tubuh fisik.

Sifat dari kesadaran tidak memiliki awal. Bila kalian mencoba menelusuri asal-muasal kesadaran, kalian dapat terus ke belakang tetapi kalian tidak akan sampai pada satu titik dimana kalian dapat berkata, ini adalah saat kesadaran terbentuk. Karena itu, ini adalah sifat alami bahwa kesadaran terbentuk pada waktu tanpa awal.

Ini juga merupakan penjelasan yang lebih realistis, karena bila kalian menerima awal dari kesadaran, kalian harus menegaskan pencipta dari kesadaran atau kalian harus berkata bahwa kesadaran bangkit tanpa sebab. Ini adalah masuk akal, karena kesadaran telah dijelaskan sebagai tidak memiliki awal.

Bila kalian bertanya mengapa ia tidak memiliki awal, kita hanya dapat berkata bahwa ini adalah hukum alam. Bila kita mengamati dengan hati-hati, ada banyak hal di dunia yang kesinambungannya dapat ditelusuri dari waktu tanpa awal. Tetapi bila kalian bertanya, apakah mereka ada dan dari mana asalnya, kalian tidak akan menemukan jawabannya. Ini adalah sifat mereka.

Bila kalian bertanya mengapa bentuk fisik nampak dalam entitas bentuk, hal ini karena sifat mereka. Bila kita berkata bahwa hal ini ada tanpa sebab atau membentuk sebab yang tak berhubungan, mengapa ia tidak dapat terbentuk tanpa sebab sekarang, ketika ia dapat terjadi tanpa sebab dulunya?

Karena itu menurut pandangan Buddha, apakah ada awal dari kesadaran, jawabannya adalah kontinum kesadaran tidak memiliki kesadaran, asal dari "Saya" atau orang adalah tidak berawal dan kelahiran tidak berawal. Dan bila kalian bertanya apakah hal-hal ini memiliki akhir, lagi jawabannya adalah negatif bila kalian berpikir mengenai kontinum kesadaran atau kontinum seseorang.

Tetapi ada akhir bagi kondisi pikiran seseorang yang tidak murni, kondisi seseorang yang tidak murni dan ada batasan atas kelahiran, karena biasanya ketika kita berbicara mengenai kelahiran, kita merujuk pada sesuatu yang telah dihasilkan dari tindakan terkontaminasi dan delusi.

Jadi karena kelahiran yang tak berawal, kemudian pengalaman penderitaan dan kesenangan berhubungan dengan tindakan yang dilakukan sebelumnya. Jenis tindakan terdelusi yang berbeda atau tindakan baik yang diakumulasi seseorang pada kehidupan yang berbeda-beda berhubungan dengan hasil di kehidupan yang berbeda.

Sebagai contoh bila kalian melakukan tindakan baik atau negatif dalam hidup ini, maka kalian akan mengalami hasil di kemudian hari. Seperti itu juga, kalian mungkin melakukan tindakan yang baik atau tidak baik di kehidupan sebelumnya, yang hasilnya akan kalian alami di kehidupan yang sama, atau pada kehidupan ini. Bila kalian tidak mengakumulasi tindakan seperti ini, maka kalian tidak akan mengalami akibatnya.

Di sisi lain, bila kalian telah mengakumulasikan tindakan tertentu maka secara umum kalian tidak akan pernah bisa melarikan diri dari hasilnya: cepat atau lambat, ia akan berbuah. Seperti itu juga bila seseorang mengakumulasi tindakan positif hasilnya juga akan positif. Tindakan-tindakan seperti ini disebut tindakan pasti, tetapi ada juga tindakan yang hasilnya tidak pasti, karena kondisi yang baik atau situasi yang baik tidak ada.

Lebih jauh lagi, ada tindakan, yang sepertinya tidak penting, tetapi hasilnya berlipat-ganda dengan cepat tergantung pada keadaan, situasi dan kondisi. Jadi, ada banyak jenis tindakan: Tindakan pasti, tindakan tidak pasti, tindakan yang berlipat-ganda dengan cepat, dan juga fakta bahwa hasil dari tindakan yang tidak dilakukan tidak akan ditemui dan tindakan yang pernah dilakukan menghilang.

Biasanya, semua tindakan sehari-hari muncul dari harapan atau keinginan. Sebagai contoh, bila kalian ingin pergi ke suatu tempat, maka kalian akan bersiap dan pergi; bila kalian ingin memakan sesuatu, maka kalian mencari sesuatu untuk dimakan dan memakannya. Keinginan dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, satu adalah negatif dan yang lain adalah masuk akal dan kreatif. Sebagai contoh, harapan untuk mendapatkan kebebasan dari siklus keberadaan menyebabkan tindakan yang wajar, karena itu ini adalah keinginan yang masuk akal dan berdasarkan logika.

Di sisi lain, untuk menggenerasikan keterikatan terhadap obyek tertentu, seperti bila kalian berharap mendapatkan sesuatu, ini adalah keinginan yang tidak murni dan biasanya bangkit dari miskonsepsi mengenai fenomena sebagai ada secara independen atau inheren. Kebanyakan pekerjaan yang kita lakukan dalam siklus keberadaan, dan keinginan yang kita generasikan adalah hasil dari penalaran yang tidak berdasarkan logika seperti ini.

Membuat pikiran kita mengenali kualitas yang positif dan mencoba mencapai tujuan seperti kebebasan dari keinginan yang masuk akal. Masih saja, mungkin bahwa dalam kasus tertentu harapan seseorang untuk mendapatkan kebebasan dibantu dengan konsepsi atas keberadaan sebenarnya.

Akan tetapi, setiap harapan untuk kesempurnaan duniawi adalah berdasarkan kebodohan yang memikirkan mengandung keberadaan sebenarnya. Dalam dasar ini, lebih baik mengklasifikasikan keinginan dalam dua hari, satu menghasilkan penalaran yang benar dan yang lain menghasilkan penalaran yang tidak benar.

Hasil dari keinginan berdasarkan konsepsi dari keberadaan sebenarnya adalah siklus keberadaan. Tetapi masih ada jenis keinginan lain berdasarkan alasan yang masuk akal yang tidak memproyeksikan siklus keberadaan, tetapi ingin mendapatkan pencapaian tertinggi dan kualitas sang Buddha, Doktrin, Komunitas Spiritual dan Nirvana, kondisi di luar penderitaan. Ada harapan dan keinginan untuk mencapai hal ini.

Bila kita tidak mengklasifikasikan keinginan menjadi dua jenis seperti yang disebutkan di atas, kita mungkin berpikir bahwa menginginkan kebebasan tidaklah pantas, dan menginginkan praktek keagamaan tidak pantas dan bahkan menginginkan kebahagiaan juga tidak pantas. Tidak diragukan bahwa ada berbagai model dari menginginkan kebahagiaan kita, tetapi apa yang jelas adalah sepanjang kita memiliki keterikatan dan konsepsi diri yang benar ada, tindakan yang berkarakter siklus keberadaan akan tetap diciptakan.

Secara umum, sekali tindakan tersebut diakumulasikan dengan hasil yang harus dialami. Karena itu, walaupun kita mungkin menikmati kesenangan dari siklus keberadaan sekarang ini dan penderitaan yang intens tidak bermanifestasi, karena kita tidak bebas dari tindakan membelenggu dan perangkap, kita tidak memiliki keamanan dan jaminan atas kebahagiaan yang kekal. Ini adalah perspektif, dari kata-kata teks ini,

Bila kalian berpikir berulang kali mengenai hukum sebab dan akibat yang sempurna
Dan penderitaan dari siklus keberadaan,
Kalian akan dapat menghentikan keterikatan pada kehidupan mendatang.

Dengan mengerti hukum sebab dan akibat yang sempurna kalian akan dapat melihat bahwa kecuali kalian mempurifikasi tindakan kalian, apapun kenikmatan yang jelas dan kesenangan yang kalian temukan dalam siklus keberadaan tidak dapat diandalkan. Setelah mengerti hal ini, kalian tidak akan dibingungkan dengan kesenangan dari siklus keberadaan dan akan dapat mengekang keterikatan pada kehidupan selanjutnya

Sebagai manusia dalam siklus keberadaan, kita biasanya menemukan empat jenis penderitaan: Penderitaan kelahiran, penuaan, penyakit, dan kematian. Mulai dari lahir, kita dihadapkan pada penderitaan hidup kita dimulai dengan penderitaan.

Pada saat yang sama, proses penuaan dimulai dan kita mulai menemukan berbagai tingkatan penyakit. Bahkan ketika kita sehat kita menemukan banyak gangguan dan kebingungan. Akhirnya, bab dari hidup kita ditutup dengan penderitaan akan kematian.

Ketika kita berbicara mengenai seseorang yang berada pada siklus keberadaan, kita merujuk pada makhluk hidup yang berada dalam kekuasaan tindakan terkontaminasi dan delusi. Karena kita ditundukan oleh tindakan terkontaminasi dan delusi, kita berulang-kali terlahir dalam siklus, karena itu ini disebut siklus keberadaan.

Dari keduanya, tindakan terkontaminasi dan delusi, delusilah yang terutama bertanggung jawab untuk melemparkan kita dalam siklus keberadaan. Ketika kita bebas dari delusi kita mendapatkan kebebasan. Delusi adalah kondisi pikiran dimana, ketika mereka muncul dalam kontinum mental kita, membuat kita terganggu, bingung dan tidak bahagia.

Karena itu, kondisi pikiran ini yang terdelusi atau menindas kita disebut delusi atau emosi menindas. Mereka adalah kualitas negatif yang membuat kita tidak bahagia ketika mereka muncul dalam diri kita. Ini adalah gangguan internal dan bukan kondisi eksternal yang benar-benar membuat kita menderita.

Sepanjang kita memiliki penjahat ini yang tinggal dalam diri kita, kebahagiaan adalah tidak mungkin. Jadi, bila kita ingin mentransformasi diri kita dan mendapatkan kebahagiaan maksimum, kita harus mengidentifikasi kondisi pikiran yang terdelusi dan mengeliminasi mereka. Pencerahan, kondisi kebahagiaan terbesar, tidak dapat diaktualisasikan dengan cara lain selain mentransformasikan pikiran kita.

Biasanya pada tingkat biasa, kita berpikir bahwa delusi seperti keterikatan dan kemarahan adalah kualitas yang membuat hidup bermakna dan berwarna. Kita berpikir bahwa tanpa keterikatan dan kemarahan, seluruh masyarakat atau komunitas kita akan menjadi tidak berwarna dan tanpa kehidupan.

Tetapi bila kalian berpikir mengenai hal ini dan menimbang kualitas dan kerugian dari delusi seperti keterikatan dan kemarahan, kalian mungkin menemukan bahwa dalam jangka pendek mereka memberikanmu kelegaan dan membuat hidup kalian berwarna.

Tetapi bila diamati dari dekat kalian akan menemukan bahwa sedikit dari delusi yang kita miliki, walaupun hidup akan kurang berwarna, lebih banyak kita akan mengembangkan ketenangan diri, kekuatan dalam diri dan kebahagiaan kekal. Seperti itu juga, pikiran kita akan bahagia, kesehatan fisik kita akan menjadi lebih baik dan kita akan dapat terlibat dengan sukses dalam aktivitas kebaikan.

Tentu saja, kalian mungkin merasa hidup kalian sekarang tidak berwarna, tidak menarik dan tanpa makna. Tetapi bila kalian pikirkan dengan hati-hati dan melihat manfaat jangka panjang bagi diri kalian dan makhluk hidup lain, kalian akan melihat bahwa lebih banyak kalian mengendalikan delusi, lebih banyak kedamaian pikiran dan kesejahteraan fisik kalian.

Demi mengejar kesehatan fisik banyak orang yang melakukan berbagai jenis olahraga yoga. Tidak diragukan bahwa hal ini baik untuk mereka, tetapi bila mereka juga melakukan mental yoga hal ini akan lebih baik. Singkatnya, selama pikiran kalian terganggu dan tidak seimbang, kalian akan terus menemukan masalah dan penderitaan

Dan sepanjang pikiran kalian terkendali, disiplin dan bebas dari kesalahan ini, lebih banyak kekuatan diri, ketenangan, kedamaian dan stabilitas yang kalian dapatkan, karena kalian akan dapat menjadi lebih kreatif. Dari pengalaman kalian kita akan memiliki lebih banyak penderitaan ketika pikiran kalian terganggu oleh kesalahan yang dapat kita simpulkan ketika pikiran kita jernih dan pengalaman kebahagiaan kita stabil.

Sampai saat ini kita telah mendiskusikan kesalahan, penderitaan dan delusi dari siklus keberadaan. Pada satu sisi, kita harus berpikir mengenai kesalahan dan penderitaan dari siklus keberadaan dan menggenerasikan keengganan terhadap mereka dan pada sisi lain kita perlu memastikan kemungkinan untuk mencapai nirvana, penghentian penderitaan - eliminasi dari delusi sepenuhnya.

Bila kalian bertanya - apakah ada metode dimana kalian dapat mencapai kebebasan, atau metode dimana kalian dapat mencapai kebebasan, atau metode dimana kalian akan dapat mengeliminasi penderitaan dan delusi sepenuhnya? Akan bernilai untuk bertanya apakah nirvana dan kebebasan sebenarnya ada.

Kebebasan atau penghentian adalah sifat dari pikiran pada kesempatan anihilasi sepenuhnya dari pencemaran oleh penawar mereka. Ketika kalian berpikir mengenai penderitaan dari siklus keberadaan dan kalian lelah dengan mereka, kalian menanti nirvana, kebebasan, dan sebagai alternatif. Bisakah kita berkata bahwa kita memiliki pikiran yang tercemar dan terdelusi.

Ketika pencemaran dari saat sebelumnya dari kontinum dari kesadaran tertentu ini telah dieliminasi sepenuhnya, sifat sebenarnya dari kesadaran yang terpurifikasi adalah kebebasan, nirvana dan penghentian sebenarnya. Dengan kata lain, ajaran ini berkata bahwa siklus keberadaan yang sekarang ini kita alami tidaklah kekal, karena ia muncul dari sebab dan kondisi dan mereka dapat dinetralkan.

Bila kalian bertanya mengenai sebab dari siklus keberadaan: ia adalah kebodohan, konsepsi dari keberadaan sebenarnya. Dan apakah obat bagi kebodohan seperti ini? Ia adalah kebijaksanaan yang menyadari kekosongan atau kebijaksanaan yang menyadari sifat sebenarnya dari fenomena.

Sekarang, kedua kualitas ini, kebodohan, yang menyebabkan siklus keberadaan, dan kebijaksanaan yang menyadari kekosongan, yang merupakan penawar bagi kebodohan, tidak dapat tinggal bersamaan dalam kontinum satu manusia, karena mereka tidak bisa benar pada saat bersamaan. Walaupun keduanya mengamati obyek yang sama, modus pengertian mereka berlawanan satu sama lain. Karena itu, mereka tidak dapat tinggal dalam kontinum satu manusia dengan kekuatan yang sama. Ketika yang satu dikuatkan, yang lain dilemahkan.

Bila kalian memeriksa dua kualitas ini dengan hati-hati, kalian akan menemukan bahwa kebodohan tidak memiliki dukungan atau fondasi yang valid, kebijaksanaan yang menyadari kekosongan memilikinya. Kualitas apapun yang memiliki fondasi yang valid dapat dikuatkan dan dikembangkan tanpa batas.

Di sisi lain, karena konsepsi dari keberadaan sebenarnya tidak memiliki fondasi yang valid, karena ia menemukan kebijaksanaan yang menyadari kekosongan, pikiran yang valid berdasarkan penalaran yang benar, ia dilemahkan sampai dapat dieliminasi seluruhnya. Jadi, kebijaksanaan yang menyadari sifat dari fenomena akan dapat mencabut akar kebodohan, sumber dari siklus keberadaan.

Bila kita memeriksa bagaimana keterikatan dan kemarahan muncul dalam diri kita ketika pikiran kita tenang dan jernih, dengan cara apa kita menginginkan obyek, bagaimana ia nampak dalam diri kita dan bagaimana kita menggenerasikan konsepsi mengenai keberadaan yang benar terhadapnya, kita akan dapat melihat bagaimana delusi ini bangkit dalam diri kita. Walaupun kita mungkin tidak memiliki pengertian langsung, kita akan dapat mengambil asumsi yang benar.

Bagaimana keterikatan dan kemarahan mendukung konsepsi dari keberadaan yang benar? Ketika, sebagai contoh, kalian sangat marah kepada sesesorang, perhatikan bagaimana pada saat itu kalian melihat orang tersebut sebagai menjijikan, tidak menyenangkan. Kemudian seorang teman mengatakan padamu, bahwa orang tersebut tidak sepenuhnya menjengkelkan karena dia memiliki kualitas ini dan itu.

Hanya dengan mendengar kata-kata ini, kalian merubah pikiran kalian dan tidak lagi melihat orang tersebut sebagai sepenuhnya menjijikan atau tidak menyenangkan. Hal ini jelas menunjukan mulai dari awal, ketika kalian menggenerasikan keterikatan, kemarahan dan seterusnya, kecenderungan mental kita adalah melihat orang atau obyek tertentu tidak hanya sebagai menyenangkan atau tidak menyenangkan, tetapi sebagai sepenuhnya tidak menyenangkan atau sepenuhnya menyenangkan.

Bila seseorang menyenangkan, kalian melihatnya sebagai sepenuhnya menarik, menarik seratus persen, dan bila kalian marah kepada mereka, kalian akan melihat orang tersebut sebagai sepenuhnya tidak menarik.

Dengan kata lain, kalian melihat apapun kualitas yang mereka miliki sebagai ada secara inheren atau independen. Karena itu, modus dari pengertian fenomena sebagai ada secara inheren atau menyediakan basis yang kuat untuk kebangkitan delusi seperti keterikatan dan kemarahan.

Dari penjelasan seperti ini, kalian dapat membuat asumsi bahwa secara umum, kualitas ini, kebebasan atau nirvana, tidak ada. Ini adalah fenomena. Tidak hanya ia ada, tetapi ia adalah sesuatu yang dapat kalian capai dalam kontinum mental kalian. Bila kalian melatih diri kalian dalam praktek kembar untuk berpikir mengenai kerugian dan penderitaan dari siklus keberadaan, dan keuntungan untuk dapat menghilangkan penderitaan ini dan kemungkinan untuk mendapatkan kebebasan maka kalian akan dapat menggenerasikan tekad untuk menjadi bebas sepenuhnya dari siklus keberadaan.

Ukuran untuk Menggenerasikan Tekad untuk Bebas

Bait selanjutnya menjelaskan bagaimana mengukur apakah kalian telah menggenerasikan tekad untuk bebas dari siklus keberadaan:

Setelah mengenalkan dirimu dengan cara ini, bila kalian tidak menggenerasikan kekaguman
Bagi kemakmuran siklus keberadaan bahkan dalam sekejap,
Dan bila kalian mengharapkan kebebasan siang dan malam,
Pada saat itu kalian telah menggenerasikan tekad untuk bebas.

Bait selanjutnya menjelaskan generasi pikiran tercerahkan. Pertama-tama kebutuhan dan tujuan dari menggenerasikan altruisme dijelaskan.

Bila tekad untuk bebas ini tidak dipengaruhi oleh pikiran murni pencerahan
Ia tidak akan menjadi sebab bagi pencerahan yang tak terlewati, kebahagiaan sempurna.
Karena itu, yang pandai harus menggenerasikan pikiran tercerahkan.

Betapa kuatnya pun pengenalan kalian terhadap tekad untuk bebas dari siklus keberadaan, kecuali kalian menggenerasikan sikap altruisme, harapan yang kuat untuk memberikan manfaat bagi makhluk hidup, tidak mungkin bagi kalian untuk mencapai pencerahan. Dalam hal ini Rangkaian Berharga Nagarjuna berkata:

Akarnya adalah pikiran tercerahkan.
Untuk mengaktualisasikan pencerahan tertinggi
Bila kalian dan dunia ini berharap

Dasar dari menggenerasikan aspirasi altruisme untuk pencerahan adalah kasih sayang, dimana ada beberapa jenis. Satu jenis kasih sayang adalah untuk berpikir betapa baiknya bila makhluk hidup bebas dari penderitaan. Ada tingkat kasih sayang yang lain yang mencakup tidak hanya pikiran ini, tetapi juga keberanian yang lebih besar.

