Dorje Shugden Trakze untuk Menghalau Gangguan Ilmu Hitam & Makhluk Halus PDF Print
Translated by Jeffry Leonardo William   
Article hits: 4228
Sunday, 01 March 2015 08:14

 

ULASAN TENTANG PRAKTEK TRAKZE

 

Sebuah Praktek untuk Menghalau Ilmu Hitam dan Makhluk Halus

Ulasan tentang praktek Trakze ini disusun berdasarkan sumber tradisional oleh Yang Mulia Tsem Rinpoche.

Tanggal: 30 Januari 2015

[CATATAN: Ini adalah sebuah ulasan tentang praktek Trakze dan dapat dilakukan sehari-hari oleh siapapun yang ingin mendapatkan perlindungan bahkan jika anda tidak diganggu ilmu hitam dan makhluk halus. Praktek ini tidak memerlukan inisiasi apapun]

Unduh Ulasan Tentang Praktek Trakze

Unduh Praktek Harian Trakze

COMMENTARY ON TRAKZE PRACTICE

 

A Practice to Dispel Black Magic and Spirits

This commentary on Trakze practice was compiled from traditional sources by His Eminence Tsem Rinpoche. Date: 30th January 2015

[NOTE: This is a commentary on Trakze's practice and can be done daily by anyone who wants to receive protection even if you are not afflicted by black magic and spirits. This practice does not require any initiations]

Download the Commentary on Trakze Practice

Download the Daily Trakze Practice

PENDAHULUAN

Makhluk halus itu sudah pasti ada. Dalam kosmologi Buddhis seperti yang dijelaskan dalam sejarah Buddha Shakyamuni, makhluk halus adalah makhluk-makhluk yang menghuni salah satu dari Enam Alam Keberadaan dalam samsara. Sementara orang-orang sering merasa skeptis tentang keberadaan makhluk halus, kini teknologi-teknologi modern mampu mendeteksi makhluk tanpa bentuk yang secara perlahan mengubah pendapat tentang kehadiran makhluk-makhluk gaib ini.

Tidak seperti hewan dan manusia yang berbagi alam keberadaan ‘berbentuk’ yang sama, makhluk halus menempati alam tak berbentuk. Makhluk yang mengalami kelahiran kembali di alam tanpa bentuk ini dapat hidup selama ribuan tahun, dan salah satu penyebab utama kelahiran kembali sebagai makhluk ini adalah kuatnya ‘kemelakatan-kemelekatan’ yang tidak dipurifikasi. Ini adalah kemelekatan kita terhadap sesuatu, yang dihasilkan dari proyeksi kita terhadap benda-benda dan seseorang, yang mendorong kita untuk mengalami kelahiran kembali di alam makhluk halus, sebuah alam dengan penderitaan hebat dan secara metaforis digambarkan sebagai 'Sebuah keberadaan dimana rasa haus seseorang tidak dapat terpuaskan'.

Hal ini penting untuk dipahami yaitu seperti semua makhluk hidup yang terperangkap dalam siklus keberadaan yang tidak terkendali dalam samsara, makhluk halus sama-sama terperangkap akibat karma mereka. Meskipun mereka bisa hidup selama ribuan tahun, mereka masih memiliki 'umur' yang berarti mereka akan mati dan tidak bisa hidup selamanya. Setelah karma yang menyeret mereka ke dunia makhluk halus berakhir, mereka akan hilang dan mengalami kelahiran kembali di alam keberadaan lain.

Makhluk halus-makhluk halus tidak memiliki bentuk yang pasti dan dapat datang dalam berbagai bentuk, ukuran, bentuk, warna, dan temperamen. Beberapa roh bisa menjadi bermanfaat, sementara beberapa yang lainnya berbahaya. Terkadang, karena keadaan tertentu, makhluk halus dari alam tanpa bentuk bersinggungan dengan dunia kita. Dalam momen-momen inilah ketika kita ‘berpapasan' dengan makhluk halus menjadi kesempatan bagi makhluk halus untuk melekatkan dirinya sendiri kepada kita.

Ada banyak cara bagaimana makhluk halus dapat melekatkan dirinya sendiri pada kita, dan beberapa metode yang paling umum adalah:

  1. Melalui suatu benda. Dalam beberapa budaya yang memiliki sejarah kepercaya pada makhluk halus, dikatakan bahwa barang-barang antik atau benda-benda dengan sejarah panjang harus ditangani dengan hati-hati.
  2. Tempat atau lokasi. Hal ini menjelaskan mengapa ada beberapa tempat angker. Makhluk halus yang mengmakhluk halusi ruangan tertentu dapat membuat gangguan ketika mereka berbagi ruang yang sama dengan manusia.
  3. Melalui ilmu hitam. Makhluk halus dapat dikirimkan kepada kami dalam bentuk ilmu hitam. Dalam beberapa kasus, makhluk halus dapat bermanifestasi dalam bentuk bencana.

Walaupun makhluk halus menempati keberadaan tanpa wujud, yang berarti mereka tak berbentuk; mereka memiliki kemampuan untuk memindahkan benda nyata. Oleh karena itu, ada beberapa cara untuk mengidentifikasi apakah kita dimakhluk halusi oleh makhluk negatif. Beberapa gejala umum atau "klasik" adanya makhluk halus dan gangguan makhluk halus adalah:

  • Kejadian listrik yang tidak biasa, seperti lampu berkedip, barang-barang elektronik hidup dan mati dengan sendirinya, atau bahkan hubungan arus pendek ketika ada makhluk halus.
  • Rangkaian kecelakaan yang tidak biasa yang terjadi satu demi satu.
  • Episode mimpi buruk yang konsisten.
  • Merasakan kehadiran hantu di dalam ruangan. Sebagai contoh, merasa seperti sedang diawasi atau disentuh.
  • Barang-barang pribadi menghilang, bergerak atau hancur dengan sendirinya.

Dengan menyadari bahwa makhluk halus memang ada dan kemampuan mereka untuk menyebabkan kerusakan (dan dalam beberapa kasus yang parah, kematian), kita harus mengembangkan kejernihan pikiran untuk mengidentifikasi dan mengkonfirmasi gangguan makhluk halus dan mengambil upaya perbaikan. Terkadang mudah untuk menjadi paranoid dan menyalahkan segala sesuatu yang tidak berjalan dengan baik dalam kehidupan karena gangguan makhluk halus, oleh karena itu pengamatan yang cermat diperlukan untuk mengkonfirmasi adanya gangguan makhluk halus. Sebagai contoh, seseorang mengalami gejala yang disebutkan di atas mungkin berpikir mereka menderita skizofrenia, tetapi ada kemungkinan bahwa hal itu disebabkan oleh makhluk halus. Dalam hal ini, meminum obat skizofrenia tidak akan membantu.

PERLINDUNGAN UMUM

INTRODUCTION

Spirits definitely exist. In the Buddhist cosmology as described by the historical Buddha Shakyamuni, spirits are beings that belong to one of the Six Realms of existence within samsara. While people often feel skeptical about the existence of spirits, modern technologies capable of detecting these formless beings are slowly changing opinions about the ever-presence of these supernatural beings.

Unlike animals and humans who share the same ‘form’ realm of existence, spirits exist within the formless realm. Beings that take rebirth in the formless realm can exist for thousands of years, and one of the main causes of taking rebirth there is strong unpurified ‘attachments’. It is our attachment to something, resulting from our projections onto certain objects and subjects, that drives us to take rebirth in the spirit world, a realm with great suffering and metaphorically described as ‘An existence where one’s thirst is unquenchable’.

It is important to understand that like all sentient beings trapped within the uncontrolled cycle of existence in samsara, spirits are similarly trapped by their karma. Although they can exist for thousands of years, they still have a ‘lifespan’ which means they are mortal and cannot live forever. Once the karma which dragged them into the spirit world expires, they will fade and take rebirth in another existence.

Spirits have no definitive form and can come in all shapes, sizes, forms, colors and temperaments. Some spirits can be benevolent, while some are malicious. Sometimes, due to certain circumstances, spirits from the formless realm intersect with our realm. It is during these moments when we ‘cross paths’ with the spirit that it becomes an opportunity for the spirit to attach itself to us.

There are many ways how a spirit can attach itself to us, and some of the most common methods are:

  1. Through an object. In some cultures which have a history of believing in spirits, it is an unsaid rule that antique items or objects with a long history are to be handled with caution.
  2. A place or location. This explains why some places are haunted. Spirits that haunt certain spaces can create disturbances when they share a common space with human beings.
  3. Through black magic. A spirit can be sent to us in the form of black magic. In such cases, the spirit infestation can manifest in the form of calamities.

Although spirits abide in a non-tangible existence, which means they are formless; they have the ability to move tangible objects. Therefore, there are several ways to identify if we are haunted by a negative being. Some common or “classic” symptoms of spirits and spirit infestations are:

  • Unusual electrical occurrences, such as the blinking of lights, electronic items turning on and off by themselves, or even short circuits when the spirit is spoken about.
  • Unusual series of accidents that occur one after the other.
  • Episodes of consistent negative dreams.
  • Feeling the presence of a spirit in the room. For example, there is a sense of being watched or touched.
  • Personal belongings disappearing, moving or breaking on its own.

Recognizing that spirits do exist and their ability to cause harm (and in some severe cases, death), one must develop the clarity of mind to identify and confirm spirit infestation and take corrective measures. Sometimes it is easy to get paranoid and blame everything that does not go well in life on spirits, therefore careful observation is necessary to confirm spirit infestation. For example, a person experiencing the symptoms listed above may think they are schizophrenic, but there is a possibility that it is caused by a spirit. In this case, taking schizophrenia medications will not help the situation.

GENERAL PROTECTION

Yang Mulia Kyabje Zong Dorje Chang (tengah), Vajrayogini (kiri) dan Dorje Shugden (kanan) – thangka pribadi Tsem Rinpoche

Dalam ajaran Buddhis, metode perlindungan yang paling sederhana, kuat dan seketika dari makhluk halus adalah dengan berlindung pada Tiga Permata. Berlindung kepada Tiga Permata adalah dengan mengembangkan kepercayaan pada Buddha, Dharma dan Sangha. Secara formal, berlindung melibatkan pengambilan sila dan sila-sila bergantung pada sekolah atau tradisi agama Buddha. Penting untuk membaca dan memahami sila perlindungan dan memahami bahwa Buddha yang bebas dari segala ketakutan adalah objek yang sempurna untuk perlindungan. Ketika kita berlindung pada Buddha, mempraktekkan Dharma dan menghormati Sangha, kita mendapatkan perlindungan dari berbagai jenis makhluk halus.

Sebuah contoh yang sangat baik untuk menggambarkan efektivitas perlindungan Tiga Permata terhadap gangguan makhluk halus adalah kisah Guru Rinpoche, seorang guru besar Buddhis yang menaklukkan tak terhitung jumlahnya makhluk halus yang garang dan berbahaya yang melanda Tibet. Melalui teladannya dan banyak contoh lain dari guru-guru besar baru-baru ini kita dapat memiliki keyakinan pada Tiga Permata untuk melindungi kita dari bahaya makhluk halus.

Namun, dalam kasus tertentu, beberapa orang memiliki hubungan karma yang "khusus" dengan beberapa jenis bahaya dan makhluk tanpa bentuk yang tertentu. Hubungan karma ini memungkinkan makhluk halus "menerobos" perlindungan Tiga Permata dan menyebabkan bahaya. Oleh karena itu, bagi orang-orang yang memiliki jodoh karma dengan makhluk halus tersebut, mereka akan mengalami bahaya bahkan jika mereka berlindung pada Tiga Permata.

