Tantangan Kechara Indonesia 2015 – Gunung Agung, Bali PDF Print
Friday, 24 July 2015 02:30

Sukarelawan Kechara Indonesia berencana untuk mendaki Gunung Agung di Bali pada tanggal 15-17 Agustus 2015 guna menunjukan komitmen mereka terhadap kegiatan amal kami dan mengumpulkan dana untuk biaya administrasi dan operasional Yayasan Kechara Indonesia.

Tradisi melakukan tantangan pengumpulan dana bukanlah hal baru bagi Kechara Indonesia. Pada tahun 2012, setelah melakukan kegiatan amal kami dalam kapasitas pribadi, kami memutuskan untuk meresmikan kegiatan kami menjadi organisasi nirlaba yang kita kenal hari ini sebagai Yayasan Kechara Indonesia. Karena itu, demi mewujudkan hal ini, Valentina Suhendra, meminjam dana dari Dewan Direksi Kechara di Malaysia sebesar IDR 70 juta, untuk memenuhi persyaratan regulasi yang mengharuskan adanya saldo bank sebesar IDR 100 juta untuk membentuk Yayasan (khusus untuk yayasan dengan elemen asing dan lokal) dan karena inilah kami dapat menandatangani akta Yayasan pada tanggal 15 Juni 2012.

Setelah penanda-tanganan akta, komite Kechara Indonesia mendiskusikan berbagai cara untuk membayar kembali hutang ini dan akhirnya, Hau Shio Wei memutuskan untuk mendaki Gunung Peclet di Prancis pada bulan Agustus 2012. Shio Wei menunjukan komitmennya kepada kegiatan amal kami dan meminta sumbangan kepada sahabat-sahabat kami agar kami dapat meneruskan kegiatan kami sebagai organisasi yang sehat. Usaha ini berhasil dan seminggu setelah Shio Wei menginjak puncak Gunung Peclet, kami dapat membayar hutang kami kepada Dewan Direksi Kechara. Kami sangat lega. Sejak saat itu, sukarelawan Kechara Indonesia dari berbagai latar belakang terus menunjukan komitmen mereka terhadap kegiatan amal Kechara Indonesia dengan melakukan berbagai tantangan atas biaya pribadi mereka untuk menjaga kelangsungan kegiatan amal kami lari marathon, mendaki gunung Semeru pada bulan Mei 2013 dan mendaki gunung Rinjani pada bulan September 2014.

Dibanding pada awal berdirinya, aktivitas, penerima bantuan dan varian dari kegiatan kami telah berkembang. Berikut adalah beberapa pencapaian kami pada tahun 2014-2015:

  • Kami membagikan 400 paket makanan/ minggu di Kota Bambu Utara, Cipete dan Petamburan
  • Kami mendanai ratusan seragam sekolah, alat tulis sekolah, kaca-mata, paket makanan kering diantara yang lain setiap tahunnya.
  • 55 siswa/i yang kami biayai sebelumnya telah lulus dan bekerja. Sekarang ini, kami membiayai 25 siswa/i yang masih aktif (mulai dari SMP sampai universitas)
  • Kami membawa donator untuk merenovasi taman bermain dan PAUD untuk mendukung program pemerintah terkait dengan pembangunan Kota Layak Anak)
  • Kami bekerja sama dengan pemerintah untuk membantu meningkatkan kesejahteraan penerima bantuan termasuk di daerah yang dikenal dengan penggunaan narkoba di Kota Bambu Selatan RW03

Kami juga telah menjadi organisasi nirlaba yang menerima penghargaan dengan dipilihnya kami sebagai salah satu pilar social berprestasi – kategori Organisasi Sosial di Jakarta Barat (tahun 2014 dan 2015).

Kami dapat mengeksekusi dan mempertahankan aktivitas kami karena kemurahan hati donator dan karenanya kami sangat bersyukur.

Dengan bertumbuhnya aktivitas kami, begitu juga dengan biaya administrasi (cth.: transportasi, bensin, audit keuangan, gaji asisten Kechara Indonesia yang menjalankan aktivitas harian kami, distribusi makanan, program pendanaan siswa/i, bank makanan, dll.), karena itu pada bulan Agustus 2015, beberapa sukarelawan Kechara Indonesia memutuskan untuk mendaki Gunung Agung di Bali untuk membantu menutupi sebagian pengeluaran Yayasan. Pada tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2014, biaya operasional kami adalah IDR 465,529,764 (ref: Laporan Audit Keuangan Yayasan Kechara Indonesia as per 31 Desember 2014).