Hal ini memunculkan tekad khusus untuk mengambil tanggung jawab secara pribadi untuk menghilangkan penderitaan makhluk hidup. Bahkan Pendengar dan Buddha Penyendiri memiliki harapan kuat agar makhluk hidup terpisahkan dari penderitaan.

Seperti itu juga, kita terkadang menggenerasikan sejenis kasih sayang, yang berpikir betapa baiknya bila makhluk hidup terbebas dari penderitaan. Sebagai contoh, melihat kesedihan atau kondisi terbengkalai dari seseorang atau hewan, kita mungkin menggenerasikan rasa kasih sayang yang kuat yang berharap bahwa penderitaan dari makhluk tersebut dieliminasi.

Juga penting untuk dicatat bahwa ketika obyek dari kasih sayang kita adalah seseorang yang kita sukai simpati kita lebih berdasarkan keterikatan daripada kasih sayang. Di sisi lain, bila melihat penderitaan dari hewan yang terbengkalai, seperti anjing liar kepada siapa kalian tidak memiliki keterikatan sama sekali, kalian menggenerasikan kasih sayang, ini adalah kasih sayang yang murni.

Sekarang, kasih sayang yang digenerasikan oleh Pendengar dan Buddha Penyendiri memiliki kualitas yang lebih tinggi daripada kasih sayang yang biasanya kita generasikan, karena, melihat penderitaan yang meliputi seluruh siklus keberadaan, mereka menggenerasikan kasih sayang bagi semua makhluk hidup. Tidak dapat melihat penderitaan dari semua siklus keberadaan, kita hanya melihat penderitaan dari makhluk tertentu, dimana kita melihat hanya kesalahan atau tidak adanya pahala dalam diri mereka. Akan tetapi, Pendengar atau Buddha Penyendiri tidak memiliki kasih sayang yang membuat mereka mengambil tanggung jawab untuk membebaskan makhluk hidup sendiri.

Kasih sayang yang digenerasikan oleh Bodhisattva adalah yang jenis yang tertinggi. Mereka tidak hanya berharap makhluk hidup terpisahkan dari penderitaan, tetapi dengan sukarela mengambil tanggung jawab untuk menjauhkan mereka dari penderitaan mereka. Hal ini disebut kasih sayang besar. Kasih inilah yang mendasari semua aspirasi altruisme untuk pencerahan dan yang memunculkan sikap khusus.

Untuk alasan ini kita sering menemukan pernyataan di kitab suci bahwa kasih sayang yang bertindak sebagai akar dari pikiran tercerahkan. Agar dapat menggenerasikan kasih sayang, pada satu sisi kalian harus mengidentifikasi penderitaan yang menjangkiti makhluk hidup tertentu. Di sisi lain, kalian harus menganggap makhluk tersebut menyenangkan dan dekat dihatimu.

Cara Menggenerasikan Pikiran Tercerahkan

Dibawa oleh empat sungai yang deras
Terikat dengan ikatan kuat tindakan, yang sulit dilepaskan,
Ditangkap dalam jaring besi dari konsepsi diri
Ditutupi oleh amplop kegelapan kebodohan yang tebal
Terlahir dalam siklus keberadaan yang tak terbatas

Dan dalam kelahiran mereka tak hentinya disiksa oleh tiga penderitaan:
Merenungkan kondisi ibu makhluk hidup dalam kondisi seperti ini,
menggenerasikan pikiran tertinggi

Kata-kata ibu makhluk hidup di sini menunjukan bahwa penderitaan makhluk hidup tidak seluruhnya tidak berhubungan dengan diri kalian. Mereka telah bertindak sebagai ibu kalian pada banyak kehidupan terdahulu dan telah sangat baik terhadap kalian.

Karena itu, kalian melihat mereka sebagai menyenangkan. Mengerti bagaimana ibu kalian menderita akan membuatmu merasa tidak dapat menahannya. Melalui proses mental mengenali bagaimana kalian berhubungan dekat dengan makhluk hidup kalian akan dapat menggenerasikan kasih sayang besar yang membangkitkan pikiran tercerahkan.

Bait ini berkata bahwa makhluk hidup dibawa oleh empat sungai yang deras. Keempatnya dapat merujuk pada empat sebab yang memproyeksikan makhluk hidup dalam kelahiran siklus keberadaan, dan mereka juga merujuk pada empat hasil. Tetapi, di sini, empat sungai adalah empat penderitaan yang tidak diinginkan yang kita temui dalam siklus keberadaan: yaitu kelahiran, penuaan, penyakit, dan kematian.

Tindakan yang kuat dan tercemar ini juga membangkitkan potensi delusi seperti kemarahan dan keterikatan. Hal ini kemudian membangkitkan konsepsi yang kuat dari (keberadaan yang benar) diri. Hal ini dibandingkan dengan jaring besi yang kuat, karenanya kita terjerat dalam siklus keberadaan.

Konsepsi yang kuat dari diri berarti ia stabil dan tak dapat digoyahkan. Lebih kuat konsepsi diri, lebih kuat delusi seperti kemarahan dan keterikatan. Dan lebih kuat delusi ini, lebih kuat tindakan yang memproyeksikan kita ke dalam siklus keberadaan. Dan lebih kuat tindakan yang memproyeksikan kita ke dalam siklus keberadaan, lebih kuat juga penderitaan kita.

Kesalahan konsepsi diri muncul karena kita telah mengaburkan semua sisi dengan kegelapan dari kebodohan. Dalam konteks ini, konsepsi yang salah dari diri telah memerangkap kita dalam siklus keberadaan yang sebenarnya merujuk pada konsepsi yang salah dari diri seseorang, karena baris selanjutnya berkata bahwa makhluk hidup kebingungan dan ditutupi oleh kegelapan tebal dari kebodohan.

Biasanya konsepsi yang salah dari diri bila merujuk pada kebodohan, tetapi ketika kita menemukan dua hal yang dijelaskan, seperti konsepsi yang salah dari diri dan kebodohan, yang pertama, konsepsi diri yang salah, merujuk pada konsepsi diri seseorang dan kebodohan dari baris selanjutnya merujuk pada konsepsi yang salah dari diri fenomena, konsepsi yang salah sebagai benar ada.

Konsepsi kita dari keberadaan fenomena yang benar, dengan kata lain, ketamakan kita akan ketertarikan terhadap tubuh fisik kita, bertindak sebagai fondasi untuk menggenerasikan banyak keterikatan terhadap diri kita.

Karena itu, konsepsi fenomena yang salah bertindak sebagai fondasi untuk konsepsi yang salah mengenai seseorang. Ketika kalian mengamati "Saya" dalam kontinum dan menggenerasikan perasaan "Saya", konsepsi dari diri yang benar ada, yang disebut pandangan dari koleksi sementara.

Jadi, konsepsi diri fenomena yang salah menyebabkan pandakan koleksi sementara dan hal ini kemudian menstimulasikan akumulasi tindakan. Dan karena konsepsi yang salah dari diri seseorang, kita dengan tidak sukarela terlahir dalam siklus keberadaan dan pengalaman dalam waktu yang tak terhingga, rantai yang tak terputus dari kelahiran, penuaan, penyakit dan seterusnya.

Sekarang, penghentian dari hasil selanjutnya tergantung pada penghentian sebab sebelumnya. Bila sebab yang kuat telah diciptakan maka kalian akan dapat mengalami hasilnya, tidak peduli betapa ragunya kalian. Bila kalian berpikir dengan cara ini maka lebih banyak kalian tidak menyukai penderitaan kalian lebih benci kalian pada sebab mereka.

Bait ini menjelaskan dua cara untuk menggenerasikan pelepasan dan tekad untuk bebas melalui berpikir mengenai penderitaan yang benar. Ini untuk berpikir mengenai kesalahan dan penderitaan dari siklus keberadaan dan merefleksikan asal-muasal penderitaan.

Ketika bait ini menjelaskan empat tingkatan penderitaan dan seterusnya, ia menjelaskan mengenai penderitaan sebenarnya, dan ketika ia menjelaskan faktor seperti konsepsi dari keberadaan yang benar, kebodohan dan tindakan terkontaminasi, ia menjelaskan asal-muasal penderitaan. Dengan cara ini menjelaskan dua kebenaran mulia yang pertama.

Bila kalian berpikir mengenai siklus penderitaan dan asal-muasalnya dengan referensi kepada makhluk hidup lain, hal ini akan membawa pada pelatihan dalam kasih sayang. Tetapi bila kalian berpikir mengenai penderitaan ini dan asal-muasalnya dengan referensi pada diri kalian ia akan membawa pada generasi dan tekad untuk bebas.

Kemarin kita berdiskusi mengenai tingkatan penderitaan yang berbeda-beda dan bagaimana menggenerasikan sikap altruisme yang berharap untuk memberikan manfaat bagi semua makhluk hidup. Dalam konteks ini teksnya berkata:

Melihat penderitaan ibu makhluk hidup

Pada situasi seperti ini kita harus menggenerasikan pikiran tertinggi.

Dengan kata lain kita harus mengamati penderitaan makhluk hidup dan kemudian menggenerasikan perasaan yang kuat mengenai kedekatan dan kasih sayang terhadap mereka. Lebih dekat perasaan kalian ke makhluk hidup lain, lebih baik untuk menggenerasikan perasaan tidak dapat menahan penderitaan mereka. Karena itu, kita harus melihat semua makhluk hidup sebagai keluarga kita, seperti ibu kita.

Untuk dapat menggenerasikan sikap mental dan kepedulian terhadap makhluk hidup lain, kita harus pertama-tama mengerti sifat tanpa awal dari siklus keberadaan. Makhluk hidup yang telah terlahir dalam siklus keberadaan juga tanpa awal; karena itu, tidak ada makhluk hidup yang tidak berhubungan dengan kalian sebagai keluarga seperti ibumu.

Agar dapat menggenerasikan kasih sayang yang kuat dan kedekatan kepada semua makhluk hidup, pertama-tama kalian harus menggenerasikan rasa sama rata kepada semua makhluk hidup. Berdasarkan perasaan ini kalian dapat menggenerasikan rasa persaudaraan dengan semua makhluk hidup dan memandang mereka seperti ibumu.

Kemudian, kalian akan dapat merefleksikan kebaikan makhluk hidup ini, yang sama dengan kebaikan dari keluargamu yang mendukung kalian sekarang. Ketika kalian melihat mereka seperti saudaramu dan mengingat kebaikan mereka, kalian akan dapat menggenerasikan sikap menghargai mereka, mengambil mereka ke dalam hatimu.

Metode lain untuk menggenerasikan sikap altruisme adalah untuk menukar diri kalian dengan orang lain. Hal ini mungkin karena semua makhluk hidup adalah sama seperti kalian dalam menginginkan kebahagiaan dan tidak menginginkan penderitaan. Mereka juga sama seperti kalian dalam memiliki kapasitas dan kesempatan untuk menghilangkan penderitaan dan mendapatkan kebahagiaan. Seperti kalian, semua makhluk hidup memiliki hak untuk mengeliminasi penderitaan dan mendapatkan kebahagiaan maksimum.

Walaupun kalian semua adalah sama dari sudut pandang ini, semua makhluk hidup tak terhingga. Dan kalian tidak berhubungan dengan mereka karena dalam bahasa duniawi kalian sangat tergantung pada mereka. Bahkan bila kalian bermeditasi mengenai jalan kalian melakukan hal ini dengan berfokus pada makhluk hidup.

Akhirnya, pencerahan terakhir diketahui sebagai pencapaian yang tanpa usaha dan spontan dari makhluk makhluk lain dicapai dengan tergantung pada mereka. Karena itu, kita berhubungan dan tergantung pada makhluk hidup ketika kita berada dalam siklus keberadaan, pada saat jalan dan akhirnya pada saat berbuah.

Sekarang, melihat bahwa kalian memiliki hubungan dekat ini dengan semua makhluk hidup, bodoh untuk tidak mempedulikan kesejahteraan mereka untuk mengejar kepentingan hanya satu makhluk - dirimu. Di sisi lain, bijaksana untuk meninggalkan kepentingan seseorang untuk memberikan manfaat bagi mereka yang merupakan mayoritas makhluk hidup.

Semua kesenangan dan fasilitas yang kita nikmati dalam hidup ini, seperti kekayaan, hak milik, ketenaran dan persahabatan, semuanya didapat dengan ketergantungan pada makhluk lain. Kita tidak dapat berpikir menikmati apapun dengan usaha kita sendiri tanpa pertolongan mereka. Dalam zaman modern ini khususnya, semua yang kita nikmati, makanan, pakaian dan semua hal lain, dihasilkan dari berbagai perusahaan manifaktur dimana orang lain bekerja. Hampir tidak ada yang ditumbuhkan atau diproduksi dalam taman kecil kalian.

Kita makan buah kalengan yang diproduksi oleh tangan-tangan manusia lain. Ketika kita berpergian dengan pesawat terbang, kita tergantung pada pekerjaan dan fasilitas yang diberikan oleh banyak orang yang terlibat dalam menjalankan pesawat. Dalam masyarakat modern kita tidak berpikir untuk bertahan tanpa tergantung pada manusia lain.

Seperti itu juga, tanpa orang lain kalian tidak akan memiliki reputasi atau ketenaran. Walaupun kalian memiliki kualitas tertentu yang merupakan dasar dari ketenaran dan reputasi, bila orang lain tidak mengetahui mengenai hal ini, kalian tidak akan terkenal.

Bila kalian berpikir dengan hati-hati, bahkan musuhmu, yang biasanya kalian lihat sebagai lawan dan tidak kalian sukai sepenuhnya, memberikan kalian menggenerasikan banyak kualitas seperti kesabaran, keberanian dan kekuatan. Ada ajaran dari Shantideva dalam bab-nya mengenai kesabaran yang terkait di sini mengenai bagaimana menggenerasikan kesabaran dengan hormat kepada lawanmu dan untuk menganggapnya sebagai berharga.

Hal ini terutama penting bagi praktisi Buddha. Bila kalian dapat melihat bagaimana kalian mendapatkan kualitas seperti ini dari musuhmu, kalian juga akan dapat menggenerasikan perasaan yang baik terhadap mereka.

Bila kalian dapat menggenerasikan pikiran positif terhadap musuh kalian, yang biasanya merupakan obyek penghinaan, kalian tidak akan mendapatkan masalah dalam menggenerasikan perasaan peduli terhadap makhluk netral atau tentu saja kepada sahabatmu.

Agar dapat menggenerasikan sikap mental seperti ini, kalian tidak perlu mengenal semua makhluk hidup secara individu. Kalian dapat sebagai contoh, menyimpulkan bahwa semua pohon memiliki karakter yang sama dari kualitas satu pohon tanpa harus mengetahui setiap pohon individu.

Seperti itu juga, kalian dapat menyimpulkan bahwa semua makhluk hidup adalah sama dalam menginginkan kebahagiaan dan tidak menginginkan penderitaan, dengan memeriksa situasi kalian sendiri. Dengan melakukan hal ini kalian juga dapat dengan mudah menggenerasikan kasih sayang, yang merupakan aspirasi yang memikirkan betapa baiknya bila semua makhluk hidup dapat menghilangkan penderitaan.

Bila kalian dapat menggenerasikan pengertian yang jelas mengenai penderitaan makhluk hidup, kalian juga akan dapat menggenerasikan cinta, yaitu berpikir betapa baiknya bila semua makhluk hidup bertemu dengan kebahagiaan.

Berdasarkan kedua aspirasi ini - cinta dan kasih - kalian akan menggenerasikan sikap khusus untuk mengambil tanggung jawab menghilangkan penderitaan ini sendiri dan hal ini akan memunculkan pikiran yang berharap untuk mendapatkan pencerahan tertinggi demi semua makhluk hidup yang disebut pikiran tercerahkan. Cara untuk mengukur generasi pikiran tercerahkan dan tekad untuk bebas telah dijelaskan sebelumnya.

Perlunya Menyadari Kekosongan

Mulai dari poin ini, teks ini menjelaskan mengenai sifat dari kekosongan dan kebijaksanaan yang menyadarinya. Bait pertama menjelaskan perlunya menggenerasikan kebijaksanaan yang menyadari sifat kekosongan. Ada berbagai jenis kebijaksanaan: kebijaksanaan yang mengerti fenomena konvensional seperti berbagai sains dan kebijaksanaan yang mengerti sifat sebenarnya dan terakhir dari fenomena.

Bila kalian tidak memiliki kebijaksanaan yang menyadari modus terakhir dari keberadaan, tidak peduli betapa kuatnya tekad kalian untuk bebas atau aspirasi kalian untuk tercerahkan, kalian tidak akan dapat merubah konsepsi dari keberadaan yang sebenarnya, akar dari sebab siklus keberadaan. Karena itu, kalian akan dapat berusaha untuk menyadari saling ketergantungan.

Tanpa kesadaran yang menyadari modus keberadaan
Walaupun kalian mengenali dengan tekad
untuk bebas dan pikiran tercerahkan
Akar dari siklus keberadaan tidak dapat dipotong.
Karena itu, berusahalah untuk menyadari saling-ketergantungan.

Penjelasan umum dari makna saling ketergantungan seperti saling ketergantungan dari sebab dan akibat diterima oleh semua tradisi Buddha. Tetapi bait ini merujuk pada ketergantungan yang halus; sesuatu yang ada dan tergantung dari bagiannya.

Dengan kata lain, ada hubungan yang terkondisi dimana efek khusus atau fenomena bangkit hanya dengan ketergantungan dalam sebab dan kondisi khusus. Makna lain dari ketergantungan adalah keberadaan dari hal-hal yang relatif terhadap yang lain. Sebagai contoh, ketika kita berbicara mengenai keseluruhan tubuh, kita menyebutnya bagian sehubungan dengan keseluruhan, seperti itu juga utuh hanya utuh sehubungan dengan bagian.

Dari sudut pandang ini bagian dan utuh berhubungan dengan dan tergantung satu sama lain. Seperti itu juga, kualitas seperti panjang dan pendek adalah relatif, karena kita menggunakan kata-kata ini untuk menggambarkan obyek sehubungan dengan obyek lain.

Tingkat lain dari fenomena juga disebut ketergantungan karena mereka bangkit sehubungan dengan dasar dari tujuan mereka dan mereka tergantung pada pikiran yang merujuk pada mereka. Makna pertama dari ketergantungan relevan hanya untuk fenomena yang terkondisi, dimana dua makna terahir relevan untuk fenomena, fenomena yang terkondisi dan tidak permanen dan fenomena permanen yang tak terkondisi.

Ketergantungan yang dirujuk dalam baris ini adalah yang paling halus, dimana dijelaskan dia ada dalam nama dan rujukan oleh pikiran. Dengan kata lain ketika kita berkata bahwa fenomena ada melalui kekuatan kata-kata dan rujukan tergantung pada rujukan, kita menjelaskan ketergantungan seperti penampakannya, hanya ada karena kekuatan nama.

Dari sudut pandang terakhir ada kekosongan dari keberadaan inheren. Hal ini berarti bahwa karena fenomena tidak ada dari sisinya sendiri, ia tidak memiliki keberadaan yang inheren dan tergantung pada kondisi lain. Di sini kondisi lain merujuk pada rujukan dan pikiran yang merujuk.

Fenomena ada karena kekuatan dari rujukan dan hal ini kosong dari keberadaan yang memenuhi kebutuhannya. Sebaliknya, karena ia tidak memiliki keberadaan yang independen, ia ada melalui kekuatan rujukan.

Jadi ini adalah penjelasan dari kekosongan halus. Ketika kita berbicara mengenai makna dari kekosongan, kita berbicara megnenai sesuatu yang kosong dari obyek negasi. Fenomena adalah kosong dari keberadaan yang independen, keberadaan inheren, dan keberadaan dari sisinya.

Ketiganya: keberadaan independen, keberadaan inheren, keberadaan dari sisinya sendiri adalah obyek negasi. Kekosongan karena itu berarti kosong dari obyek negasi. Hal ini dikatakan karena fenomena tergantung pada hal lain; mereka tergantung pada nama dan pikiran dimana mereka dirujuk.

Ketika kita menjelaskan bahwa mereka tergantung pada bagian mereka, nama dan rujukan, kita juga menyatakan bahwa mereka tidak memiliki keberadaan inheren, karena ketergantung dan independen adalah kata yang berlawanan. Fenomena tergantung atau independen, mereka tidak bisa menjadi keduanya. Karena kedua kata ini tidak berhubungan, sebuah fenomena hanya bisa menjadi yang satu atau yang lain; ia tidak bisa menjadi sesuatu diantara.