Dalam kasus lain, beberapa orang mungkin menggunakan metode-metode tertentu untuk menghubungi makhluk dari alam lain. Praktek ini sangat berbahaya karena kita tidak pernah bisa yakin jika makhluk halus yang dihubungi adalah berbahaya atau tidak. Kadang-kadang, jika makhluk halus yang dipanggil adalah yang kuat dan berbahaya, dapat tinggal di sekitar untuk menyebabkan kerusakan.

Kita mungkin mempertanyakan: Mengapa Tiga Permata tidak bisa melindungi orang-orang yang hubungan karma tertentu dengan jenis makhluk halus tertentu ? Walaupun kita berlindung dan berada di bawah perlindungan Tiga Permata, masih ada karma individu yang sangat kuat dan langsung menentukan hasil. Sebagai gambaran, mari kita lihat situasi yang lebih mudah dipahami berikut ini: Meskipun kita dilindungi oleh Tiga Permata, kita masih bisa jatuh sakit, mengalami bencana dan tragedi dan mengalami penderitaan emosi naik dan turun, dan kematian akibat tumpukan karma sebagai konsekuensi dari tindakan tubuh, ucapan dan pikiran. Dalam kasus tersebut, seseorang mungkin terlibat dalam praktik spiritual tertentu atau melakukan puja dari istadewata khusus, misalnya, praktek Buddha Pengobatan, yang energinya secara khusus ditujukan untuk penyembuhan.

Karena itu, ketika mendapatkan buah dari karma, seseorang seharusnya tidak boleh mengatakan bahwa bahwa Tiga Permata tidak memberikan perlindungan. Tiga Permata memberikan perlindungan untuk jangka pendek dan panjang. Untuk perlindungan jangka pendek, Tiga Permata memberikan ajaran Dharma yang memungkinkan praktek yang menghilangkan semua penyebab penderitaan. Di sisi lainnya, untuk perlindungan jangka panjang, Tiga Permata memberkati kita untuk mengalami kelahiran kembali di tempat dan situasi yang kondusif terdapat praktek Dharma.

KAPAN PERLINDUNGAN KHUSUS DIPERLUKAN

Dalam kasus ketika ada karma "khusus" yang menciptakan kedekatan dengan makhlus halus tertentu, dan bahaya dan penderitaan masih dialami, praktek Dorje Shugden bisa dilakukan untuk perlindungan.

Dorje Shugden mewujud dalam lima bentuk untuk tujuan yang berbeda. Selain manifestasi utama, ia memiliki empat emanasi lain yang dikenali, masing-masing dengan fungsi khusus mereka. Kelima bentuk Dorje Shugden adalah objek yang sempurna untuk perlindungan meskipun mereka memiliki emanasi dan fungsi yang berbeda-beda.

Dari kelima bentuk Dorje Shugden, Trakze yang juga disebut Karma Shugden adalah emanasi yang paling murka dari Dorje Shugden. Prakteknya sangat ampuh untuk mengatasi delusi yang kuat dan energy berbahaya yang sangat negatif.

PRAKTEK TRAKZE

H.H. Kyabje Zong Dorje Chang (centre), Vajrayogini (left) and Dorje Shugden (right)-Tsem Rinpoche’s personal thangka

In Buddhism, the most simple, powerful and instantaneous method of protection from spirits is to take refuge in the Three Jewels. Taking refuge in the Three Jewels is to develop faith in the Buddha, Dharma and Sangha. Formally, taking refuge involves taking vows and the vows taken depend on the school or tradition of Buddhism. It is important to read and understand the refuge vows and realize the Buddha who is free from all fears is the perfect object of refuge. When we take refuge in the Buddha, we practice the dharma and we respect the sangha, we are protected from many different types of spirit.

A very good example to illustrate the effectiveness of the Three Jewels’ protection against spirits is the story of Guru Rinpoche, a great Buddhist master who subdued countless fierce and malicious spirits that plagued Tibet. Through his example and many other examples of recent masters we can have confidence in the Three Jewels to protect us from spirit harm as well.

However, in certain cases, some people have “special” karmic affinity to certain types of harm and formless beings. This karmic affinity enables the spirits to “break through” the refuge protection and cause harm. Therefore, for people with such karmic affinity with a spirit, they will experience harm even if they have taken refuge in the Three Jewels.

In other cases, some people may use certain methods to contact beings from another realm. This practice is very dangerous as we can never be sure if the spirit contacted is malevolent or not. Sometimes, if the spirit that was called upon is strong and malicious, it can stay around to cause harm.

One may question: Why can’t the Three Jewels protect these individuals who have certain karmic affinity with a certain type of spirit? Although one has taken refuge and is under the protection of the Three Jewels, there is still the individual karma that is very strong and directly determines outcomes.

For illustration purposes, let’s refer to more familiar situations: Even though one is protected by the Three Jewels, one can still fall sick, experience calamities and tragedies and suffer emotional ups and downs, and death due to the karma accumulate as a consequence of the actions of the body, speech and mind. In such cases, one may engage in certain spiritual practices or request for pujas of a specific deity to be performed, for example, Medicine Buddha practice, whose energy is specifically targeted for healing.

Therefore, when experiencing the fruition of karma, one should not simply claim that the Three Jewels are not giving protection. The Three Jewels give protection for the short and long-term. For short-term protection, the Three Jewels grant the teachings of the Dharma to enable practice that eliminate all causes of suffering. For the long term protection on the other hand, the Three Jewels bless us to take rebirth in places and situations where Dharma practice is conducive.

WHEN SPECIAL PROTECTION IS REQUIRED

In cases where there is this “special” karmas that create affinity with certain spirits, and harm and affliction is still being experienced, the practice of Dorje Shugden can be done for protection.

Dorje Shugden manifests in five forms for different purposes. Aside from the principal manifestation, he has four other recognized emanations, each with their specific functions. All five forms of Dorje Shugden are complete objects of refuge and protection although they have different emanated function.

Out of the five forms of Dorje Shugden, Trakze also known as Karma Shugden is the most wrathful emanation of Dorje Shugden. His practice is especially efficacious for overcoming powerful delusions and very negative, harmful energies.

TRAKZE PRACTICE

Trakze atau Karma Shugden adalah wujud paling murka dari Dorje Shugden yang sangat cocok untuk melawan gangguan negatif. Klik pada gambar untuk memperbesar dan klik kanan untuk 'menyimpan gambar' dalam foto kualitas bagus untuk dicetak

Praktek Trakze tidak hanya akan melenyaokan makhluk halus tetapi juga melenyapkan bencana-bencana yang tidak alami, masalah dan kesulitan. Trakze juga cocok sebagai perlindungan untuk perjalanan panjang. Dia juga akan menawarkan perlindungan dari ucapan negatif orang-orang, mantra negatif, sihir atau jimat negatif serta kematian mendadak atau naas, kecelakaan fatal. Jadi, wujud Dorje Shugden adalah sangat kuat.

Trakze or Karma Shugden is the most wrathful form of Dorje Shugden that is very suitable to counter negative disturbances. Click on image to enlarge and right click to ‘save image’ high definition photo for print out

The practice of Trakze will not only eliminate spirits but also eliminate unnatural disasters, problems and difficulties. Trakze is also suitable for protection for long journeys. He will also offer protection from people’s negative speech, negative mantras, spells or charms as well as sudden death or ill-fated, fatal accidents. So, this form of Dorje Shugden is very powerful.

MENYUSUN SEBUAH ALTAR

SETTING UP AN ALTAR

Pengaturan Altar:

  1. Sebuah gambar atau patung Buddha
  2. Sebuah gambar atau patung Trakze
  3. Sebuah teks Dharma
  4. Sebuah Stupa
  5. Satu set Persembahan Indrawi (opsional)(Dari kiri ke kanan - air, air, bunga, dupa, lampu, parfum, makanan, dan kulit kerang
  6. Satu set persembahan air (opsional)

Sebuah altar adalah komponen penting dari praktek ajaran Buddha, karena berfungsi sebagai pengingat dari tujuan latihan kita - yang adalah untuk mengembangkan kualitas dalam diri kita sehingga kita mungkin dapat membantu semua makhluk hidup. Ini adalah manfaat spiritual memiliki sebuah altar. Bagi mereka yang mempraktekkan Trakze khusus untuk melawan gangguan makhluk halus, manfaat dari memiliki sebuah altar dengan gambar Trakze sudah merupakan bentuk perlindungan.

Sebuah altar dapat diatur di mana saja kecuali di dalam kamar kecil. Untuk mengembangkan pandangan bahwa makhluk tercerahkan hadir di altar di hadapan kita, adalah tepat untuk selalu menunjukkan rasa hormat di depan altar. Oleh karena itu, jika altar ditempatkan di kamar tidur, dianjurkan untuk menutupinya ketika terlibat dalam kegiatan yang bersifat pribadi.

Sebuah altar yang ideal akan terdiri dari enam barang yang disebutkan di atas. Namun, setidaknya, altar harus memiliki gambar Trakze dan seiring waktu, seseorang dapat menambahkan barang yang lainnya bila tersedia. Seberapa lengkap altar kita mencerminkan betapa seriusnya kita mempraktekkan Trakze untuk mengatasi masalah kita. Oleh karena itu, seperti yang lainnya, besar usaha yang dicurahkan dalam praktek mencerminkan hasil prakteknya.

"Tambahan sentuhan" dapat diberikan pada altar. Satu set dari persembahan air dengan tujuh sampai delapan gelas dapat disusun di depan altar dengan air bersih diisi hingga penuh dengan batasan tinggi air sebutir beras pada bibir gelas. Satu set persembahan murka yang melambangkan persembahan karma negatif seseorang, dapat tersusun rapi di belakang persembahan air.

Altar set up:

  1. A Buddha image or statue
  2. A Trakze image or statue
  3. A Dharma text
  4. A Stupa
  5. One set of Sensory Offerings (Optional) (From left to right – Water, water, flower, incense, light, perfume, food, and a conch shell)
  6. 6. One set of water offerings (Optional)

An altar is an important component of the practice of Buddhism, as it serves as a reminder of our practice objectives – which is to develop qualities in ourselves so we may be able to help all sentient beings. This is the spiritual benefits of having an altar. For those who practice Trakze specifically to counter spirit disturbances, the benefit of having an altar with the image of Trakze is by itself a form of protection.

An altar can be set up anywhere except inside the washroom. To develop the view that the enlightened beings on the altar are present before us, it is appropriate to always show respect in front of the altar. Therefore, if an altar is set up in the bedroom, it is encouraged to cover it when engaging in activities that are private in nature.

An ideal altar would consist of all six items listed above. However, at the very least, the altar should hold an image of Trakze and, with time, one can add the remaining items when available. How complete our altar reflects how seriously we take the practice of Trakze in order to counter our problems. Therefore, just like anything, the amount of effort placed into the practice reflects the results of the practice.

“Extra touches” can be added to the altar. One set of water offerings with seven to eight cups can be arranged in front of the altar with clean water filled to about the length of one grain of rice from the brim. A set of wrathful offerings which symbolizes the offering of one’s negative karma, can be neatly arranged behind the water offerings.

PANDUAN PRAKTEK

Unduh Teks Doa Disini

MENGAMBIL PERLINDUNGAN

Video tentang Bagaimana Melakukan Sujud:

Praktek ini dimulai dengan pembacaan formula perlindungan sebanyak tiga kali. Dalam hal ini, seseorang berlindung pada Lama Tsongkhapa - Guru dan Buddha, Dharma dan Sangha.

Ketika membaca rumus perlindungan, visualisasikan Lama Tsongkhapa dikelilingi oleh delapan murid utamanya dengan jelas di tingkatan mata. Jika visualisasi ini terlalu sulit dan rumit di awal, seseorang dapat mulai dengan memvisualisasikan hanya dua orang murid utamanya, Khedrup-je Rinpoche dan Gyelsab-je Rinpoche. Membayangkan mereka duduk di Surga Ganden diatas takhta mereka yang dihiasi dengan permata yang berkilauan. Ketiganya tersenyum, bahagia dan hangat menurunkan berkat mereka.