Dengan proyek pendakian Gunung Agung, kami ingin membantu sebagian biaya operasional Yayasan Kechara Indonesia dan mengumpulkan dana dengan target sebanyak IDR 60,000,000.-

Gunung Agung – Puncak Tertinggi di Bali

Gunung Agung adalah sebuah gunung di Bali, Indonesia. Gunung berapi ini adalah puncak tertinggi di pulau tersebut. Gunung ini juga mendominasi daerah sekitar dan mempengaruhi iklim. Awan yang datang dari barat dan Agung mengandung air sehingga bagian barat subur dan hijau sementara bagian timur kering dan tandus.

Orang Bali percaya bahwa Gunung Agung adalah replica dari Gunung Meru, pusat alam semesta. Sebuah legenda mengatakan bahwa gunung tersebut adalah pecahan Meru yang dibawa ke Bali oleh penganut Hindu pertama. Candi paling penting di Bali, Pura Besakih, terletak di lereng Gunung Agung. [4]

Gunung Agung terakhir meletus pada tahun 1963-1964 dan masih aktif, dengan kawah yang sangat dalam yang kadang mengeluarkan asap dan debu. Dari jauh, gunung tersebut nampak kerucut, walaupun ada kawah yang besar.

Dari puncak Gunung Agung, Pucak Rinjani di pulau Lombok dapat terlihat, walaupun kedua gunung tersebut sering tertutup awan.

Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Mount_Agung

Sukarelawan yang akan memanjat gunung:

Kechara Indonesia volunteers plan to climb Mt. Agung in Bali on 15-17 August 2015 to show their commitment to our charity work and to fundraise for Kechara Indonesia administrative and operation cost.

The tradition of doing fundraising challenges is not something new to Kechara Indonesia. In year 2012, after two years of doing our charity work on personal basis, a group of us decided to formalize our activities into a non-profit institution that we know today as Yayasan Kechara Indonesia. Thus, in order to formalize this, Valentina Suhendra, took a loan from Kechara Board of Director (BOD) in Malaysia, in the amount of IDR 70 million, to meet the minimum regulatory requirement of bank balance of IDR 100 million to form a Yayasan and because of this, we were able to sign our Yayasan deed on 15 June 2012.

Subsequent to this event, Kechara Indonesia committee discussed various ways to pay this loan and finally, Hau Shio Wei decided to climb Mt. Peclet in France in August 2012. She showed her commitment to our charity work and appealed to our friends and volunteers for donation so we can continue as a viable organization. The effort was successful and we were able to pay off our loan to Kechara BOD one week after Shio Wei reached the peak of Mt. Peclet. We were very much relief. Since then, Kechara Indonesia volunteers from all walk of life continue to show our commitment by doing various challenges at their own cost to sustain our activities such as running marathon, climbing Mt. Semeru in May 2013 and climbing Mt. Rinjani in September 2014.

Since our initiation, our activities and our help recipients and the variant of our activities have grown. The following are some of our achievements in year 2014 – 2015:

  • We distributed 400 food packages/ week in Kota Bambu Utara, Cipete and Petamburan
  • We sponsored hundreds of school uniforms, school stationery, spectacles, dry food packages among other things every year
  • 55 students that we sponsored have graduated and work. Currently, we are sponsoring 25 active students (from junior high school to college students)
  • We brought in sponsors to renovate children park and kindergarten to support government program to build a city that is decent for children (Kota Layak Anak)
  • We joined force with the government to help increase the welfare of our help recipients including an area famous for its drug users in Kota Bambu Selatan RW03

We have also become an award winning organization by being selected as one of the social pillars with achievement – Social Organization category in West Jakarta (year 2014 and 2015).

We are able to execute and sustain our activities because of the generosity of our sponsors and for that we are forever grateful.