Sebagai contoh, manusia dan kuda adalah berlawanan tetapi bukan lawan langsung, karena bisa ada kategori ketiga, seperti anjing, yang bukan merupakan kuda atau manusia. Tetapi manusia dan bukan manusia adalah lawan langsung bila kita berkata bahwa hanya ada dua kategori fenomena, mereka yang manusia atau bukan manusia, tidak bisa ada kategori ketiga. Jadi melalui penalaran dari ketergantungan, tidak adanya keberadaan inheren dapat ditetapkan.

Ketika kita menggunakan kata kekosongan, ada beberapa kemiripan dengan ide kita mengenai tidak adanya sesuatu atau kekosongan. Tetapi bila kalian berpikir bahwa kekosongan hanya merupakan tidak adanya keberadaan inheren. Karena mereka tidak memiliki keberadaan yang inheren, fenomena tidak memiliki keberadaan yang independen, tetapi mereka ada.

Pengertian akan kekosongan ini bisa didapat melalui pengertian dari makna ketergantungan, karena ketergantungan berarti fenomena tergantung pada sesuatu yang lain. Mereka tidak ada secara independen atau mereka tidak ada dari sisinya sendiri. Bila fenomena ada karena tergantung pada sesuatu yang lain, hal ini jelas menunjukan bahwa mereka ada.

Terkadang kekosongan dijelaskan sebagai makna dari jalan tengah, yang berarti pusat yang telah mengeliminasi dua ekstrim. Satu ekstrim adalah untuk berpikir bila fenomena tidak ada secara inheren, mereka tidak ada sama sekali - ekstrim nihilisme. Yang lain adalah berpikir bahwa bila fenomena ada, mereka akan ada secara inheren - ekstrim dari eternalisme.

Bila kita memiliki pengertian yang baik akan kekosongan, pada satu sisi kita akan mengerti bahwa, karena fenomena ada tergantung pada pikiran dan nama dan seterusnya, mereka memiliki keberadaan nominal, yaitu mereka tidak ada. Hal ini menghindari ekstrim nihilisme.

Di sisi lain, bila kalian berpikir mengenai bagaimana fenomena ada tergantung pada pikiran dan nama, maka jelas mereka tidak memiliki keberadaan yang independen. Hal ini menghindari ekstrim eternalisme. Bila ini adalah sesuatu yang tidak ada sama sekali, maka hal ini tergantung pada sesuatu yang tidak masuk akal. Bait selanjutnya mengklarifikasi poin ini.

Seseorang yang melihat sebab dan akibat yang sempurna
Dari semua fenomena dalam siklus keberadaan dan selebihnya
Dan menghancurkan semua persepsi (mengenai keberadaan inheren)
Telah memasukan jalan yang menyenangkan para Buddha.

Hal ini berarti bila kalian dapat dengan jelas menegaskan kesempurnaan dari saling ketergantungan, sehingga kalian dapat menggenerasikan kepastian mengenai hal ini, dan bila, tanpa mencelakakan presentasi dari saling ketergantungan, kalian akan dapat menghancurkan persepsi bahwa hal-hal ada secara inheren, maka kalian telah memasuki jalan yang menyenangkan para Buddha.

Dua baris pertama menjelaskan bahwa seseorang yang melihat sebab dan akibat, dalam dan di luar siklus keberadaan, sebagai sempurna, yang dapat menempatkan kebedaran dan fungsi aktual sebab dan akibat, daripada ketiadaan mereka, dapat mengeliminasi ekstrim nihilisme.

Dua baris selanjutnya menjelaskan bahwa melalui pengertian dari fungsi sebab dan akibat, kalian akan dapat mengerti bahwa walaupun hal-hal ada, mereka tidak ada secara independen atau inheren, kalian akan dapat merusak konsepsi bahwa hal-hal ada secara inheren.

Jadi baris ini menjelaskan bahwa walaupun sebab dan akibat berfungsi, mereka tidak berfungsi dengan cara yang inheren. Bahkan keberadaan inheren adalah obyek negasi dan ini adalah apa yang harus dihancurkan oleh persepsi yang benar. Hal ini mengeliminasi ekstrim permanen.

Secara umum, keseluruhan ajaran Buddha dapat digolongkan di bawah empat pernyataan: semua fenomena terkondisi adalah tidak kekal, semua hal-hal yang terkontaminasi adalah penderitaan, semua fenomena adalah kosong dan tidak memiliki keberadaan-diri, dan nirvana adalah kedamaian. Dari keempatnya, jelas bahwa kebanyakan sekolah prinsip Buddha, dengan pengecualian dari beberapa sub-sekolah seperti Vatsiputriya, menerima penjelasan tidak adanya diri.

Tidak adanya diri yang diterima oleh semua empat sekolah prinsip yang berbeda adalah tidak adanya pendukung diri atau orang yang independen. Makna dari tidak adanya orang yang independen atau substansial adalah tidak ada orang yang independen sepenuhnya dari agregat mental dan fisik.

Bila kalian memandang agregat mental dan fisik sebagai subyek yang dikendalikan oleh orang sebagai pengendali, dan kalian memandang pengendali ini, orang, sebagai sesuatu yang independen dari agregat ini, kalian akan menjaga pandangan keberadaan substansial dari orang yang independen.

Semua empat sekolah prinsip Buddha menerima bahwa tidak ada orang yang independen dari agregat mental dan fisiknya. Pengertian ini melemahkan kerinduan kita akan seseorang, yang menikmati kebahagiaan dan penderitaan, untuk menjadi sesuatu yang solid, tetapi sepertinya hal ini tidak terlalu efektif dalam melemahkan keterikatan, kemarahan dan seterusnya, hal ini digenerasikan dengan mengamati obyek kenikmatan lain. Secara umum, keterikatan, kebencian dan seterusnya, yang digenerasikan sehubungan dengan diri kita adalah lebih kuat, jadi kita berpikir obyek kenikmatan saya, keluarga saya, dan rosari saya.

Bila obyek kenikmatan bukan milik kalian, maka kalian tidak memiliki rasa yang kuat sebagai orang yang independen, tetapi bila kalian memiliki sesuatu, maka perasaan ini lebih kuat. Hal ini jelas bila kalian membandingkan dua sikap sebelum dan sesudah membeli sesuatu, katakan saja arloji.

Pertama-tama kalian membelinya, kemudian kalian mulai berpikir, "ini adalah arloji saya" dan "ini adalah pakaian saya" dan seterusnya. Jadi karena perasaan "milik saya", perasaan memiliki benda tersebut, kalian menggenerasikan perasaan kuat mengenai orang dimana benda itu dimiliki.

Orang seperti ini disebut orang yang ada secara independen. Bila kalian berbicara mengenai ketiadaan dari diri yang independen dan substansial, kepada orang yang memiliki perasaan kuat sebagai orang seperti ini, ia akan membantu mengurangi keterikatan mereka kepada benda milik mereka.

Di samping penjelasan dari ketiadaan diri seseorang, ketika kita belajar di sekolah prinsip tertinggi, ada Hanya Pikiran dan sekolah Jalan Tengah, kita menemukan penjelasan yang lebih halus dari ketiadaan diri tidak hanya orang, tetapi juga fenomena.

Dengan hormat kepada penjelasan sekolah Pikiran Saja, ketika kita menghubungkan obyek kenikmatan yang berbeda-beda, seperti bentuk, dan suara, mereka nampak kepada kita karena bangkitnya jejak pada kesadaran kita.

Jadi, menurut penjelasan Pikiran Saja, semua fenomena yang beragam nampak pada kita dan kita mengalami dan menikmati mereka karena bangkitnya jejak yang ditinggalkan pada pikiran. Dengan kata lain, semua fenomena adalah sifat pikiran dan tidak memiliki keberadaan eksternal.

Ini adalah satu penjelasan dari makna kekosongan, dan merupakan cara untuk mengurangi keterikatan terhadap obyek kenikmatan. Tetapi penjelasan Jalan Tengah adalah tidak ada fenomena, apakah manusia, yang menikmati, atau obyek kenikmatan, ada secara inheren dari sisi mereka sendiri, karena mereka dirujuk oleh pikiran. Pikiran merujuk pada nama dan kemudian fenomena menjadi sesuatu. Fenomena tidak memiliki keberadaan dari sisi mereka sendiri, daripada makhluk yang dirujuk oleh kata dan pikiran.

Menurut penjelasan ini, semua fenomena memiliki karakter dan sifat masing-masing, tetapi semua karakteristik dari fenomena spesifik ada tergantung pada hal lain, mereka tidak memiliki modus keberadaan spesifik dari pikiran mereka sendiri.

Penjelasan yang paling halus ditemukan pada sekolah Jalan Tengah Konsekuensialis, yang mengatakan bahwa walaupun ada hal-hal seperti bentuk, suara, gunung, rumah, dan seterusnya yang dapat kita tunjuk, mereka tidak ada dengan cara kita biasanya mempersepsikan mereka. Biasanya fenomena nampak pada kesadaran kita seperti bila mereka ada dari sisinya, tetapi Konsekuensialis berkata fenomena tidak ada dari sisi mereka sama sekali. Mereka hanya memiliki keberadaan konvensional dan nominal.

The subtlest explanation is found in the Middle Way Consequentialist school, which says that although there are things like form, sound, mountain, house and so forth that we can point to, they do not exist in the way we ordinarily perceive them. Usually phenomena appear to our consciousness as if they existed from their own side, but the Consequentialists say phenomena do not exist from their own side at all. They have only a conventional and nominal existence.

Ketika kita mencoba untuk menganalisa dan menguji sifat fenomena yang telah kita persepsikan, kita tidak dapat menemukan mereka, melainkan mereka menghilang. Hal ini menunjukan bahwa fenomena tidak memiliki keberadaan inheren dan tidak ada dari sisi mereka.

Menurut Sekolah Otonomi ukuran untuk membuktikan bahwa hal-hal ada, keberadaan dari sisi mereka. Tetapi Konsekuensialis berkata bahwa hal-hal tidak ada dari sisi mereka sama sekali, karena mereka hanya dirujuk oleh pikiran. Bagi mereka keberadaan fenomena dari sisi mereka adalah obyek negasi dan tidak adanya keberadaan inheren atau keberadaan dari sisi mereka adalah makna dari kekosongan.

Bila kalian dapat mempersepsikan sifat sebenarnya dari fenomena dengan menyadari bahwa mereka tidak ada secara inheren, tetapi tergantung pada sebab dan kondisi, seperti rujukan nama dan pikiran, kalian akan memasuki jalan yang menyenangkan Buddha. Biasanya ketika sebuah obyek, bentuk atau suara, nampak kepada kita, hal ini menunjukan bahwa ia memiliki keberadaan yang independen atau solid tidak tergantung pada sebab, kondisi, nama, pikiran dan seterusnya. Tetapi ini bukanlah modus keberadaan yang sebenarnya.

Karena itu, bila kalian mengerti bahwa keberadaan mereka tergantung pada hal-hal dan karena itu kalian mengeliminasi kesalah-pahaman bahwa fenomena ada secara independen, kalian telah mengerti jalan yang benar.

Di sisi lain, kalian mungkin berpikir mengenai bagaimana semua fenomena nampak dan kesempurnaan dari ketergantungan mereka, tetapi tidak dapat menggenerasikan kesadaran bahwa mereka kosong dari keberadaan inheren, atau ketika kalian berpikir mengenai kekosongan fenomena atau ketiadaan keberadaan inheren mereka, kalian mungkin tidak dapat menerima kesempurnaan dari ketergantungan mereka.

Ketika kalian harus melihat dua pengertian ini secara bergantian dan tidak dapat memikirkan mereka secara bersamaan, kalian belum menyadari pikiran sang Buddha. Seperti yang dikatakan bait berikut,

Penampakan adalah ketergantungan yang sempurna;
Kekosongan adalah bebas dari pernyataan.
Selama kedua pengertian ini dilihat sebagai terpisah,
Seseorang belum menyadari maksud dari sang Buddha.

Walaupun fenomena tidak memiliki keberadaan inheren, mereka memiliki keberadaan nominal. Ketika kita melihat refleksi dari wajah kita di cermin, refleksi ini bukanlah wajah itu sendiri.

Dengan kata lain, refleksi adalah kosong dari wajah yang sebenarnya, karena ini hanya refleksi dan bukan wajah sebenarnya sama sekali. Walaupun refleksi wajah bukan wajah, karena kumpulan sebab dan kondisi, refleksi dari wajah ada. Refleksi adalah kosong dari wajah yang sebenarnya dan akan tetapi ia di sana. Ini dihasilkan dari sebab dan kondisi dan akan terdisintegrasi karena sebab dan kondisi.

Seperti itu juga, fenomena memiliki keberadaan nominal, walaupun semua fenomena nampak ada secara inheren, tidak ada fenomena yang ada dari sisinya sendiri atau seperti penampakan mereka kepada kita. Akan tetapi, mereka memiliki keberadaan nominal yang memberikan hasil, ia fungsional dan aktivitasnya sempurna.

Pada saat ketika dua kesadaran bersamaan
Dan tidak harus bergantian,
Hanya dari pandangan sempurna ketergantungan datang kepastian
Yang menghancurkan semua modus ketamakan seluruhnya.
Pada saat itu, analisa dari pandangan yang dalam adalah lengkap.

Bila kalian mengenalkan pikiran kalian dengan hal ini, ada waktu dimana kalian tidak harus melihat dua pengertian ini secara bergantian dari makna ketergantungan dan kekosongan keberadaan inheren. Kemudian kalian akan mengerti makna dari kekosongan keberadaan inheren, hanya dengan mengerti makna dari ketergantungan tanpa mengandalkan alasan lain.

Hanya dengan melihat ketergantungan sebagai sempurna, kalian akan dapat menghancurkan miskonsepsi mengenai keberadaan sebenarnya dari fenomena tanpa mengandalkan kondisi yang lain. Ketika kalian dapat menggenerasikan pengertian dari ketergantungan atau kekosongan dari keberadaan inheren sebagai memiliki makna yang sama, kalian akan mendapatkan pengertian yang lengkap dari pandangan sifat sebenarnya fenomena.

Sekarang, kita akan melengkapi sisa teks Tiga Aspek Utama Jalan. Ketika kita berpikir mengenai fenomena yang tidak memiliki keberadaan inheren, kita harus memulai investigasi kita dari diri kita dan mencoba menemukan apakah "Saya" adalah orang yang memiliki keberadaan inheren atau tidak.

Temukan siapa orang ini dan pisahkan agregat fisik dan kesadaran dengan bertanya apakah otak saya adalah saya, atau tangan saya adalah saya, atau apakah bagian lain dari tubuh adalah saya. Ketika menganalisa dengan cara ini, kemudian "Saya" tidak ditemukan. Kalian tidak mengidentifikasi "Saya" dengan faktor-faktor ini, bukan tubuh fisik utuh, atau bagiannya atau kesadaran dan berbagai tingkatan.

Bila kalian berpikir mengenai tubuh fisik itu sendiri dan mencoba menemukan apa itu, apakah itu adalah tangan dan seterusnya, ia tidak akan dapat ditemukan. Seperti itu juga, bila kalian menganalisa meja tertentu untuk menemukan apa itu, apakah itu adalah warnanya atau bentuknya atau kayu bahan membuat meja tersebut, kalian tidak akan dapat menunjuk pada kualitas tertentu dari meja sebagai meja.

Ketika kalian tidak dapat menemukan hal-hal melalui modus analisa ini, ia tidak berarti tidak ada. Hal ini akan melawan alasan dan pengalaman kalian. Tidak ditemukannya fenomena ini dibawah pengamatan mengindikasikan bahwa mereka tidak memiliki keberadaan obyektif dari sisi mereka dan mereka tidak ada seperti yang ditempatkan atau dirujuk oleh pikiran. Tidak ada cara lain untuk menempatkan mereka.

Karena mereka tidak memiliki keberadaan obyektif yang independen dari pikiran, keberadaan mereka adalah tergantung pada kekuatan obyek, rujukannya. Karena itu, fenomena memiliki keberadaan konvensional dan nominal.

Tetapi ketika kalian tidak menganalisa atau bereksperimen atau mempelajari dengan cara khusus dan fenomena nampak kepada kalian dengan cara mereka yang biasa, mereka nampak ada secara independen dari sisi mereka. Hal ini tidak nampak kepada kalian bahwa mereka hanya memiliki keberadaan nominal atau konvensional.

Tetapi karena kalian memiliki pengertian tertentu melalui analisa dan pelajaran, ketika hal-hal yang biasanya nampak kepada kalian sebagai ada secara independen, kalian akan dapat berpikir, "Walaupun fenomena tidak memiliki keberadaan inheren, bagi pikiran saya yang tidak murni, mereka nampak ada secara independen dan inheren."

Dengan kata lain, bila sebagai akibat kalian belajar kalian membandingkan modus penampakan biasa fenomena dan cara hal-hal nampak di bawah pengamatan, kalian akan mengerti cara yang salah dimana fenomena nampak ketika kalian tidak menganalisa mereka dan kemudian kalian akan dapat mengidentifikasi obyek negasi, keberadaan inheren.

Karena itu, ketika kalian berada dalam sesi meditasi aktual, penting untuk memastikan melalui penalaran bahwa hal-hal ada hanya dari rujukan dan tidak dari keberadaan independen dari sisi mereka. Akan tetapi, segera setelah kalian bangkit dari meditasi, hal-hal akan nampak dengan cara yang biasa.

Kemudian, karena pengertian yang kalian generasikan pada saat sesi meditasi, walaupun fenomena nampak seperti bila mereka ada secara inheren atau independen, kalian akan dapat mengkonfirmasi bahwa walaupun mereka nampak dengan cara ini, hal ini bukan bagaimana mereka ada.

Dari sudut pandang ini bait selanjutnya berkata:

Dan juga, keberadaan ekstrim dieliminasi dengan penampakan
Dan ekstrim ketiadaan dieliminasi dengan kekosongan
Dan bila modus dari bangkitnya sebab akibat dari kekosongan diketahui,
Kalian tidak akan tertarik dengan pandangan yang ekstrim.

Hal ini berarti bahwa bila kalian dapat mengerti semua fenomena ada secara konvensional, kalian akan dapat mengeliminasi ekstrim permanen, dan bila dengan mengerti bahwa hal-hal tidak memiliki keberadaan inheren, kalian akan dapat mengeliminasi ekstrim nihilisme total atau pemusnahan.

Dengan kata lain, kalian akan mengerti sifat fenomena, bahwa mereka ada secara konvensional dan nominal tetapi tidak memiliki keberadaan inheren. Karena mereka tidak ada secara inheren, hal-hal muncul pada kita sebagai sebab dan akibat. Bila kalian dapat menggenerasikan pengertian dari modus keberadaan seperti ini, kalian tidak akan dikalahkan atau tertarik dengan pandangan yang salah dari dua ekstrim, yaitu permanen dan nihilisme.

Akhirnya, bait kesimpulan berbunyi:

Karena itu ketika kalian menyadari yang esensial
Sesuai dengan tiga aspek utama jalan
Mencari kesendirian dan menggenerasikan kekuatan usaha,
Dan segera mengaktualisasikan maksud terakhir kalian, putraku.

Nasihat terakhir ini tidaklah cukut untuk dimengerti secara harafiah. Setelah mengerti makna dari tiga aspek utama jalan, adalah tanggung jawab kalian untuk menyendiri di tempat yang tenang dan mempraktekan mereka dengan tulus.

Setelah mengerti makna dari praktek, kalian harus terlibat dengannya dengan jernih karena tujuan dan maksud dari belajar adalah pencapaian maha tahu, tetapi hal ini hanya dapat didapat melalui praktek. Jadi Jey Tsongkhapa menasihati kita untuk berpraktek dengan baik.

Karena itu, seperti yang dijelaskan di atas, pertama-tama dapatkan pengertian mengenai pandangan fenomena tidak memiliki keberadaan inheren, kemudian, berulang kali, kenalkanlah pikiranmu dengan pengertian sehingga melalui pengenalan keyakinan kalian menjadi lebih jelas, dalam, dan stabil.

Lebih jauh lagi, karena pikiran kita sekarang dipengaruhi dengan gangguan dan kegembiraan, sulit untuk berfokus dengan tenang pada satu obyek bahkan untuk waktu singkat. Di bawah kondisi seperti ini bahkan bila kalian menyadari pandangan yang utama sulit untuk bermanifestasi.