THE PRACTICE GUIDE

Download the Prayer Text Here

TAKING REFUGE

Video on How to Do Prostrations:

The practice begins with the recitation of the refuge formula three times. In this case, one is taking refuge in Lama Tsongkhapa – the Guru and Buddha, the Dharma and the Sangha.

When reciting the refuge formula, visualize Lama Tsongkhapa surrounded by his eight main disciples strongly at eye level. If this visualization is too difficult and advanced at the beginning, one can start by visualizing just two of his main disciples, Khedrup-je Rinpoche and Gyelsab-je Rinpoche. Envision them sitting in Ganden Heaven on their thrones adorned with jewels that are glittering. All three are smiling, happy and warmly sending down their blessings.

Lama Tsongkhapa bersama kedua murid utamanya

Dari dalam tahta Lama Tsongkhapa, visualisasikan cahaya merah gelap yang kuat berpendar keluar, cahaya ini tidak lain adalah pikiran Manjusri, turun dari Surga Ganden muncul di hadapan Anda.

Visualisasikan awan hitam-kelabu yang jahat, kuat, dan penuh gejolak - dengan suara yang sangat kuat seperti guntur dan kilat yang dikelilingi oleh semua jenis hewan ganas dan murka seperti burung bangkai dan elang. Di tengah-tengah awan gelap ini Trakze, dalam bentuk seperti yang divisualisasikan di atas. Dalam hatinya, ada lingkaran matahari yang merupakan surat suku kata "Hung", berwarna merah. Dari suku kata "Hung", cahaya memancar keluar ke 10 arah untuk mengundang semua Buddha, Bodhisattva, dan istadewata, dan larut kembali ke dalam "Hung", Buddha, Bodhisattva, dan istadewata menjadi satu dengan Trakze secara alami dan menjadi jelas di depan Anda. Sekarang Trakze melebur lengkap dengan Tiga Permata dalam wujudnya. Jadi apapun yang dilakukan untuk Trakze adalah sama seperti jika Anda telah melakukan semuanya untuk Tiga Permata.Trakze divisualisasikan sebagai makhluk samaya, dan Trakze diundang dari dalam tahta Tsongkhapa adalah makhluk kebijaksanaan. Ketika mereka bergabung, mereka menjadi satu dan tak terpisahkan. Jadi, Anda harus percaya bahwa kebijaksanaan yang sebenarnya mewujud menjadi Trakze berada di depan Anda sekarang. Hal ini penting untuk anda percaya. Kemudian, visualisasikan Trakze dalam badai menyapu awan yang sangat ganas dan kuat di sekitar Trakze, berasal dari bawah tahta Lama Tsongkhapa, tetap terhubung ke Trakze. Ini menandakan sumber berkat adalah dari Lama Tsongkhapa dan kita terhubung ke Surga Ganden.

EMPAT YANG TAK TERUKUR

Empat Yang Tak Terukur dibacakan untuk membangun motivasi yang baik bahwa semua praktek dilakukan untuk melindungi diri tidak merugikan makhluk lain, termasuk makhluk yang menyebabkan kerugian bagi Anda.

Dasar praktek dari Empat Yang Tak Terukur adalah bahwa 'semua orang ingin bahagia, namun kebahagiaan tidak dapat dicapai dalam isolasi’. Bahkan, kebahagiaan tergantung pada kebahagiaan semua, mengungkapkan bahwa semua kehidupan adalah saling bergantung. Untuk menjadi bahagia, salah satu kebutuhan untuk menumbuhkan sikap baik terhadap orang lain dalam masyarakat dan terhadap semua makhluk hidup.

Oleh karena itu, cara terbaik untuk membangkitkan sikap yang baik terhadap semua makhluk hidup adalah melalui meditasi kontemplatif pada empat yang tak terukur, yang memupuk cinta kasih, kasih sayang, sukacita menghargai dan keseimbangan batin terhadap beragam makhluk hidup. Praktek Empat Yang Tak Terukur juga merupakan penangkal ampuh untuk keadaan mental negatif seperti kemarahan dan kebanggaan.

GURU YOGA DARI LAMA TSONGKHAPA

Ulasan Tentang praktek Lama Tsongkhapa:

Setelah menyelesaikan empat yang tak terukur, lanjutkan ke Guru Yoga Lama Tsongkhapa. Ketika membaca mantra Migtsema (setidaknya 21 kali) dengan visualisasi ini (dijelaskan pada bagian 'Mengambil Refuge'), adalah penting untuk mengembangkan pemikiran dan keyakinan bahwa Trakze (dalam 3-Dimensi / 3D) adalah di depan Anda , semuanya-kuat dan protektif. Setelah menyelesaikan Guru Yoga Lama Tsongkhapa, lanjutkan untuk membaca doa Dorje Shugden.

DOA-DOA DORJE SHUGDEN

KANSHAG

PENDAHULUAN

Kanshag untuk Dorje Shugden adalah praktek yang sangat ampuh untuk menghilangkan hambatan kita. Dalam kasus gangguan ilmu hitam dan makhluk halus, Kanshag secara khusus efektif untuk memurnikan karma negatif yang telah menciptakan penyebab seseorang untuk mengalami penderitaan ini.

Doa-doa Kanshag mungkin terdengar sangat keras dan kasar. Namun hal ini tidak unik untuk praktek Dorje Shugden. Ini juga merupakan fitur umum dalam doa Dharma Protector lainnya seperti Kalarupa, Palden Lhamo, Mahakala dan banyak lainnya. Oleh karena itu, karena kebodohan, atau orang yang tidak memiliki guru yang memenuhi syarat untuk menjelaskan pentingnya manifestasi murka seperti dalam doa-doa, seseorang mungkin menolak atau membaca hanya berdasarkan iman. Sementara mengucapkan Kanshag murni berdasarkan iman bisa diterima, namun lebih baik ketika kita melakukan praktek dengan kesadaran tingkat tertentu sehingga praktek lebih efektif. Setelah kita menyadari bahwa manifestasi murka pada Kanshag muncul dari kasih sayang murni Dorje Shugden untuk semua makhluk hidup, kita akan belajar untuk menghargai dan melakukan praktek dengan pengabdian yang besar.

Dalam hal ini Nathang (Thangka hitam / lukisan) Dorje Shugden [Catatan: lihat gambar di bawah] berada di tengah, mewujud sebagai Trakze dengan empat emanasinya: Shize, Gyenze, Wangze dan Trakze. Rombongan Dorje Shugden, muncul dalam bentuk murka, hanya di bawah Trakze.

Dalam memvisualisasikan memurnikan karma negatif seseorang melalui Kanshag, pertama-tama kita harus memahami bahwa sosok manusia digambarkan dalam visualisasi ini bukanlah manusia seperti yang kita tahu. Figur-figur mirip manusia ini tanpa kesanggupan indra dan kualitas negatif yang menyebabkan kita untuk terus menciptakan karma negatif, seperti iri hati, amarah, kebodohan, kemelekatan dan banyak lagi. Karena sifat-sifat negatif itu tidak nyata, kita memvisualisasikan mereka sebagai makhluk dalam bentuk seperti manusia agar Trakze dan rombongan dapat membunuh sifat-sifat negatif kita.

Lama Tsongkhapa and his two main disciples

From within Lama Tsongkhapa’s throne (seat), visualize a powerful dark red light emanating out, this light is none other than Manjushri’s mind, descending from Ganden Heaven to appear in front of you.

Visualize a virulent, powerful, tumultuous, and black-grey cloud – with very strong sounds like thunder and lightning surrounded by all types of virulent and wrathful animals such as vultures and eagles. In the midst of this dark cloud is Trakze, in the form as visualized above. In his heart, there is a sun disc on which is a syllable letter “Hung”, red in color. From the letter “Hung”, light emanates out into the 10 directions to invite all the Buddhas, Boddhisattvas and deities, and dissolves back into the “Hung”, the Buddhas, Bodhisattvas and deities becomes one with Trakze in nature and become firm in front of you. Now Trakze embodies the complete Three Jewels within his form. So anything done to Trakze is the same as if you have done to all the Three Jewels. The visualized Trakze is the samaya being, and the Trakze invited from within Tsongkhapa’s throne is the wisdom being. When they combine, they become one and inseparable. So you should believe that the real wisdom being Trakze is in front of you now. It is important to believe that. Then, visualize Trakze in this very virulent and powerful storm swept cloud surrounding Trakze, emanated from below Lama Tsongkhapa’s throne, remains connected to Trakze. This signifies the source of blessing is from Lama Tsongkhapa and we are connected to Ganden Heaven.

THE FOUR IMMEASURABLES

The Four Immeasurables are recited to establish good motivation that all practice done to protect oneself does not harm any other being, including the beings that are causing harm to you.

The premise on which The Four Immeasurables are practiced is that ‘everyone wants to be happy, but happiness cannot be achieved in isolation‘. In fact, happiness depends upon the happiness of all, revealing that all life is interdependent. In order to be happy, one needs to cultivate wholesome attitudes towards others in society and towards all sentient beings.

Therefore, the best way of cultivating wholesome attitudes towards all sentient beings is through contemplative meditation on the Four Immeasurables, which cultivates loving-kindness, compassion, appreciative joy and equanimity towards an immeasurable number of sentient beings.

The practice of Four Immeasurables is also a powerful antidote to negative mental states such as anger and pride.

GURU YOGA OF LAMA TSONGKHAPA

Commentary on Lama Tsongkhapa practice:

After completing the Four Immeasurables, proceed to the Guru Yoga of Lama Tsongkhapa. When reciting the Migtsema mantra (at least 21 times) with this visualization as guided above (described at ‘Taking Refuge’), it is important to develop the thought and faith that Trakze (in 3-Dimension / 3D) is in front of you, all-powerful and protective. Upon completing the Guru Yoga of Lama Tsongkhapa, move on to recite Dorje Shugden’s prayers.

DORJE SHUGDEN’S PRAYERS

KANSHAG

INTRODUCTION

Kanshag to Dorje Shugden is a very powerful practice to remove our obstacles. In the case of black magic and spirit infestations, Kanshag is specifically effective to purify the negative karma that has created the causes for one to experience this affliction.

The Kanshag prayers may sound very violent and rough. However this is not unique to Dorje Shugden practice. It is also a common feature in other Dharma Protector prayers such as Kalarupa, Palden Lhamo, Mahakala and many others. Therefore, to the ignorant, or one who does not have a qualified master to explain the significance of such wrathful manifestations in the prayers, one may wrongfully feel repelled or recite it only based on faith. While reciting the Kanshag based purely on faith is acceptable, it is however better when we do our practices with a certain level of awareness so that the practice is more effective. Once we realize that this wrathful manifestation by the Kanshag came into existence purely from Dorje Shugden’s pure compassion for all sentient beings, we will learn to appreciate and value the practice with great devotion.

In this Nathang (Black Thangka / painting) Dorje Shugden [Note: see image below] is in the middle, manifesting as Trakze with his four emanations: Shize, Gyenze, Wangze and Trakze. The entourage of Dorje Shugden, appearing in wrathful forms, are just below Trakze.

In visualizing the purifying of one’s negative karma through Kanshag, we must first understand that the human figures depicted in this visualization are not human beings as we know. These human-like figures are without sentience and are the negative qualities that cause us to continuously create negative karma, such as jealousy, anger, ignorance, attachments and more. Because these negative qualities are not tangible, we visualize them as representative-beings in human-like form in order for Trakze and entourage to slay these negative qualities for us.