As our activity grow, so is our operating administrative cost (e.g., transportation, gasoline, financial auditor, salary for Kechara Indonesia assistants who execute our day-to-day activities, food distribution, student sponsorship program, food bank program, etc.), thus in August 2015, a few of Kechara Indonesia volunteers decided to climb Mt. Agung in Bali in order to help cover some of Kechara Indonesia’s expenses. As per year ended 31 December 2014, our operating cost is IDR 465,529,764 (ref: Yayasan Kechara Indonesia audit report for year ended 31 December 2014).

With this Mt. Agung hiking project, we seek to cover some of year 2015 operating cost and raise IDR 60,000,000.-

Mt. Agung – The Highest Peak in Bali

Mount Agung or Gunung Agung is a mountain in Bali, Indonesia. This stratovolcano is the highest point on the island. It dominates the surrounding area, influencing the climate. The clouds come from the west and Agung takes their water so that the west is lush and green while the east dry and barren.

The Balinese believe that Mount Agung is a replica of Mount Meru, the central axis of the universe. One legend holds that the mountain is a fragment of Meru brought to Bali by the first Hindus. The most important temple on Bali, Pura Besakih, is located high on the slopes of Gunung Agung.[4]

Gunung Agung last erupted in 1963-1964 and is still active, with a large and very deep crater which occasionally belches smoke and ash. From a distance, the mountain appears to be perfectly conical, despite the existence of the large crater.

From the peak of the mountain, it is possible to see the peak of Mount Rinjani on the island of Lombok, although both mountains are frequently covered in clouds.

Source: https://en.wikipedia.org/wiki/Mount_Agung

Voulenteers who will climbing mountain:

  • Hau Shio Wei – pemimpin pendakian
  • Shio Wei adalah pelopor tantangan pengumpulan dana bagi Kechara Indonesia. Dengan menunjukan komitmennya terhadap kegiatan amal Kechara Indonesia kepada sahabat dan kerabatnya. Shio Wei memainkan peran penting dalam memastikan kelancaran operasional Yayasan Kechara Indonesia. Sebelumnya, dia telah mendaki, Gunung Peclet di Prancis, Gunung Semeru di Jawa, Gunung Rinjani di Lombok untuk Yayasan Kechara Indonesia.

  • Hau Shio Wei – the lead hiker
  • Shio Wei is the pioneer of Kechara Indonesia fundraising challenge. By showing her commitment to her friends and relatives to Kechara Indonesia charity work. She has been instrumental in ensuring the smoothness Yayasan Kechara Indonesia’s operations. She has previously climbed Mt. Peclet in France, Mt. Semeru in Java, Mt. Rinjani in Lombok for Yayasan Kechara Indonesia.

  • Valentina Suhendra
  • Valentina adalah pendiri Yayasan Kechara Indonesia. Dia memulai pekerjaan amalnya dengan mendistribusikan 18 paket makanan pada bulan November 2010. Sebelum mendirikan Kechara Indonesia, Valentina tidaklah suka berolahraga. Tetapi setelah melihat tekad sahabatnya, Shio Wei, untuk mengamankan masa depan Kechara Indonesia, dia mulai melakukan olahraga yang bersifat sporadic sebelum melakukan tantangan pengumpulan dana Kechara Indonesia. Sebelumnya Valentina telah mendaki gunung Semeru di pulau Jawa untuk Yayasan Kechara Indonesia.

  • Valentina Suhendra
  • Valentina is the founder of Yayasan Kechara Indonesia. She started the charity work by distributing 18 food packages in November 2010. Prior to starting Kechara Indonesia, Valentina lived a sedentary life. But after looking at her friend’s, Shio Wei determination, to secure the future of Kechara Indonesia, she started doing sporadic exercise prior to doing fundraising challenge for Kechara Indonesia. She has previously climb Mt. Semeru in Java island for Yayasan Kechara Indonesia.

  • Chee Hou
  • Chee Hou telah mendaki gunung Rinjani pada bulan September 2014 untuk mengumpulkan dana bagi YKI. Dia merasa pengalaman tersebut luar biasa. Dia ingin berpartisipasi dalam tantangan pendakian Gunung Agung karena menolong orang lain membuatnya bahagia. Chee Hou berharap, dana yang dikumpulkan dari pendakian ini dapat membawa perubahan dalam hidup orang lain.