Agar dapat memiliki persepsi langsung akan kekosongan, penting untuk mengembangkan pikiran yang tenang melalui meditasi. Ada dua teknik untuk melakukan hal ini: Yang satu sesuai dengan penjelasan yang kalian temukan di sutra, dan yang lain, apa yang kalian temukan di tantra, mengandalkan dewa yoga.

Metode yang kedua lebih mendalam. Dalam tantra juga, ada dua tingkat, menurut dewa yoga yang ditemukan dalam kelas tantra rendah dan dalam kelas tantra yang lebih tinggi.

Dalam Tantra Yoga Tertinggi ada modus khusus untuk melakukan dewa yoga dan mendapatkan ketenangan pikiran dengan menggunakan angin halus dan pikiran halus. Ketika kalian mengaktualisasikan pikiran yang tenang melalui proses ini, yang dikenal sebagai persatuan dari ketenangan dan pandangan khusus mengenai kekosongan dicapai.

Bila kita menjelaskan persatuan dari pandangan khusus dan ketenangan hanya menurut sifat dari kestabilan meditasi, tidak ada kepastian bahwa ini akan menjadi sebab pencerahan. Tidak diragukan karena pencapaian pandangan yang khusus adalah praktek Buddha tetapi kurang pasti bahwa hanya dari persatuan ketenangan dan pandangan khusus akan menjadi sebab pencerahan.

Apakah ini akan menjadi sebab kebebasan atau maha tahu tergantung dari motivasinya. Karena itu kita memerlukan tekad untuk bebas dari siklus keberadaan, sebagai fondasi, dan kemudian, berdasarkan kepedulian untuk memberi manfaat bagi semua makhluk hidup, dengan aspirasi altruisme untuk mencapai pencerahan. Bila kalian kemudian mempraktekan yoga persatuan pandangan khusus dan ketenangan, ia akan menjadi kekuatan yang aktif untuk mencapai pencerahan.

Agar supaya praktek seperti ini bermanfaat, penting bagi kalian untuk pertama-tama menerima ajaran tantrik. Agar dapat mencapai ajaran tantrik untuk mematangkan kontinum mental kalian, kalian harus menerima inisiasi untuk membuat pikiran kalian subur. Karena itu, penting untuk mempraktekan kombinasi metode dan kebijaksanaan.

Ketika kita terlibat dalam aspirasi altruisme untuk mencapai pencerahan demi semua makhluk hidup, ia akan mempengaruhi dan mendukung pandangan pengertian dari sifat sebenarnya fenomena, dan kemudian kesadaran kita akan kekosongan, sifat sebenarnya dari fenomena, juga akan mempengaruhi dan mendukung aspirasi kita demi pencerahan. Modus praktek ini dikenal sebagai persatuan dari metode dan kebijaksanaan.

Ketika kalian mengikuti jalan tantrik, pertama-tama kalian menggenerasikan pikiran yang berharap untuk mencapai pencerahan demi semua makhluk hidup, dan kemudian mempengaruhi aspirasi altruisme ini, menggenerasikan kebijaksanaan yang menyadari kekosongan, sifat sebenarnya dari fenomena, dan atas dasar kesadaran ini menggenerasikan dewa.

Bila kalian berfokus lagi pada sifat dewa tersebut, kalian akan menemukan bahwa bahkan dewa tidak ada dari sisinya sendiri. Kemudian, kalian memvisualisasikan Tubuh Kebenaran yang akan kalian dapatkan ketika kalian mendapatkan pencerahan.

Jadi teknik meditasi mengenai kedua metode dan kebijaksanaan ini sangatlah penting dan mencakup meditasi mengenai lingkaran ekstensif sang dewa dan juga mengenai kekosongan yang mendalam. Persatuan dari kedua metode dan kebijaksanaan ini adalah kekosongan. Persatuan dari kedua metode dan kebijaksanaan ini terlibat dalam praktek tantrik ini, karena pada satu sisi kalian berpikir mengenai sifat dari dewa itu sendiri, yang memvisualisasikan sifat sebenarnya dari fenomena, dan kemudian pada sisi lain kalian berpikir mengenai dewa sendiri sebagai Tubuh Kebenaran yang akan kalian dapatkan ketika kalian tercerahkan, yaitu untuk berpikir mengenai obyek dari pencapaian kalian. Jadi ini juga adalah meditasi mengenai aspirasi pencerahan.

Melalui proses dewa yoga ini, kalian mempraktekan metode dan kebijaksanaan pada saat yang sama. Inilah yang membuat jalan ini sangat cepat dan sukses. Ketika kalian mengikuti Tantra Yoga Tertinggi khususnya, ada teknik untuk memanifestasikan angin dan kesadaran terhalus. Melalui teknik khusus kalian akan dapat menghentikan tingkat angin dan kesadaran yang lebih kasar dan tercemar dan membuat tingkat terhalus mereka bermanifestasi.

Apakah kalian mengikuti jalan sutra atau tantra, bila kalian ingin mempraktekan dengan cara ini, pertama-tama kalian harus membuat fondasi yang solid dalam praktek moralitas atau murid.

Ada banyak tingkatan disiplin yang diamati, mulai dari disiplin emansipasi individu, yang seperti fondasi dari semua tingkat disiplin yang lebih tinggi. Hal ini terkadang merujuk pada disiplin dari Pendengar, dan atas dasar ini kalian menggenerasikan disiplin Bodhisattva, atas dasar dimana kalian menggenerasikan disiplin Mantra.

Pertanyaan dan Jawaban

Apakah Yang Mulia akan mengklarifikasi apakah tekad untuk mencapai kebebasan tidak berhubungan sama sekali dengan konsepsi keberadaan yang benar atau konsepsi dari fenomena sebagai ada secara inheren?

Biasanya, ketika kita berbicara mengenai menggenerasikan harapan yang kuat untuk bebas dari siklus keberadaan, pikiran yang berharap untuk mendapatkan kebebasan, dengan rujukan kepada seseorang yang telah mengerti melalui belajar bahwa ada hal seperti kebebasan dan ini adalah sesuatu yang dapat dicapai, yang memiliki pengertian yang dalam berdasarkan, penalaran, maka kita dapat berkata bahwa harapannya untuk mendapatkan kebebasan tidak tercemar oleh konsepsi keberadaan yang benar atau konsepsi fenomena yang ada secara inheren. Hal ini karena orang tersebut biasanya dapat memiliki kognisi yang valid dari kebebasan hanya setelah menyadari kekosongan.

Bila kalian mengerti makna kekosongan, kemudian walaupun kalian tidak dapat mencabut akar konsepsi dari keberadaan yang benar seluruhnya, kebebasan yang harus ditetapkan atau jalan yang menetapkan hal ini tidak terpolusi oleh konsepsi keberadaan yang benar.

Karena itu, kita dapat berkata bahwa harapan untuk mendapatkan kebebasan tidak dibantu oleh konsepsi dari keberadaan yang benar atau konsepsi fenomena sebagai ada secara inheren.

Akan tetapi, dalam kasus makhluk biasa seperti kita, yang tidak memiliki pengertian yang benar dan otentik mengenai modus keberadaan kebebasan, tetapi hanya berharap mendapatkannya, sementara tidak ada keraguan bahwa harapan ini tulus, karena tidak mengerti sifat sebenarnya dari fenomena, kita mungkin melihat kebebasan itu sendiri sebagai ada secara inheren.

Dengan kata lain, tidak memiliki pengertian yang baik akan fenomena yang tidak memiliki keberadaan inheren, harapan untuk mencapai kebebasan terpolusi dengan konsepsi dari keberadaan yang benar.

Dalam bait sutra sang Buddha berkata bahwa bila melihat rupa ilusi dari seorang wanita cantik kalian merasakan gairah terhadapnya, bodoh untuk menyesali hal ini setelahnya ketika kalian menyadari bahwa dia hanyalah ilusi, karena tidak ada wanita di sana sejak awal.

Seperti itu juga, bila kalian berpikir bahwa kebebasan benar ada, walaupun sebenarnya dia tidak ada, maka benar bila dikatakan bahwa aspirasi kalian terhadap kebebasan tidak otentik

Apakah kita bisa menggunakan kata seperti kebahagiaan dalam kebebasan?

Ya, tentu saja, karena ketika kita mendapatkan kebebasan, hal ini hanya penghentian lengkap dari delusi. Tetapi orang tersebut masih manusia dengan tubuh fisik. Ada perasaan menyenangkan dan kebahagiaan dari mendapatkan kebebasan, walaupun tidak ada keinginan dari perasaan bahagia tersebut.

Sebagai contoh, bila kita berbicara dalam kata-kata tantrik maka individu yang superior yang telah mengeliminasi konsepsi dari keberadaan yang benar memiliki kebijaksanaan kebahagiaan besar dalam aliran mentalnya dan kebahagiaan adalah kebahagiaan yang sebenarnya. Saya rasa juga pantas untuk berbicara kebahagiaan individu pada tahap tidak berlatih lagi.

Jadi, kita dapat berkata bahwa bahkan sang Buddha memiliki perasaan senang dan karena itu kita dapat berbicara mengenai kebahagiaan dari kebebasan.

Tetapi bila kalian bertanya pertanyaan ini dari sudut pandang apakah kebebasan sendiri adalah kebahagiaan, maka jawabannya adalah tidak, karena ini adalah fenomena yang tidak personal. Sebenarnya, kebebasan atau penghentian sebuat kualitas, penghentian penuh dari delusi dalam diri seseorang yang telah dicapai dan kebebasan yang diaktualisasi.

Dengan referensi kepada orang tersebut dan ketika dia mencapai kebebasan, orang itu sendirilah yang mengalami kebahagiaan. Jadi, bila kalian bertanya apakah orang tersebut mengalami kebahagiaan kebebasan, jawabannya adalah ya, tetapi bila kalian bertanya apakah kebebasan itu sendiri adalah kebahagiaan, maka jawabannya adalah negatif.

Bagaimana meditasi berhubungan dengan menjauhkan penderitaan makhluk hidup?

Ketika seorang Bodhisattva terlibat dapat pelatihan sebelum pencerahan, dia tidak hanya bermeditasi mengenai kualitas seperti kasih sayang dan altruisme, dia sebenarnya terlibat dalam mempraktekan enam kesempurnaan. Dari enam kesempurnaan, memberi dan disiplin etika secara langsung berhubungan dengan memberi manfaat bagi makhluk hidup.

Seperti itu juga, seorang bodhisattva juga terlibat dalam empat cara mengumpulkan murid, seperti memberikan hal-hal yang dibutuhkan makhluk hidup, berbicara dengan menyenangkan dan seterusnya. Menggenerasikan kasih sayang dan cinta dalam meditasi sebenarnya menggenerasikan maksud dan praktek memberi, mengamati disiplin etika dan seterusnya adalah ekspresi sebenarnya dari maksud dalam tindakan.

Karena itu, aplikasi yang praktis dan meditasi berjalan bersama berdampingan. Kalian juga menemukan penyebutan kondisi seimbang dan pencapaian selanjutnya. Pada saat meditasi keseimbangan kalian terlibat dalam meditasi dan pada saat setelah kondisi meditasi kalian bangkit dari meditasi dan terlibat dalam mengumpulkan pahala. Hal ini berarti secara praktis melakukan aktivitas yang secara langsung memberikan manfaat bagi makhluk hidup.

Bagaimana aspirasi seseorang terhadap kebebasan berhubungan dengan pengalaman penderitaan?

Agar dapat menggenerasikan harapan untuk mendapatkan kebebasan, kalian pertama-tama harus dapat melihat kesalahan dari siklus keberadaan. Tetapi pada saat yang sama bila kalian tidak memiliki pengertian mengenai kemungkinan mendapatkan kebebasan, maka hanya melihat kesalahan dan penderitaan dari siklus keberadaan tidaklah cukup.

Ada banya kasus dimana orang-orang yang dihadapkan pada penderitaan, tetapi tidak sadar akan kemungkinan untuk mendapatkan kebebasan. Tidak menemukan solusi dari masalah mereka, dalam frustasi mereka bunuh diri atau mencelakakan diri mereka dengan cara lain.

Ketika Pendengar dan Buddha Penyendiri telah menghancurkan delusi sepenuhnya dan menjadi Penghancur Kesedihan, apakah mereka memiliki pikiran netral?

Ya, mereka memiliki kesadaran netral. Setelah mendapatkan status Penghancur Kesedihan, Pendengar dan Buddha Penyendiri tidak hanya memiliki kesadaran netral, tetapi juga menggunakan kualitas lain seperti perkataan kasar dan merujuk pada orang lain sebagai orang inferior dan seterusnya.

Walaupun tindakan seperti ini tidak didasari oleh delusi seperti kemarahan dan keterikatan, mereka muncul karena makhluk yang sangat mengenal kualitas negatif di masa lalu, yang sekarang mengekspresikan diri mereka secara fisik, verbal dan mental dengan cara yang buruk.

Manusia yang belum menyadari kekosongan melihat semua fenomena sebagai ada secara inheren dan karena itu mereka menggenerasikan kemarahan, keterikatan dan seterusnya. Tetapi bagaimana orang-orang ini yang telah menyadari kekosongan menggenerasikan kemarahan dan keterikatan karena kesadaran akan kekosongan adalah penawar langsung bagi pengalaman keberadaan yang benar?

Pembatasan antara kedua pengalaman ini adalah mereka yang telah menyadari kekosongan yang belum memiliki keberadaan yang benar yang melihat hal-hal sebagai ada secara inheren. Walaupun hal-hal nampak kepada mereka sebagai ada secara inheren, mereka tidak memiliki konsepsi dari keberadaan yang benar. Bahkan mereka yang telah mencapai tanah yang lebih tinggi dan menjadi Penghancur Kesedihan hal-hal ini nampak seperti ada secara inheren.

Jadi tidak ada kepastian bagi mereka kepada siapa hal-hal nampak ada secara inheren harus memiliki keterikatan dan kemarahan. Karena itu, kemarahan dan delusi lain digenerasikan tidak hanya ketika hal-hal nampak benar-benar ada, tetapi ada juga tekad bahwa hal-hal benar-benar ada. Tidak mungkin untuk mengeliminasi delusi dan penindasan secara keseluruhan, hanya dengan melihat kekosongan atau hanya dengan menyadari tidak adanya diri. Kalian tidak hanya menyadari kekosongan atau tidak adanya diri, kalian akan sangat mengenalnya.

Ketika kalian tidak hanya mengerti kekosongan tetapi juga melihatnya secara langsung, kalian mendapatkan apa yang kita sebut jalan melihat. Dan ketika kalian mencapai jalan melihat, kalian akan dapat untuk sementara menekan semua manifestasi superfisial dari delusi. Tetapi kalian hanya menekan manifestasi dari delusi ini dan bukannya mengeliminasi bibit mereka. Delusi bawaan masih ada.

Bahkan setelah kalian mendapatkan kesadaran langsung dari kekosongan ada jalan yang lebih tinggi seperti jalan melihat dan jalan meditasi. Secara intelektual mendapatkan delusi adalah mereka yang telah dieliminasi oleh jalan melihat dan karena itu mengeliminasi ketika seseorang melihat kekosongan secara langsung. Mereka muncul sebagai hasil dari mempelajari ide filosofi yang salah.

Dengan kata lain, mereka ada produk dari pandangan yang salah. Ketika kalian melihat kekosongan atau realita akhir secara langsung, secara alami, delusi yang didapat secara intelektual, produk dari pandangan yang salah akan dieliminasi secara otomatis. Karena itu, kalian menjadi mengenal seluruhnya kesadaran dari sifat sebenarnya fenomena. Kemudian secara bertahap kalian mendapatkan jalan meditasi, kalian akan dapat mengeliminasi akar sebab delusi.

Sekarang, bagaimana konsepsi dari kesadaran yang benar, atau konsepsi bahwa hal-hal ada secara inheren, bertanggung jawab untuk menggenerasikan delusi seperti kemarahan, keterikatan, dan seterusnya. Biasanya membicarakannya tidak tentu bahwa kasusnya adalah bilamana ada konsepsi dari keberadaan yang benar, delusi seperti keterikatan dan kemarahan digenerasikan karena ada saat-saat dimana kalian hanya memiliki konsepsi dari keberadaan yang benar.

Tetapi, dimana ada keterikatan atau kemarahan, sudah pasti bahwa karena konsepsi dari keberadaan yang benar dari fenomena. Ketika kalian menggenerasikan keterikatan, kalian tidak hanya melihat obyek sebagai sesuatu yang menarik, tetapi kalian melihatnya sebagai sesuatu yang sangat menarik, menarik sepenuhnya, dan ada secara inheren dari sisinya sendiri. Karena konsepsi fenomena seperti ini, kalian menggenerasikan keterikatan yang kuat.

Seperti itu juga, ketika kalian melihat sesuatu sebagai tidak menarik, kalian tidak melihatnya seperti itu, kalian melihatnya sebagai tidak menarik, kalian tidak melihat seperti apa adanya, kalian melihatnya sebagai fenomena. Sebab utama dari semua delusi yang beragam ini, seperti keterikatan dan kemarahan, adalah konsepsi "Saya" dan "Milik saya."

Pertama-tama kalian menggenerasikan keterikatan terhadap "Saya" dan karena hal ini kalian mulai menggenerasikan segala jenis delusi. Biasanya kalian tidak berpikir mengenai apakah itu "Saya", tetapi ketika ia muncul secara otomatis, kalian memiliki rasa "Saya" yang kuat, yang tidak hanya ada secara nominal, tetapi "Saya" yang solid yang ada secara inheren dari sisinya.

Mengenali keberadaan dari "Saya" yang konvensional adalah baik, tetapi ketika kalian membesar-besarkannya sebagai memiliki keberadaan yang independen, hal ini adalah salah. Ini adalah pandangan yang salah dari koleksi sementara. Karena kalian memiliki konsepsi bahwa "Saya" ada dengan sebenarnya, kalian menggenerasikan delusi lain seperti konsepsi "milik saya" berpikir, "Ini atau itu adalah milik saya."

Ketika kalian memiliki konsepsi bahwa hal-hal ini adalah "milik saya" kalian membagi semua hal menjadi dua kelas: mereka yang kalian suka, yang kalian pikir sebagai milik saya, sebagai menarik, sebagai teman saya dan seterusnya, berdasarkan apa kalian menggenerasikan banyak keterikatan: dan mereka yang tidak menjadi milik kalian atau yang telah mencelakakan kalian atau mungkin akan mencelakakan mereka, kalian mengklasifikasikannya menjadi kategori yang berbeda dan tidak mengindahkan mereka.

Karena konsepsi kalian "Saya" dan perasaan bahwa saya adalah yang tertinggi, seseorang yang sangat penting, kalian menjadi bangga. Karena kebanggaan ini, ketika kalian tidak mengetahui sesuatu kalian menggenerasikan keraguan yang terdelusi dan ketika kalian menemukan tantangan dari orang-orang yang memiliki kualitas atau kekayaan yang mirip seperti milikmu, kalian menggenerasikan delusi iri hati dan persaingan terhadap mereka.

Apakah arti dari tindakan yang pasti dan tidak pasti?

Tindakan yang pasti adalah dimana semua bagian persyaratan lengkap. Sebagai contoh, setelah melakukan persiapan untuk melakukan tindakan tertentu, benar melakukannya dan akhirnya berpikir kalian telah melakukan tindakan yang benar. Bila kalian melakukan tindakan melalui proses ini, hasilnya akan pasti, jadi ini disebut tindakan pasti.

Di sisi lain, bila kalian tidak memiliki maksud untuk melakukan tindakan tertentu, maka walaupun kalian melakukan sesuatu, hasilnya tidak pasti. Jadi, ia disebut tindakan tidak pasti.

Secara umum, ada banyak jenis tindakan yang dijelaskan dalam Kompedium Memanifestasikan Pengetahuan oleh Asangan (Abhidharma Samuccaya): tindakan yang dilakukan dan diakumulasi, tindakan yang diakumulasi dan tidak dilakukan dan tindakan yang dilakukan dan diakumulasi

Tindakan yang diakumulasi dan tidak dilakukan adalah tindakan pasti. Tindakan yang dilakukan dan tidak diakumulasi adalah tindakan tidak pasti karena, sebagai contoh, tidak dimotivasi.