Karma Shugden (Trakze) Klik pada gambar untuk memperbesar and klik kanan untuk ‘menyimpan gambar’ kualitas tinggi untuk dicetak

MANIFESTASI DARI KARMA KITA

Dibalik Trakze berdiri sebuah istana tulang yang besar dan murka (Rubey Gyi Phodrang). Di sekeliling istana tulang terdapat cuaca yang jahat. Awan tebal, gelap, berat disertai dengan guntur, petir, hujan dan badai. Terbang di sekitar tanpa tujuan dalam cuaca buruk ini adalah hewan murka – burung bangkai dan elang - dengan bola mata yang muncul dari mulut mereka. Naga, terbang di antara awan, menandakan petir yang menakutkan dan sengit.

Tanah di sekitar istana adalah gunung yang keras. Jalan bergerigi, kasar dan berbahaya, gunung yang dapat dengan mudah merenggut nyawa seseorang. Bahaya pegunungan ini diperbesar dengan kehadiran hewan menakutkan - Garuda, gajah liar, kadal, buaya, ular, kalajengking - dan apa pun yang menakutkan dan kekerasan hadir disana, di seluruh tempat. Bau mayat mengisi udara yang gelap, gunung yang berbahaya.

Dari pegunungan kekerasan mengalir sungai darah berbahaya tak berujung yang dijelaskan seperti sungai Gangga suci. Sungai penuh darah dan aliran yang penuh gejolak di dalamnya, dengan batu bergerigi dan berbahaya oleh sungai yang dijangkiti hewan liar, dan ganas. Antara sungai-darah yang berbahaya muncul api dan asap tebal, dengan tak terhitung mayat muncul di sungai berdarah.

Semuanya dalam ruang yang luas ini diwujudkan melalui belas kasih dari Dorje Shugden. Karena kita tidak dapat membayangkan berapa banyak akumulasi karma negatif kita yang telah dikumpulkan dari berbagai kehidupan, Dorje Shugden memanifestasikan bidang aneh ini untuk menunjukkan kepada kita akumulasi karma negatif kita dengan cara yang dapat kita hubungkan dan pahami. Makhluk, lingkungan dan kondisi yang ditunjukkan kepada kita dimaksudkan untuk membuat kita menyadari bahwa ini adalah takdir yang harus kita hadapi jika kita tidak melakukan praktik untuk memurnikan karma kita. Dalam praktek ini, Dorje Shugden, manifestasi dan rombongan turun dari atas untuk menyebabkan kerusakan besar pada bidang egatif yang mengerikan ini, sehingga memurnikan karma negatif itu.

MEMASUKI MANDALA PELINDUNG DORJE SHUGDEN

Karma Shugden (Trakze) Click on image to enlarge and right click to ‘save image’ high definition photo for print out

THE MANIFESTATION OF OUR KARMA

Behind Trakze stands a massive and wrathful bone palace (Rubey Gyi Phodrang). Surrounding the bone palace is virulent weather. Thick, heavy dark clouds accompanied with thunder, lightning, rain and storm. Flying around aimlessly in this bad weather are violent animals – vultures and hawks – with eyeballs emerging from their mouths. Dragons, flying amongst the clouds, signifying the scary and fierce lightning.

The lands surrounding the palace are violent mountains. The jagged, rough and treacherous tracks of the mountain can easily claim one’s life. The dangers of these mountains are magnified with the presence of scary animals – Garudas, wild mad elephants, lizards, alligators, snakes, scorpions – and anything scary and violent is present, roaming all over the place. The stench of corpses fills the air of the dark, dangerous mountains.

From the violent mountains flows the endless treacherous river of blood that is described like the sacred river Ganges. The blood-filled river and its tumultuous flow within the field, with jagged and dangerous rocks by the river that is plagued by wild, vicious animals. Between these dangerous blood-river arises flames and thick smoke, with countless of corpses surfaced on the bloody river.

Everything within this vast space was manifested through the compassion of Dorje Shugden. Because we are unable to fathom how much accumulated negative karma we have collected from many lifetimes, Dorje Shugden manifests this grotesque field to show us our accumulated negative karma in a way we can relate and understand. The fearsome and scary beings, environment and conditions shown to us are meant to make us realize that this is the fate we will have to face if we do not do practices to purify our karma. In this practice, Dorje Shugden, his manifestations and entourage descends upon it to cause great destruction on this horrible field of negativity, thus purifying our negative karma.

ENTERING DORJE SHUGDEN’S PROTECTIVE MANDALA

Ketika Anda melafalkan Kanshag, pintu ke mandala Dorje Shugden, yang biasanya dijaga oleh Kache Marpo, terbuka. Keanehan dalam pintu istana semua dimanifestasikan oleh Dorje Shugden, untuk memurnikan karma kita yang pada akhirnya mengarah pada pembebasan kita.

(Gambar di sebelah kanan: Pintu ke mandala Dorje Shugden)

TURUNNYA TRAKZE DAN ROMBONGAN UNTUK MEMURNIKAN KARMA

Di tengah pemandangan dan cuaca mengerikan adalah tempat tinggal Trakze, bertempat tinggal di istana tulang murka. Istana tulang murka dihiasi dengan tulang manusia dan daging. Di sini, kita melihat ornamen tulang manusia, dengan kulit manusia yang digunakan sebagai spanduk kemenangan mengambang di angin berasap, dan kulit manusia tergantung di dalam istana seperti tirai.

Istana rumit yang dihiasi dengan tulang dan kulit menandakan banyak bahan telah dikumpulkan Trakze melalui karyanya membebaskan makhluk hidup. Hal ini juga melambangkan kemampuan besar dan potensi untuk membebaskan makhluk yang tak terhitung jumlahnya. Dengan demikian, Istana Trakze dipenuhi dengan tulang dan segala sesuatu dianggap mengerikan karena ia mengumpulkan dan menerima karma negatif dan penderitaan semua orang.

Ketika kita mempersembahkan negatifitas kita dalam bentuk ini kepada Buddha untuk ditaklukkan, itu adalah sesuatu yang kita anggap jelek. Namun di sisi Buddha, tujuan utama mereka adalah untuk membebaskan kita dari negatifitas kita. Oleh karena itu hal negatif tersebut disajikan dan berubah menjadi persembahan utama dari seorang praktisi spiritual. Oleh karena itu, sekali Trakze telah membunuh negatifitas ini (yang kita visualisasikan dalam bentuk makhluk), ia menggunakan tulang dan kulit sebagai dekorasi untuk tempat tinggalnya, untuk merayakan pembebasan kita dari sifat-sifat yang tidak diinginkan.

Istana tulang juga merupakan Tong Len (praktek mengambil penderitaan lain dan memberikan manfaat seseorang kepada mereka) dalam bentuk tantra visual. Ini berarti bahwa Trakze akan mengambil semua karma buruk dari Anda. Dia akan hidup dalam lingkungan yang mengerikan ini dan kondisi kekerasan yang diwujudkan oleh karma negatif kita sehingga kita tidak perlu mengalaminya.

When you recite the Kanshag, the door into Dorje Shugden’s mandala, which is usually guarded by Kache Marpo, opens. The grotesqueness within the palace doors are all manifested by Dorje Shugden, to purify our karma which leads to our eventual liberation.

(Image on the right: The door into Dorje Shugden’s mandala)

THE DESCENT OF TRAKZE AND ENTOURAGE TO PURIFY KARMA

Amidst this dreadful weather and landscape is the abode of Trakze, residing in a wrathful bone palace. The wrathful bone palace is decorated with human bones and flesh. Here, we see human bone ornaments, flayed human skin used as victory banner floating in the smoky wind, and human skin hung inside the palace like curtains.

The elaborately decorated palace with bones and flayed skin signifies the many materials Trakze has collected through his work of liberating sentient beings. It also symbolizes his great ability and potential of liberating countless beings. Thus, Trakze’s palace is filled with bones and all things perceived as gruesome because he collects and accepts everyone’s negative karma and sufferings.

When we offer our negativity in this form to the Buddhas to slay, it is something that we perceive as ugly. However to the Buddhas, their main objective is to free us from our negativities. Therefore these negativities are presented and transformed as the ultimate offering of a spiritual practitioner. Therefore, once Trakze has slain these negativities (which we visualize in the form of a being), he uses the bones and the skin as decorations for his abode, to celebrate our liberation from these undesired qualities.

The bone palace is also represents Tong Len (the practice of taking other’s suffering and giving one’s merits over to them) in visual tantric form. This means that Trakze will take all the bad karma from you. He will live in this dreadful environment and violent conditions manifested by our negative karma so that we do not have to.

Sembilan Ibu Kebijaksanaan tidak memikat secara fisik, tetapi bermanifestasi sebagai monster ogre menakutkan dengan taring yang menakutkan, cakar, dengan kuku yang panjang dan kuku kaki. Mereka muncul sebagai sembilan makhluk menakutkan ini, murka dan menciptakan kekacauan. Sembilan ibu memotong, menghancurkan, mengiris, memotong, merobek, menggaruk dan mencakar karma negatif, merusaknya.

The Nine Wisdom Mothers are not physically alluring, but manifest as fearsome ogresses with scary fangs, talons, with long fingernails and toenails. They appear as these nine frightening beings, running amok and creating havoc. The nine mothers are cutting, pulverizing, slicing, chopping, ripping, scratching and clawing at our negative karma, destroying it.

Delapan Biksu-biksu Pembina tidak tenang dan pendiam; namun mereka mewujudkan realisasi persetujuan atau kontemplasi dengan cara murka. Sebaliknya, mereka berlarian di sekitar dengan cara yang sangat 'tidak kebiksuan', melakukan tindakan kekerasan dan ritual murka untuk menaklukkan makhluk hidup.

The Eight Guiding Monks are not calm and quiet; yet they manifest the realizations of acquiescence or contemplation in a wrathful manner. Instead, they are running around in very ‘un-monkly‘ ways, performing violent acts and wrathful rituals to subdue sentient beings.

Sepuluh Asisten Muda dan Murka yang terwujud dari 'anggota badan' istadewata utama, dalam hal ini Trakze. Kesepuluh asisten terwujud dalam bentuk yang paling murka mereka sebagai makhluk menakutkan - untuk mengaktifkan purifikasi cepat untuk menghilangkan penderitaan, dengan rantai dan merobek rintangan dalam dan luar kita.

Oleh karena itu, ketika kita membaca Kanshag, kita meminta Dorje Shugden dan rombongan untuk menghancurkan akumulasi karma negatif kita melalui cara-cara kekerasan dan murka mereka. Kita memurnikan karma yang tidak hanya menyebabkan penderitaan fisik kita tetapi juga penderitaan mental. Secara tradisional, metode murka selalu lebih cepat. Dengan alasan ini maka praktek Dorje Shugden, bila dilakukan dengan baik, dapat menghapus hambatan kita untuk memenuhi keinginan kita dengan cepat. Dengan demikian ia dikenal untuk membantu kita dengan cepat.

Visualisasi Kanshag:

Visualisasikan lingkungan murka yang merupakan manifestasi dari karma negatif. Dalam ruang ini, sosok mirip manusia raksasa, besar seperti gunung, muncul di hadapan anda. Sosok yang menyerupai-manusia ini adalah semua karma negatif dan kualitas negatif yang menghambat pertumbuhan spiritual kita.

Visualisasikan Trakze dan rombongan murka-Nya turun menuju sosok menyerupai manusia itu dan menghancurkan mereka, membentuk kumpulan persembahan lengkap yang tak terhitung jumlahnya.