  • Chee Hou
  • Chee Hou has climbed Mt. Rinjani in September 2014 for YKI fundraising challenge. He found the experience exceptional. He would like to participate in Mt. Agung climbing challenge because helping other people makes him happy. Chee Hou wishes that with the fund accumulated from this hike, we can make a difference in other people’s lives.

  • William Yong
  • William telah bekerja di Jakarta selama beberapa tahun. Pengalaman ini memberinya kesempatan untuk melihat sisi lain dari dunia di mana dia dapat bertemu dengan banyak orang-orang yang kurang beruntung dan membutuhkan bantuan. Jadi dia merasa sudah waktunya dia melakukan tantangan dengan tujuan yang baik dan memberikan kontribusi terhadap masyarakat dengan harapan, “bersama kita dapat membuat perbedaan.”

  • William Yong
  • William Yong has worked in Jakarta for several years. The experience gives him the opportunity to see a different side of the world where he can meet many under privilege people who need help. So he feels that it is about time for him to hike for a good cause and contribute back to society, with the hope that “Together, we can make a difference!”

  • Vincent Lim
  • Vincent percaya bahwa mendaki untuk amal bukanlah hanya untuk mengumpulkan dana, tetapi juga menunjukan komitmen terhadap tujuan yang baik. Vincent ingin memperluas pandangannya terhadap kemanusiaan dan membantu orang dari berbagai latar belakang. “Kami harap [kegiatan ini] dapat memberikan inspirasi bagi orang lebih banyak untuk bergabung bersama kami tahun depan karena merubah dunia adalah implikasi yang besar dan kami memerlukan usaha yang besar!”

  • Vincent Lim
  • Vincent believes that hiking for charity is not just about raising money, but also raising awareness, showing commitment to a worthy cause. Vincent would like to broaden his horizon as a humanitarian and help the different walks of life. “We hope to inspire more people to join us next year as changing the world is a big impact and we need big effort!”

Peraturan dan Persetujuan Terjemahan

Terjemahan ini adalah hasil pekerjaan dari penerjemah pihak ketiga di luar organisasi Kechara. Apabila terjadi salah paham terhadap pengertian dari materi versi bahasa Indonesia, versi bahasa Inggris akan dianggap sebagai versi yang lebih akurat. Walaupun setiap upaya telah dilakukan untuk memeriksa akurasi dari hasil terjemahan ini, kemungkinan terjadi kesalahan tetap ada. Semua pihak yang menggunakan informasi yang didapat dari artikel ini, melakukan hal tersebut dengan resiko pribadi.

© Hak cipta dari artikel ini dipegang oleh Tsem Tulku Rinpoche. Artikel ini bisa di - download, dicetak, dan gandakan hanya untuk kepentingan pribadi atau kegiatan belajar - mengajar. Kegiatan men-download, menggandakan, tidak boleh dilakukan untuk kepentingan komersial atau untuk mewakili kepentingan perusahaan komersial tanpa ijin eksplisit dari Tsem Tulku Rinpoche. Untuk kepentingan seperti ini, harap menghubungi Ooi Beng Kooi dari Kechara Media and Publication.

Translation Disclaimer

This translation is the work of a third party translator external to the Kechara Organisation. Should confusion arise in the interpretation of the Indonesian versions of the materials of this page, the English version will be considered as accurate. While every effort is made to ensure the accuracy of the translation, portions may be incorrect. Any person or entity who relies on information obtained from the article does so at his or her own risk.

© The copyright to this article is held by Tsem Tulku Rinpoche. It may be downloaded, printed and reproduced only for personal or classroom use. Absolutely no downloading or copying may be done for, or on behalf of, any for-profit commercial firm or other commercial purpose without the explicit permission of Tsem Tulku Rinpoche. For this purpose, contact Ooi Beng Kooi, Kechara Media and Publication Liaison.

 
Sesuatu yang baik untuk berbagi! PDF Print
Sunday, 05 April 2015 09:25

Klik disini untuk membaca artikel

Click here to read aricle

 
Visi Untuk Masa Depan Jakarta PDF Print
Friday, 03 April 2015 06:02

Klik disini untuk membaca artikel

Click here to read aricle

 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 1 of 14

Visitors

We have 29 guests online

Social Media

Have anything to say?


Copyright © 2013