Sekarang, untuk menjelaskan poin ini dengan lebih jelas, mari kita mengambil contoh membunuh hewan. Secara umum, membunuh membawa pada kelahiran buruk. Tetapi bila kalian membunuh hewan tertentu tanpa bermaksud membunuhnya, sebagai contoh, kalian tidak menyadari telah menginjak serangga dan membunuhnya, maka menyadari apa yang telah kalian lakukan, kalian menggenerasikan perasaan penyesalan yang kuat, hasilnya tidak pasti.

Karena kalian telah membunuh serangga kalian telah melakukan tindakan membunuh, tetapi kalian tidak mengakumulasi tindakan karena kalian tidak bermaksud membunuhnya. Dalam kasus ini hasilnya tidak pasti, yang berarti tindakan membunuh tidak akan membawa hasil yang biasanya, kelahiran yang buruk, karena tidak adanya maksud dan setelahnya merasa menyesal. Akan tetapi karena tindakan membunuh telah dilakukan, ia akan akan berbuah sendiri, ia tidak akan membawa pada keuntungan.

Bagaimana mungkin, khususnya bagi seseorang yang datang dari Barat untuk menggenerasikan rasa pelepasan, ketidak-inginan untuk menikmati kesenangan dari dunia dimana kita hidup?

Sepertinya tidak mungkin bagi setiap orang untuk menggenerasikan semangat pelepasan, atau perlu karena manusia memiliki berbagai ketertarikan dan kecenderungan. Beberapa mungkin menyukai siklus keberadaan. Jadi apa yang harus kita lakukan? Bila kita mengambil sudut pandang Buddha dan berusaha mendapatkan kebebasan, maka kita akan dapat melatih pikiran kita dengan cara ini. Bila kalian melirik cara hidup Barat, kalian mungkin merasakan ketertarikan yang superficial, kecukupan dari fasilitas modern dan seterusnya.

Tetapi bila kalian memeriksa pada tingkatan yang lebih dalam, Orang Barat tidak kebal terhadap penderitaan duniawi yaitu kelahiran, penuaan, penyakit, dan kematian, dan khususnya terjangkit perasaan persaingan dan iri hati. Saya yakin hal ini akan mengganggu kebahagiaan kalian, jadi mereka disebut penderitaan dari siklus keberadaan.

Kita juga dapat mengklasifikasi penderitaan menjadi tiga tingkat: Penderitaan dari penderitaanl penderitaan dari perubahan dan penderitaan komposisi meresap. Yang terakhir, penderitaan komposisi meresap, merujuk pada fakta bahwa tubuh fisi kita; diproyeksikan oleh tindakan terkontaminasi dan delusi, bertindak sebagai basis untuk mengalami berbagai tingkatan penderitaan. Penting untuk mengetahui berbagai tingkatan dan tahapan penderitaan dan bagaimana melakukan meditasi.

Secara umum, bila kalian tidak memiliki kekhawatiran, tanpa masalah, ini adalah yang terbaik. Kita berpikir bahwa mempraktekan doktrin Buddha karena kita memiliki penderitaan, kekhawatiran, tetapi bila kalian tidak memiliki hal ini maka tidak perlu melakukan praktek; nikmati saja diri kalian.

Karena kita memiliki konsepsi diri yang benar ada, mungkinkan memberi manfaat bagi makhluk lain?

Mungkin saja. Sebenarnya ada dua jenis sikap yang salah terkait dengan diri: yang pertama adalah untuk menganggapnya sebagai ada secara inheren, yang lain adalah sikap terpusat pada diri. Bila kalian memiliki sikap terpusat pada diri, selalu peduli mengenai kesejahteraan diri sendiri dan tidak mempedulikan yang lain, kalian akan secara otomatis meninggalkan kesejahteraan makhluk lain.

Konsepsi dari keberadaan diri sulit untuk dihilangkan, tetapi bila kalian melakukannya sehingga kalian dapat melatih sikap altruisme yang mempedulikan kesejahteraan makhluk lain dan terlibat dalam aktivitas untuk memberikan manfaat bagi mereka. Pendengar dan Buddha Penyendiri Penghancur Kemalangan telah menghancurkan delusi dengan bibit mereka dan telah menyadari sifat sebenarnya dari fenomena. Karena itu mereka telah mengeliminasi konsepsi dari keberadaan yang benar, tetapi karena sikap terpusat pada diri, mereka tidak terlalu peduli dengan kesejahteraan makhluk lain.

Akan tetapi juga mungkin bagi seorang Bodhisattva, untuk berasal dari sekolah prinsip Vaibhashika, yang tidak menegaskan kekosongan dari keberadaan yang benar. Jadi walaupun Bodhisattva mungkin belum mengeliminasi bibit dari konsepsi keberadaan yang benar, tetapi karena dia telah berlatih untuk mengembangkan sikap peduli pada orang lain, dia akan bekerja dengan dedikasi penuh untuk memberi manfaat bagi makhluk hidup lain.

Whatever teachings are being given both the listener and the teacher should have a pure motivation. Especially when you listen to a Mahayana teaching, you should firstly take refuge in the Buddha, Dharma and Sangha to protect yourself from following the wrong path, and secondly you should generate an altruistic mind of enlightenment to differentiate yourself from followers of lower paths.

Therefore we should visualize two points: firstly, taking refuge in the Buddha, Dharma and Sangha for the benefit of all sentient beings, then generating the altruistic aspiration to enlightenment for the dale of all sentient beings. So with this motivation, we should recite the verse for taking refuge in the Buddha, Dharma and Sangha three times, clearly visualizing that we are doing so for the benefit of all sentient beings.

After the Incomparable Buddha had attained enlightenment at Bodh Gaya, he taught the Four Noble Truths: true sufferings, the true causes of suffering, true cessations and true paths. This became the basis or foundation for all the later teachings he gave.

Although the Buddha taught the Four Noble Truths during the first turning of the wheel of the doctrine, the meaning of true cessation was most explicitly taught during the second turning of the wheel of doctrine. At that time he taught the meaning of emptiness directly, and implicitly taught the stages of the path.

In other words, while teaching emptiness directly, he taught the meaning of the two truths, conventional and ultimate truth, and the complete meaning of nirvana and cessation.

During the third turning of the wheel of doctrine, the Buddha taught the meaning of Buddha nature in the Tathagata Essence Sutra, that forms the basis for Maitreya's Sublime Science, (Uttaratantra). He explained that sentient beings have a Buddha nature or an ability to become enlightened mainly in terms of the nature of the mind, which is empty of inherent existence and thus suitable to be transformed into enlightenment.

It is very clearly explained in the Sublime Science that the mind is by nature very pure and free of defilement which makes it suitable for attaining enlightenment. This is because anything which lacks inherent existence is changeable, and subject to causes and conditions. As Nagarjuna says in his text called Fundamental Wisdom,

For whichever (system) emptiness is possible
For that all is possible.
For whichever (system) emptiness is not possible
For that nothing is possible.

The meaning of emptiness is being empty of inherent existence and that means being dependant on something else, being dependant on causes and other phenomena, it means that when those phenomena change, that particular thing will also change. If it were not dependant on something else and had inherent existence, then it would not be subject to change due to other conditions.

So, during the second turning of the wheel of doctrine, teaching that phenomena lack inherent existence, the Buddha taught clearly that phenomena can be made to change, because they are dependant on causes and conditions. Now although phenomena lack inherent existence, when they appear to us, we think that they exist inherently. Not only do phenomena appear as if they are inherently existent, but we also become attached to them and determined that they exist inherently.

In this way we generate craving, desire, anger and so forth. When we encounter some pleasant or interesting object, we generate a lot of attachment and if we see something distasteful or unappealing, we get angry. Therefore problems like anger and attachment arise because of conceiving phenomena as inherently existent.

The conception of phenomena as inherently existent is a wrong consciousness mistaken towards its referent object, which provides the foundation for all delusions. However, if we generate an understanding that phenomena are not inherently existent, it will act as a counter-force to that wrong consciousness. This shows that the defilements of the mind can be removed.

If the delusions which defile the mind are removable then the seeds or potencies left behind by these delusions can also be eliminated. The total purity of the nature of the mind, which is its lack of inherent existence, is taught very explicitly in the second turning of the wheel of the doctrine.

During the third turning of the wheel, it is explained again not only from the ultimate, but also from the conventional point of view, that the ultimate nature of the mind is pure, and in its pure state it is only neutral and clear light.

For example, whoever we are, delusions do not manifest within us all the time. What is more, the same object towards which we sometimes generate anger, we sometime generate love, which ought not to be possible.

This clearly shows that the real nature of the principal mind, the mind itself, is pure, but due to mental factors or the mind that accompany the principal mind, it sometimes appears to have a virtuous quality like love, and at others it appears in a deluded form like anger. That the nature of the principal mind is therefore neutral, but being dependent on its accompanying mind it may change from a virtuous to a non-virtuous mind.

So, the mind by nature is clear light and the defilements or delusions are temporary and adventitious. This indicates that if we practice and cultivate virtuous qualities, the mind can be transformed positively. On the other hand, if it encounters delusions then it will take on the form of delusions. Therefore all such qualities as the ten powers of the Buddha can also be attained because of this quality of the mind.

For example, all the different kinds of consciousness have the same quality of understanding and knowing their object clearly, but when a particular consciousness encounters some obstacles it is not able to understand its object. Although my eye consciousness has the potential to see an object, if I cover it up it will be obstructed from seeing the object.

Similarly, the consciousness may not be able to see the object because it is too far away. So the mind already has the potential to understand all phenomena, a quality that need not be strengthened, but it may be obstructed by other factors.

With the attainment of the higher qualities of a Buddha, like the ten powers, we attain a full state of consciousness able to see the object clearly and completely. This too can be attained merely by recognizing the real nature of the mind and removing the delusions and obstructions from it.

During the third turning of the wheel of doctrine, of the four noble truths initially taught during the first turning of the wheel, the meaning of the true path is explained very clearly by defining the meaning of tathagatagarbha, or Buddha nature. This makes possible the attainment of omniscience, the ultimate state of consciousness able to see phenomena and their ultimate mode of being.

Therefore, a complete explanation of the meaning of true cessation is given during the second turning of the wheel of the doctrine and a very detailed explanation of the true path is given during the third turning of the wheel. It explains the mind's potential to know phenomena's ultimate mode of existence and how omniscience can be achieved if you promote and develop that.

Now, when it comes to explaining the ultimate nature of the mind and its suitability for attaining enlightenment, we have the accounts of both sutra and tantra. These are differentiated by the detail of their explanation of the nature of the mind. The tantric teachings give a very clear explanation of the subtlest state of enlightenment within the highest class of tantra, that is Highest Yoga Tantra. The first three classes of the tantra form a foundation for that.

In essence, this is a brief explanation of the Buddha's teaching, from the Four Noble Truths up to the highest class of tantric teaching. However, even if we have a clear understanding of the ultimate nature of the mind and the possibility of attaining enlightenment with it, if we do not practice and make effort to achieve that goal, then enlightenment will not be attainable. So while on the one hand it is important to know the ultimate nature of the mind, on the other, we should generate an intention to practice and realize this potential.

In teaching the first two Noble Truths the Buddha described the fault, the defects that must be given up and eliminated, that is true suffering and the true origin of suffering. In teaching the second pair of the Four Noble Truths, that is the true path and true cessation, the Buddha explained that there is a method, a path to get rid of these sufferings and delusions through which the complete cessation of those delusions can be attained.

If there were no cure or method to eliminate suffering and attain a state of complete cessation and peace, it would not be necessary to discuss, think about or meditate on suffering, because it would merely engender pessimism and create more suffering for yourself. It would be better to remain bewildered and carefree.

However, in fact we do have a chance, there is a path and method to get rid of suffering, so it is worthwhile to talk and think about suffering. This is the importance and encompassing quality of the Buddha's teaching of the Four Noble Truths, for they provide the basis and foundation of all practices.

When we think about true suffering and the true origin of suffering, and we come to an understanding of these two truths, we will generate a wish to rid ourselves of the suffering and its causes. In other words, because we dislike true suffering and the true origin of suffering we will generate a wish to reject them. This is called the determination to be free.

When you carefully consider suffering, it is not only you who are under its power, for other sentient beings also suffer in the same way. Then you should think that as other sentient beings are suffering just like me, how marvelous it would be if they could eliminate suffering and it causes.

Such a wish for other sentient being to eliminate the suffering and its causes is called compassion. When, induced by compassion, you decide that you will help them yourself to eliminate suffering and it causes, that is the special resolve or the mind that wishes actively to benefit other sentient beings.

Then, if you look carefully at how sentient beings can be benefited not just temporarily but ultimately, you will come to the conclusion that you will be able to benefit them completely if you help them attain enlightenment and to do that, you must attain enlightenment yourself. This compassionate mind wishing to attain Buddhahood in order to help all sentient beings attain enlightenment is called the mind of enlightenment.

It is feasible to get rid of suffering and attain the ultimate status of enlightenment because phenomena do not have independent or inherent existence. Therefore it is important to understand the nature of phenomena, their lack of inherent existence. This understanding of phenomena's lack of inherent existence is called right view.

It is these three qualities: determination to be free, mind of enlightenment, and right or correct view which are treated here as the three principal paths. They are so-called because they provide the real motivation for attaining liberation from cyclic existence and form the framework for attaining enlightenment.

The principal means of attaining liberation from cyclic existence is the determination to be free and the principal means of attaining enlightenment is the mind of enlightenment. Both of these augmented by the right view or wisdom realizing emptiness.

Now I will begin to explain the text

The Homage

I pay homage to the foremost venerable lama.

This line is the author's expression of respect before composing the text. I will explain the meaning of some of the words here. The term lama denotes not only a position of status and power in the mundane sense, but rather indicates someone who is truly kind and possesses immense qualities.

The Tibetan word Jey or foremost here signifies someone who cares less about the immediate or sensual pleasures of this world, this life cyclic existence than for the next life. It refers to someone who is more concerned about other sentient beings' long term benefit over many lives to come.

The Tibetan word tsun, meaning venerable or disciplined, refers to the lama because he has understood that, however pleasing or attractive they might be, the pleasures and attractions of cyclic existence are worthless. He has seen the lack of any lasting value among worldly phenomena, and has turned his mind towards the longer lasting happiness of future live.

In other words, the lama is one who has disciplined his mind and is not hankering after the delights of this world but aspires for the attainment of liberation. The word lama actually means supreme, indicating one who has greater care for other sentient beings than for himself and neglects his own interests for their sake.

'I pay homage' implies bowing down. You bow down to the lama on seeing his quality of concern for other sentient beings and their happiness at the cost of his own. In paying respect to this quality in the lama, by bowing down to him, you make an aspiration to attain such qualities yourself.

The Promise to Compose the Text

I will explain, as well as I can,
The essence of all the teachings of the Conqueror,
The path praised by the Conqueror's Children,
The entrance for the fortunate desiring liberation.

The first line expresses the author's promise to compose the text. The second implies the determination to be free, because all the Buddha's teachings are aimed towards liberation.

It is from this point of view, the aimed of attaining liberation, that we should be able to see faults in the attractions of cyclic existence and generate a wish to renounce them. This is actually imperative if we wish to achieve liberation. So this line implies renunciation of cyclic existence.

The words 'Conqueror's Children' in the third line have three connotations. They refer to those born from the Buddha's body, speech, or mind. Rahula was his physical son. The offspring of his speech refers to the Hearers and Solitary Buddhas.

But in this context the 'Conqueror's Children' refers to those born from the mind of the Buddha, those who have generated the mind of enlightenment. You become a Bodhisattva or child of the Buddha only if you have this altruistic aspiration for enlightenment. Bodhisattvas are called offspring of the Buddha's mind, because they are born from qualities found in the mindstream of the Buddha.

The last line of the verse implies right view, as the attainment of liberation is dependent on whether you have realized emptiness. So, these three lines summarise the meaning of the determination to be free, the mind of enlightenment, and view of emptiness that are explained in this text

Exhorting the Disciples to Listen

Those who are not attached to the joys of cyclic existence
Strive to make meaning of this leisure and opportunity,
Rely on the path pleasing to the Conqueror;
Those fortunate ones, listen with a clear mind.

Most of us here have sufficient resources so we do not have to work very much to obtain food, clothing and so forth. But it is clear that in this life merely having something to wear and something to eat is not enough. We want something else. We still yearn for something more.

This clearly illustrates that unless pleasure and happiness are brought about through transforming the mind, it is not possible to achieve lasting happiness through external means, however favourable the external conditions may be. Happiness and discomfort are very much dependent on our mental attitude.

So it is important that we should bring about some internal transformation of the mind. Since lasting happiness can only be attained in this way it is important to rely on the power of the mind and to discover the mind's ultimate nature.

There are many diverse teachings in different religious traditions on how to bring about such transformation. The Buddha's teaching, which we are discussing here, contains a clear, detailed and systematic explanation.

We do more or less qualify as 'fortunate one' as referred to in this verse, because we are trying to reduce our attachment, we are trying to make meaningful use of this precious life as a free and fortunate human being, and we are relying on the teachings of the Buddha. So, this line tells us to pay attention to the teaching that the author is going to impart.

Need to Generate the Determination to Be Free

Without a pure determination to be free, there is no means to achieve peace
Due to fixation upon the pleasurable effects of the ocean of existence.
Embodied beings are thoroughly bound by craving for existence,
Therefore, in the beginning seek a determination to be free.

Here we begin the actual body of the text, the actual teaching it contains. This verse explains the necessity of generating a determination to be free or a mind seeking release from cyclic existence. Seeing the faults and short-comings of cyclic existence and generating a very strong wish to abandon it and attain liberation is called a determination to be free.

As long as you are unable to see the worthlessness of the pleasures of cyclic existence, but continue to see some meaning or attraction in them and cling to them, you will neither be able to turn your mind towards liberation and nor will you realize how you are bound.

So the first line of this verse says that unless you have a pure determination to free yourself from the ocean of cyclic existence, your attempts to achieve peace will be in vain. It is our fascination with cyclic existence due to cravings and attachment, that binds us within it.

Therefore, if we really seek the peace of liberation, the right course to adopt is to generate the determination to be free, to recognize the faults of cyclic existence and reject them. The biography of Buddha himself can provide us with a clear understanding of the meaning of the determination to be free for our own practice.

He was born a prince in a wealthy family, was well educated, had a wife and son and enjoyed all imaginable worldly pleasures. Yet, despite all the alluring pleasure available to him, when he came across examples of the sufferings of birth, sickness, old age and death, he was provoked by the sight of other's suffering.

He discovered for himself that, no matter how attractive external comforts may be, so long as you have a physical body like ours, which is the short-lived product of contaminated action and delusion, then such attractive external pleasures are illusory.

Understanding this, he tried to find a path to liberation from suffering and renounced all worldly pleasures, including his wife and son. Through gradually increasing his determination to be free in this way he was able to attain not only liberation, but also enlightenment.

Karena itu, diajarkan bahwa kita perlu mengembangkan tekad untuk bebas. Hanya dengan melepaskan kenyamanan siklus keberadaan dan memeriksa keterikatan dan keinginan atas hal ini tidaklah cukup. Kita harus memotong aliran kelahiran. Kelahiran kembali datang karena keinginan, dan kita harus memutuskan kesinambungannya melalui praktek meditasi.

Hence, the Buddha entered into deep meditative stabilization for six years. Finally by means of a union of calm abiding and special insight he attained the power to overcome the hindrances presented by the aggregates and external evil forces. He eliminated the very source of disturbing emotions and because they were extinguished he also overcame death. In this way he conquered all four evil forces or hindrances.

As followers of the Buddha, we too should try to see faults in the alluring attractions of cyclic existence. Then without attachment towards them generate concentration and focus on the view of selflessness - understanding the real nature of phenomena.

Now, should you wonder how to practice this determination to be free, how to generate a mind that wishes to renounce cyclic existence, the next verse says:

Contemplating how freedom and fortune are difficult to find

And that in life there is no time to waste, blocks the attraction to
captivating appearances of this life.
Repeatedly contemplating action's infallible effects
And the sufferings of cyclic existence, blocks the
captivating appearance of future lives.

This verse explains how to check attachment first to this life and then towards future lives. In order to cut attachment towards the pleasures of this life, it is important to think about the preciousness of this human life, how it is difficult to find and the many qualities it provides.

If we think clearly about those points, we will be able to extract meaning from having attained a human birth. Life as a human being is precious because with it we attain a status, quality and intelligence, which is absent in all other animals, even in all other sentient beings. We have the power to achieve great benefit and destruction. If we were to just while away our time and waste this precious potential in silly and meaningless activities, it would be a great loss.