Persembahan murka terdiri dari:

  1. 'Argham' (teh) - visualisasikan semua darah dari makhluk dikosongkan ke dalam mangkuk pertama dan dipersembahkan.
  2. 'Phupe' (bunga murka) - visualisasikan tengkorak terbalik ke atas. Dalam tengkorak ditempatkan jantung. Di dalam jantung ada mata, telinga, lidah dan hidung; semua diatur simetris pada jantung.
  3. 'Duphe' (dupa) - visualisasikan tulang tubuh diambil dan dibakar. Asap yang timbul dari ini dipersembahkan kepada Trakze.
  4. 'Aloke' (cahaya) - visualisasikan semua lemak tubuh diambil dan dibuat menjadi pelita dan dipersembahkan untuk Trakze.
  5. 'Gyende' (parfum) - visualisasikan semua cairan yang tersisa dalam tubuh seperti urin, empedu, nanah dan lain-lain, dikosongkan ke dalam mangkuk dan dipersembahkan.
  6. 'Niweide' (makanan) - visualisasikan semua daging tubuh yang dipotong dan dipersembahkan.
  7. 'Shapta' (suara) - visualisasikan tulang paha diukir menjadi instrumen angin, sebagai persembahan kepada Trakze.

Setelah mengakhiri doa Kanshag, visualisasikan bahwa semua manifestasi negatif ini telah dihancurkan oleh Trakze dan rombongan. Visualisasi pemurnian dalam wujud murka, bentuk berdarah sebagai pelatihan bagi kita untuk tidak melekat atau jijik terhadap sesuatu yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Ini adalah metode lain di mana penolakan dipraktekkan dengan bermeditasi dengan melihat tubuh kita yang timbul dari karma negatif hancur lebur, dihancurkan dan dimusnahkan sebagaimana dalam ajaran Chod. Praktek ini mungkin visual dan murka tetapi semuanya masih dalam inti ajaran Buddha tentang penolakan, seperti ketika para biksu Thailand bermeditasi di kuburan atau di depan tulang dan tengkorak untuk mengaktualisasikan penolakan dari tubuh kita di mana kita memiliki pandangan yang salah tentang keabadian dan dengan demikian kita investasikan dengan waktu berlebihan, energi dan sumber daya untuk tubuh - ketika pada akhirnya kita gagal dan menjumpai kematian. Penolakan merupakan komponen yang sangat kuat dalam meditasi kita untuk mengaktualisasikan agar praktik Dharma kita menjadi murni. Kebutuhan untuk mengaktualisasikan penolakan adalah meluas di semua tiga ’yana’ Buddhisme. (Akhir dari visualisasi)

The Ten Youthful and Wrathful Assistants are emanated from the ‘limbs’ of the principle deity, in this case Trakze. These ten assistants manifest in their most wrathful form as terrifying beings – in order to activate purification quickly to remove sufferings, with chains and ripping our inner and outer obstacles apart.

Therefore, when we recite the Kanshag, we are requesting Dorje Shugden and entourage to destroy our accumulated negative karma through their violent and wrathful ways. We are purifying the karma which not only causes us physical harm but also mental sufferings. Traditionally, wrathful methods have always been quicker. It is for this reason that Dorje Shugden’s practice, when done well, can clear our obstacles to fulfilling our wishes quickly. Thus he is known to aid us swiftly.

Kanshag visualization:

Visualize the wrathful environment which is the manifestation of our negative karma. In this space, a massive human-like figure, huge as a mountain, manifests before you. This human-like figure is all of our negative karma and negative qualities that hinder our spiritual growth.

Visualize Trakze and his wrathful entourage descending onto this human-like figure and dismembering it, forming countless complete sets of wrathful offerings.

The wrathful offering consists of:

  1. ‘Argham’ (tea) – visualize all the blood from the being is emptied into the first bowl and offered up.
  2. ‘Phupe’ (wrathful flower) – visualize the skull overturned. In the skull is placed the heart. On the heart are the eyes, ears, tongue and nose; all symmetrically arranged on the heart.
  3. ‘Phupe’ (wrathful flower) – visualize the skull overturned. In the skull is placed the heart. On the heart are the eyes, ears, tongue and nose; all symmetrically arranged on the heart.
  4. ‘Duphe’ (incense) – visualize the bones of the body are taken and burned. The smoke arising from this is offered to Trakze.
  5. ‘Aloke’ (light) – visualize all the fat of the body taken out and made into a butterlamp and offered up to Trakze.
  6. ‘Gyende’ (perfume) – visualize all the remaining liquids in the body such as urine, bile, pus and others, emptied into a bowl and offered up.
  7. ‘Niweide’ (food) – visualize all the flesh of the body being cut up and offered.
  8. ‘Shapta’ (sound) – visualize the thighbone carved into a wind instrument, as an offering to Trakze.

Upon ending the Kanshag prayer, visualize that all these negative manifestations have been destroyed by Trakze and entourage. The visualization of purification is in wrathful, gory form as a training for us not to be attached or repulsed to pleasant and unpleasant. It is another method in which renunciation is meditated upon by seeing our bodies arising from negative karma pulverize, smashed and destroyed as in the Chod teachings. This practice may be visual and wrathful in nature but it is all in the spirit of Buddhist renunciation, as when the Thai monks meditate in cemeteries or in front of bones and skulls to actualize detachment from our bodies in which we have false view of its permanence and thereby invest in inordinate time, energy and resources – when in the end it fails us with death. Renunciation is an extremely powerful component in our meditations to actualize in order that our Dharma practice becomes genuine. This necessity to actualize renunciation is pervasive in all three Yanas of Buddhism. (End of visualization)

Persembahan Bunga Murka

Ini adalah persembahan bunga murka yang dibuat ketika membaca Kanshag. Ini adalah praktek yang sangat kuat yang berhubungan dengan "Chod" yang memotong semua kemelekatan terhadap tubuh. Beberapa merasa sulit untuk memahami alasan di balik persembahan keji dan "kotor" tersebut kepada Sang Buddha. Namun, kekejian atau kekotoran dirasakan dari pikiran tercemar. Dalam hal ini, Sang Buddha tidak memiliki karma untuk mendapat bahaya atau menerima sesuatu yang kotor di alam. Oleh karena itu, barang-barang apapun (baik itu divisualisasikan atau aktual) yang dipersembahkan kepada mereka akan berubah menjadi sesuatu yang menyenangkan, taman yang indah dan kolam kegembiraan.

Karena itu, ketika membuat persembahan ini sambil melafalkan Kanshag, kita memurnikan karma yang telah kita akumulasi dari banyak kehidupan. Kanshag harus dibaca sebanyak mungkin tetapi sebagai panduan, dapat diucapkan tiga, tujuh atau 21 kali selama setiap sesi doa, tergantung pada potensi penderitaan. Pelafalan Kanshag bersama-sama dengan visualisasi adalah metode yang sangat ampuh untuk memurnikan karma negatif dengan segera. Semakin banyak pelafalan Kanshag berikut visualisasi Trakze yang dapat kita lakukan, semakin cepat hasilnya. 100.000 pelafalan Kanshag kadang-kadang dilakukan oleh majelis biksu bersama-sama selama beberapa hari karena sangat efektif. Tidak ada akibat negatif yang dapat timbul dari membaca Kanshag dari Trakze atau pelindung Dharma lainnya.

TORMA

Setelah membaca Kanshag, adalah sangat bermanfaat untuk membuat persembahan torma kepada Pelindung Dharma.

Torma adalah kue ritual yang sebagian besar terbuat dari tepung dan mentega yang digunakan sebagai persembahan dalam ritual Buddhisme Tibet. Torma dibuat dalam berbagai bentuk dan ukuran, sesuai dengan tujuannya, tetapi biasanya dalam bentuk kerucut. Mereka dapat dicelupkan dalam warna yang berbeda tergantung pada peruntukan prakteknya. Torma paling sering ditemukan dalam warna putih dan merah. HH Kyabje Zong Rinpoche mengatakan tidak akan praktis untuk umat non-biarawan untuk mempersembahkan torma tradisional. Jadi dia mengatakan akan baik-baik saja untuk menawarkan hal-hal yang suka kita konsumsi misalnya kue dan biskuit. Jika kita bepergian atau berada di sebuah hotel, pesawat atau kereta api, kita masih bisa melakukan praktek Trakze tanpa persembahan, hanya bacaan dan visualisasi. Kita harus membuat hubungannya dengan waktu, tempat dan keadaan yang terbaik dari kemampuan kita. Ketulusan, kepercayaan dan iman dalam praktek untuk Trakze pasti akan membuahkan hasil.

Wrathful Flower Offering

This is the wrathful flower offering made when reciting Kanshag. It is a very powerful practice that is related to “Chod” which cuts away the attachment to the body. Some find it difficult to understand the reason behind offering such vile and “dirty” substances to the Buddha. However, the vileness is perceived by the tainted mind. In this case, the Buddha does not have the karma to perceive harm or accept anything dirty in nature. Therefore, whatever items (be it visualized or actual) offered up to them will be transformed into pleasant, beautiful gardens and pools of delight.

Therefore, when making these offerings while reciting the Kanshag, we are purifying the karma that we have accumulated from many lifetimes. The Kanshag should be recited as many times as possible but as a guideline, it can be recited three, seven or 21 times during each prayer session, depending on the potency of the affliction. The Kanshag recitation together with visualization is a very powerful method for purifying immediate negative karma. The more Kanshags we can recite with visualization of Trakze, the more immediate the results. 100,000 Kanshag recitations are sometimes done by the assembly of monks in unison over a few days because it is so effective. No negative repercussion can ever arise from reciting Kanshag of Trakze or any other Dharma protector.

TORMA

After reciting Kanshag, it is beneficial to make offerings of torma to the Dharma Protector.

Tormas are ritual cakes made mostly from flour and butter that are used as offerings in Tibetan Buddhist rituals. Tormas come in various shapes and sizes, according to their purpose but they are usually in conical form. They can be dyed in different colors depending on the practice for which the torma is being made. Tormas are most commonly found in white and red. H.H. Kyabje Zong Rinpoche mentioned it will not be practical for non-monastics to offer traditional tormas. So he said it will be fine to offer things we like to eat for example cookies and biscuits. If we are travelling or in a hotel, plane or train, we can still do the Trakze practice without any of the offerings, just the recitation and visualization. We should make do with time, place and circumstances to the best of our abilities. Sincerity, trust and faith in our practice to Trakze will definitely bear results.

Membuat torma tradisional: sang pembuat memakai masker untuk melindungi "kebersihan" dari torma dari nafas kita (yang dianggap tidak murni)

Making traditional torma: The maker wears a mask to protect the “cleanliness” of the torma from our breath (which is considered impure)

Sebuah susunan altar yang lebih sederhana. Untuk para praktisi yang tidak dapat membuat torma tradisional, dapat diganti dengan wadah yang berisi kue kering sebagai pengganti torma

Bagi para praktisi biasa yang tidak terlatih untuk membuat bentuk torma tradisional, torma dapat direpresentasikan dengan botol kaca, diisi dengan biskuit. Jika seseorang ingin membuat persembahan torma seluruh praktek, para torma berikut dapat dibuat:

  1. Satu toples besar berisi biskuit (persembahan torma untuk Lama Tsongkhapa)
  2. Satu toples besar berisi biskuit (persembahan torma untuk Trakze)
  3. Satu toples kecil berisi biscuit (persembahan torma untuk rombongan Trakze)

Namun, jika waktu terbatas, persembahan torma bisa menjadi opsional. Torma (biskuit) dalam toples dapat mencegah serangga dari masuk kedalamnya. Anda dapat mempersembahkan torma diatas piring, mangkuk atau gelas dan membuangnya di tempat yang bersih di akhir puja / doa. Jika Anda berada di sebuah apartemen, Anda dapat memakan torma sebagai berkat atau jika Anda tidak ingin makan, dapat dibungkus dengan kertas dan kemudian membuangnya di tempat sampah.

PERSEMBAHAN THE HITAM (SERKYEM)

Praktek ini biasa disebut Persembahan Minuman Emas atau Serkyem, yang merupakan bagian utama dari dari Dorje Shugden Kangsol. Praktek ini telah dikembangkan sebagai persembahan yang luas kepada Pelindung Dharma sebagai permintaan untuk pertolongan yang cepat. Karenanya, persembahan Serkyem menjadi terkenal dan umumnya dipraktekkan oleh para praktisi modern untuk meminta pertolongan yang cepat, terutama pada saat membutuhkan. Secara tradisional, teh digunakan sebagai persembahan. Namun minuman lain seperti susu atau bahkan minuman berkarbonasi dapat digunakan sebagai pengganti.

Persembahan tradisional Serkyem dipersembahkan dengan menuangkan minuman ke dalam wadah dua tingkat, yang terdiri dari awadah yang lebih tinggi ditempatkan diatas mangkuk yang lebih rendah. Pada tradisi Tibet-jika barang ritual Serkyem (yang biasanya terbuat dari kuningan) tidak dapat diperoleh, seseorang dapat menggantinya dengan menggunakan gelas tinggi (seperti gelas anggur) ditempatkan dalam mangkuk kaca. Selama persembahan, minuman dituangkan dari panci atau kendi ke dalam wadah lebih tinggi sampai cairan meluap mengisi mangkuk yang lebih rendah. Dalam ajaran Buddha, cairan meluap sangat menguntungkan sebagai simbol kelimpahan manfaat, kebajikan, sumber daya material dan kondisi yang kondusif untuk praktek Dharma.

Minuman dapat dituangkan sepenuhnya ke wadah sebelum pembacaan ayat-ayat Serkyem, atau dapat menuangkan sedikit demi sedikit selama pembacaan ayat-ayat yang relevan dalam seluruh liturgi. Jika metode kedua yang dipilih, tuangkan sedikit teh ke dalam wadah yang lebih tinggi sehingga Anda tidak memberikan persembahan kosong kepada Buddha. Sebelum memulai, purifikasilah Serkyem dengan melingkarkan dupa menyala tiga kali searah jarum jam di sekitar Serkyem sambil melafalkan mantra 'OM AH HUM'.

Sambil membuat persembahan Serkyem, visualisasikan minuman sebagai nektar ilahi yang luas mengisi seluruh samudra yang mewakili semua hal yang diinginkan di dunia yang menyenangkan panca indera.

A simpler altar set up. For practitioners that are not able to make tormas traditionally, one can use jars filled with cookies to replace the tormas

For regular practitioners who are not trained to make the traditional form of tormas, the tormas can be represented with a glass bottle, filled with cookies. If one wishes to make torma offerings throughout the practice, the following tormas can be prepared:

  1. One large jar filled with biscuits (torma offerings to Lama Tsongkhapa)
  2. One large jar filled with biscuits (torma offerings to Trakze)
  3. One smaller jar filled with biscuits (torma offerings to Trakze’s entourage)

However, if time is limited, the torma offering can be optional. The tormas (biscuits) are in jars simply to prevent insects from getting into them. You can offer the tormas on plates, bowls or cups and discard them in a clean place at the end of the puja/prayer. If you are in an apartment, you can simply eat the tormas as a blessing or if you don’t want to eat them, it can be wrapped in a paper and then discard it in the garbage.

BLACK TEA OFFERING (SERKYEM)

The practice is also called Golden Drink Offering or Serkyem, which forms a central part of the Dorje Shugden Kangsol. This practice was developed as an extended offering to the Dharma Protector to request for swift assistance. Hence, the Serkyem offering has become popular and it is commonly practiced among modern practitioners to request for swift assistance, especially in times of dire need. Traditionally, tea is used as an offering. However other beverages like milk or even carbonated drinks can be used as a replacement.

The Serkyem offering is traditionally offered by pouring the beverage into a two-tiered vessel, which consists of a taller vessel placed into a lower bowl. If the Tibetan-style Serkyem ritual item (which is normally made of brass) cannot be obtained, one can replace it by using a tall glass (such as a wine glass) placed in a glass bowl.

During the offering, the beverage is poured from a pot or jug into the taller vessel until the liquid overflows down into the lower bowl. In Buddhism, the overflowing liquid is highly auspicious as a symbol of abundance of merits, virtues, material resources and conducive conditions for Dharma practice.

The beverage can either be poured fully into the vessel prior to the recitation of the Serkyem verses, or it can be poured a little at a time during the recitation of relevant passages throughout the liturgy. If the latter method is chosen, pour a little of the tea into the taller vessel so that you do not present an empty vessel to the Buddha. Before starting, consecrate the Serkyem by circling a lit incense three times clockwise around the Serkyem set while chanting the mantra ‘OM AH HUM‘.

While making the Serkyem offering, visualized the beverage as divine nectar that expands to fill an entire ocean which represents all the desirable things in the world that pleases the five senses.

Alat Serkyem tradisional

PELAFALAN MANTRA

Setelah Anda menyelesaikan persembahan teh hitam (Serkyem), bacalah mantra murka dari Dorje Shugden sebagai permintaan untuk perlindungan. Mantra Trakze adalah "OM BENZA WIKI BITANA RAKYA RAKYA HUNG". Anda dapat membaca satu, tiga, tujuh atau sebanyak mungkin mantra yang Anda bisa. Dianjurkan untuk membaca sebanyak mungkin mantra. Penting untuk melakukan praktek dengan konsisten dan dilakukan setiap hari sampai penderitaan sudah benar-benar hilang. Setelah menyelesaikan pembacaan mantra selama setiap sesi, bacalah mantra purufikasi Vajrasattva selama 21 kali.

Selama pembacaan mantra, visualisasikan cahaya dari Trakze melindungi dan memberkati Anda dan Dorje Shugden mengelilingi Anda. Tidak ada yang bisa menembus perisai pelindung ini sementara Anda membacakan mantra ini.

Sambil membaca mantra, visualisasikan Dorje Shugden memperbanyak dirinya menjadi triliunan gambar dirinya, di 10 arah: Utara, Selatan, Timur, Barat, arah menengah, atas dan bawah. Dorje Shugden mengelilingi Anda dan lingkungan Anda dengan pancarannya, menawarkan perlindungan lengkap dari makhluk halus, bahaya, kekurangan atau benda berbahaya. Tidak ada yang bisa menembus atau melewati perlindungan ilahi ini. Bersamaan pula, tidak ada yang dapat meninggalkan perlindungan ini, karena Dorje Shugden mengamankan kebajikan Anda.

Kemudian dari gambar utama Dorje Shugden, visualisasikan bahwa dari "Hung" merah dari hati, berbagai cahaya masuk ke dalam tubuh Anda. Kekuatan cahaya ini sangat kuat, membersihkan Anda. Untuk tujuan ilustrasi, seolah-olah Anda sedang berdiri di bawah air terjun. Air benar-benar membersihkan diri Anda, mengusir semua kotoran dalam diri Anda.

Visualisasikan cahaya merah gelap yang kuat datang dari Dorje Shugden memasuki hati Anda. Cahaya menyebar ke tubuh Anda sepenuhnya, mengusir semua kotoran melalui lubang Anda dalam bentuk kalajengking, ular, serangga dan kadal. Dari seluruh tubuh Anda, zat hitam dikeluarkan dan bagian dalam tubuh Anda yang tersisa adalah bersih dan jernih. Tenggelam dan dikelilingi oleh cahaya kebijaksanaan merah Dorje Shugden, Anda bersih dan murni.

Anda harus merasa sangat segar dan terjaga setelah melakukan visualisasi ini. Dengan sensasi "bersih" ini, pikirkanlah: "Pikiran saya yang memegang kendali. Saya memegang kendali. Tidak ada makhluk dapat merugikan saya, tidak ada makhluk jahat yang akan mencelakai saya ". Dengan pemikiran ini dan sambil membaca mantra, jangan menaklukkan makhluk dengan cara yang murka. Sebaliknya, kembangkan kasih sayang bagi mereka. Mereka menyebabkan Anda celaka karena, seperti orang-orang yang menyakiti Anda, mereka juga mengalami penderitaan.

Unsur yang paling penting dari praktek ini adalah untuk mengembangkan belas kasihan makhluk-makhluk halus mencelakai Anda, karena itu adalah karma negatif makhluk halus 'yang memaksa mereka untuk menciptakan karma negatif dengan mencelakai Anda. Ketika Anda mengembangkan belas kasih bagi makhluk-makhluk ini, Anda tidak akan lagi memerlukan ritual. Dikatakan bahwa ketika kasih sayang yang mendalam dan tulus dikembangkan dalam aliran pikiran Anda, makhluk halus akan meninggalkan Anda saat mereka mendengar suara Anda karena mereka tidak mampu untuk menyakiti makhluk dengan kasih sayang yang besar. Oleh karena itu, unsur yang paling penting untuk praktek ini adalah memiliki kasih sayang yang besar.

Bila Anda terlibat dalam praktek ini dengan kasih sayang dan melafalkan mantra bersama dengan visualisasi, tubuh, ucapan, dan pikiran yang tenggelam dalam perlindungan dari praktek ini. Tubuh Anda terjaga saat Anda duduk dalam postur meditasi, ucapan Anda menyatu bersama dengan pembacaan mantra dan pikiran Anda terfokus saat Anda melakukan visualisasi. Dengan demikian, ucapan dan pikiran Anda yang disebut sebagai tiga pintu, yang merupakan pintu gerbang untuk kotoran untuk masuk, diblokir.

DOTHEY AND DEDIKASI

Sebelum mengakhiri sesi, sangat baik untuk membaca doa Dothey, pujian untuk Dorje Shugden yang ditulis oleh HH Kyabje Trijang Rinpoche. Setelah Anda selesai membaca Dothey, visualisasikan Trakze dan Lama Tsongkhapa larut ke dalam diri Anda dan bacakan doa peleburan. Dothey juga mengandung kata-kata kasar dan nasihat untuk 'membunuh musuh, tetapi ayat-ayat kasar hanya mengacu sebagai simbologi, tidak benar-benar diarahkan pada makhluk hidup. Dalam praktek Buddhis apapun, tidak ada makhluk hidup yang dicelakakan melalui ritual, pikiran, meditasi dan tindakan. Kata 'membunuh' di Dothey mengacu pada penghancuran musuh dalam diri sendiri yaitu ego, keegoisan, kikir, kemarahan dan kebencian. Jadi 'membunuh musuh' di Dothey mungkin terdengar cukup keras tetapi mengacu pada kekerasan yang benar-benar kita buat secara emosional kepada orang-orang di sekitar kita. Karena emosi yang menderita ini, praktik ini bertujuan untuk 'membunuh' emosi negatif dalam diri kita atau setidaknya menyadari --musuh yang di dalam diri.

Akhiri sesi dengan dedikasi singkat.

Hal ini sangat penting untuk membuat dedikasi penuh kasih sayang yaitu agar semua makhluk terbebaskan dari kesengsaraan. Kemudian, Anda melakukan dedikasi agar Anda terbebas dan terlindung dari penderitaan.

PERLINDUNGAN TAMBAHAN

Memberkati barang-barang untuk perlindungan

Setelah Anda selesai membacakan mantra, Anda dapat melakukan beberapa hal yaitu:

  1. Meniup pada beberapa beras yang kering, polos dan disimpan di dalam wadah yang bersih
  2. Meniup pada diri sendiri
  3. Meniup air dalam botol

Ketika Anda membaca mantra, yang merupakan manifestasi suara dari kebajikan Sang Buddha, dikatakan bahwa nafas Anda menyatu dengan energi positif dari mantra. Oleh karena itu Anda transmisikan energi potensial ini ketika Anda meniup ke benda-benda ini.