Therefore, it is important that we recognise our capacity, our qualities and supreme intelligence which other sentient beings do not possess. If we can identify these things, we will be able to appreciate and use them. The power of the human brain and human intelligence is marvelous.

It is capable of planning ahead and can engage in deep and extensive thought, as other sentient beings cannot. Since we have such a powerful brain or intelligence, it is very important that we recognise the strength and character of this awareness. We should then steer it in the right directions, so that it can contribute significantly to peace and harmony in the world and within all sentient beings.

Let us take the example of nuclear energy. There is great a power within a nuclear particle, but if we use that power wrongly or mishandle it, it can be very destructive. Nowadays we have nuclear missiles and other weapons the very names of which make us afraid, because they are so destructive. They can cause mass destruction in a fraction of time.

On the other hand, if we put nuclear power to use in a constructive way, it can be of great service to humanity and sentient beings at large. Similarly, since human beings have such capacity and power, it is very important that they use it for the benefit of all sentient beings. Properly employed human ingenuity can be a great source of benefit and happiness, but if misused it can bring great misery and destruction.

It is from the point of view of this keen intelligence that we should think about the significance of our precious human life. However, it is also important to understand that the life of a free and fortunate human being is not only meaningful and difficult to find, but it is also short-lived.

The next two lines say that if we think repeatedly about the infallible connection between causes, our actions, and the sufferings of cyclic existence, we will be able to cut our attachment to the next life. At present we engage in many levels of activity to obtain clothing, food and a good name.

In addition, our experiences in the latter part of our lives are dependent on the actions that we have performed in the earlier part. This actually is the meaning of actions and results. Although it is not the subtlest interpretation, when we talk about actions and results, action includes any of the things we do in order to obtain any kind of happiness or pleasure. The results are the effects that we achieve thereby.

Therefore, in the first part of our lives we engage in certain kinds of activity that we think will lead to some kind of happiness or success in the future. Similarly, we engage in certain kinds of action in this life so that we may be able to achieve a good result in our next life.

In other words, our experiences in the latter part of our lives are dependent on the actions we have performed in the earlier part of our lives and our experiences in future live, whether pleasant or unpleasant, are dependent on the actions that we have committed in former lives.

These actions are done by either body, speech or mind and so are termed physical, verbal and mental actions. From this point of view of the result that they produced, they can be termed as wholesome, unwholesome or neutral actions. Wholesome actions give rise to pleasant results, unwholesome actions give rise to unpleasant results and neutral actions lead to a feeling of equanimity.

Then there are actions that will definitely give rise to a result and those that will not. For example when an action comes into being, it is first motivated, there is an intention, then it is actually implemented and finally it is brought to a conclusion.

Now, when the intention, action and conclusion are all very strong, it is definitely that the action will give rise to a result, whether good or bad. On the other hand, if the intention is very strong but you do not put it into effect, or if at the end instead of thinking that you have completed the deed, you regret what you have done, then that particular action may not produce an effect at that time.

If these three aspects intention, application and conclusion, are not present the action is classified as indefinite. From the point of view of the basis experiencing the result, there are actions that give fruit in this very life, actions that give fruit in the immediate next life and actions whose fruits will be experienced in many lives after the next.

Then there are two levels of action which can be classified as projecting and completing actions. Projecting actions are those actions which are responsible for projecting us into a particular life through birth as a human being, animal or other state of being. Completing actions are those that determine the quality of whatever life you are born into.

For example, despite being a human being you may be perpetually poor. Right from birth, your sense faculties may be damaged or your limbs crippled. On the other hand, your complexion may be radiant and you may have natural strength. Even born as an animal you might, like a pet dog, have comfortable home. These kinds of qualities or defects that you inherit right from birth, that are additional to the actualization of a particular birth, are the result of completing actions.

So actions can be termed as projecting or completing according to their function. It is possible that although the projecting action is wholesome, the completing action is non virtuous, and that although the completing action is unwholesome, the projecting action is virtuous.

Whether a particular action is positive, like faith in the Buddha, or negative, like attachment, if in its own terms it is pure, it can be seen as completely white and virtuous or completely black and unwholesome. If the preparation, application and conclusion of a particular action are totally virtuous then that action can be seen as a virtuous action. But if it results from impure conclusion, in other words, if it is a mixture of both positive and negative qualities, then it can be called a mixed action.

It is the 'I', or the person, who accumulates an action and experiences its results. Although these different levels of actions, are product of the thinking of particular sentient beings, they are not produced by a creator of the world. There is someone who creates the action, because when we talk about action, the word itself clearly implies that there is an actor or agent who performs that action, but it is not an external agent.

How does an action give rise to a result? For example, when I snap my fingers, immediately I stop the action is complete, leaving behind a result. If you ask, what that result is, it is the mere disintegration of the action, and the disintegration of an action goes on continuously.

So, when we talk about the result of a particular action, it is a mere disintegration, or part of the disintegration, or the cessation of that particular action. To clarify the point it is a kind of potency left behind by the disintegration of that action, which is responsible for bringing forth many other conditioned phenomena.

If you wonder where the imprint of that potency of the disintegration or cessation of that particular action is left, the answer is on the continuum of the consciousness existing during the immediate moment of the cessation of the action. There are occasions when the consciousness is alert and awake and there are occasions when the consciousness is latent, for example when we are in deep sleep, or when we faint.

Therefore, the consciousness is not a wholly reliable place to deposit such a potency. Sometimes it is very subtle and sometimes it is very coarse, so the consciousness provides only a temporary basis for such imprints.

Hence, if we seek an ultimate explanation, it is the mere 'I', or the person, which carries the potency of a particular action. This explanation is based on the ultimate explanations of the highest school, that is the Middle Way Consequentialist School.

I used the word 'mere I' to clarify that the 'I' or the person has only nominal not inherent existence. It is only designated and does not exist by itself. It is not something that you can point at with your finger. The word 'mere' indicates an 'I' which is merely designated by name and thought and negates a self-supporting or independent 'I'.

The negation of an inherent existence or self-supporting 'I' does not mean that the 'I' does not exist at all, it has a nominal existence. This mere 'I' or person becomes the basis on which the imprint or potency of an action is left. In general, the 'I' is designated to the collection of the physical and mental aggregates.

When we talk about the physical body and the consciousness, which is the basis of designation of the 'I', with reference to a human being, it is principally the consciousness which becomes the basis of designation of the term 'I'. The consciousness has many levels, some of them coarse and some of them subtle.

The physical body of a human being can also be divided into many parts, such as the eye, the ear, and so forth. These physical parts again become the basis for the designation of consciousness. For example, the eye consciousness is designated to see, the ear consciousness to the ear and so forth.

But if you try to find the subtlest basis of designation of consciousness, it seems that the nerves and pathways of the brain are actually the basis of designation of mental consciousness.

Then there is also talk of the bases of the sense powers and these are supposed to be very subtle. It is not clear whether such bases of the sense faculties can be found in the brain or somewhere else. It will be an interesting object of research.

Let us take an example, in order to generate an eye consciousness many conditions or causes are necessary. The dominant cause is an undefective eye sense power. Having a particular form within its focus becomes the objective condition.

However, despite the presence of such conditions it is not definite that an eye consciousness will arise. This indicates that a third condition, the immediately preceding condition, which is a consciousness, is required in addition to the external objective condition and internal dominant condition of a sense power.

Therefore, in order for the eye sense consciousness to arise all three conditions are necessary.

As an example to elucidate this point, there are occasionally cases of people who after a long illness become so physically weak that their heartbeat and all physical functions stop. Entering into such a deep coma that no physical activity or function can be perceived, the doctor declares them clinically dead.

However, sometimes after a few minutes or even hours, despite the apparent lack of physical activity, the person starts breathing again, the heart starts beating, and physical functions are regained. This revival, despite the previous cessation of all functions, shows the unavoidable presence of a mental condition that immediately preceded it. When that immediate preceding condition, a consciousness, is present the person can come back to life again.

Similarly, in the case of a sense consciousness, the mere presence of the dominant condition and the objective condition is not sufficient to generate a particular consciousness.

According to the Buddhist view, when we talk about the various levels of consciousness of a particular human being which are designated to the various parts of his body then we are referring to the coarser levels of consciousnesses of a person. These consciousnesses are called consciousnesses of a human being because they are dependent on particular parts of a human body.

Therefore, when a human being dies, all the coarser levels of consciousness that are dependent on the physical body also seem to disappear, but it is interesting to note that their arising entities of consciousness does not come about merely due to the presence of the physical body. They are produced as entities of clarity and awareness such as eye consciousness, ear consciousness and so forth, in dependence on conditions other than the body.

There is a fundamental cause that generates these consciousnesses as entities of clarity and awareness and according to the various conditions it encounters consciousnesses cognizing form, sound and so forth arise. This shows that there is a consciousness independent of the coarser physical body, but when it encounters coarser conditions, it appears in the form of coarser consciousness.

Consciousness has a much subtler nature and if you examine that subtler nature, then the real, substantial cause of that consciousness can only be another continuum of consciousness which preceded it, irrespective of whether there is a physical body or not.

Therefore, there is plainly a kind of innate natural mind, which is totally pure and clear. When this pure state of the mind comes into contact with different levels of physical body, consciousness also manifest itself more or less coarsely, depending upon what particular physical body it is being designated to. But if you examine the real nature of the mind, it has an existence independent of the coarser levels of the physical body.

Such a pure, natural state of mind, which exists independently of the physical body, is called the primordial clear light or the primordial consciousness - a consciousness which has always been present. Compared to this, coarser consciousnesses are adventitious, because they are sometimes present and at other times absent. This primordial innate clear light consciousness, this pure state of the mind, is termed a sentient being and this is the main criterion that differentiates sentient beings form other living things and other phenomena.

No doubt a person or 'I' is attributed to the total aggregate of the physical body and the consciousness, but it is the primordial innate clear light that is the exclusive basis of designation of a person, and not the physical body, but since they lack this kind of innate subtle consciousness they are not referred to as persons.

Whatever your shape, form or outer aspect, anyone who possesses a continuity of consciousness and has feelings, perception and so on is referred to as a person. Therefore different texts explain that the 'I' or the person has been attributed to the continuity or stream of consciousness.

Although specific consciousnesses vary according to different occasions and coarser levels of consciousness are dependent upon various physical bodies, the subtlest level of consciousness, the mere entity of clarity and awareness, the primordial innate clear light consciousness, is dependent of the physical body.

The nature of consciousness has no beginning. If you try to trace the origin of consciousness, you can go further and further back but you will not reach a point at which you can say, this is where this consciousness came into being. Therefore it is a kind of natural law that consciousness came into existence from beginningless time.

This is also a more realistic explanation, because if you accept a beginning of consciousness, you either have to assert a creator of consciousness or you have to say that consciousness arises without any cause. This is preposterous, out of concern for which consciousness has been explained as beginningless.

If you ask why it is beginningless, we can only say that it is a natural law. If we observe carefully, there are so many things in this world whose continuity can be traced from beginningless time. But if you ask, what is their real and ultimate origin, you can find no answer. This is simply their nature.

If you ask why physical forms appear in the entity of form, it is simply due to their nature. If we say that this comes about without cause or form unrelated causes, why can it not occur causelessly now, when it could previously occur without cause?

Therefore according to the Buddhist view, whether there is a beginning to consciousness, the answer is that the continuum of consciousness is beginningless, the origin of the 'I' or the persons is beginningless and birth is beginningless. And if you ask whether these things have an end, again the answer is negative if you are thinking about the mere continuum of consciousness or the mere continuum of a person.

But there is an end to the impure state of mind, the impure state of a person and there is also a limit to birth, because normally when we talk about birth, we are referring to something which has been produced through contaminated action and delusion.

So because of the beginninglessness of birth, later experiences of suffering and pleasure are connected to actions performed earlier. The different kinds of deluded actions or virtuous actions that a person accumulates in different lives are connected to results in different lives.

For example if you commit some virtuous or negative actions in this life, then you will have to experience their results later on. Similarly, you may have committed some virtuous or unwholesome actions in a past life, whose result you will have to experience in that very life, or in this life. If you have not accumulated such actions, then you will never experience their effects.

On the other hand, if you have accumulated a particular action then generally speaking you will never escape the result: sooner or later it will bear fruit. Similarly if one has accumulated a positive action the result will be definitely positive. Those kinds of actions are called definite actions, but there are also actions whose result is not very definite, because the proper conditions or situations were not present.

Furthermore there are actions, which seem of minor importance, but whose results multiply rapidly depending upon the circumstances, situation and conditions. So, there are many kinds of action: definite action, indefinite action, actions that multiply greatly, as well as the fact that the results of actions not done will not be encountered and that actions once done will not dissipate.

Usually, all our daily actions arise from some wish or desire. For example, if you wish to go somewhere, then you actually set out and go; if you wish to eat something, then you look for something to eat and eat it. Desire can be classified into two types, one which is negative and another which is logical and creative. For example, the wish to attain liberation from cyclic existence results in a reasonable undertaking, therefore it is a sound and logical desire.

On the other hand, to generate attachment towards a particular object, such that you wish to obtain or achieve something, is an impure desire and usually arises from misconception of phenomena as existing independently or inherently. Most of the work that we do in cyclic existence, and the desires that we generate, are the result of this kind of illogical reasoning.

Familiarising our minds with positive qualities and trying to achieve goals like liberation are logical desires. Still, it is possible that in particular cases an individual's wish to attain liberation is assisted by the conception of true existence.

However, every wish for worldly perfection is based on the ignorance that conceives of true existence. On these grounds it is better to classify desire in two ways, one the result of correct reasoning and the other the result of incorrect reasoning.

The result of desire based on the conception of true existence is cyclic existence. Still there is another kind of desire based on sound reasoning that does not project cyclic existence, but aspires to attain the supreme attainment and qualities of the Buddha, the Doctrine, the Spiritual Community and Nirvana, the state beyond suffering. There is a wish and desire to attain them.

If we did not classify desire into two types as mentioned above, we might think that desiring liberation was improper, that desiring religious practice was improper and that even wishing for happiness was also improper. No doubt there are different modes of desiring your own happiness, but what is clear is that so long as we have attachment and a conception of a truly existent self those actions characteristic of cyclic existence will continue to be created.

Generally speaking, once an action has been accumulated the result has to be experienced. Therefore, although we may be enjoying the delights of cyclic existence just now and intense sufferings are not manifest, since we are not free from the actions' shackles and snares we have no security and no guarantee of lasting happiness. This is the perspective, from which this particular text says,

If you think repeatedly about the infallible law of actions and results
And the sufferings of cyclic existence,
You will be able to stop attachment to the next life.

By understanding the infallible law of actions and results you will be able to see that unless you completely purify your actions, whatever kind of apparent enjoyment and pleasure you find in cyclic existence will be unreliable. Having understood this, you will not be confused by the pleasures of cyclic existence and will be able to curb your attachment to the next life.

As a human being in cyclic existence we normally encounter four kinds of sufferings: the suffering of birth, old age, sickness, and death. Right from birth, we are faced with sufferings; our life begins with suffering.

At the same time the process of ageing begin and we stat to encounter different degrees of sickness. Even when we are healthy we encounter a lot of disturbances and confusion. Finally, the chapter of our life is closed with the sufferings of death.

When we talk about someone who is in cyclic existence, we are referring to a sentient being who is uncontrollably under the sway of contaminated actions and delusions. Because we are overpowered by contaminated actions and delusions, we repeatedly have to take birth in a cycle, therefore it is called cyclic existence.

Of the two, contaminated actions and delusions, it is delusions which are mainly responsible for casting us into cyclic existence. When we are free of delusions we attain liberation. Delusions are states of mind which, when they arise within our mental continuums, leave us disturbed, confused and unhappy.

Therefore, those states of mind which delude or afflict us are called delusions or afflictive emotions. They are the negative qualities which makes us unhappy when they arise within us. It is these internal disturbances and not external conditions that really make us suffer.

As long as we have these evildoers residing within us happiness is impossible. So, if we really want to transform ourselves and achieve maximum happiness, we must identify these deluded states of mind and eliminate them. Enlightenment, the state of greatest happiness, cannot be actualized by any other means than by transforming our minds.

Usually on an ordinary level, we think of delusions like attachment and anger as qualities that make life meaningful and colourful. We think that without attachment and anger our whole society or community would become colourless and without life.

But if you think about it and weigh up the qualities and disadvantages of delusions like attachment and anger, you may find that in the short term they give you some relief and make your life colourful.

But on closer scrutiny you will find that the fewer of these delusions we have, even though life may be less colourful, the more will be develop inner calm, inner strength and lasting happiness. Consequently, our mind will be happy, our physical health will improve and we will be able to engage successfully in virtuous activities.

Of course, you might feel that your life now is colourless, unattractive and without meaning. But if you think carefully and look for your own and other sentient beings' long term benefit, you will notice that the more you control your delusions, the greater your peace of mind and physical well-being.

In pursuit of physical health many people do various kinds of yoga exercises. No doubt this is very good for them, but if they were also to do some mental yoga that would be even better. In short, as long as your mind is disturbed and unsound, you will continue to encounter problems and sufferings.

And as long as your mind is under control, disciplined and free from these faults, the more you will gain inner strength, clam, peace and stability, due to which you will be able to be more creative. From our own experience that we have more suffering when our minds are more disturbed by faults we can deduce that when our minds are completely clear our experience of happiness will be stable.

Up to this point we have been discussing the faults, sufferings and delusions of cyclic existence. On the one hand, we have to think about the faults and sufferings of cyclic existence and generate aversion to them and on the other we need to ascertain the possibility of attaining nirvana, the cessation of suffering - the complete elimination of delusions.

If you were to ask - is there really a method by which we can attain liberation, or a method by which we can attain liberation, or a method by which we will be able to eliminate sufferings and delusions completely? It would be worthwhile asking whether nirvana or liberation actually exists.

Liberation or cessation is the nature of the mind on the occasion of the complete annihilation of defilements by their antidotes. When you think about the sufferings of cyclic existence and you weary of them, you look forward to nirvana, liberation, as an alternative. Let us say that we have a defiled and deluded mind.

When the defilements of the previous moment of the continuum of this particular consciousness are completely eliminated, the very nature of that purified consciousness is liberation, nirvana or true cessation. In other words, the teachings say that the cyclic existence that we are presently experiencing is not eternal, because it has arisen from causes and conditions and they can be counteracted.

If you asked what the cause of cyclic existence is: it is ignorance, the conception of true existence. And what is the remedy for such ignorance? It is the wisdom realizing emptiness or wisdom realizing the real nature of phenomena.

Now, these two qualities, ignorance, which is the cause of cyclic existence, and the wisdom realizing emptiness, which is the antidote to ignorance, cannot abide simultaneously in the continuum of one human being, because they are mutually exclusive. Although both observe the same object, their modes of apprehension are completely opposed to each other. Therefore, they cannot both abide in one person's continuum with equal strength. As one is strengthened the other is weakened.

If you examine these two qualities carefully, you will find that whereas ignorance has no valid support or foundation, the wisdom realizing emptiness does. Any quality that had a valid foundation can be strengthened and developed limitlessly.

On the other hand, because the conception of true existence lacks a valid foundation, when it encounters the wisdom realizing emptiness, a valid mind based on correct reasoning, it is weakened such that it can finally be eliminated altogether. So, ultimately, the wisdom realizing the nature of phenomena will be able to uproot ignorance, the source of cyclic existence.

If we examine how attachment and anger arise within us when our minds are calm and clear, in what way we crave the object, how it appears to us and how we generate a conception of true existence towards it, we will be able to see how these delusions arise within us. Although we may not gain a direct understanding, we can make some correct assumptions.

How are attachment and anger supported by the conception of true existence? When, for example, you are very angry we somebody, notice how at that time you see that person as completely obnoxious, completely unpleasant. Then later a friend tells you, no that person is not completely unpleasant because he has this and that quality.

Just hearing these words, you change your mind and no longer see the person you were angry with as completely obnoxious or unpleasant. This clearly shows that right from the beginning, when you generate attachment, anger and forth, the mental tendency is to see that particular person or object not as merely pleasant or unpleasant, but as completely unpleasant or completely pleasant.

If the person is pleasant you see him or her as completely attractive, one hundred percent attractive, and if you are angry with them, you see that person as completely unattractive.

In other words, you see whatever quality they have as existing inherently or independently. Therefore, this mode of apprehending phenomena as existing inherently or truly provides a strong basis for the arising of delusions like attachment and anger.

From such explanations you can make an assumption that in general this quality, liberation or nirvana, does exist. It is a phenomenon. Not only does it exist, but it is something that you can achieve within your mental continuum. If you train yourself in the twin practices of thinking about the disadvantages and sufferings of cyclic existence, and the advantages of being able to get rid of these sufferings and the possibility of attaining liberation then you will be able to generate a determination to become completely free from cyclic existence.

The Measure of Having Generated a Determination to be Free

The next verse explains how to gauge whether you have generated a determination to be free of cyclic existence:

Having familiarized yourself in this way, if you do not generate admiration
For the prosperity of cyclic existence even for an instant,
And if you wish for liberation day and night,
At that time you have generated the determination to be free.

The next verses explain the generation of the mind of enlightenment. First the need and purpose of generating altruism is explained.

If this determination to be free is not influenced by a pure mind of enlightenment
It will not become a cause for unsurpassable enlightenment, the perfect bliss.
Therefore, the intelligent should generate a mind of enlightenment.

However strong your familiarity with the determination to be free of cyclic existence may be, unless you generate an altruistic attitude, a strong wish to benefit sentient beings, it will be impossible for you to attain enlightenment. In this regard Nagarjuna's Precious Garland says:

If you and this world wish
To actualize supreme enlightenment
Its root is the mind of enlightenment.

The basis for generating an altruistic aspiration for enlightenment is compassion, of which there are many types. One kind of compassion is to think how nice it would be if sentient beings were free from suffering. There are other degrees of compassion which include not only this thought, but also have greater courage.

This induces a special resolve to take responsibility personally for getting rid of sentient being's sufferings. Even the Hearers and Solitary Buddhas strongly wish that sentient beings be separated from suffering.

Similarly, we ourselves sometimes generate the kind of compassion which thinks how nice it would be if sentient beings were free from sufferings. For example, seeing the misery or neglected condition of a particular person or animal, we might generate a strong sense of compassion wishing that the sufferings of that particular sentient being be eliminated.

It is also important to note that when the object of our compassion is someone we like our sympathy is based on attachment rather than compassion. On the other hand, if, seeing the sufferings of a neglected animal, such as a stray dog to whom you have no attachment at all, you generate compassion, that is pure compassion.

Now, the compassion generated by Hearers and Solitary Buddhas is of a much higher quality than the compassion we normally generate, because, seeing the suffering that pervades the whole of cyclic existence, they generate compassion for all sentient beings. Unable to see the sufferings of all cyclic existence, we see only the sufferings of particular beings, which we see only as some kind of fault or demerit in them. However, Hearers and Solitary Buddhas do not have a compassion that induces them to take responsibility for liberating sentient beings themselves.

The compassion generated by Bodhisattvas is of the highest kind. They not only wish that sentient beings be separated from suffering, but voluntary take responsibility for ridding them of their sufferings, This is called great compassion. It is this compassion which underlies the altruistic aspiration for enlightenment and which induces the special attitude.

For this reason we often come across statements in the scriptures that it is compassion which acts as the root of the mind of enlightenment. In order to generate such compassion, on the one hand you must identify the suffering by which the particular sentient being is afflicted. On the other hand you should regard that being as pleasant and dear to your heart.

The Means of Generating the Mind of Enlightenment

Carried away by the four torrential rivers
Bound by tight bonds of actions, difficult to undo,
Caught in the iron net of the conception of self
Thoroughly enveloped by the thick darkness of ignorance
Born into boundless cyclic existence,

And in their rebirths unceasingly tormented by the three sufferings:
Contemplating the state of mother sentient beings in such conditions,
generate the supreme mind.

The words 'mother sentient beings' here clearly show that suffering sentient beings are not totally unrelated to you. They have acted as your mother in many previous lives and have been extremely kind to you.

Therefore, you should see them as very pleasing. Understanding how your mothers suffer will provoke in you a feeling of being unable to bear it. Through the mental process of recognizing how you are intimately connected to sentient beings you will be able to generate the great compassion that gives rise to the mind of enlightenment.

This verse says that sentient beings are being carried away by four torrential rives. These four could refer to the four causes that project sentient beings into birth in cyclic existence, and they could also refer to their four results. But, here, the four rivers refer to the four unwanted sufferings that we encounter in cyclic existence: that is birth, ageing, sickness and death.

Such strong contaminated actions also arise from potent delusions like anger and attachment. These in turn arise from a powerful conception of (a truly existent) self. This is compared to a strong iron net, due to which we are ensnared in cyclic existence.

A strong conception of self means that it is stable and unchallenged. The stronger the conception of self is, the stronger delusions like anger and attachment will be. And the stronger the delusions are, the stronger the actions that project us into cyclic existence will be. And the stronger the actions that project us into cyclic existence are, the more powerful our sufferings will be.

The misconception of self arises because we are obscured on all sides by the darkness of ignorance. In this context the misconception of self that entraps us in cyclic existence actually refers to the misconception of self of persons, because the next line says that sentient beings are completely confused and enshrouded by the great darkness of ignorance.

Usually the misconception of self itself is referred to as ignorance, but when we find two things explained, like the misconception of self and ignorance, the first, the misconception of self, refers to the misconception of self of persons, and ignorance in the next line refers to the misconception of self of phenomena, the misconception of phenomena as truly existent.

Our misconception of the true existence of phenomena, in other words our strong grasping for the attractions of our physical body, acts as the foundation for generating too much attachment towards our own person.

Therefore, the misconception of phenomena acts as a foundation for the misconception of the person. When you observe the 'I' in your continuum and generate a feeling of 'I', a conception of a truly existent self, that is called the view of the transitory collection.

So, the misconception of self of phenomena give rise to this view of transitory collection and this in turn stimulates the accumulation of action. And because of the misconception of self of persons, we involuntarily take birth in cyclic existence and for an immeasurable time experience an unceasing chain of suffering like birth, ageing, sickness and so forth

Now, the cessation of subsequent results depends on the cessation of the preceding causes. If strong causes have been created then you have to experience their results, no matter how reluctant you are. If you think in this way then the more you resent your sufferings the more you will loath their causes.

These verses explain two ways of generating renunciation and a determination to be free through thinking about true suffering. These are to think about the faults and sufferings of cyclic existence and to reflect on the true origins of suffering.

When the verse explains the four levels of sufferings and so forth, it is explaining true suffering, and when it explains factors-like the conception of true existence, ignorance and contaminated action, it is explaining the true origins of suffering. In this way it explains the first two noble truths.

If you think about this cycle of suffering and its origins with reference to other sentient beings, it will lead to training in compassion. But if you think about these sufferings and their origins with reference to yourself it leads to generation of a determination to be free.

Yesterday we were discussing the different levels of suffering and how to generate an altruistic attitude wishing to benefit all sentient beings. In this context the text says:

Seeing the sufferings of the mother sentient beings

That are in such a situation we should generate the supreme mind.

In other words we must first observe the sufferings of sentient beings and then generate a strong feeling of closeness and affection for them. The closer you feel to other sentient beings the easier it will be to generate a feeling of being unable to bear their suffering. Therefore, we should view all sentient beings as our relatives, such as our mother.

In order to generate this mental attitude of concern for other sentient beings we must first understanding the beginningless nature of cyclic existence. The sentient beings who have taken birth in cyclic existence are also beginningless; therefore, there is no sentient being who you can say has not been connected to you as a relative such as your mother.

In order to generate a strong sense of affection and closeness to all sentient beings, you must first generate a strong sense of equanimity towards all sentient beings. Based on this feeling you can generate a sense of kinship with the rest of sentient beings and view them as your mother.

Then, you will be able to reflect on the kindness of these sentient beings, which is the same as the kindness of your present family which sustain you now. When you see them as your own relatives and remember their kindness you will be able to generate an attitude of cherishing them, taking them to your heart.

Another method of generating an altruistic attitude is to exchange yourself with others. This is possible because all other sentient beings are the same as you in wanting happiness and not wanting suffering. They are also the same as you in having the capacity and the opportunity to get rid of suffering and attain happiness. Like you all sentient beings have the right to eliminate suffering and attain maximum happiness.

Although you are the same from all these perspectives, all other sentient beings are countless. And yet you are not unrelated to them, because in worldly terms you are very much dependent on them. Even when you meditate on the path you do so by focusing on sentient beings.

Finally, ultimate enlightenment known as the effortless spontaneous achievement of others' purposes is achieved in dependence on them. Thus, we are related to and dependent on sentient beings when we are in cyclic existence, during the path and finally at the time of the fruit.

Now, seeing that you have this close connection with all sentient beings, it is foolish to neglect their welfare to pursue the interest of only one being - yourself. On the other hand, it is wise to neglect the interest of one for the benefit of the rest who are the majority of sentient beings.

All the pleasures and facilities that we enjoy in this life, such as wealth, possessions, fame and friendship, are all obtained in dependence on other beings. We cannot think of enjoying anything by our own efforts alone without their help. In this modern age especially, everything we enjoy, food, clothing and everything else, is produced by various manufacturing companies in which other people work. Almost nothing is grown or produced in your own small garden or courtyard.

We eat tinned fruit which is produced by the hands of other human beings. When we travel in an aeroplane we depend on the work and facilities provided by the many people who are involved in running that aeroplane. In our modern society we cannot think of surviving without depending on other human beings.

Equally, without other human beings you would have neither reputation nor fame. Even though you may have acquired certain qualities that are the basis of your fame and reputation, if other people do not know about them there is no question of your becoming famous.

If you think carefully, even your enemy, who you usually view as an opponent and completely dislike, gives you the chance to generate many qualities like patience, courage and strength. There is a teaching by Shantideva in his chapter on patience that is pertinent here about how to generate patience with respect to your enemy and to regard him as precious.

This is especially important for a Buddhist practitioner. If you are able to see how you can gain these kinds of qualities from your enemy, you will also be able to generate kind feelings towards him.

If you are able to generate such a positive mind towards your enemy, who is normally an object of contempt, you will have no trouble in generating a feeling of care and concern towards neutral beings or of course to your friends.

In order to generate such a mental attitude, it is not necessary that you recognise all the sentient beings individually. You can for example, infer that all trees have certain common characteristics from the qualities of one particular tree without having to know each and every individual tree.

Similarly you can conclude that all living beings are the same in wanting happiness and not wanting sufferings, by examining your own situation. By doing so you will easily generate compassion, which is an aspiration thinking how nice it would be if all sentient beings could eliminate suffering.

If you are able to generate a clear understanding of the sufferings of sentient beings, you will also be able to generate love, which is to think how nice it would be if all sentient beings met with happiness.

Based on these two aspirations - love and compassion - you will generate the special attitude of taking responsibility for getting rid of these sufferings yourself and this will induce the mind that wishes to attain the highest enlightenment for the sake of all sentient beings is called the mind of enlightenment. The way to measure your generation of the mind of enlightenment and determination to be free was explained earlier.

The Need to Realise Emptiness

From this point on the text explains the nature of emptiness and the wisdom that realizes it. The first verse explains the need to generate this wisdom realizing the nature o emptiness. There are various kinds of wisdom: wisdom understanding conventional phenomena such as the various sciences and wisdom understanding the ultimate, real nature of phenomena.

If you do not possess wisdom realizing the ultimate mode of existence, no matter how strong your determination to be free or your aspiration for enlightenment may be, you will not be able to shift the conception of true existence, the root cause of cyclic existence. Therefore, you should make an effort to realize dependent arising.

Without the wisdom realizing the mode of existence
Even though you familiarize yourself with the determination
to be free and the mind of enlightenment
The root of cyclic existence cannot be cut.
Therefore make an effort to realize dependent arising.

Common explanations of the meaning of dependent arising such as the dependent arising of cause and effect are accepted by all Buddhist traditions. But this verse refers to subtle dependent arising; something's coming into existence in dependence on its parts.

In other words there are conditioned relations in which particular effects or phenomena arise merely in dependence on a particular cause and condition. Another meaning of dependent arising is the existence of things relative to others. For example, when we talk about the part of a whole body, we call it a part in relation to the whole, similarly the whole is only a whole in relation to its parts.

From this point of view the part and whole are related to and dependent on each other. Likewise, qualities like long and short have a relative sense, because we use these terms to describe objects in relation to other objects.

At another level phenomena are also called dependent arisings because they arise in dependence on their basis of designation and they are dependent on the mind that designates them. The first meaning of dependent arising applies only to conditioned phenomena, whereas the last two meanings apply to phenomena, conditioned impermanent phenomena and unconditioned permanent phenomena.

The dependent arising referred to in this line is the subtlest one, in which it is explained in terms of existing merely by name and designation by thought. In other words when we say that phenomena exist through the power of terms and designations in dependence on designations, we are explaining dependent arising as it appears, as mere existence due to the power of name.

From the ultimate point of view that is mere emptiness of inherent existence. This means that since a phenomenon cannot come into being from its own side, it lacks inherent existence and is dependent on other conditions. Here other conditions refer to designation and the designating thought.

The phenomenon exists merely by the power of that designation and as such it is empty of self-sufficient existence. Conversely, since it is empty of self-sufficient existence it exists through the power of designation.

So these are explanation of subtle emptiness. When we talk about the meaning of emptiness, we are talking about something being empty of its object of negation. Phenomena are empty of independent existence, inherent existence, and existence from their own side.

These three: independent existence, inherent existence, existence from its own side are the objects of negation. Emptiness thus means being empty of these objects of negation. This is said because phenomena are dependent on something else; they are dependent on the name and the thought by which they are designated.

When we explain that they are dependent on their parts, name and designation, we are also stating that they do not have inherent existence, because dependence and independence are opposite terms. Phenomena are either dependent or independent, they cannot be both. Since these terms are mutually exclusive, a phenomenon can only be one or the other; it cannot be something in between.

For example, human being and horse are opposites but not direct opposites, because there can be a third category, such as a dog, which is neither horse nor human being. But human being and non-human being are direct opposites if we say that there are only two categories of phenomena, those that are either human being or non-human being, there cannot be a third category. So through the reasoning of dependent arising, lack of inherent existence can be established.

When we use the term emptiness, it has some similarity to our idea of absence of something or voidness. But if you think that emptiness is the mere absence of anything, then your understanding is incomplete. We should understand emptiness as absence of inherent existence. Because they lack inherent existence, phenomena do not have an independent existence, yet they are existent.

This understanding of emptiness can be gained through understanding the meaning of dependent arising, because dependent arising means that phenomena are dependent on something else. They do not exist independently nor do they exist from their own side. If phenomena exist in dependence on something else, this clearly shows that they do exist.

Sometimes emptiness is explained as the meaning of the middle way, which means the centre that has eliminated the two extremes. One extreme is to think that if phenomena do not exist inherently, they do not exist at all - the extreme of nihilism. The other is to think that if phenomena exist, they must exist inherently - the extreme of eternalism.

If we have a good understanding of emptiness, on the one hand we will understand that, since phenomena exist in dependence on thought and name and so on, they have nominal existence, that is they do exist. This avoids the extreme of nihilism.

On the other hand, when you think about how phenomena exist in dependence on thought and name, it is clear that they do not have independent existence. This avoids the extreme of eternalism. If it were something that did not exist at all, then to say that it depended on something else would not make any sense. The next verse clarifies this point.

One who sees the infallible cause and effect
Of all phenomena in cyclic existence and beyond
And destroys all perceptions (of inherent existence)
Has entered the path which pleases the Buddha.

This means that if you are able clearly to assert the infallibility of dependent arising, such that you are able to generate an ascertainment of it, and if, without harming the presentation of dependent arising, you are able to destroy the perception that things exist inherently, then you have entered the path that pleases the Buddha.

The first two lines clearly explain that one who sees cause and effect, within and beyond cyclic existence, as infallible, who can posit the existence and actual function of cause and effect, rather than their nonexistence, is able to eliminate the extreme of nihilism.

The next two lines explain that through understanding the function of cause and effect, you will understand that although things exist, they do not exist independently or inherently, you will be able to destroy the conception that things exist inherently.

So, these lines explain that although cause and effect function, they do not function in an inherent way. In fact inherent existence is the object of negation and it is what should be destroyed by true perception. This eliminates the extreme of permanence.

In general, the whole of Buddhist teaching can be subsumed under four statements: all conditioned phenomena are impermanent, all contaminated things are suffering, all phenomena are empty and do not have self-existence, and nirvana is peace. From these four, it is clear that most schools of Buddhist tenets, with the exception of certain sub-schools such as the Vatsiputriyas, accept the explanation of selflessness.

The selflessness that is accepted by all the four different schools of tenets is the lack of a self-supporting or self-sufficient person. The meaning of lack of substantial, self-supporting person is that there is no person who is completely independent of the mental and physical aggregates.

If you view the mental and physical aggregates as the subject to be controlled and the person as the controller, and if you view this controller, a person, as something completely independent of those aggregates, you are maintaining a view of the existence of a substantial self-supporting person.

All four schools of Buddhist tenets accept that there is no such person independent of his physical and mental aggregates. This understanding weakens our strong yearning for the person, the enjoyer of happiness and suffering, to be something solid, but it seems that it is not very effective in weakening the attachment, anger and so on, that is generated by observing other objects of enjoyment. In general, attachment, hatred and so on, which are generated in relation to ourselves are stronger, so we think of my object of enjoyment, my relative, and my rosary.

If the object of enjoyment does not belong to you, then you may not have a very strong sense of an independent self-supporting person, but if you possess something, then that feeling is stronger. This is clear if you compare the two attitudes before and after buying something, let us say a watch.

First you buy it, then you start thinking, 'this is my watch' and 'these are my clothes' and so forth. So because of that feeling of 'mine', the feeling of possessing that thing, you generate a very strong sense of the person to whom it belongs.

Such a person is call substantially self-sufficient person. If you talk about nonexistence of such a substantial self-sufficient person, to people who have a strong sense of the existence of such a person, it will help reduce their attachment to their possessions.

In addition to this explanation of the selflessness of persons, when we study the highest schools of tenets, that is the Mind Only and Middle Way schools, we find subtler explanations of the selflessness not only of persons, but also of phenomena.

With respect to the Mind Only school's explanation, when we relate to different objects of enjoyment, such as form, and sound, they appear to us due to the awakening of imprints on our consciousness.

So, according to the Mind Only explanation, all the various phenomena appear to us and we experience and enjoy them merely due to the awakening of the imprint left on the mind. In other words, all phenomena are of the nature of the mind and do not have any external existence.

This is one explanation of the meaning of emptiness, and is a means to reduce attachment towards objects of enjoyment. But the Middle Way explanation is that no phenomena, whether the person, the enjoyer, or the object of enjoyment, exist inherently from their own side, because they are merely designated by thought. Thought designates the name and then the phenomenon comes into being. Phenomena do not have an existence from their own side, other than being designated by the terms and thoughts of the mind.

According to this explanation all phenomena have their own character and their own nature, but all these characteristics of specific phenomena exist in dependence on something else, they do not have a specific mode of existence from their own side.

The subtlest explanation is found in the Middle Way Consequentialist school, which says that although there are things like form, sound, mountain, house and so forth that we can point to, they do not exist in the way we ordinarily perceive them. Usually phenomena appear to our consciousness as if they existed from their own side, but the Consequentialists say phenomena do not exist from their own side at all. They have only a conventional and nominal existence.

Therefore if phenomena existed in the way they appear to us, when we try to analyse, examine and find the object of designation, it should become clearer and clearer. But this is not so.

When we try to analyse and examine the nature of phenomena we have perceived, we are unable to find them, instead they disappear. This shows that phenomena do not have any inherent existence and do not exist from their own side.

According to the Autonomy School the measure by which to prove that things exists, is existence from their own side. But the Consequentialists say things do not exist from their own side at all, because they are merely designated by the mind. For them a phenomena's existence from its own side is the object of negation and the lack of such inherent existence or existence from its own side is the meaning of emptiness.

If you are able to perceive the real nature of phenomena by realizing that they do not exist inherently, but in dependence on causes and conditions, such as designation by name and thought, you will have entered the path pleasing the Buddha. Usually when an object, form or sound, appears to us, it appears as if it has an independent or solid existence not dependent on causes, condition, names, thoughts and so forth. But that is not real mode of existence.

Therefore if you understand that they exist in dependence on these things and you thereby eliminate the misunderstanding that phenomena exist independently, you have understood the right path.