Air yang telah diberkati dapat digunakan untuk mandi atau minum untuk mengeluarkan makhluk-makhluk halus. Ini juga dapat diberikan kepada seseorang yang menderita gangguan makhluk halus atau ilmu hitam. Air dapat dicipratkan di seluruh rumah atau di mana pun Anda merasakan kehadiran suatu entitas yang tak terlihat.

Beras yang telah diberkati dapat dibakar di tempat-tempat yang megalami gangguan. Oleh karena itu, jika rumah Anda memiliki gangguan, Anda dapat membakar beras, yang diresapi dengan kekuatan mantra dan diaktifkan bila dibakar.

Ketika meniupkan energi mantra pada diri sendiri, saluran pada tubuh Anda akan diblokir dan mencegah energi negatif memasuki tubuh yaitu: dua mata, dua sisi lubang hidung, mulut, dua telinga, kedua jari manis Anda, anus dan organ rahasia. Ini adalah 11 saluran di mana makhluk halus merasuki Anda jika dibiarkan tanpa perlindungan. Untuk perlindungan ekstra, Anda dapat mengambil sedikit air dan meletakkannya di 11 daerah-daerah tersebut. Untuk dua lubang bagian bawah, Anda percikkan air di daerah depan dan belakang dan visualisasikan dua lubang tersebut telah diblokir.

1, 2 dan 3 adalah opsional, kita bisa saja cukup melafalkan mantra dan mengakhirinya.

Membantu teman

Jika seorang teman atau anggota keluarga mengalami gangguan tersebut, Anda dapat memvisualisasikan teman Anda dilindungi oleh asap, api dan petir Trakze, dengan teman berdiri menghadap Trakze dan banyak cahaya merah yang penuh gejolak berasal dari Trakze, menyatu ke teman Anda dan membebaskan dia dari segala penyakit, penderitaan dan ia diberkati dengan ketenangan pikiran. Anda juga dapat melakukannya secara bersamaan untuk teman dan diri sendiri karena tidak ada keterbatasan kemampuan Trakze.

Anda juga dapat memberi mereka air atau beras yang telah diberkati sehingga mereka dapat menggunakannya untuk menghilangkan energi negatif di lingkungan mereka. Dalam beberapa kasus, beberapa roh jahat dapat mulai menyebabkan kerusakan pada orang-orang di sekitar Anda. Jika situasi seperti ini terjadi, Anda juga bisa memasukkan seluruh keluarga Anda dalam visualisasi Anda agar mereka tetap aman.

KESIMPULAN

Trakze tidak lain adalah Manjushri dalam bentuk murka, beremanasi secara khusus untuk melawan rintangan dan entitas yang mengganggu. Secara umum, praktek Trakze dapat memurnikan lingkungan, memberkati bisnis seseorang, melindungi rumah seseorang, dan memberikan berkat kepada orang yang dicintai, tetapi tujuan sebenarnya dari praktek Trakze adalah untuk mendapat berkah memperoleh pemahaman dalam ajaran-ajaran Dharma yang lebih dalam dan memfasilitasi praktek pelatihan pikiran seperti Lojong. Pada akhirnya, Buddha Manjushri dapat mewujud dalam berjuta bentuk dan penampilan, baik yang hidup maupun mati karena pikiran yang tercerahkan tidak memiliki batasan. Melakukan latihan Trakze akan memberkati kita dan lingkungan kita untuk membantu meningkatkan kegiatan Dharma, energi, dan memfasilitasi pencapaian. Makhluk tercerahkan akan mewujud, bermanifestasi lagi dan lagi sesuai dengan waktu, tempat, keadaan dan hubungan karma dari makhluk hidup yang mereka tolong.

Jadi, praktek Dorje Shugden adalah praktek berumur 400 tahun dan dianggap relatif baru, karena sekarang ini banyak yang membutuhkan jenis emanasi ini. Kedekatan Dorje Shugden dan kemampuan khusus untuk membantu makhluk akan berkembang lebih luas seiring waktu. Kita dapat bertumpu pada Dorje Shugden dalam bentuknya seperti Trakze sebagai praktek Pelindung Dharma utama kita. Sekali lagi, Dharma Protector bukan merupakan praktek utama kita tapi kadang-kadang diperlukan untuk mengatasi berbagai masalah sehari-hari yang kita hadapi. Sekali kita percaya dan mengandalkan Dorje Shugden, selama tahun demi tahun berlalu, kita akan melihat jalinan hubungan khusus akan terbentuk dan ia akan mengurus kita bagaikan seorang ayah kepada anak tunggalnya.

Kasih sayang, kebijaksanaan dan kekuatan Dorje Shugden adalah tidak terbatas karena ia adalah Buddha yang telah tercerahkan, yang mewujud sebagai Pelindung Dharma. Betapa beruntungnya kita bahkan hanya mendengar namanya dan juga untuk terlibat dalam praktek. Apakah Anda Buddhis atau non-Buddhis, Gelug atau sekolah lainnya Buddhisme, miskin atau kaya, laki-laki atau perempuan tidak masalah. Orang-orang suka melabeli Dorje Shugden sebagai pelindung Gelugpa tapi itu kesalahan karena ia tidak lain adalah Manjushri, dan Manjusri tidak dapat dikelompokkan atau dimasukkan dalam kerangka Gelug saja.

Dorje Shugen yang benar memiliki hubungan khusus denganLama Tsongkhapa dan ajaran-ajarannya karena dalam satu kehidupan, ia adalah salah satu dari 8 murid utama Buddha Tsongkhapa. Tetapi bahkan sebelum Lama Tsongkhapa, ia menjelma sebagai banyak guru besar di Tibet, Nepal, India, dan China. Ia sebenarnya salah satu Kaisar Cina dinasti Qing bernama Kangxi. Kangxi memperkenalkan ajaran Buddhisme dan Tsongkhapa ke dalam istana Cina dan negara Cina. Kaisar Cina dinasti Qing dan keturunan mereka disebut Manchuria. Menurut catatan sejarah resmi dinasti Qing, penelitian mengenai Asal Mula Manchu; nama etnis 'Manchu' berasal dari Manjushri. Kaisar QingLong juga mendukung klaim ini tentang asal-usul nama etnik mereka dan menulis beberapa puisi mengenai subjek.

Garis silsilah ditarik kembali ke salah satu dari 84 Mahasiddha. Berkat Dorje Shugden dan perlindungan akan diberikan kepada siapa saja yang tulus memanggil energinya yang tercerahkan. Sekali lagi saya ingin menekankan ia tidak hanya membantu praktisi Gelugpa dan Buddha, tapi siapa pun dari segala lapisan masyarakat yang membutuhkan bantuan. Misalnya prakteknya juga umum dalam Sakya, di mana ia dinyatakan menunggangi seekor kuda hitam. Jika Anda percaya sebaliknya, Anda membatasi kekuatan makhluk tercerahkan. Dorje Shugden dalam wujudnya akan membantu siapa saja yang tulus meminta bantuannya. Anda tidak perlu menjadi seorang Buddhis atau pergi melalui ritual khusus untuk menerima bantuannya. Dimulai dari kenyamanan rumah Anda, Anda dapat meng-unduh praktek sehari-hari yang telah saya sertakan di sini dan mulailah segera. Baca ulasan ini dengan cermat dan teliti untuk pengetahuan dan pemahaman. Jangan takut jika Anda tidak dapat melakukan visualisasi atau persembahan 'sempurna' karena Dorje Shugden adalah Buddha dan tidak akan 'marah' dengan apa pun yang kurang. Ketulusan dan konsistensi adalah kuncinya. Bila Anda mengandalkan Dorje Shugden dengan konsisten dan dari waktu ke waktu Anda akan memiliki sekutu yang kuat sebagai teman Anda, bantuan, pelindung dan kepercayaan. Kepercayaan Dorje Shugden sepanjang jalan. Tidak ada bagian manapun dari prakteknya yang bisa berbahaya dengan cara apapun. Ratusan biksu yang memiliki pencapaian tinggi dari aliran Buddhisme Gelug dan Sakya telah mengandalkan Dorje Shugden selama 400 tahun. Banyak lembaga monastik besar serta praktisi awam yang kuat berada di bawah perlindungan penuh dari pelindung ilahi ini. Jika Anda telah menemukan ini, bisa menjadi indikasi Anda memiliki hubungan yang kuat. Ambil gambar, cetak dan letakkan di depan altar dan mulai berlatih. Bagi mereka yang terlalu muda, sakit atau tua dan melakukan praktek sehari-hari mungkin terlalu berat, mereka bisa menyimpan foto Dorje Shugden atau Trakze dekat mereka dan hanya melafalkan mantra-nya. Sekali lagi ketulusan dan kepercayaan adalah kuncinya. Saya sungguh-sungguh berharap kalian semua yang terbaik.

Tim saya telah bekerja sangat keras dan selama berhari-hari bersama dengan saya untuk menghantarkan kompilasi ini untuk Anda semua. Saya, dari hati saya, berterima kasih pada tim saya yang penuh welas asih dan pekerja keras yang telah membantu saya dengan satu-satunya tujuan adalah hanya untuk memberikan Anda manfaat. Mereka adalah orang-orang yang benar-benar hebat dan baik. Kami memiliki banyak seperti mereka di Kechara dan saya merasa terhormat untuk mengatakannya. Terima kasih banyak, tim!

Saya mendedikasikan semua pahala menuju kebahagiaan, kedamaian, pertumbuhan dan pembebasan untuk tim saya. Saya juga mendedikasikan manfaat untuk pemegang silsilah agung dari semua tradisi dan semua guru yang berbicara tentang perdamaian, cinta dan kasih sayang agar berumur panjang dan memperoleh keberhasilan. Ini telah menjadi kehormatan yang luar biasa, hak istimewa dan kesenangan bagi saya dan tim saya untuk membawa ini praktek Trakze yang sangat bermanfaat untuk pertama kalinya di sini. Saya berharap semua orang mencapai kesuksesan, kesehatan, pertumbuhan dan pembebasan. Semoga Anda selalu berada dekat di bawah bentuk damai, murka, mistik dari Manjushri yang luar biasa dalam kehidupan ini dan semua kehidupan yang akan datang.

Sarva Mangalam.

Tsem Rinpoche

DEDIKASI OLEH TSEM RINPOCHE

Aspirasi untuk mempersembahkan praktek adalah untuk memberikan manfaat kepada banyak orang. Semoga mereka yang berlatih Dorje Shugden sebagai Trakze atau emanasi Dorje Shugden lainnya terbebas dari penderitaan mereka, ilmu hitam, hambatan dan makhluk halus. Semoga sumber daya yang mereka butuhkan untuk hidup yang baik dan praktek spiritual diberikan oleh Dorje Shugden Trakze. Semoga mereka memiliki ketenangan pikiran, tidur yang damai, keluarga damai, kehidupan yang damai dan bebas dari kecelakaan. Harap diingat Dorje Shugden adalah Buddha perdamaian dunia yang mewujud sebagai pelindung Dharma dan batinnya adalah sama dengan Manjushri yang sepenuhnya tercerahkan. Doa ini disediakan untuk kenyamanan Anda dalam berpraktek dan gratis yang memberikan akses pada sebuah praktek yang berharga, terutama bagi mereka yang benar-benar membutuhkannya.

Saya telah bekerja dengan tim saya untuk mengkompilasi semua ini dengan harapan bahwa ini akan menjadi manfaat yang luar biasa.

[Catatan oleh Blog Tim: Jika Anda membutuhkan barang-barang Dharma untuk melakukan latihan, silahkan kunjungi http://www.vajrasecrets.com/]

Untuk artikel terkait lainnya yang menarik dan penting: http://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/category/dorje-shugden

A traditional Serkyem set

MANTRA RECITATION

Once you complete the black tea (Serkyem) offering, recite the wrathful mantra of Dorje Shugden as a request for protection. Trakze’s mantra is “OM BENZA WIKI BITANA RAKYA RAKYA HUNG”. You can recite one, three, seven or as many malas of this mantra as you can. It is encouraged to recite as many mantras as possible. It is also essential that the practice is consistent and done daily until the affliction is completely resolved. Upon completion of the mantra recitation during each session, recite the Vajrasattva purification mantra for 21 times.

During mantra recitation, visualize the light from Trakze protecting and blessing you and Dorje Shugden surrounds you. Nothing can penetrate this protective shield while you are doing this mantra.

While reciting the mantra, visualize Dorje Shugden emanating himself into trillions of images of himself, going in the 10 directions: North, South, East, West, the intermediate directions, up and down. Dorje Shugden surrounds you and your environment with his emanations, offering you complete protection from spirits, harm, demerit or objects of demerit. Nothing can penetrate or get through this divine protection. Simultaneously, nothing can leave this protection, as Dorje Shugden safeguards your merits.

Then from the central image of Dorje Shugden, visualize that from the red “Hung” from the heart, various lights emanate into your body. The force of this light is very strong and powerful, washing over you. For illustration purposes, it would be as if you are standing under a waterfall. The water just washes over you completely, dispelling all the dirt on you.

Visualize the powerful dark red light coming from Dorje Shugden entering your heart. The light pervades your body completely, expelling all impurities through your orifices in the form of scorpions, snakes, insects and lizards. From your whole body, black substances are expelled and the inside of your body is left clean and crystal clear. Immersed and surrounded by Dorje Shugden’s red wisdom light, you are clean and purified.

You should feel very fresh and awake after doing this visualization. With this “clean” sensation, think: “My mind is in control. I am in control. No spirits will harm me, no interfering beings will harm me”. With this thought in mind and while reciting the mantra, do not dispel the spirit in a wrathful manner. Instead, develop compassion for them. They are causing you harm because, just like people who hurt you, they are suffering too.

The most important ingredient of this practice is to develop compassion for the spirit(s) that inflicts harm on you, as it is due to these spirits’ negative karma which compels them to create more negative karma through harming you. When you develop compassion for these beings, you will no longer need the ritual. It is said that when deep and sincere compassion is developed within your mind stream, the spirits will leave the moment they hear your voice because they are unable to harm a being with great compassion. Therefore, the most important ingredient for this practice is to have great compassion.

When you engage in this practice with compassion and recite the mantra together with the visualizations, your body, speech and mind are immersed in the protection of the practice. Your body is engaged as you are seated in meditation posture, your speech is immersed through the recitation of the mantra and your mind focused as you do the visualization. Thus, your body, speech and mind that are referred to as the three doors, which is the gateway for impurities to enter, are blocked.

DOTHEY AND DEDICATION

Before bringing the session to a close, it is good to recite the Dothey prayer, the praise to Dorje Shugden written by H.H. Kyabje Trijang Rinpoche. After you finish Dothey, visualize Trakze and Lama Tsongkhapa dissolving into you and recite dissolution verses. The Dothey also contains graphic words and exhortation to ‘kill the enemy‘, but the graphic verses are in reference to only symbology, not actually directed at sentient beings. In any Buddhist practice, no harm is inflicted on others by ritual, thought, meditation and action. The word ‘kill‘ in Dothey refers to the destruction of one’s own inner enemies which are ego, selfishness, miserliness, anger and hatred. So ‘kill the enemy‘ in Dothey may sound quite violent but it refers to the violence that we actually create emotionally to people around us. Due to this afflicted emotions, this practice is aimed at ‘killing off‘ those negative emotions within us or at least realizing – the enemy is within.

End the session with a short dedication.

It is very important to make a compassionate dedication that the afflictive being be free and liberated. Then, do a dedication that you may be free and protected from affliction.

ADDITIONAL PROTECTION

Blessing items for Protection

After you have recited the mantra, you can do a few things which are:

  1. Blow on some dry, plain, uncooked rice that is stored inside a clean container
  2. Blow on yourself
  3. Blow in a bottle of water

When you recite the mantra, which is the sound manifestation of the Buddha’s virtue, it said that your breath is fused with the positive energy of the mantra. Therefore you are transmitting this potent energy when you blow into these objects.

The water that has been blessed can be used to bathe your body or to drink in order to keep the spirits out. It can also be given to someone who is afflicted by spirits or black magic. The water can be sprinkled throughout the house or anywhere you feel the presence of an unseen entity.

The rice that has been blessed can be burnt in places that are afflicted. Therefore, if your house has an affliction, you can burn the rice, which is infused with the power of the mantra and is activated when burnt.

When blowing the mantra’s energy on yourself, the channels on your body which will be blocked and prevent any negative energy from entering are: your two eyes, two sides of the nostril, mouth, two ears, both of your ring fingers, anus and secret organ. These are the 11 places where spirits enter you if left unprotected. For extra caution, you can take a little bit of water and put it on these 11 areas. For the two lower orifices, you sprinkle the water in the front and back area and visualize that your two lower orifices are blocked.

1, 2 and 3 are optional, we can just recite our mantra and end.

Helping friends

If a friend or family member is suffering from such afflictions, you can visualize your friend being protected within Trakze’s smoke, fire and thunder, with your friend standing facing Trakze and many blessed tumultuous red lights emanating from Trakze, absorbing into your friend and absolving him of all ills, afflictions and he is blessed with peace of mind. You can also do it simultaneously for a friend and oneself because there are no limitations of Trakze’s power.

You can also give them blessed water or rice so that they may use it to dispel negative energy in their environment. In some cases, some malicious spirits can begin to cause harm to those around you. If such a situation may occur, you can also include your whole family in your visualization to keep them safe.

CONCLUSION

Trakze is no other than Manjushri in a ferocious form, emanating to specifically counter obstacles and afflictive entities. In general, Trakze’s practice can purify an environment, bless one’s business, protect one’s home, and give blessings to loved ones, but the real purpose of Trakze’s practice is to be blessed in order to gain an understanding into the deeper teachings of Dharma and facilitate the mind training practices such as Lojong. Ultimately, Lord Manjushri can manifest in myriads of shapes, forms, and appearances, both animate and inanimate because an enlightened mind has no restrictions. Doing Trakze’s practice will bless us and our environment to help increase Dharma activities, energy, and facilitate attainment. The enlightened beings will manifest, re-manifest and again emanate according to time, place, circumstances and karmic affinity of the sentient beings they are benefiting.

So, Dorje Shugden’s practice is 400 years old and considered relatively new, because many now are in need of this type of emanation. Dorje Shugden’s affinity and his special ability to help beings will be recognized more widely in time. We may hold Dorje Shugden in any of his forms such as Trakze as our main Dharma Protector practice. Again, Dharma Protector is not our main practice but sometimes necessary to alleviate many daily problems we encounter. Once we trust and rely on a sublime being such as Dorje Shugden, as the years pass, we will see a special relationship develop and he will take care of us as a father for his only child.

Dorje Shugden’s compassion, wisdom and skillful means are unlimited as he is a fully enlightened Buddha, manifesting as a Dharma Protector. How fortunate we are to even hear his name and also to engage in his practice. Whether you are Buddhist or non-Buddhist, Gelug or any other school of Buddhism, poor or rich, male or female does not matter. People like to label Dorje Shugden as a Gelugpa protector but that is wrong because he is no other than Manjushri, and Manjushri cannot be pigeon-holed within only a Gelug framework.

True Dorje Shugen has a special affinity to Lama Tsongkhapa and his teachings because in one of his lives he was one of the 8 principle disciples of Lord Tsongkhapa. But even prior to Lama Tsongkhapa, he had incarnated as many great masters in Tibet, Nepal, India, and China. He was in fact one of the Qing Emperors of China named Kangxi. Kangxi had ushered in the age of Buddhism and Tsongkhapa’s teachings into the royal court of China and into China itself. The Qing dynasty emperors of China and their descendants are called Manchurians. According to Qing dynasty’s official historical record, the Researches on Manchu Origins; the ethnic name ‘Manchu’ came from Manjushri. The Qinglong Emperor also supported this claim on the origin of their ethnic name and wrote several poems on the subject.

His line of incarnations extend back to one of the 84 Mahasiddhas. Dorje Shugden’s blessings and protection will be bequeath on anyone who sincerely invokes upon his enlightened energy. Again I would like to stress he does not only assist Gelugpas and Buddhists, but anyone from any walks of life that need assistance. For example his practice was also prevalent within the Sakyas, where he manifested as riding on a black horse. If you believe otherwise, you are limiting the powers of an enlightened being. Dorje Shugden in any of his forms will assist anyone who sincerely requests his assistance. You do not need to be a Buddhist or go through any special rituals to receive his assistance. From the comfort of your home, you can download the daily practice I’ve included here and start immediately. Read the commentary carefully and thoroughly for your knowledge and understanding. Do not fear if you cannot do the visualizations or offerings ‘perfectly’ because Dorje Shugden is a Buddha and will not be ‘upset’ with anything lacking. Sincerity and consistency is the key. When you rely on Dorje Shugden consistently and over time you will have a powerful ally as your friend, assistance, protector and confidante. Trust Dorje Shugden all the way. No part of his practice can be harmful in any way. Hundreds of highly attained lamas from the Gelug and Sakya schools of Buddhism have relied on Dorje Shugden for 400 years. Many large monastic institutions as well as powerful lay practitioners were under the full protection of this divine protector. If you have come across this, it could be an indication you have strong affinity. Download the picture, print out and place on your shrine and start the practice. For those who are too young, ill or elderly and find doing the daily practice perhaps too taxing, they can keep a photo of Dorje Shugden or Trakze near them and simply recite his mantra. Again sincerity and faith are the keys. I sincerely wish all of you the best.

My team have worked very hard and for days together with me to bring this compilation to all of you. I, from my heart, thank my compassionate and hardworking team of great people whose sole purpose of assisting me is to bring you benefits. They are really great and kind people. We have many like them in Kechara I am honored to say. Thank you team very much!

I dedicate all merits to my team’s happiness, peace, growth and liberation. I also dedicate the merits that the great lineage holders of all traditions and all teachers who speak about peace, love and development of compassion have long lives and further success. It has been a tremendous honor, privilege and pleasure for me and my team to bring this extremely beneficial practice of Trakze for the first time here. I wish everyone supreme success, health, growth and liberation. May you come under the peaceful, wrathful, mystical and myriad forms of the supreme Manjushri in this and all future lives.

Sarva mangalam.

Tsem Rinpoche

DEDICATION BY TSEM RINPOCHE

The aspiration for offering this practice is so that it will benefit many people. May those who practice Dorje Shugden as Trakze or any other Dorje Shugden emanations be free of their afflictions, black magic, obstacles and spirits. May the resources they need to live good lives and spiritual practice be bestowed by Dorje Shugden Trakze. May they have peace of mind, peaceful sleep, peaceful family, peaceful life and free of accidents. Please remember Dorje Shugden is a world peace Buddha emanated as A Dharma protector and his nature is the fully enlightened Manjushri. This prayer is provided so it may be convenient and free to access to such a precious practice, especially for those that truly need it.

I have worked with my team to compile all of this in hopes that it will be of tremendous benefit.

[Note by Blog Team: If you are in need of any Dharma items to conduct your practice, visit http://www.vajrasecrets.com/]

For more related articles of interest and importance: http://www.tsemrinpoche.com/tsem-tulku-rinpoche/category/dorje-shugden

 

Add comment

Visitors

We have 12 guests online

Social Media

Have anything to say?


Copyright © 2013