On the other hand, you might think about how all phenomena appear and the infallibility of their dependent arising, but be unable to generate the realization that they are empty of inherent existence, or when you think about the emptiness of phenomena or their lack of inherent existence, you might be unable o accept the infallibility of their dependent arising.

When you have to alternate these two understandings and are unable to think of them simultaneously, you have not yet realized the thought of the Buddha. As the following verse says,

Appearances are infallible dependent arisings;
Emptiness is free of assertions.
As long as these two understandings are seen as separate,
One has not yet realized the intent of the Buddha.

Although phenomena do not have inherent existence, they have nominal existence. When we see the reflection of our own face in the mirror, the reflection is not the face itself.

In other words, the reflection is empty of the real face, because it is only a reflection and not the real face at all. Even though the reflection of the face is not the face, because of the assembly of causes and conditions, the reflection of the face arises. The reflection is completely empty of being the real face and yet it is very much there. It was produced by causes and conditions and it will disintegrate due to causes and conditions.

Similarly, phenomena have a nominal existence, although all phenomena appear to exist inherently, no phenomena exist from their own side or as they appear to us. However, they do have nominal existence which produces results, is functional and its activities are infallible.

At the time when these two realizations are simultaneous
and don't have to alternate,
From the mere sight of infallible dependent arising comes ascertainment
Which completely destroys all modes of grasping.
At that time, the analysis of the profound view is complete.

If you familiarize your mind with this, a time will come when you do not have to alternate the two understandings: the understanding of the meaning of dependent arising and that of emptiness of inherent existence. Then you will understand the meaning of emptiness of inherent existence, by merely understanding the meaning of dependent arising without relying on any other reason.

Merely by seeing that dependent arising is infallible, you will be able to destroy completely the misconception of the true existence of phenomena without relying on other conditions. When you are able to generate an understanding of dependent arising or emptiness of inherent existence as meaning the same, you have gained a complete understanding of the view of the real nature of phenomena.

Now, we will complete the rest of the text of The Three Principal Aspects of the Path. When we think about phenomena's lack of inherent existence, we should start our investigation with our own person and try to find out whether this 'I' or person has inherent existence or not.

Find out who the person is and separate out the whole physical and consciousness aggregate by asking whether my brain is me, or my hand is me, or whether the other parts of the body are me. When analysed in this way, then the 'I' is unfindable. You cannot identify the 'I' with any of these factors, neither the whole physical body, nor parts of it nor consciousness and its various levels.

If you think about the physical body itself and try to find out what it is, whether it is the hand and so forth, it will be unfindable. Similarly, if you analyse a particular table to find out what it is, whether it is its colour or its shape or the wood of which it is made, you will not be able to point to any particular quality of the table as the table.

When you are not able to find things through this mode of analysis, it does not mean that they do not exist. That would contradict reason and your own experience. Phenomena's unfindability under scrutiny indicates that they do not have any objective existence from their own side and they do exist as posited or designated by the mind. There is no other way of establishing them.

Since they do not have any objective existence independent of thought, their existence is dependent on the power of the object, the designation. Therefore, phenomena have a conventional or nominal existence.

But when you are not analyzing or experimenting or studying in that particular manner and phenomena appear to you in their usual way, they appear to exist independently from their own side. It does not appear to you that they have only a nominal or conventional existence.

But since you have some understanding through analysis and study, when things ordinarily appear to you as existing independently, you will be able to think, "Although phenomena do not have inherent existence, to my impure mind they appear to exist independently and inherently."

In other words, if as a result of your study you compare phenomena's ordinary mode of appearance and the way things appear under investigation, you will understand the wrong way in which phenomena appear when you are not analyzing them and then you will be able to identify the object of negation, inherent existence.

Therefore, when you are in an actual mediation session, it is important to ascertain through reasoning that things exist merely by designation and do not have an independent existence from their own side. However, as soon as you arise from meditation things will appear in the ordinary way.

Then, due to the understanding you generated during the meditation session, even thought phenomena appear as if they exist inherently or independently you will be able to confirm that although they appear in this way, this is not how they exist.

It is from this point of view that the next verse says:

Also, the extreme of existence is eliminated by the appearances
And the extreme of nonexistence is eliminated by emptiness
And if the mode of the arising of cause and effect from emptiness is known,
You will not be captivated by the view that grasps at extremes.

The means that if you are able to understand that all phenomena exist conventionally, you will be able to eliminate the extreme of permanence, and by understanding that things do not have inherent existence, you will be able to eliminate the extreme of total nihilism or annihilation.

In other words, you will be able to understand the nature of phenomena, that they exist conventionally and nominally but are empty of inherent existence. Due to their not existing inherently, things appear as causes and effects. If you are able to generate an understanding of such mode of existence, you will not be overpowered or captivated by the wrong view of the two extremes, that is permanence and nihilism.

Finally, the concluding verse says:

Thus when you have realized the essentials
Of the three principal aspects of the path accordingly,
Seek solitude and generate the power of effort,
And quickly actualize your ultimate purpose, my son.

The concluding advice is that it is not enough to have mere scriptural understanding. Having understood the meaning of the three principal aspects of the path, it is your responsibility to retire to an isolated place and put them sincerely into practice.

Having understood the meaning of practice, you must engage in it with clarity because the aim and purpose of study is the attainment of omniscience, but it can only be gained through practice. So Jey Tsongkhapa advises us to practice well.

Therefore, as explained above, first establish some understanding of the view that phenomena lack inherent existence, then repeatedly make your mind familiar with the understanding so that through familiarity your ascertainment will become clearer, deeper, and stabler.

Moreover, as our mind at present is strongly influenced by distraction and excitement, it is very difficult for it to stay calmly on one object even for a short time. Under such conditions even if you have realized the ultimate view it is difficult to make it manifest.

In order to have a direct perception of emptiness it is important to develop a calmly abiding mind through meditation. There are two techniques for doing so: one accords with the explanation you find in the sutras, and the other, which is found in the tantras, depends on deity yoga.

This latter method is the more profound. In the tantras too, there are two levels, according to the deity yoga found in the lower classes of tantra and in the highest class of tantra.

In the Highest Yoga Tantra there is a special mode of doing deity yoga and achieving a calmly abiding mind by employing the subtle wind and the subtle mind. When you actualize a calmly abiding mind through that process, what is known as a union of calm abiding and special insight into emptiness is achieved.

If we explain this union of special insight and calm abiding merely according to the nature of the meditative stabilization, there is no certainty that it will become a cause of enlightenment. No doubt because of the attainment of special insight it is a Buddhist practice but it is less certain that the mere union of calm abiding and special insight will become a cause of enlightenment.

Whether it becomes a cause of liberation or omniscience depends on the motivation. Therefore we need a determination to be free from cyclic existence, as a foundation, and then, based on care and concern for the benefit of all sentient beings, an altruistic aspiration for enlightenment. If you then practice the yoga of the union of special insight and calmly abiding mind, it will become an active force for attaining enlightenment.

In order for such a practice to be fruitful, it is important that you first receive tantric teachings. In order to achieve tantric teaching to ripen your mental continuum, you must first receive initiation to make your mind fertile. Therefore, it is important to practice a combination of method and wisdom.

When we engage the altruistic aspiration to attain enlightenment for the sake of all sentient beings, it will influence and support the view understanding the real nature of phenomena, and in turn our realization of emptiness, the real nature of the phenomena, will also influence and support our aspiration for enlightenment. This mode of practice is known as the union of method and wisdom.

When you follow the tantric path, you first generate a mind wishing to attain enlightenment for the sake of all sentient beings, and then influenced by this altruistic aspiration, generate the wisdom realizing emptiness, the real nature of phenomena, and on the basis of this realization generate the deity.

If you again focus on the nature of the deity itself, you will find that even the deity does not exist from its own side. Then you visualize the deity as the Truth Body that you will ultimately attain when you attain enlightenment.

So, the technique for meditating on both method and wisdom is very important and includes meditation on the extensive circle of the deity as well as on its profound emptiness. The unity of both method and the wisdom is emptiness. The unity of both method and the wisdom is involved in this tantric practice, because on the one hand you think about the nature of the deity itself, which is visualizing the real nature of phenomena, and then on the other hand you think of the deity itself as the Truth Body that you will attain when you become enlightened, which is to think about the object of your attainment. So this is also a meditation on the aspiration for enlightenment.

Through this process of deity yoga you are practicing both the method and the wisdom at the same time. This is what makes the path so quick and successful. When you follow the Highest Yoga Tantra especially, there are techniques to make manifest the subtlest wind and subtlest consciousness. Through special techniques you will be able to stop the coarser, defiled levels of wind and consciousness and make their subtlest level manifest.

Whether you follow the sutra or tantra path, if you want to practice in this way, you should first lay a solid foundation in the practice of morality or disciple.

There are many levels of discipline to be observed, starting from the discipline of individual emancipation, which is like the foundation of all the higher levels of discipline. It is sometimes referred to as the discipline of the Hearers, and it is on the basis of this that you generate the discipline of the Bodhisattva, on the basis of which in turn you generate the discipline of Mantra.

Questions and Answers

Would Your Holiness clarify whether the determination to achieve liberation is not linked at all with the conception of true existence or the conception of phenomena as inherently existent?

Usually, when we talk about generating a strong wish to be free from cyclic existence, a mind wishing to attain liberation, with reference to a person who has really understood through study that there is such a thing as liberation and that it is something that can actually be achieved, who has a deep understanding based, on reason, then we can say that his wish to attain liberation is not defiled by a conception of true existence or a conception of phenomena as inherently existent. This is because a person can usually have a valid cognition of liberation only after realizing emptiness.

If you have understood the meaning of emptiness, then even though you may not have uprooted the conception of true existence completely, neither the liberation that has to be established nor the path that establishes it are polluted by the conception of true existence.

Therefore, we can say that the wish to attain liberation is not assisted by the conception of true existence or the conception of phenomena as inherently existent.

However, in the case of ordinary beings like us, who do not have a correct or authentic understanding of liberation's mode of existence, but merely a wish to attain it, while no doubt the wish is genuine, due to not understanding the real nature of phenomena, we might see liberation itself as truly or inherently existent.

In other words, not having a good understanding of phenomena's lack of inherent existence, the wish to attain liberation is polluted by the conception of true existence

In a verse of sutra the Buddha says that if on seeing the illusory image of a beautiful woman you feel a desire for her, it is foolish to regret it later when you realize that she was only an illusion, because there was no woman there in the first place.

Similarly, if you think of liberation as truly existent, although it is not, then it is true to say that your aspiration towards liberation is not authentic.

Can we use a term like the bliss of liberation?

Yes, of course, because when we attain liberation, it is only the complete cessation of delusions. Otherwise one is still a person with a physical body. There is a feeling of pleasure and happiness of having attained liberation, although there is no craving for that blissful feeling.

For example, if we speak in tantric terms then a superior individual being who has eliminated the conception of true existence has the wisdom of great bliss within his mental stream and that bliss is a real bliss. I think it is also appropriate to speak of the bliss of an individual at the stage of no longer training.

So, we can say that even the Buddha has a feeling of pleasure and therefore we can speak of the bliss of liberation.

But if you are asking this question from the point of view of whether liberation itself is bliss, then it is not, because it is an impersonal phenomenon. Actually, liberation or cessation is a quality, a complete cessation of delusion within the particular person who has attained and actualized liberation.

With reference to that person and when he or she attains liberation, it is the person himself or herself who experience bliss. So, if you ask whether the person experiences the bliss of liberation, the answer is yes, but if you ask whether liberation itself is bliss, then the answer is negative.

How is meditation related to getting rid of the suffering of sentient beings?

When a bodhisattva actually engages in the training prior to enlightenment, he not only meditates on qualities like compassion and altruism, he actually engages in putting the six perfections into practice. Of the six perfections, giving and ethical discipline are directly related to the benefit of sentient beings.

Similarly, a bodhisattva also engages in the four means of gathering disciples, such as giving things that sentient beings need, speaking pleasantly and so forth. The generation of compassion and love in meditation actually generates the intention and the practices of giving, observing ethical discipline and so on are the actual expression of that intention in action.

Therefore, practical application and meditation go together side by side. You will also find mention of the state of equipoise and the subsequent achievement. During meditative equipoise you engage in meditation and during the post meditative state you arise from meditation and engage in collecting merit. This means practically engaging in activities that directly benefit sentient beings.

How is one's aspiration towards liberation related to the experience of suffering?

In order to generate a wish to attain liberation, you should first be able to see the faults of cyclic existence. But at the same time if you do not have an understanding of the possibility of attaining liberation, then merely seeing the faults and sufferings of cyclic existence is not enough.

There are many cases where people are faced with suffering, but are unaware of the possibility of attaining liberation. Not finding a solution to their problems, in frustration they commit suicide or harm themselves in other ways.

When the Hearers and the Solitary Buddha have destroyed delusions completely and become Foe Destroyers, do they possess a neutral mind?

Yes, they have neutral consciousness. After having attained the status of a Foe Destroyer, the Hearers and Solitary Buddhas not only have a neutral consciousness, but also employ other qualities like harsh speech and referring to others as inferior persons and so on.

Although these kind of actions are not provoked by delusions like anger and attachment, they arise as a result of being well-acquainted with negative qualities in the past, which now expresses itself physically, verbally and mentally in bad ways.

People who have not realize emptiness see all phenomena as existing inherently and because of that they generate anger, attachment and so forth. But how do those people who have realized emptiness generate anger and attachment since the realization of emptiness is a direct antidote to the experience of the conception of true existence?

The demarcation between these two experiences is that those who have realized emptiness do not have a conception of true existence which views things as inherently existent. Although things appear to them as inherently existent, they do not have a conception of true existence. Even to those who have attained higher grounds and become Foe Destroyers things appear to exist inherently.

So there is no certainty that those for whom things appear to exist inherently should have attachment and anger. Therefore, anger and other delusions are generated not only when things appear to exist truly, but when there is also a determination that things have true existence. It is not possible to eliminate delusions and afflictions completely, merely by seeing emptiness or merely by realizing selflessness. You have not only to realize emptiness or selflessness; you also have to become well acquainted with it.

When you not only understand emptiness but also see it directly, you attain what we call the path of seeing. And when you attain the path of seeing, you are able to temporarily to suppress all superficial manifestations of delusions. Still you have only suppressed the manifestations of these delusions and have not finally eliminated their seeds. The innate delusions are still present.

Even after you have gained direct realization of emptiness there are higher paths such as the path of seeing and path of meditation. Intellectually acquired delusions are those that are eliminated by the path of seeing and are thus eliminated when one sees emptiness directly. They come about as a result of studying mistaken philosophical ideas.

In other words they are product of wrong view. When you see emptiness or ultimate reality directly, naturally intellectually acquired delusions, products of wrong view are automatically eliminated. Therefore, you have to become thoroughly familiar with this realization of the true nature of phenomena. Then gradually as you attain the path of meditation, you will be able to eliminate the very root cause of delusions.

Now, how is this conception of true existence, or the conception that things exist inherently, responsible for generating delusions like anger, attachment and so forth. Normally speaking it is not necessarily the case that wherever there is a conception of true existence delusions like attachment and anger are generated because there are occasions when you have only a conception of true existence.

But wherever there is attachment or anger it follows that it is due to a conception of the true existence of phenomena. When you generate attachment, you not only see the object as something interesting or attractive, but you see it as something totally attractive, totally interesting, and existing inherently from its own side. Because of that kind of misconception of phenomena, you generate strong attachment.

Similarly, when you see something as uninteresting or unattractive, you do not see it just like that, you see it as totally uninteresting and unattractive, you do not see it just like that, you see it as phenomena. The principal cause of al these different delusions, like attachment and anger, is the conception of 'I' and 'mine'.

First you generate attachment towards the 'I' and because of this you start to generate all kinds of other delusions. Usually, you actually do not think about what this 'I' is, but when it arises automatically, you have a strong sense of an 'I', which is not just nominally existent, but a solid 'I' existing inherently from its own side.

Recognizing the existence of a conventional 'I' is all right, but when you exaggerate it as having an independent existence it is wrong. That is the wrong view of transitory collection. Because you have that kind of conception of the 'I's' true existence, you generate other delusions like the conception of 'mine' thinking, "This or that is mine".

When you have this conception of things as 'mine' you divide everything into two classes: those that you like, which you think of as mine, as interesting, as my friend and so on, based on which you generate a lot of attachment: and those that do not belong to you or that have harmed you or are likely to harm you, you classify into a different category and neglect them.

Because of your conception of the 'I' and the feeling that you are somehow supreme, someone very important, you become proud. Due to this pride, when you don't know something you generate deluded doubt and when you encounter a challenge from people who have qualities or wealth similar to your own, you generate the delusions of jealously and competitiveness towards them.

What is the meaning of a definite action and an indefinite action?

A definite action is one all of whose requisite parts are complete. For example, having made the preparations for doing a particular action, actually doing it and finally thinking that you have done the right thing. If you have committed an action through such a process, the result will be definite, so it is called a definite action.

On the other hand, if you have not generated the intention to commit a particular action, then even if you have done something, the result will not be definite. So, it is called an indefinite action.

In general, there are many kinds of actions explained in the Asanga's Compendium of Manifest Knowledge (Abhidharma Samuccaya): actions that are committed and accumulated, actions that are accumulated and not committed and actions that are both committed and accumulated.

Actions that are accumulated and not committed are definite actions. Actions that are committed and not accumulated are indefinite actions because, for example, of not being motivated.'

Now, to explain this point more clearly, let us take the example of killing an animal. Generally speaking killing leads to bad rebirth. But if you kill a particular animal without intending to kill it, for instance if you unknowingly trample on an insect and kill it, but then realizing what you have done you generate a strong sense of regret, the result will be indefinite.

Because you have actually killed the insect you have committed the action of killing, but you have not accumulated the action because you did not intend to kill it. In this case the result is not definite, which means that this act of killing will not lead to the normal result, bad rebirth, because of the absence of intention and having subsequently felt regret. However, since the act of killing was committed it will bear its own fruit. It does not lead to profit.

How is it possible, especially for a person who comes from the West to generate a sense of renunciation, an unwillingness to enjoy the pleasures of the world in which we are living?

It is not likely that everyone would generate a spirit of renunciation, nor is it necessary because of people's diverse mental interests and inclinations. Some take rather a fancy to cyclic existence. So what should we do? If we take the point of view of a Buddhist and strive to attain liberation, then we have to train the mind in this way. If you just glance at the Western way of life, you may see many superficial attractions, the ample modern facilities and so on.

But if you examine it on a deeper level, Westerners are not immune to the general worldly sufferings of birth, old age, sickness and death, and are especially stricken with feelings of competitiveness and jealousy. I am sure that these disturb your happiness, so they are termed the sufferings of cyclic existence.

We can also classify suffering into three levels: the suffering of suffering; the suffering of change and pervasive compositional suffering. This last one, pervasive compositional suffering, refers to the fact that our physical body, projected by contaminated actions and delusions, itself acts as the basis for experiencing all the different levels of suffering. It is important to know the various levels and stages of suffering and how to do meditation.

In general, if you have no anxiety, no troubles and no worries, that is best. We think of practicing the Buddha's doctrine because we have some suffering, some anxiety, but if you don't have these then there is no need to practice; just enjoy yourself.

Since we have this conception of a truly existent self, is it possible to benefit other beings?

It is possible. Actually there are two kinds of mistaken attitude with regard to the self: one is to hold it as inherently existent, the other is the self-centered attitude. If you have a very strongly self-centered attitude, perpetually concerned about your own wellbeing and nothing else, you will automatically neglect the welfare of other beings.

The conception of a truly existent self is difficult to get rid of, but while you are doing so you can also train in the altruistic attitude concerned with the welfare of other sentient beings and engage in activities to benefit them. Hearer and Solitary Buddha Foe Destroyers have destroyed the delusions with their seeds and have realized the real nature of phenomena. Thus they have eliminated the conception of true existence, but because of their self-centered attitude, they may not care much for the welfare of other sentient beings.

However, it is also possible for a Bodhisattva, to belong to the Vaibhashika school of tenets, which does not assert emptiness of true existence. So, although that Bodhisattva may not have eliminated the seed of the conception of true existence, but because he has trained in developing an attitude of concern for others, he will work with total dedication for the benefit of other sentient beings.

 

Visitors

We have 20 guests online

Social Media

Have anything to say?


Copyright © 2013